The Devil Barra

The Devil Barra
67


__ADS_3

Rani di tangkap pihak kepolisian setelah para pengawal Barra melaporkan dengan bukti rekaman cctv.


Rani yang memang bersalah tampak pasrah kala beberapa polisi mengintrogasinya. Misinya untuk balas dendam sudah usai, dirinya dipenjara pun tak masalah.


Sementara seorang wanita paruh baya tampak memasuki sebuah rumah sakit jiwa. Ia mendatangi ruangan dimana ada seorang wanita muda yang tengah duduk dilantai sambil memandangi arah luar.


"Kenapa tak cukup kamu saja, kenapa harus membawa adikmu juga!" ucap Wanita tua itu pada wanita muda yang langsung menoleh ke arahnya.


"Ra rani?" tanya Wanita muda itu dengan suara berbata.


"Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya nya lagi pada wanita tua yang tengah menatapnya kesal.


"Dia dipenjara sekarang, kau senang sekarang?" sinis wanita tua bernama Nani yang tak lain adalah tante dari Rani.


"Ak aku, dia seharusnya tidak kesana." ucap Wanita muda yang tak lain adalah Sarah, kakak kandung Rani.


"Dulu aku sudah menyembunyikan Rani dari semua orang yang dendam dengan Ayah kalian, tapi kamu malah menceritakan kejadian menyakitkan itu pada Rani. tentu saja dia marah dan ingin balas dendam. sia sia sudah aku merawat kalian selama ini. tak berguna semua. satu masuk rumah sakit jiwa yang satu masuk penjara. sungguh nasibku sangat tidak baik karena membesarkan kalian saat ibu kalian sudah meninggal." ungkap Nani yang memang merawat Sarah dan Rani saat ayah mereka tengah dipenjara.


Sarah tak lagi menjawab, Ia menunduk sambil menangis. depresi akut yang di alaminya membuat Sarah harus tinggal dirumah sakit jiwa. meski begitu, Rani selalu menjenguknya. Terakhir Rani datang membawa banyak makanan kesukaan Sarah dan bercerita jika Rani sudah mendapatkan pekerjaan.


Cerita Rani membawa semangat tersendiri untuk Sarah hingga kondisi Sarah mulai membaik.


Dan sekarang, disaat Sarah sudah hampir sepenuhnya pulih dan mengikhlaskan masa lalu nya, Ia malah mendapat berita seperti ini yang membuatnya kembali down.


"Seharusnya kamu tidak melakukan semua ini, Ayah kita memang salah Rani." gumam Sarah sambil sesenggukan menangis.


Di tempat lain, Barra tampak memandangi istrinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


Ia merasa memang pantas mendapatkan ini karena apa yang dia lakukan dimasa lalu sangatlah buruk. Namun Barra juga tak ingin melakukan semua hal keji itu jika tidak ada penyebabnya.


Jika saja dulu, tidak ada pemerkosaan yang terjadi pada kakak nya sampai kakaknya meninggal, mungkin dirinya tidak akan menjadi pria kejam seperti itu.


Devil Barra memang pantas disematkan untuknya atas apa yang Barra lakukan di masa lalu.


"Jika aku di penjara, bagaimana denganmu? bagaimana aku bisa menjaga mu?" tanya Barra dengan suara lirih.

__ADS_1


"Insya Allah aku selalu baik baik saja."


Barra menghembuskan nafas panjang, "Akan aku lakukan apa yang kamu mau."


Barra berdiri dari duduknya, Ia lalu keluar meninggalkan Qila. Tak berapa lama Qila menangis sejadinya.


Beberapa hari berlalu, Barra tak nampak datang kerumah sakit lagi bahkan hingga Qila sudah harus pulang pun Barra tak datang.


"Dia sedang mengurus masalahnya di kantor polisi, sementara kamu dirumah Bunda dulu. Bunda yang akan menjaga kamu." kata Zara pada putri sulungnya itu.


Meski Qila tak menanyakan apapun, Zara paham betul apa yang dirasakan putrinya itu.


"Sudah, sebaik nya cepat pulang." ajak Sean yang seolah tak ingin membahas tentang Barra.


Mereka akhirnya pulang dengan mobil jemputan yang di siapkan oleh Sean.


Qila sampai di kamarnya, entah mengapa sedih terus melanda hatinya. beberapa hari tak melihat Barra bahkan ponsel Barra pun tak aktif kala Ia mengirim pesan pada Barra.


Ia merasa sangat kalut dan bersalah karena meminta Barra menyerahkan diri ke polisi. Ia pikie akan kuat namun nyatanya rapuh juga.


"Mama..." Qila tampak bahagia melihat kedatangan Anya yang juga ikut absen beberapa hari tak datang.


"Sayang, Mama seneng denger kamu sudah pulang." kata Anya langsung memeluk Qila.


"Mama sendiri?'' Qila tampak celinggukan mencari seseorang yang mungkin di belakang Anya.


"Iya mama sendiri, kamu nyari Barra?" tanya Anya seolah tahu apa yang Qila pikirkan.


Qila hanya menunduk membuat Anya tersenyum, "Barra sedang mempertanggung jawabkan perbuatan nya, doakan semua cepat selesai agar bisa bersama kamu lagi ya."


Mendengar ucapan Anya membuat air mata Qila jatuh, "Qila jahat ya Ma, Qila minta Mas Barra menyerahkan diri dipenjara."


Anya tersenyum, "Qila benar karena memang sudah sepantasnya orang bersalah bertanggung jawab atas kesalahan nya. sudah jangan pikirkan lagi karena Barra baik baik saja. Lebih baik sekarang kamu fokus menjaga diri dan calon cucu mama."


Qila menghentikan tangisnya, Ia mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Anya mengeluarkan sebuah map didalam tas yang Ia bawa.


"Apa ini Ma?" tanya Qila saat Anya menyerahkan map itu.


"Sesuatu yang seharusnya kamu tahu sejak awal."


Qila yang penasaran akhirnya membuka isi map yang membuatnya sangat terkejut.


Sebuah kertas berisikan vonis dokter psikiater ternama, PTSD atau post traumatic strees disorder.


Gangguan stress pasca trauma dan pasien nya yang tak lain adalah Barra suaminya sendiri.


"Waktu itu, Barra melihat Kakak nya diperkosa hingga meninggal ditempat. Barra mengalami trauma berat, stress hingga harus minum obat dari psikolog.


Mama hanya masih tak menyangka Barra memiliki dendam yang sangat besar hingga Barra tega melakukan semua itu pada pelaku pemerkosa kakaknya." cerita Anya yang membuat Qila kembali meneteskan air matanya.


"Mama cerita seperti ini bukan membela atau membenarkan apa yang Barra lakukan, Mama hanya ingin kamu tetap disamping Barra apapun yang terjadi karena sejak Barra mengenal kamu, Barra tampak sudah mulai melupakan masa lalu kelam itu." Ungkap Anya lagi sambil mengenggam tangan Qila.


"Mama harap kamu tidak akan pernah meninggalkan Barra." ucap Anya lagi yang membuat Qila semakin keras menangis.


"Maafkan Qila Ma, maaf... Qila tak tahu jika mas Barra memiliki riwayat sakit seperti ini." ucap Qila merasa bersalah sudah memaksa Barra menyerahkan diri dipenjara.


"Semua sudah berlalu, tak perlu merasa bersalah lagi. Barra memang pantas mendapatkan hukuman ini. sekarang lebih baik kita doakan Barra agar cepat selesai dengan kasus hukumnya." kata Anya mengusap pipi Qila yang penuh air mata.


"Qila, Qila ingin bertemu mas Barra Ma."


Anya langsung menggeleng, "Sebaiknya Qila fokus menjaga kesehatan dan calon baby. Nanti jika Barra sudah selesai dengan urusan nya, pasti akan kesini menemui Qila."


"Ta tapi Ma..."


Anya kembali menggelengkan kepalanya membuat Qila akhirnya menunduk pasrah.


"Maafkan aku mas... andai aku tahu lebih awal."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2