
Barra berlari menyusuri koridor rumah sakit, setelah mendengar dari sang Mama jika istrinya pingsan dan dilarikan kerumah sakit, Barra segera pergi dari kantornya. Bahkan tak peduli dengan teriakan Rina yang ingin meminta tanda tangan nya.
"Ma..."
Barra melihat, Anya sang Mama yang masih berdiri didepan ruang IGD sendirian.
Plak... plak...
Anya memukuli lengan Barra,
"Kebangetan banget sih kamu jadi suami hah!"
"Maaf Ma, Barra beneran nggak tahu." ucap Barra sambil mengelusi lengannya.
"Gimana bisa kamu nggak tahu istri kamu sakit? dan kamu pulang juga nggak ngabarin mama!" kesal Anya pada Barra.
"Untung Mama dapet kabar dari anak buah Papa kamu, trus Mama main ke apartemen kamu, coba kalau enggak? gimana sama Qila?" cerocos Anya terdengar emosi.
"Maaf Ma, Maaf."
"Kamu udah dikasih kepercayaan sama orangtuanya Qila, seharusnya kamu jagain malah kayak gini!" Anya tampak kecewa.
"Barra beneran nggak tahu Ma, kemarin pulang dari Villa Barra langsung ngurusin kantor, ketemu Qila tadi pagi cuma sebentar aja."
"Perusahaan terus yang kamu pikirin!"
"Ma, Barra dikasih kepercayaan buat mengurus perusahaan Ayah Sean, kalau sampai terjadi apa apa sama aja Barra nggak bisa jagain kepercayaan dari Ayah Sean kan Ma?" jelas Barra yang akhirnya membuat Anya diam.
"Tadi Qila baru bukain pintu langsung pingsan, Mama panik trus telepon satpam apartemen kamu buat bantuin bawa Qila ke mobil. sekarang Qila baru diperiksa sama Dokter." jelas Anya tak lagi emosi.
Tak berapa lama, dokter keluar dari ruang IGD, Barra dan Anya langsung berlari mendekati dokter itu.
"Mantu saya hamil dok?" tanya Anya yang langsung membuat Barra menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan pertanyaan Mamanya.
"Belum, pasien mengalami gejala typus jadi harus dirawat dirumah sakit sementara."
"Apa sakitnya parah?" tanya Barra tampak khawatir.
"Faktor kelelahan dan perut kosong, sepertinya pasien tidak makan sejak kemarin."
Barra terkejut mendengar penjelasan dokter. Ia ingat jika mereka makan berdua saat masih berada divilla, jam makan siang dan malam harinya Barra meninggalkan Qila dan Barra juga tak menanyakan apa Qila sudah makan atau belum.
"Arghhh..." Barra menjambak rambutnya frustasi, merasa tak becus menjadi suami.
Qila di pindahkan keruang rawat namun masih belum sadarkan diri membuat Barra rasa bersalah Barra semakin bertambah.
"Beruntung kamu, Ayah sama Bunda nya Qila baru nganter Risha kembali ke pondok jadi mungkin tidak akan datang dan kamu tidak akan dipecat jadi menantunya." ucap Anya pada Barra membuat Barra lega.
"Jadi Mama nggak kabarin mereka?"
"Enggak, besok aja kalau udah pulang Mama kasih tau."
__ADS_1
Barra bernafas lega, setidaknya Ia bisa fokus merawat Qila tanpa ada ucapan menyakitkan dari mertuanya.
"Mama nggak mau tahu ya Barra, kalau sampai hal ini terjadi lagi, kamu harus tinggal sama Mama!"
"Tapi Ma..."
"Nggak ada tapi tapian, coba bayangin kalau tadi Mama nggak kesana, jadi apa Qila?"
Barra menundukan kepalanya,
"Udah, kamu nggak perlu pusing lagi mikirin perusahaan, biar dihandle dulu sama Papa kamu. sekarang fokus dulu sama istri kamu." ucap Anya lalu keluar meninggalkan Barra.
Barra menghela nafas panjang, urusan dikantor masih belum selesai, sekarang sudah bertambah lagi. ternyata menjadi pemimpin perusahaan dan keluarga secara bersamaan tidak semudah yang Ia bayangkan.
Barra duduk sambil memandangi wajah Qila, Tangannya mengenggan erat tangan Qila,
"Bangun sayang, maafin aku." gumam Barra.
Mendadak mata Barra mengantuk karena semalaman Ia tak tidur. Tanpa disadari, Barra tertidur dan masih mengenggam tangan Qila.
Entah berapa lama Barra terlelap, Ia bangun setelah merasakan tangan Qila bergerak.
"Sayang kamu sudah sadar?" Barra tampak senang melihat Qila sudah membuka matanya.
"Aku dimana mas?" Qila tampak bingung memandangi tempat Ia berbaring.
"Kenapa nggak bilang kalau kamu sakit hmm?" Barra menatap lembut Qila yang membuat Qila tak tahan untuk tidak menangis.
"Mas sibuk, aku takut ganggu mas." balas Qila dengan suara lemah.
"Ya Allah, maafkan aku sayang, aku merasa tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. maafkan aku." ucap Barra lagi sambil menciumi tangan Qila berkali kali.
Qila menghentikan tangisnya, Ia tersenyum lega. Qila sudah salah paham, tadinya Qila pikir Barra sudah tidak lagi peduli padanya, namun ternyata Qila salah.
"Aku tidak mau membuat mas Barra marah karena aku banyak bertanya."
"Aku memang jahat, aku memang jahat. maafkan aku sayang."
Qila mengangguk, "Aku sudah lebih baik mas."
"Dokter bilang kamu tidak makan sejak kemarin, kenapa?"
"Sampai di apartemen, tubuhku lemas mas, ingin memasak persediaan kulkas kosong, ingin pesan makanan malah baterai ponselku habis." jelas Qila yang membuat Barra semakin bersalah.
"Aku yang salah, aku yang salah." gumam Barra masih menciumi tangan Qila.
"Sudah mas, jangan menyalahkan diri mas sendiri. Mas Barra sudah menjadi suami yang baik kok."
"Kalau aku baik, kamu nggak mungkin sampai sakit kayak gini sayang."
Qila tersenyum, "Yang penting sekarang mas disini kan."
__ADS_1
Ekhemm...
Suara deheman mengejutkan keduanya.
"Sampai nggak tahu kan kalau Mama masuk, udah serasa dunia milik berdua ya." ucap Anya membawa dua bungkus berisi makanan.
Qila tampak tersipu malu,
"Qila sayang makan dulu ya, kasian mantu mama sakit gegara suaminya sibuk ngantor." cibir Anya membuat Qila tersemyum geli sementara Barra memanyunkan bibirnya.
"Biar Barra aja yang nyuapin Ma." pinta Barra pada Anya yang membuka steoform berisi bubur ayam.
"Loh, memang kamu nggak ngantor?"
"Nggak lucu Ma." kesal Barra.
"Mama emang lagi nggak nglucu." balas Anya memberikan buburnya pada Barra.
"Ya sudah, Mama mau telepon Papa dulu." Anya berjalan keluar meninggalkan Barra dan Qila.
"Aku jadi nggak enak sama Mama mas." kata Qila kala Barra sedang menyuapinya bubur.
"Mama emang gitu, suka sewot kalau sama aku." dengus Barra.
Qila terhanya tersenyum,
"Pahit mas, nggak ada rasanya."
"Harus dipaksa makan sayang, biar bisa minum obat."
Qila mengangguk dan kembali menerima suapan dari Barra.
Sementara itu ditempat lain,
Sean dan Zara tampak duduk disebuah kafe sedang menunggu seseorang,
"Seharusnya tidak perlu melakukan ini semua mas." ucap Zara pada suaminya.
"Demi putri kita sayang."
Zara diam,
Tak berapa lama, seorang wanita berpenampilan seksi duduk didepan keduanya.
"Sepertinya aku gagal." kata wanita itu pada Sean.
"Jangan menyerah terlalu cepat." balas Sean.
"GILA, aku menurunkan harga diriku demi melakukan hal murahan seperti itu. jika saja aku tidak berhutang budi padamu, aku tidak sudi melakukannya." ucap wanita itu yang membuat Sean terkekeh.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeen