The Devil Barra

The Devil Barra
23


__ADS_3

Anya dan Zayn kini sudah berada didalam mobil perjalanan pulang setelah bertemu dengan Nara.


"Mas apa kamu nggak ngerasa terlalu keras pada gadis itu?" tanya Anya tampak mengkhawatirkan Nara.


"Kamu masih saja polos, kita sebagai orangtua harus tahu seperti apa calon menantu kita. apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan gadis itu?"


Anya mengangguk, Ia memang merasa Nara sepertinya bukan gadis baik baik namun tetap saja, Zayn tidak boleh bersikap seperti tadi.


"Aku merasa gadis itu sangat licik." ungkap Zayn.


"Di selidiki dulu saja mas jangan suudzon, aku malah takut kalau sampai gadis itu hamil anak Barra." ungkap Nara yang langsung ditertawai oleh Zayn.


Zayn sama sekali tidak berpikir sejauh itu karena Zayn tahu seperti apa Barra, putranya itu tak mungkin ceroboh menghamili wanita meskipun sedang mabuk.


"Kamu malah ketawa sih mas, aku beneran khawatir ini." kesal Anya pada Zayn yang malah menertawakannya.


"Gimana kalau kamu aja yang hamil lagi?" goda Zayn yang langsung membuat Anya memukul lengan Zayn.


"Nggak lucu, inget mas kita itu udah tua, bentar lagi Barra bakal nikah dan ngasih cucu buat kita."


"Nggak ada salahnya punya anak lagi, biar nanti bisa temenan sama anaknya Barra, aku masih sanggup bikin lima kali dalam dua puluh empat jam." kata Zayn yang membuat Anya hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya dengan candaan Zayn disaat mereka sedang membahas masalah serius seperti ini.


"Ngeselin!"


"Ck, ngambek nih." Zayn masih saja tertawa.


"Aku mau hubungin Nathan dulu, mau minta rekaman cctv villa itu, aku yakin gadis itu bohong dan menipu Barra." kata Zayn kembali serius.


Sementara itu, Nara kini sudah berada didalam taksi sedang perjalanan pulang kerumahnya.


Terlihat dari wajah Nara sangat kesal dan kecewa. padahal tadi saat berangkat Nara tampak bersemangat dan berharap orangtua Barra akan menjadikan dirinya calon menantu namun sayangnya dugaan Nara salah.


Orangtua Barra lebih cerdik dari Barra, Nara bahkan sempat terpojokan, tidak bisa membuat orangtua Barra percaya dengan segala ucapannya.


"Sial!" umpat Nara.


Baru dua hari bekerja Nara terpaksa resign karena tahu saat ini Barra tengah mengincar dirinya, Nara bersembunyi dan ingin mendekati orangtua Barra lebih dulu agar dirinya aman dari ancaman Barra namun sekarang, Nara bahkan tidak mempunyai seseorang untuk melindungi dirinya. Nara takut jika Barra menemukannya dan akan menghabisi dirinya.

__ADS_1


Nara keluar dari taksi dan cepat cepat memasuki rumahnya. Baru membuka pintu, Nara dikejutkan dengan seorang pria yang duduk disofa ruang tamu.


"Kenapa melihatku seperti itu?" heran Randi menatap Nara yang tampak terkejut sampai melototi dirinya.


"Eh, tidak. aku hanya terkejut tiba tiba kamu datang." Nara masih berdiri dibelakang pintu.


"Darimana kamu? temanku bilang kamu sudah resign dari restorannya, apa ada masalah?" Randi tampak berdiri dan mendekati Nara.


Randi menutup pintu mengajak Nara duduk disampingnya, tampak Randi membelai rambut Nara serta mengelus pipi Nara sambil menunggu jawaban Nara.


"Hmm?"


"Aku tidak betah karena teman teman disana tidak bersikap baik padaku, maafkan aku."


"Bukan karena masalah lain?" Randi terlihat tak percaya.


"Ten- tentu saja bukan." Nara menjadi gugup.


Randi tersenyum, "Tak perlu lelah bekerja, cukup layani aku saja dan aku akan memberikan banyak uang untukmu." tangan Randi mulai turun mengelus leher Nara.


Nara memaksa senyum dan mengangguk pelan,


"Ak aku mau mandi dulu, tubuhku bau keringat." kata Nara.


"Baiklah, aku menunggumu baby."


Nara bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, meskipun sebenarnya Ia tidak berkeringat, hanya saja Nara ingin menghindari Randi karena malam ini moodnya sedang tidak bagus dan Nara juga sangat lelah.


Namun saat keluar kamar mandi, Nara terkejut karena didalam kamarnya tak hanya ada Randi namun satu lagi pria yang tak dikenali oleh Nara.


"Si-siapa dia?" tanya Nara menatap ke arah pria disamping Randi yang juga menatap ke arahnya penuh minat.


"Dia temanku, namanya Riki. dia ingin bermain bersama kita." ucap Randi yang langsung membuat Nara sangat terkejut.


"APA KAU GILA?" Nara tampak tak terima dan marah.


Randi terkekeh, Ia menghampiri Nara yang kini hanya mengenakan jubah mandi.

__ADS_1


"Kenapa? bukankah aku sudah membayar dan memberimu fasilitas rumah. jika memang kamu tidak mau pergi saja sekarang dari sini." ucap Randi meremehkan membuat Nara sama sekali tak bisa bernafas.


Pergi dari sini? bagaimana bisa Nara pergi jika Ia saja tak memiliki sanak suadara dikota dan kemana Nara akan tinggal sementara dia belum bisa memiliki Barra.


"Bagaimana? mau pergi atau layani kami?" tawar Randi yang akhirnya diangguki Nara. terpaksa malam ini Nara harus jadi pelacur dan melayani dua pria sekaligus, Randi benar benar kejam.


Setelah hampir tiga jam bergumul, Nara tampak kelelahan dan tertidur tanpa sehelai benangpun. Randi dan temannya merasa sangat puas karena hasratnya sudah dituntaskan oleh Nara.


"Wanitamu sangat hebat!" puji Riki saat keduanya sudah keluar dari kamar.


"Ya, karena dia memang pelacur!"


"Dari mana kamu mendapatkannya? katakan jika sudah bosan. aku akan membelinya." kata Riki.


Randi tersenyum, "Kau bisa datang kesini jika mau menikmatinya."


"Benarkah?" Riki tersenyum senang mendengar ucapan Randi.


Randi hanya mengangguk saja, pikiran nya kembali melayang saat sebelum dirinya kemari. sore tadi Randi membawa sebucket bunga dan berniat menjemput Nara dari restoran namun Randi dibuat terkejut karena Nara sudah tidak bekerja disana lagi.


"Semalam dia ada masalah dengan salah satu customer dan aku hanya memberi peringatan agar dia tidak ikut campur masalah customer disini tapi dia malah mengundurkan diri." jelas Pemilik restoran yang tak lain adalah teman Randi.


Dan penjelasan pemilik restoran dengan Nara sangat berbeda membuat Randi merasa dibohongi oleh Nara. Randi memang menyukai Nara namun Ia tak suka dibohongi.


Awalnya niat Randi ingin menjalin hubungan serius dengan Nara karena Randi merasa nyaman namun melihat Nara tidak sebaik yang Ia pikirkan membuat Randi hanya ingin menjadikan Nara pelacurnya saja, hanya sekedar untuk bersenang senang.


Jangan salahkan Randi karena Nara yang memulai semua ini.


Dan diapartemen Barra, Tampak Barra sedang duduk di balkon kamarnya sambil menghisap rokoknya.


Saat ini Barra masih memikirkan bagaimana agar bisa mendapatkan Qila kembali.


Barra sudah menghubungi Nathan untuk meminta solusi namun saat ini Nathan sedang berada diluar negeri tak bisa menemuinya. sementara teman temannya yang lain? Barra tak yakin bisa memberikan solusi untuknya.


"Hanya ada satu cara, ya hanya ada satu cara. apa aku harus melakukan itu agar bisa bersama Qila?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komeeen


__ADS_2