
Tidur Qila terusik kala merasakan ada tangan yang mengusap pipinya dengan lembut. Qila membuka matanya dan melihat Barra tersenyum menatapnya.
Qila membalas senyuman meski masih mengingat bentakan Barra siang tadi, namun Qila tak ingin memperpanjang masalah, Ia mengalah karena memang Qila yang salah.
"Baru pulang mas? maaf aku tidur lebih dulu." ucap Qila bangun dan duduk didepan Barra.
"Nggak apa apa, justru sebaiknya kamu langsung tidur dan jangan menungguku karena mungkin aku akan selalu pulang larut." balas Barra membuat Qila tersenyum kecut.
Jika Barra selalu sibuk dengan urusan kantor, lalu bagaimana dengan dirinya yang juga membutuhkan perhatian Barra?
"Mas sudah makan?" tanya Qila.
"Sudah."
Krucuk ... krucuk...
Bunyi suara perut Barra membuat Qila tersenyum geli,
"Mas bohong ya?"
Barra tersenyum malu merasa ketahuan sudah membohongi Qila.
"Mau di masakin nasi goreng?" tawar Qila mengingat setelah pulang dari rumah sakit Ia sama sekali belum memasak untuk Barra.
Barra tampak diam sejenak, dalam hatinya ingin sekali makan masakan istrinya yang sudah sangat Ia rindukan namun Ia juga tak tega jika harus membiarkan Qila memasak apalagi tengah malam seperti ini.
"Aku bikinin nasi goreng." Qila segera bangun dari ranjang, Barra sempat menahan tangan nya dan menggelengkan kepalanya namun Qila malah tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Barra.
"Nggak apa apa mas, cuma masak nasi goreng kok." ucap Qila yang akhirnya di angguki Barra karena Barra juga merasa sangat lapar.
Qila turun ke bawah, memasak nasi goreng di dapur ditemani Barra. saat Qila sedang asyik memasak, suara Nana mengejutkan keduanya,
"Tuan... Nyonya..."
"Apa kamu belum tidur?" heran Barra menatap Nana padahal maid yang lain sudah tidur namun Nana masih terjaga.
Nana tersenyum dan menggelengkan kepalanya ke arah Barra, Ia segera mendekati Qila yang sedang memasak, "Biar saya saja Nyonya." Nana ingin mengambil alih pekerjaan Qila namun dengan tegas Qila menolak.
"Tidak perlu, aku saja.''
"Tapi Nyonya, ini pekerjaan saya." kata Nana masih ngeyel.
"Ini kewajiban istri memasak untuk suami." balas Qila sambil tersenyum
"Lebih baik kamu istirahat saja, besok kan harus bangun pagi?"
Nana akhirnya menyerah, "Baiklah Nyonya."
__ADS_1
Nana segera pergi dari dapur meninggalkan Qila dan Barra.
"Hmm harum nya enak." ucap Barra kala Qila sudah meletakan sepiring nasi goreng diatas meja makan.
"Kok cuma satu? kamu enggak sayang?" heran Barra melihat Qila hanya duduk menemaninya.
"Aku masih kenyang mas."
"Sepiring berdua ya?"
Qila tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Enggak mas, aku beneran udah kenyang.''
Barra mengangguk dan mulai menikmati nasi goreng buatan istrinya yang rasanya masih sama enak seperti terakhir Ia makan masakan istrinya.
Selesai makan, keduanya kembali ke kamar. seperti biasa, Barra merokok lebih dulu di balkon kamarnya sebelum akhirnya menyusul Qila berbaring di ranjang.
"Mas... besok aku sudah mulai mengajar di sekolahan."
Barra menatap Qila, mendengar ucapan Qila Barra menghela nafas panjang,
"Aku ingin melarang mu, aku ingin kamu resign dari sekolahan namun itu terlihat sangat egois." ucap Barra membuat raut wajah Qila mendadak berubah sedih.
Menjadi seorang guru sudah cita cita Qila sejak dulu, sekarang Ia sudah bisa meraih cita citanya rasanya akan sangat sedih jika Suaminya tidak mendukung impiannya itu.
"Sudah lama aku ingin menjadi guru mas."
Barra mengangguk paham, "Ya aku tahu namun mengingat kesehatanmu-"
Barra kembali menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk dan membuat Qila tersenyum lebar.
"Tapi kamu harus janji jaga diri baik baik dan jangan memaksa jika memang masih sakit."
"Siap bos besar."
Barra tertawa mendengar ucapan Qila,
"Berarti sekarang sudah sembuh ya?'' tanya Barra.
"Sudah dong mas," Qila membalas penuh semangat membuat Barra tersenyum lebar.
"Kenapa mas?"
"Berarti hmmm..." Tangan nakal Barra mulai meraba kaki jenjang mulus milik Qila naik ke atas lalu melepaskan hijab oblong Qila.
"Apa mas?" Qila mulai gugup kala Barra menatapnya nakal.
"Kita kan udah janji mau bikinin cucu buat Papa sama Mama, Ayah sama bunda juga udah nungguin lho sayang." bisik Barra ditelinga Qila yang membuat jantung Qila berdegup kencang. Padahal sudah biasa Barra melakukan hal seperti ini namun entah mengapa Qila masih saja merasakan gugup luar biasa.
__ADS_1
"Mas..."
"Hmm..." Barra tak mengubris ucapan Qila karena sudah asyik dengan leher mulus Qila yang mengoda sejak tadi.
Nafsu Barra memburu, Ia menginginkan lebih karena sudah beberapa hari tidak melakukan bersama Qila mengingat Qila sakit saat mereka pulang dari honeymoon.
Sekarang, melihat Qila sudah sembuh, Barra tentu saja tak menyianyiakan kesempatan ini untuk segera melanjutkan program membuatkan cucu untuk orangtua juga mertuanya.
Tangan Barra sudah melepas kancing baju milik Qila, Baru ingin memulai permainannya mendadak keduanya dikejutkan oleh suara gedoran pintu dari luar.
"****... sialan!" mau tak mau Barra mengumpat mengingat nafsu sudah berada dipuncak ubun ubun namun harus terjeda karena suara gedoran pintu yang sangat keras.
"Siapa ya mas?" Qila kembali menutup kancing bajunya dan memakai hijabnya kembali.
Tak menjawab, Barra segera berjalan mendekati pintu untuk membuka pintu dan melihat siapa yang sudah menganggu aktifitas panasnya.
Barra terkejut melihat Nana yang berani mengedor pintunya, menatap ke arahnya dengan tatapan takut,
"Ada apa?" tanya Barra terdengar kesal dan marah.
"Sa saya.. maafkan saya Tuan, saya sedang ketakutan." ucap Nana dengan wajah pucatnya.
"Apa yang terjadi?" Barra akhirnya penasaran karena Nana berani menganggunya hanya karena ketakutan.
"Dikamar saya..."
"Ada apa?" Barra akhirnya mengikuti langkah Nana menuju kamarnya sementara Qila yang ikut mendengar akhirnya juga ikut berjalan dibelakang suaminya.
"Disini Tuan,... disini ada..." Nana menunjuk ke arah samping ranjang dengan tangan gemetar.
"Ada apa?"
"Ada tikus."
Barra langsung melonggo menatap Nana, Ia sangat kesal, kesal sekali pada Nana.
"Apa dirumah ini hanya ada aku dan istriku? dimana teman temanmu? dimana para satpam? kenapa kamu harus mengangguku malam malam seperti ini hanya karena ada tikus dikamarmu?" tanya Barra dengan kesal.
Nana menundukan kepalanya, takut mendengar suara keras Barra.
"Maaf Tuan, semua orang sudah tidur, saya takut menganggu mereka."
"Tapi kamu tidak takut menganggu ku? begitu?" sentak Barra membuat Nana semakin ketakutan sementara Qila yang ada dibelakang mereka tampak diam tidak membela Nana karena Qila juga merasa jika sikap Nana sangat aneh.
"Maafkan saya Tuan."
"Jika hal ini terjadi lagi, aku pastikan akan memecatmu!" ucap Barra lalu mengajak Qila keluar dari kamar Nana.
__ADS_1
"Tuan... tolong jangan."
Bersambung....