
Dibantu para satpam dan sopir, akhirnya Qila sampai dirumah sakit. Tampak beberapa maid berada di sana untuk menemani.
Wajah Rani terlihat khawatir berada didepan UGD apalagi Rani yang pertama melihat darah keluar dan mengalir di kaki Qila, membuat Rani sangat takut dan langsung berinisiatif membawa Qila ke rumah sakit.
"Bagaimana bisa terjadi?" tanya Zara yang baru saja datang bersama Sean setelah mendapatkan telepon dari salah satu maid.
"Karena lantai nya licin Nyonya." balas Rani dengan tangan gemetar. wajah para maid tampak pucat dan takut.
"Ceroboh sekali, kalian sebanyak ini bagaimana bisa membiarkan lantai licin?" tanya Sean dengan nada marah membuat para maid semakin takut.
"Ma maafkan, ini kesalahan kami." balas Rani dengan kepala menunduk takut.
"Ya ini memang kesalahan kalian dan jika sampai terjadi sesuatu dengan putriku, ku pastikan kalian dipecat!" ancam Sean.
"Mas sudahlah, jangan seperti ini. lebih baik kita doakan saja agar putri dan calon cucu kita baik baik saja." kata Zara menenangkan.
Tak berapa lama, Anya dan Zayn juga datang ke rumah sakit, wajah mereka tampak khawatir.
"Bagaimana keadaan Qila?"
"Dokter sedang memeriksanya." balas Zara.
Zayn yang kesal menatap satu persatu wajah maid yang menunduk,
"Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi?" tanya Zayn yang memang sudah diberitahu melalui telepon tentang apa yang menimpa Qila.
Semua maid tampak diam, tak ada yang berani berbicara.
"Jika sampai terjadi sesuatu pada Menantu kami, lihat saja kalian akan habis ditangan putraku!" ancaman kedua keluar dari mulut Zayn hingga membuat salah satu maid sampai menangis karena takut.
"Sudah, ini masih dirumah sakit. jangan membuat gaduh, sebaiknya kita tunggu saja dokter selesai memeriksa." ucap Zara.
"Ya benar, dan kalian sebaiknya pulang saja. biar kami yang menunggu." ucap Anya pada para maid.
Tanpa protes, para Maid segera bubar, keluar dari rumah sakit.
"Barra sedang berada diluar kota, pembukaan cabang baru. sebaiknya jangan beritahu apapun dulu." kata Zayn.
"Ya biarkan dia fokus dengan pekerjaan nya. kita tangani yang ada disini." kata Sean yang juga setuju dengan Zayn.
Setelah hampir tiga puluh menit menunggu akhirnya dokter yang memeriksa Qila pun keluar dari ruang UGD.
"Keluarga pasien."
"Saya!" Sean, Zara, Anya dan Zayn serentak menjawab dokter membuat dokter tampak kebingungan dan setelahnya tertawa.
__ADS_1
"Jadi?"
"Orangtua dan mertuanya." Zayn tampak menjelaskan membuat Dokter itu mengangguk paham.
"Pasien mengalami pendarahan ringan ,masih bisa di atasi. janin dan ibunya masih aman."
"Alhamdulilah."
''Hanya butuh bedrest untuk beberapa hari ke depan dan tidak boleh melakukan aktifitas apapun." kata Dokter.
"Baik, kami pasti akan menjaganya dengan baik."
Dokter kembali mengangguk, "Setelah ini akan dipindahkan ke ruang rawat." ucap Dokter lalu segera pergi dari sana.
Kini Qila sudah berada diruang rawat, terlihat pucat dan lemas. Zara yang tak tega melihat raut wajah Qila hanya bisa mengelusi kepala Qila sementara Anya tampak mengelusi perut Qila.
"Dokter memintamu bedrest jadi jangan lakukan apapun lagi, jangan sampai sakit dan membuat kami sangat khawatir." ucap Sean membuat Qila merasa bersalah.
"Maaf ayah, Qila hanya ingin melihat taman belakang sampai nggak tahu lantainya licin." jelas Qila.
"Aneh memang, Barra memiliki maid sebanyak itu dan kenapa mereka membiarkan lantai licin." Zayn tampak kesal.
"Jangan salahkan para maid Pa, mereka sudah bekerja dengan baik. aku saja yang ceroboh tidak melihat lantai licin." ucap Qila membela para maidnya.
Sean menghela nafas panjang, mengingat putrinya sangat baik hingga tak ingin menyalahkan para maidnya meskipun para maidnya jelas bersalah.
"Mas Barra..."
"Kami belum memberitahunya, kami takut membuatnya khawatir. sekarang yang terpenting kamu baik baik saja sayang." kata Zara sambil mengelus kepala Qila.
Qila terlihat lega, karena jujur Ia tak ingin membuat Barra sampai khawatir.
Sementara itu dirumah Barra, nampak semua maid duduk masih dengan wajah pucat mereka.
"Bagaimana ini? bagaimana jika kita dipecat." ucap salah satu maid.
"Kita bisa kerja ditempat lain." balas Nana santai.
"Bagaimana bisa kamu sesantai ini?" heran Maid yang lain.
"Kita tidak bersalah, salah Nyonya kita yang jalan tidak hati hati!" ucap Nana dengan nada kesal membuat semua maid mengelengkan kepalanya heran. Rani yang juga ikut duduk disana pun hanya menatap Nana dengan tatapan kosong.
Tepat pukul 9 malam Barra sampai dirumah, Ia memang pulang lebih awal dari perkiraan karena perasaan tak enak sedari tadi. sejak siang Ia merasa sangat khawatir dengan Qila. Ingin menelepon Qila pun tak sempat karena pekerjaan yang sangat menumpuk.
Rani, maid yang membuka pintu untuk Barra, wajah dan tangan nya gemetar membuat Barra merasa keheranan.
__ADS_1
"Nyonya sudah tidur?" tanya Barra melewati Rani. Baru selangkah memasuki rumah, Barra menghentikan langkah nya karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Rani.
"Hmm, ada apa?" tanya Barra melihat Rani masih gemetar.
"Nyonya..."
"Nyonya kenapa?" Entah mengapa jantung Barra berdegup kencang mendengar jawaban ragu Rani.
"Nyonya, dirawat dirumah sakit Tuan."
Seketika tangan Barra mengepal mendengar apa yang Rani katakan.
"Kenapa? ada apa?"
Tanpa mengatakan apapun lagi, Barra segera berlari keluar setelah mengetahui dimana Qila dirawat.
Barra melajukan mobilnya sangat kencang, tak peduli dengan suara klakson dari mobil lain, Ia harus segera sampai dirumah sakit sekarang juga.
Barra baru ingin masuk, melihat Zayn sang Papa yang keluar melewati pintu rumah sakit.
"Pa..."
Zayn terlihat terkejut melihat Barra berlari ke arahnya dengan wajah marah.
"Ada apa dengan Qila? kenapa sampai dirawat?"
Zayn menghela nafas panjang, "Temui saja didalam."
Tanpa mengatakan apapun lagi, Barra berlari menuju ruangan Qila.
Barra membuka pintu, melihat Mama dan Bunda mertuanya yang menunggu sambil menonton televisi sementara Qila sudah terlelap tidur diranjang rumah sakit.
Shuuuttt.... Anya menempelkan jari dibibirnya lalu mengajak Barra keluar,
"Ada apa Ma? kenapa bisa terjadi seperti ini?'' tanya Barra terlihat tak sabar.
"Mama juga nggak tahu, tadi siang di telepon sama maid kamu katanya Qila jatuh kepleset."
"KEPLESET?" Barra terkejut,
Anya mengangguk, "Mama juga heran, maid sebanyak itu tapi masih ada lantai licin. beruntung menantu sama calon cucu mama baik baik saja."
"Dokter bilang hanya pendarahan ringan, Qila hanya butuh istirahat, calon anak mu baik baik saja."
Barra mengepalkan tangan nya, Ia sangat kesal dengan kejadian ini. ceroboh, para maidnya sangat ceroboh. Barra pastikan akan mencari siapa orang yang membuat lantainya licin dan Barra akan langsung memecatnya.
__ADS_1
Bersambung