
Ameer mengajak Qila duduk disalah satu bangku taman, Ia sangat merindukan Qila, ingin berbincang dengan Qila tak peduli dengan status Qila yang sudah menikah.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Qila menatap ke sekelilingnya, merasa tak nyaman apalagi saat ini mereka menjadi pusat perhatian, entah apa yang membuat keduanya menjadi pusat perhatian, Qila benar benar merasa tak nyaman. mengingat status Qila juga sudah istri orang, sepertinya tak pantas berada disini berdua dengan pria yang bukan suaminya.
"Sebenarnya aku ingin mencari dokter obgyn.".
Ameer terkejut, "Dokter obgyn? kamu hamil?"
"Entahlah, aku baru ingin memastikan lebih dulu."
Raut wajah sumringah Ameer kini berubah menjadi merah seolah marah, tidak suka mendengar kabar bahagia dari Qila.
Qila berdiri, "Seharusnya aku berada ditempat pendaftaran untuk antri."
"Tidak, biar temanku saja yang memeriksa mu, kamu tak perlu antri ditempat pendaftaran."
Qila mengangguk, menurut saja karena dirinya kembali merasakan mual dan pusing, rasanya ingin cepat pulang.
Ameer membawa Qila pada salah satu dokter kandungan dirumah sakit itu. sejujurnya Qila merasa tak enak dengan pasien lain yang masih antri namun karena Ameer memaksa akhirnya Qila menurut saja.
"Wow, siapa ini?" tanya Dokter Obgyn wanita saat melihat Ameer datang bersama Qila.
"Dia temanku, tolong periksa apakah dia hamil atau tidak." balas Ameer ketus.
"Baiklah dokter dingin, aku akan memeriksa sekarang."
Qila menatap Ameer, heran mendengar dokter obgyn yang menyebut Ameer dokter dingin.
"Coba pakai ini dulu." kata Dokter obgyn memberikan sebuah tespack pada Qila.
"Lihat petunjuk dibelakang kemasan." tambah dokter Obgyn bertag name Rita itu.
"Baik dokter."
Qila memasuki kamar mandi yang ada diruangan dokter Rita, Ia segera memakai tespack sesuai petunjuk pada kemasan. dengan jantung berdegup, Qila melihat ada dua garis yang ada pada tespack itu namun satu garis masih samar.
"Jika dua positif, jika salah satu samar? bagaimana ini?" Qila tampak bingung, Ia pun segera keluar dari kamar mandi.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Dokter Rita tampak penasaran, Ameer yang masih berada disana pun tak kalah penasaran.
"Seperti ini." Qila mengulurkan tespack pada Dokter Rita.
Setelah melihat tespack Qila, Dokter Rita tampak tersenyum , "Berbaringlah, aku akan memeriksamu."
Qila mengangguk dan menurut, Dokter Rita tampak memeriksa perut Qila dan kembali tersenyum.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Qila sudah tidak sabar.
"Selamat cantik, kamu hamil usia kandungan diperkirakan masih empat minggu." ucap Dokter Rita yang membuat Qila tersenyum lebar sementara Ameer dibelakang dokter Rita langsung lemas dan pucat.
__ADS_1
"Dimana suamimu? seharusnya dia yang mengantar kesini."
"Dia sedang sibuk bekerja, aku akan memberitahunya setelah pulang nanti." jelas Qila yang langsung diangguki Dokter Rita.
Dokter Rita menjelaskan tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan saat hamil. setelah selesai, Qila segera keluar dari ruangan Dokter Rita mengingat diluar masih banyak yang antri ingin memeriksa.
"Selamat." Suara Ameer terdengar dari belakang Qila.
Qila menghentikan langkahnya, Ia berbalik dan menatap wajah lemas Ameer.
"Terimakasih, ku harap kamu segera menyusul." kata Qila yang hanya disenyumi oleh Ameer.
"Aku harus pulang sekarang."
Ameer memgangguk, "Ya, hati hati dijalan."
Qila tersenyum lalu mengangguk dan segera berjalan menuju parkiran mobil.
"Nyonya baik baik saja?" tanya Parto sopir Qila yang sedari tadi menunggu.
"Baik kok pak, tenang saja."
"Saya sudah khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Nyonya, saya masuk cari didalam tapi Nyonya nggak ada." jelas Parto dengan raut wajah khawatirnya.
"Udah tenang saja pak, kalau boleh saya mau minta tolong."
"Minta tolong apa Nyonya?"
"Tapi nyonya, nanti kalau..."
"Tenang saja pak, nanti saya yang bilang sendiri."
"Baik Non jika seperti itu." kata Parto tampak lega.
Setelah sampai dirumah, Qila segera memasuki kamar. Rasanya sudah tak tahan ingin merebahkan tubuhnya di ranjang. Kepala nya masih terasa pusing dan tubuhnya lemas.
"Nyonya tidak makan siang dulu?" tawar Nana yang baru memasuki kamar Qila.
Qila menggeleng, "Aku ingin tidur dulu."
"Mau saya ambilkan Nyonya? ini sudah jam makan siang." kata Nana sedikit memaksa.
Qila diam sejenak, Ia memang merasa lapar dan ingat ucapan dokter Rita jika Ia tidak boleh sampai telat makan.
"Baiklah, ambilkan saja."
Nana mengangguk dan segera keluar, tak berapa lama Nana memasuki kamar Qila membawa nampan.
Menu siang ini, sayur bayam, perkedel daging dan segelas air putih tak lupa ada potongan buah di piring lain. sangat mengoda mata Qila.
Qila segera melahap makanannya namun baru sesuap, Ia merasakan perutnya sangat mual membuatnya harus berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Hoekk... hoekk....
Qila memuntahkan makanan yang baru sesuap Ia makan.
Nana yang masih berada disana, ikut berlari menemani Qila.
"Nyonya baik baik saja?"
Qila mengangguk, meskipun rasanya masih mual, Ia tak ingin orang lain tahu jika dirinya hamil sebelum suaminya tahu. cukup Ameer dan dokter Rita, Ia tak ingin ada lebih banyak lagi yang tahu apalagi Nana, wanita yang sangat Qila curigai bukan wanita baik.
"Mungkin aku anginan." jelas Qila.
"Jangan jangan, nyonya hamil." tebak Nana yang membuat Qila terkejut karena Nana bisa menebaknya dengan benar.
"Entahlah, ah iya bisakah kamu membuatkan jus mangga?"
"Baiklah Nyonya."
Nana memandang perut Qila sejenak sebelum akhirnya Ia keluar dari kamar Qila.
Qila kembali berbaring, Ia menatap nampan makanan yang kini ada dimeja. Ia melihat makanannya masih utuh.
"Kenapa nggak mau makan sayang? padahal Mama lapar." gumam Qila sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Pintu terbuka, Nana kembali masuk sudah membawa segelas jus mangga.
Tak butuh waktu lama, Qila segera meneguk jus itu hingga habis. kini perutnya terasa tenang tak lagi mual.
"Sudah, aku ingin tidur dulu." ucap Qila mengulurkan gelas yang kosong pada Nana.
"Nyonya yakin tidak ingin periksa dulu, nanti saya temani." tawar Nana ramah.
Qila menggelengkan kepalanya pelan,
"Saya yakin Nyonya pasti hamil." celoteh Nana.
"Bisakah kamu keluar, saya ingin tidur." ucap Qila yang merasa risih dengan sikap Nana yang sedikit pemaksa.
"Baik Nona maafkan saya."
Nana segera keluar dari kamar Qila.
Qila menatap pintu yang kembali tertutup, rasanya tak enak dirinya sedikit kasar dengan Nana padahal Nana sudah baik dan perhatian kepadanya namun entah mengapa rasanya Qila ragu dengan kebaikan Nana. Qila tidak ingin suudzon namun jika dibanding dengan Maid yang lain Nana terlihat sangat berlebihan.
Sementara diluar, Nana yang sudah kembali didapur tampak diam memikirkan sesuatu sebelum akhirnya Ia tersenyum.
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komeen.
.
__ADS_1