The Devil Barra

The Devil Barra
29


__ADS_3

Deg...


Deg...


Deg..


Jantung Qila berdegup sangat kencang karena saat ini matanya dan mata Barra saling bertemu, mereka berdua bertatap mata dan Barra juga menampakan senyum manisnya membuat Qila tak ingin berhenti menatap Barra. Qila benar benar terpesona dengan senyum manis Barra.


"Belum tidur ternyata." ucap Barra yang akhirnya membuat Qila sadar dan langsung gugup.


"Egh..." terlalu gugup membuat Qila tak bisa menjawab ucapan Barra.


Barra tampak bangkit lalu berjalan ke sofa yang ada dikamar Qila, menepuk nepuk bantal sofa sebelum akhirnya Ia berbaring disana.


"Mas tidur disitu?" tanya Qila dengan suara gugup melihat Barra yang tidur disofa padahal tadinya Qila pikir Barra akan tidur disampingnya.


"Ya, aku tahu kamu belum nyaman, jadi lebih baik tidur terpisah sampai kamu benar benar sudah siap." ucap Barra yang membuat Qila terlihat kesal.


Ya tentu saja Qila kesal, mengingat pernikahan mereka terjadi karena Barra yang memperkosanya dan sekarang setelah menikah, Barra malah memilih tidur terpisah dan mengatakan sampai Qila siap, benar benar membuat Qila merasa heran.


"Jika seperti itu, kenapa kemarin memperkosaku!"


Barra tersenyum, "Tidurlah, hari ini sangat melelahkan untuk kita." kata Barra lalu memejamkan mata.


Qila masih terlihat kesal, tak puas dengan jawaban Barra. namun tak berapa lama, Qila akhirnya ikut memejamkan mata, keduanya sama sama terlelap. hanya ada suara dengkuran dari kamar itu.


Barra terbangun setelah mendengar suara adzan subuh yang terdengar keras didalam kamar. saat bangun rupanya suara adzan itu berasal dari ponsel Qila yang masih tergeletak dimeja.


Barra bangun, melihat Qila sudah tidak ada diranjangnya, Ia bangkit lalu mengambil ponsel Qila untuk mematikan panggilan.


"Kenapa dimatikan?" tanya Qila yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah basah, sepertinya baru selesai wudhu.


"Mau sholat?"


Qila mengangguk,


"Kenapa tak mengajak ku?"


"Memang mas juga sholat?" tanya Qila yang membuat Barra berjalan mendekati Qila.


"Tentu saja, karena sekarang aku memiliki makmum jadi aku harus sholat." kata Barra membuat Qila berjalan mundur tak ingin terlalu dekat dengan Barra.


"Tunggu aku." kata Barra memasuki kamar mandi.


Qila duduk dipinggir ranjang sambil memeganggi dadanya yang berdegup sangat kencang.


"Kenapa selalu gugup seperti ini." gumam Qila sambil memegangi dadanya.

__ADS_1


Tak berapa lama Barra keluar dan mendekat ke arah kopernya, Ia mengambil sarung dan peci yang memang sengaja Barra bawa ke dalam koper.


"Ayo kita mulai." Ajak Barra mengelar sajadah didepan Qila.


Qila tampak ragu,


"Kenapa?"


"Kamu bisa menjadi imam sholat?" tanya Qila memberanikan diri bertanya hal sensitif seperti itu.


Barra tertawa, "Kata katamu sungguh menyakitiku."


"Maaf." Qila menunduk merasa tak enak.


"Tidak masalah, jangan khawatirkan apapun meskipun aku ini bajingan tapi aku juga pernah sholat bahkan menjadi imam sholat."


"Bu bukan itu maksudku, aku hanya..."


"Sudah, sebaiknya kita mulai sekarang." ajak Barra memulai sholatnya.


Qila yang awalnya meragukan Barra namun akhirnya terpana setelah mendengar Barra melantunkan ayat ayat alquran saat mengimami sholat. bahkan membuat sholat Qila menjadi tidak khusyu.


Assalamalaikum warohmatullah.


Dua rakaat telah selesai, Barra mengulurkan tangannya membuat Qila seketika mendongak dan tanpa ragu menerima uluran tangan Barra lalu menciumnya.


Barra tersenyum, Ia mendekat ingin mengecup kening Qila namun sayangnya Qila menghindar membuat Barra terkekeh.


Barra merasa geli melihat tingkah istrinya itu,


"Sabar yah, sebentar lagi kita akan buka puasa." ucap Barra sambil memandangi bawah miliknya yang tertutup celana kolor.


Barra yang tidak bisa lagi memejamkan mata akhirnya ikut turun ke bawah. melihat Sean Ayah mertuanya sedang mencuci mobil membuat Barra berniat membantunya.


Tanpa mengatakan apapun, Barra mengambil sikat lalu menyikati ban mobil yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari Sean.


"Jangan karna kamu sekarang bantuin Ayah nyuci mobil, Ayah bisa cepat maafkan kamu, nggak Barra, nggak semudah itu!" kata Sean yang hanya membuat Barra tersenyum.


Barra tetap melanjutkan mencuci mobil Ayah mertuanya hingga mobil sedan itu kini terlihat kinclong. Selesai mencuci mobil, Barra kembali ke kamar untuk mandi. Barra tersenyum melihat diranjang sudah ada setelan baju miliknya yang sepertinya sudah disiapkan Qioa untuknya.


Pagi ini memang Barra harus pergi ke kantor. meskipun baru sehari menikah tidak membuat Barra malas malasan untuk tidak bekerja, justri Barra harus lebih semangat membuktikan jika dirinya bisa menjadi suami yang bertanggung jawab untuk Qila.


"Kamu juga ngajar pagi ini?" tanya Barra yang baru saja selesai mandi, melihat Qila sudah rapi mengenakan seragam gurunya.


"Iya, aku nggak ngambil cuti."


"Ya sudah nanti ku antar." kata Barra yang langsung diangguki Qila.

__ADS_1


Setelah selesai bersiap, keduanya turun untuk sarapan bersama dimana sudah ada Sean, Zara dan Risha yang menunggu mereka.


"Masa baru sehari nikah udah kerja." cibir Risha.


"Kita kan pekerja keras." balas Barra sambil mengedipkan matanya pada Qila.


"Ehem." deheman Sean membuat Barra terkekeh, disini Ia merasa terkekang karena Sean sepertinya masih belum bisa merelakan Qila untuk Barra.


"Untuk sementara kalian tinggal disini dulu." kata Sean.


"Mas..." Zara tampak protes tak setuju.


"Kenapa? Ayah masih belum rela kalau Qila tinggal seatap dengan pria ini." ucap Sean menatap Barra tajam.


"Lah, kok gitu yah. bukannya mbak Qila dijodohin ya? tapi ke apa Ayah nggak suka sama mas Barra?" heran Risha yang memang belum mengetahui kebrengsekan Barra.


"Terserah Ayah saja. Barra mah nurut selama Ayah nggak bosen ngeliatin Barra ada disini." balas Barra santai membuat Sean geram.


"Mas, sebaiknya kita kasih kesempatan Barra dan Qila membangun rumah tangganya sendiri tanpa kita harus ikut campur." kata Zara menasehati.


"Bukan Ayah nggak mau kasih kesempatan, Ayah cuma nggak mau Qila disakitin sama dia." tegas Sean sambil menunjuk Barra.


Qila meletakan sendoknya, Ia meneguk air lalu berdiri, mencium tangan Sean juga Zara bergantian pertanda Ia akan berangkat.


"Aku tunggu di mobil." kata Qila yang langsung diangguki Barra.


Tak berapa lama, Barra ikut berdiri lalu mencium tangan kedua mertuanya.


"Berangkat dulu Ayah mertua, Assalamualaikum."


"Huh pencitraan." cibir Sean.


"Waalaikumsalam, waalaikumsalam." ucap Zara terdengar menyindir Sean yang langsung membuat Barra terkekeh.


"Anak itu benar benar!" Sean masih tampak kesal.


"Ayah aku mau dong dijodohin sama cowok seganteng mas Bara." ungkap Risha.


"Tenang saja, kami sudah menyiapkan calon untukmu."


"Siapa Bunda?''


"Ameer."


Wajah ceria Risha berubah cemberut,


"Kenapa harus pria itu?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2