The Devil Barra

The Devil Barra
26


__ADS_3

Qila membuka matanya, Ia merasakan kepalanya sangat pusing. Ia melihat ke sekelilingnya, merasa tak mengenal kamar ini. berbeda dengan kamar miliknya. Qila mencoba mengingat, apa yang terjadi padanya hingga berada disini namun Qila sama sekali belum ingat apapun.


Qila akhirnya bangun namun seketika Ia terkejut melihat Barra terlelap disampingnya.


Aaaaaa...


Qila berteriak histeris sambil memeluk tubuhnya, Tak berani menatap ke arah Barra yang tak mengenakan baju. tubuh Barra hanya tertutup selimut itupun selimut yang Qila pakai juga.


Barra yang mendengar teriakan Qila pun ikut bangun dan menatap wajah marah Qila.


"Kamu sudah bangun?" tanya Barra santai seolah tak berdosa sedikitpun.


"Aa apa yang kamu lakukan?" tanya Qila menutupi dadanya dengan kedua tangannya.


Barra bangkit dari ranjang, Qila sempat melihat Barra hanya mengenakan celana boxer sebelum akhirnya Qila memalingkan wajahnya tak lagi menatap Barra.


"Aku memperkosamu," balas Barra santai yang membuat Qila terkejut sangat terkejut, Qila melihat baju yang Ia kenakan masih utuh tidak ada yang terlepas namun Barra mengatakan telah memperkosanya.


"Aku memakaikan bajumu lagi setelah selesai." kata Barra seolah tahu apa yang dipikirkan Qila.


"Ke kenapa kamu harus sejahat itu?" Qila akhirnya tak kuasa menahan tangisnya, Ia menangis sejadi jadinya.


"Agar kamu hamil dan kita bisa menikah." balas Barra masih santai duduk disofa sambil memandangi pemandangan menyakitkan dimana untuk pertama kalinya Ia melihat Qila wanita yang Ia cintai menangis didepannya.


"Ini perbuatan dosa, kenapa kamu harus melakukan ini padaku?"


"Biarlah aku yang menanggung dosanya."


"Tapi aku tidak mau menikah dengamu!" tegas Qila dengan menatap Barra marah.


"Jika kamu tidak mau menikah denganku, kamu pikir masih ada pria yang mau menikahi wanita yang sudah tidak suci lagi?" tanya Barra yang membuat tangis Qila kembali pecah.


"Jahat! pria jahat. kenapa harus melakukan ini padaku?"


"Karena aku ingin menikah denganmu dan aku sudah mengatakan padamu jika aku akan melakukan apapun agar kita bisa menikah. dan aku pikir ini cara terbaik agar kita bisa segera menikah."


Keduanya diam, tak lagi mengatakan apapun. hanya terdengar suara tangisan sesenggukan milik Qila hingga membuat Bara tak tahan lagi.

__ADS_1


"Lebih baik kita segera pulang, aku akan mengakui semua pada Ayahmu."


Qila menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak mau!"


"Lalu kamu memilih diam dan tiba tiba perutmu membesar dan hamil? apa kamu tidak takut orangtuamu akan semakin shock?" tanya Barra masih terdengar santai.


Qila kembali menatap Barra, "Aku membencimu, sangat membencimu!"


"Aku tidak peduli, asal kita bisa menikah!"


Qila kembali memalingkan wajahnya, Ia melihat sprei putih kamar hotel terdapat bercak warna merah, Ia juga melihat rok yang Ia pakai juga terdapat bercak merah. Qila memang masih awam dengan hal seperti ini karena Qila sama sekali belum tahu tentang apapun namun Qila pernah mendengar dari salah satu temannya jika pertama kali disentuh pria akan membuat miliknya keluar darah dan melihat bercak merah yang ada dsprei dan roknya membuat Qila benar benar percaya jika Barra telah memperkosanya.


Tak lagi mengatakan Apapun, Qila berdiri dan sempat merapikan baju serta jilbabnya. Qila berjalan keluar hotel tanpa memperdulikan Barra.


Keduanya memasuki mobil, Qila langsung memalingkan wajahnya memandang ke arah luar, sementara Barra tampak tersenyum puas karena rencananya telah berhasil, Ia hanya harus bersiap menghadapi Sean setelah ini.


Dan benar saja sampai dirumah Qila, Barra langsung disambut bogeman Sean. Pipi kanan dan kiri milik Barra langsung memerah karena Sean meninju cukup keras.


"APA YANG KAU LALUKAN HAH!" Teriak Sean pada Barra yang sudah tersungkur dilantai.


Qila tampak langsung memeluk Zara dan menangis disana.


Ameer tidak bodoh, melihat bercak merah di rok Qila membuat Ameer paham apa yang sudah Barra lakukan pada Qila.


"Maafkan saya, saya sudah memperkosa Qila." Barra mengakui didepan semua orang membuat Ameer tak kuasa menahan diri dan langsung memukuli Barra dengan brutal.


"Brengsek! kau pria brengsek!" umpat Ameer sambil terus memukuli Barra tanpa perlawanan dari Barra.


Sean langsung tersungkur jatuh dilantai, tubuhnya seketika melemas mendengar pengakuan Barra. Qila yang melihat Ayahnya jatuh pun segera berlari dan memeluk sang Ayah.


"Maaf Ayah... maafin Qila." ucap Qila sambil menangis.


Ameer masih belum berhenti memukuli Barra, meskipun wajah Barra sudah babak belur Ameer tak peduli masih terus memukuli Barra hingga akhirnya Zara lah yang melerai keduanya.


"Sudah Ameer, sudah..." ucap Zara memeganggi bahu Ameer.


"Dia brengsek! sudah menodai Qila." ucap Ameer emosi.

__ADS_1


"Aku akan tanggung jawab, aku akan menikahi Qila." kata Barra dengan suara lantang meskipun bibirnya sulit untuk digerakan.


Sean tersenyum sinis, "Kau pikir semua akan semudah itu?"


"Jika aku tidak segera menikahi Qila, dia pasti akan hamil."


"Brengsek!" Amerr kembali memberi satu bogeman pada Barra.


Mata Sean tampak menatap kosong, tangannya meraih kepala Qila dan memberi elusan disana, Qila yang tadinya menangis sesenggukan sekarang lebih tenang dan mulai diam.


"Aku yang akan menikahi Qila, jika sampai Qila hamil aku akan menikahinya." ucap Ameer terdengar mengebu membuat Barra langsung marah.


"Kau pikir siapa menikahi Qila?" Barra bangkit dan hendak memukul Ameer.


"Dari pada Qila harus menikah dengan pria brengsek sepertimu, lebih baik Qila menikah dengaku!" ucap Ameer penuh percaya diri.


Barra hendak melayangkan tinju untuk Ameer namun suara Qila membuat Barra menghentikan niatnya,


"Sudah ... sudah cukup!" suara Qila membuat semua orang menatap ke arahnya.


"Biarkan, biarkan aku menikah dengan Mas Barra." ucap Qila yang membuat Barra langsung tersenyum lebar sementara Ameer langsung terjatuh dilantai, tak percaya dengan apa yang baru saja Qila katakan.


Menikah dengan Barra? padahal baru saja Ameer bahagia karena Qila batal menikah dengan Barra, sekarang Ameer harus dibuat kecewa lagi.


"Apa kamu yakin Qila? lihatlah dia bukan pria baik." ucap Ameer menatap Qila tak percaya.


"Ya, dia yang sudah menodaiku, dia juga yang harus bertanggung jawab." balas Qila tampak mantap dengan keputusannya.


Ameer pasrah, tanpa disadari bulir air matanya jatuh, sementara Sean dan Zara hanya diam menatap ke arah putrinya.


"Aku janji, setelah kita menikah aku akan berubah menjadi pria yang baik untukmu." kata Barra.


"Bullshit, sekali brengsek tetaplah brengsek!" umpat Ameer masih tak terima.


"Sudahlah Ameer, keputusan Qila memang sudah tepat. memang seharusnya Barra mempertanggung jawabkan perbuatannya." Kata Sean yang membuat Barra semakin tersenyum lebar.


Akhirnya... Ia bisa mendapatkan Qila kembali.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


jangan lupa like vote dan komeenn


__ADS_2