
Qila berdiri didepan cermin, matanya sudah tak lagi sembab. Semalam Ia sudah puas menangis dan kecewa dan sekarang waktunya Qila untuk bangkit dan melanjutkan hidupnya.
Qila yang saat ini sudah rapi dengan seragam gurunya segera turun untuk sarapan bersama keluarganya.
"Pagi Ayah..." sapa Qila yang baru melihat Sean pagi ini.
"Ini nasi goreng buatan Incess Qila." ucap Zara yang baru saja datang membawa sepiring nasi goreng.
Sean tampak tersenyum, melihat putrinya sudah bisa tersenyum pagi ini. Jika saja Qila masih sedih mungkin Sean juga akan merasakan rasa bersalah terus menerus.
"Ayah seneng lihat Qila sudah nggak sedih lagi." ungkap Sean.
Qila tersenyum, meskipun hatinya masih terasa sakit namun Qila harus bangkit agar tak membuat orangtuanya ikut sedih.
"InsyaAllah Qila udah ikhlas Ayah, jadi Ayah jangan merasa bersalah lagi ya." kata Qila membuat Sean kembali tersenyum.
"Duh putri Ayah, emang ter the best pokoknya." Kata Sean sambil mengacungkan jempolnya membuat Qila terkekeh.
Selesai sarapan, Qila berangkat mengajar diantar Sean sekalian Sean berangkat ke kantor.
Mobil Sean masih berhenti didepan gerbang sekolahan, Sean masih memperhatikan sang putri hingga memasuki gerbang dan tak terlihat lagi.
Sementara itu, Barra yang masih terlelap merasa ada air yang menguyur tubuhnya membuat Barra terkejut dan akhirnya bangun.
Barra ingin marah namun melihat siapa menguyur air membuat Barra mengurungkan niatnya untuk marah.
"Bangun, mandi dan kita bicara!"
Barra hanya mengangguk, menuruti perintah yang tak lain dari Zayn sang Papa.
Seusai mandi, Barra segera menghampiri Papa nya yang kini duduk diruang tengah apartemennya.
"Puas kamu sudah mempermalukan Papa dan Mama?" tanya Zayn sambil menatap Barra tajam.
"Maaf." Barra menundukan kepalanya, Ia merasa sangat bersalah karena sudah mempermalukan kedua orangtuanya.
"Tapi Barra yakin tidak melakukan apapun wanita itu karena malam itu Barra-"
"Berhenti membela diri! kamu pikir Papa nggak tahu kelakuan kamu selama ini."
__ADS_1
Barra terkejut dan menatap ke arah Zayn,
"Papa tahu Barra bagaimana kamu diluar sana, bahkan Papa tahu kamu memiliki anak buah dan kamu juga yang membunuh pria pemerkosa kakak kamu. Papa tahu!" kata Zayn membuat Barra sangat sangat terkejut.
Barra tak menyangka, Papa nya tahu semua kelakuan buruknya namun kenapa Papa hanya diam saja.
"Selama ini Papa diam karena Papa berharap kamu berubah dengan sendirinya, Papa diam karena Papa sadar masa lalu Papa juga sepertimu. Papa merasa dihukum melihat kamu memiliki perilaku yang sama dengan Papa dimasa lalu. Papa malu itulah sebabnya Papa hanya diam dan berharap kamu berubah, tapi sekarang apa?"
"Diamnya Papa tak membuat kamu sadar malah membuat kamu mempermalukan keluarga seperti ini!" tegas Sean yang membuat Barra menunduk malu tak berani menatap Sean.
"Papa menjodohkan kamu dengan Qila karena dia wanita baik baik. dia mungkin nanti yang akan membuat kamu berubah menjadi seseorang yang lebih baik, seperti Papa dulu yang berubah karena Mama kamu. tapi belum sempat kamu menikah dengan Qila, kamu malah membuat masalah seperti ini!"
"Barra akui Barra memang bejat Pa... tapi itu dulu sebelum Barra bertemu Qila. dan setelah Barra bertemu Qila. Barra benar benar sudah insyaf, Barra tak melakukan seperti yang wanita itu katakan.
Malam itu memang Barra mabuk, tapi Barra juga tak merasa telah menodai wanita itu. untuk kali ini Barra mohon Papa percaya sama Barra."
Zayn diam sejenak, "Mungkin Papa bisa memaafkan kamu. Papa dan Mama bisa memberi kesempatan untuk kamu tapi tidak untuk keluarga Qila, jadi sebaiknya kamu ikhlaskan saja Qila dan segera bawa wanita semalam kerumah, kamu harus tetap mempertanggung jawabkan perbuatanmu!"
Barra menggelengkan kepalanya, "Nggak Pa, Barra nggak mau tanggung jawab, Barra akan tetap memperjuangkan Qila, karena hanya Qila yang Barra cintai."
Zayn tersenyum sinis, "Lupakan Qila dan jangan membuat malu keluarga lagi."
Barra meraup wajahnya frustasi, terlihat dirinya sangat emosi saat ini, "Sialan! wanita itu benar benar harus ku habisi!"
...
Barra memasuki restoran tempat Nara bekerja, Ia tampak melihat ke sekeliling namun diantara para pelayan restoran Ia sama sekali belum melihat Nara.
"Mau pesan apa Tuan?" tanya salah satu pelayan resto yang tampak takut melihat wajah garang Barra.
"Nara, apa dia disini sekarang?"
"Na nara? hari ini dia tidak masuk bekerja Tuan."
"Ck, sialan, aku terlambat!"
"Anda ingin memesan apa?" tanya pelayan itu yang membawa buku list pesanan.
"Dimana Nara tinggal?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu karena dia baru 2 hari bekerja disini."
Barra tampak berdecak kesal, Ia mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu lalu diberikan pada pelayan itu.
"Untukmu."
Barra segera bangkit dan keluar dari restoran itu.
"Sialan! dimana aku harus mencari wanita itu!" Emosi Barra yang saat ini sudah berada didalam mobil.
"Dia harus ku habisi sebelum Papa menemukannya!"
Barra melajukan mobilnya, mobilnya berjalan tanpa arah hingga tanpa sadar mobil Barra berhenti didepan sekolahan Qila.
Barra berhenti sejenak, Ia melihat jam tangan yang melingkar ditangannya, "Sudah waktunya Qila pulang mengajar." gumam Barra yang akhirnya menunggu Qila.
Tak berapa lama semua murid berhamburan keluar dari sekolah, Barra segera turun agar Ia bisa mencegat Qila.
Dan setelah semua murid habis, beberapa guru rekan Qila juga sudah keluar, jantung Barra mulai berdegup, entah kenapa Ia merasakan hal seperti ini.
Barra menatap ke arah gerbang hingga Ia melihat sosok gadis yang Ia tunggu, Qila tampak tersenyum ramah pada satpam yang menyapa Qila saat berjalan keluar.
Namun senyum Qila luntur setelah melihat Barra yang kini berdiri didepannya.
"Qilaa..." sapa Barra dengan suara lembut membuat Qila mengalihkan pandangan dan berjalan menghindari Barra.
"Aku minta maaf." Barra tak menyerah, Ia menghadang Qila yang mencoba kabur dari Barra hingga akhirnya Qila merasakan lelah dan berhenti namun kepala Qila menunduk tak menatap Barra.
"Aku minta maaf, aku tidak pernah mengkhianatimu. wanita itu berbohong." jelas Barra berharap Qila mau mengerti tentang dirinya.
Qila tampak memaksakan senyum, "Semua sudah berakhir mas Barra... lebih baik kita sama sama mengikhlaskan saja."
"Tidak! aku mencintaimu dan tidak akan pernah bisa mengikhlaskanmu!"
"Terserah mas Barra, tapi aku sudah tidak ingin bertemu dan diganggu mas Barra lagi. Jadi ku harap Mas Barra bisa mengerti."
Barra menggelengkan kepalanya, "Tidak Qila, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu lagi!"
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komenn