
Zayn dan Anya baru ingin makan malam bersama namun mendadak dihubungi oleh Sean dan meminta mereka harus segera datang kerumah Sean.
"Cepat kalian kesini atau putramu akan ku bunuh sekarang juga." kata Sean saat menelepon Zayn membuat Zayn bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sial, ada apa? kenapa dia membawa Barra?" gumam Zayn yang kini sudah berada didalam mobil bersama Anya.
"Aku khawatir Barra berbuat nekat Mas, jangan jangan Barra..." wajah Anya sudah pucat membayangkan sesuatu yang mengerikan tentang apa yang dilakukan Barra pada Qila.
"Sudah, jangan khawatirkan apapun dulu." kata Zayn memberikan ketenangan untuk istrinya meskipun dirinya sendiri juga sangat khawatir.
Sesampainya dirumah Sean, Zayn dan Anya disambut muka masam Sean. Juga Barra yang tengah duduk di sofa dengan wajah babak belur. Ada juga Qila terlihat matanya sangat sembab.
"Astagfirullah, Barra apa yang terjadi?" Anya sangat terkejut melihat wajah putranya babak belur seperti itu.
"Dia sudah memperkosa Qila." ungkap Sean dengan suara lemah membuat Zayn seketika emosi dan kembali melayangkan pukulan pada Barra.
"Mas sudah... jangan lagi." teriak Anya histeris melihat Zayn memukul Barra sementara Barra hanya diam tak melakukan perlawanan.
"Brengsek! apa Papa mendidikmu supaya menjadi seperti ini? memalukan keluarga!" ucap Zayn penuh emosi.
"Sudah sudah, jangan ada kekerasan lagi. lebih baik kita bicarakan masalah pernikahan untuk keduanya." kata Zara yang sebenarnya juga kasihan melihat Barra sedari tadi mendapatkan bogeman.
"Menikah?" Anya tampak terkejut mendengar apa yang baru saja Zara ucapkan.
"Tentu saja mereka harus menikah, memang masih ada yang mau dengan Qila jika dirinya tidak suci lagi!" ketus Sean.
"Ya sudah jika seperti ini, lebih baik kita adakan akad nikah besok pagi." kata Zayn yang membuat semua orang terkejut dan menatap ke arahnya.
"Lebih cepat lebih baik, aku takut terjadi sesuatu dengan Qila yang membuat keluargamu lebih malu lagi." tambah Zayn.
"Semua ini juga karena anakmu!" ketus Sean.
"Ya ya, aku tahu. maafkan aku, sudah gagal mendidik putraku." ucap Zayn merasa sangat bersalah.
Setelah membahas beberapa hal penting untuk akad nikah dadakan besok pagi, Zayn dan Sean segera menghubungi orang orangnya untuk menyiapkan segala sesuatu yang akan diperlukan besok pagi.
Selesai dengan segala persiapan, Zayn dan keluarga kecilnya akhirnya memutuskan untuk pulang istirahat.
Zara saat ini menemani Qila tidur dikamar Qila karena Qila masih merasa shock dengan apa yang terjadi pada dirinya.
"Sudah sayang, pasrahkan semua sama Allah." kata Zara melihat putrinya tak segera bisa memejamkan mata.
__ADS_1
Qila masih diam, tak merespon ucapan Zara.
"Bukankah Qila mencintai Barra?"
"Qila hanya takut bunda, takut jika nanti setelah menikah mas Barra tidak bisa menjaga kesetiaanya untuk Qila." ungkap Qila.
"Jadi karena itu?"
Qila mengangguk,
Zara tersenyum, "Jika dilihat, Barra memang seperti pria brengsek, tapi bunda yakin jika Barra mencintai kamu, Barra akan menjaga kamu dan berubah lebih baik untuk kamu sayang."
"Tapi bagaimana jika mas Barra nanti..."
"Sudah, serahkan semua sama Allah. berusaha menjadi istri yang baik dan patuh pada suamimu, InsyaAllah, Qila pasti akan bahagia." ucap Zara yang entah mengapa membuat Qila sedikit lebih tenang.
Qila langsung memeluk Zara, "Maafin Qila ya bunda sudah membuat Bunda malu."
"Ssshhhtt... Qila nggak salah apapun, semua yang terjadi sudah takdir dari Allah. kita harus ikhlas menjalani jadi Qila jangan merasa bersalah lagi."
Qila mengangguk dan tak berapa lama Qila akhirnya memejamkan mata tertidur pulas.
Sementara itu, saat ini Barra tidur dirumah orangtuanya karena Anya yang memaksa Zayn untuk menginap dirumah.
Barra sedang berbaring dikamarnya, entah apa yang Ia rasakan saat ini, rasanya campur aduk. Ia senang karena berhasil mendapatkan Qila kembali, sedih melihat orangtuanya juga orangtua Qila sedih dan kesal merasakan sakit diwajahnya yang babak belur karena pukulan Sean dan Ameer.
Huh ameer pria menyebalkan itu, jika saja sedang tidak ada orangtua Qila, mungkin Barra sudah membalas perbuatan Ameer padanya.
Meski begitu, Barra sudah puas karena kini Ameer tak lagi bisa mendekati Qila.
Pintu kamar terbuka, Anya tampak masuk ke kamar Barra membawa baskom berisi air es juga kain bersih untuk membersihkan luka diwajah Barra.
"Sudahlah Ma, tak perlu melakukan ini, aku baik baik saja." kata Barra menolak Anya yang ingin merawat lukanya.
"Besok hari spesial untukmu, kamu harus terlihat lebih baik. biar Mama bersihkan dan kasih salep agar besok lukanya membaik." kata Anya yang akhirnya dituruti oleh Barra.
Barra memandangi wajah sang Mama yang sedang fokus merawat lukanya, "Mama pasti kecewa sama Barra?"
Anya tersenyum, "Iya, kecewa sekali."
Barra memalingkan matanya, tak lagi menatap wajah Anya, merasa sangat malu.
__ADS_1
"Tapi biar bagaimanapun, kamu putra Mama. apapun yang kamu lakukan, seburuk apapun kamu, tetap saja kamu putra Mama." kata Anya.
"Maafin Barra Ma..."
Anya mengangguk,
"Barra sangat mencintai Qila, dan Barra hanya ingin bersama Qila Ma, meskipun apa yang Barra lakukan salah, Barra tak peduli asal bisa bersama Qila." ungkap Barra.
"Lalu setelah mendapatkan Qila, apa yang akan Barra lakukan?" tanya Anya.
"Barra akan berubah lebih baik dan akan jadi suami yang baik untuk Qila,"
"Janji?"
"Barra janji Ma... Barra sangat mencintai Qila, mana mungkin Barra menyakitinya."
Anya tersenyum, "Buktinya hari ini Barra membuat Qila dan keluarganya menangis."
Barra ikut tersenyum, "Terpaksa Ma, biar jadi nikah."
"Mama cuma minta, jangan lakukan apapun lagi setelah ini, Barra harus berubah dan bahagia sama Qila."
"Iya Mama siap, eh aduhh." terlalu semangat membuat Barra lupa jika terlalu lebar membuka bibirnya membuatnya merasakan nyeri.
Anya tersenyum, setelah selesai Anya keluar dari kamar Barra.
Barra yang baru ingin memejamkan matanya gagal karena tiba tiba sang Papa memasuki kamarnya.
"Puas kamu sekarang!" sentak Zayn membuat nyali Barra menciut.
Barra memang brengsek namun jika orangtuanya sudah marah Ia tidak pernah melawan ataupun membantah.
"Maaf Pa..."
"Kamu pikir dengan Maaf bisa membuat semuanya selesai? Papa malu Barra."
"Tapi Papa juga seneng kan keturutann punya mantu Qila." ucap Barra sambil tersenyum.
Zayn diam, disatu sisi Ia merasa kesal dengan apa yang dilakukan putranya namun disisi lain Ia juga sangat senang karena keinginanya menjadikan Qila mantu akhirnya terwujud.
"Yahh kamu memang putra Papa, dan kamu sangat pintar karena berhasil menipu dua keluarga sekaligus." kata Zayn yang membuat Barra terkejut namun akhirnya keduanya tertawa.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan lupa like vote dan komeennn