
Setelah memikirkan semalaman akhirnya pagi ini Qila mau diajak pindah ke apartemen Barra. Tidak ada paksaan dari Barra, bahkan jika Qila tak pindah pun Barra akan tetap disini bersama Qila, apapun akan Barra lakukan asal bisa bersama Qila. memang terlihat seperti obsesi namun Barra menyebutnya cinta, Ia terlalu mencintai Qila dan sangat ingin bersama Qila.
"Udah semua?" tanya Qila melihat dua koper besar berisi barang barang milik Qila.
Qila mengangguk pelan,
Dengan sigap, Barra segera menyeret kopernya dan membawa turun dari kamar.
"Sudah yakin mau pindah sekarang?" tanya Zara pada putrinya yang terlihat lesu.
"Jika memang masih ingin disini, tidak perlu buru buru pindah." tambah Sean.
"Enggak Ayah, Bunda. InsyaAllah Qila siap." balas Qila sambil tersenyum.
Sean mengangguk, Ia menatap tajam ke arah Barra, "Jaga Qila baik baik, jika aku mendengar kamu menyakitinya, tidak akan kubiarkan kamu bertemu dengan Qila lagi!"
Barra tersenyum, "Ayah tenang saja, Qila aman sama Barra."
Wajah Sean berubah datar setelah mendengar jawaban Barra. sejujurnya Sean masih belum bisa percaya dengan Barra, Ia hanya akan memberi kesempatan pada Barra sekali ini saja dan jika Barra gagal, Sean pastikan Barra tak akan bisa bertemu dengan Qila lagi.
Keduanya memasuki mobil setelah berpamitan, Barra terlihat sangat senang, berbeda dengan Qila yang wajahnya tampak sedih.
"Kamu sedih?"
Qila mengangguk, "Dari smp aku sudah berpisah dengan Ayah dan Bunda karena harus mondok dan sekarang sudah menikah, aku harus berpisah lagi."
"Kita bisa tinggal disini sementara jika kamu mau."
Qila menggelengkan kepalanya, "Tidak, sekarang aku memiliki kewajiban lain dan itu bukan disini."
Barra tersenyum mendengar ucapan Qila,
"Asal jangan melarangku jika sewaktu waktu aku rindu dan ingin pulang kerumah." kata Qila yang membuat Barra tertawa,
"Aku tidak sekejam itu." balas Barra yang akhirnya membuat Qila tersenyum.
Barra segera melajukan mobilnya menuju apartemen, hari ini keduanya libur dan Barra ingin menghabiskan hari libur bersama Qila di apartemen.
Barra membuka pintu apartemen lalu mengajak Qila masuk. Barra segera membawa dua koper barang barang Qila masuk ke kamarnya.
"Disini ada dua kamar, hanya saja satu kamar untuk tempat kerjaku jadi kamu sekamar denganku, apa tidak apa apa?" tanya Barra yang langsung diangguki Qila.
"Jika kamu tidak mau seranjang denganku, aku akan tidur disofa."
"Ti tidak, jangan tidur disofa." kata Qila dengan wajah memerah malu membuat Barra tersenyum geli.
"Aku hanya ingin mrmbuatmu nyaman tinggal disini, jadi apapun yang tidak membuatmu nyaman katakan saja padaku." kata Barra.
__ADS_1
"Baiklah, dimana dapurnya?"
Barra tersenyum, mengingat Qila memang gemar memasak jadi saat memasuki apartemen yang dicari dapur bukan kamar.
"Ayo ku tunjukan padamu." Barra mengenggam tangan Qila membuat Qila terkejut,
"Maaf, aku tak sengaja." kata Barra namun tak melepaskan tangan Qila.
Qila hanya mengangguk membuat Barra tersenyum lega, kali pertama Barra mengenggam tangan Qila tanpa ada penolakan dari Qila.
"Disini dapurnya." Barra menunjukan dapur apartemen yang mewah dan elegant. Barra memang sengaja merenovasi dapurnya untuk Qila.
"Bagimana menurutmu? jika ada yang kurang katakan saja." kata Barra yang kini tangannya sudah merangkul punggung Qila.
"Su sudah sangat bagus." balas Qila dengan suara gugup. ini kali pertamanya Barra menyentuh Qila dalam keadaan sadar membuat Qila sangat gugup.
"Yakin tidak ada yang kurang?" tanya Barra mempererat rangkulannya hingga kini Qila menempel Barra.
"Ya yakin, su sudah kok."
Jantung Qila berdegup kencang, Ia ingin menolak sentuhan Barra namun Qila sadar jika sekarang dirinya milik Barra dan Barra berhak melakukan apapun atas dirinya.
"Syukur jika memang sudah bagus." Barra mengelus elus punggung Qila menimbulkan rasa geli.
Qila berjalan cepat mendekati kulkas, "Ahh masih kosong." kata Qila saat membuka kulkas.
"Kita bisa berbelanja nanti." kata Barra kembali mendekati Barra dan kali ini tangan Barra berada dipinggang Qila.
Wajah Qila memerah, entah karena malu atau kesal atau malah gugup.
"Dimana kamarnya?"
Barra tertawa, "Sekarang kamu sudah ingin masuk kamar?" goda Barra membuat Qila panik.
"Bu bukan begitu, aku ingin membereskan barang barangku."
Barra kembali tertawa, "Ayo ku tunjukan kamar kita." kata Barra lalu merangkul Qila.
Qila hanya bisa pasrah, niatnya ingin menghindar namun nyatanya Barra lebih cerdik dari dirinya.
Dan saat memasuki kamar Barra, Qila sempat dibuat terpesona dengan kamar Barra yang juga sangat elegant dan mewah, ranjang besar yang terlihat sangat nyaman.
Tanpa sadar, Qila berjalan mendekati ranjang dan duduk disana.
Barra pun tak menyianyiakan kesempatan, Ia mendekati Qila dan duduk disamping Qila.
"Bagaimana? apa ada yang ingin kamu ganti?" tanya Barra sambil mengelus kepala Qila.
__ADS_1
"Tidak, ini sudah bagus."
Barra tersenyum, Qila sudah nampak biasa dengan sentuhannya, entah karena ditahan atau tidak sadar Barra tak tahu, yang jelas saat ini Barra semakin mencari kesempatan menyentuh Qila.
Dari kepala turun ke pipi, Barra mengelus pipi Qila yang akhirnya membuat Qila sadar. Qila sempat menatap Barra namun akhirnya menunduk dengan wajah memerah.
Barra yang sudah dirundung hasrat karena menahan diri terlalu lama akhirnya tak sadar, Ia mendongakkan wajah Qila, menyentuh pipi Qila dengan kedua tangannya lalu memajukan wajahnya hendak mencium Qila.
Dan akhirnya bibir Barra menempel di bibir Qila, Barra kemudian sadar dan melepaskan Qila.
"Maaf, maafkan aku." kata Barra.
"Ti tidak apa apa." Qila juga terlihat sangat gugup dan malu.
"Aku akan mengeluarkan barang barangku." kata Qila berjalan meninggalkan Barra.
Barra memukul bibirnya, "Dasar bodoh!"
Sesaat Barra tersenyum, Ia memegangi bibirnya sambil memandang punggung Qila yang tengah sibuk membuka barang barangnya.
"Baru seperti ini kenapa rasanya begitu nikmat?" batin Barra merasa heran.
Barra akhirnya membantu Qila membereskan barangnya, setelah itu keduanya pergi berbelanja untuk masak makan siang.
Selesai makan siang dan sholat dzuhur, kini Barra dan Qila tampak bersantai sambil menonton televisi.
"Apa kamu tidak pernah melepas jilbabmu?" tanya Barra heran karena sejak pertama menikah Barra sama sekali belum melihat Qila melepaskan jilbabnya.
"Aku melepasnya saat mandi dan wudhu, kenapa?"
"Tidak apa apa."
"Apa mas penasaran saat aku tak mengenakan hijab?"
Barra mengangguk, "Tapi aku tidak akan memaksamu jika memang masih belum siap." kata Barra.
Qila tampak diam dan bingung, baru tadi Barra mencium bibirnya saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang dan sangat gugup, sekarang Barra malah ingin melihatnya tak mengenakan jilbab lalu setelah ini apa yang akan terjadi?
Qila menggelengkan kepalanya, tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
Namun melihat wajah Barra yang penasaran membuatnya merasa tak enak.
Dengan tangan gemetar, Qila melepaskan peniti pengait jilbabnya, leher mulus Qila terlihat, baru ingin melepaskan,
"Sudah, sudah jangan lagi."
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yaaa