The Devil Barra

The Devil Barra
42


__ADS_3

Sudah tiga hari lamanya mereka berada divilla dan setelah memandikan kucing waktu itu, Qila sudah tidak pernah melihat keberadaan Rino lagi. bukan tanpa sebab Qila mencari Rino, Ia hanya ingin memastikan bahwa kucingnya baik baik saja waktu itu.


"Mas, kok Rino dari kemarin nggak keliatan ya?" tanya Qila menanyakan pada Barra yang tengah asik duduk di balkon kamar sambil merokok.


Mood Barra yang tadinya baik baik saja berubah kesal setelah mendengar Qila menanyakan tentang Rino.


"Mau ngapain nyari dia!" balas Barra galak.


Qila duduk mendekati Barra, meskipun Ia tahan dengan asap rokok namun Ia tak ingin suaminya salah paham lagi dengannya.


"Aku cuma mau tanya masalah kucing yang kemarin mas, itupun aku mau kamu yang nanyain aja." jelas Qila.


"Udah dibuang lagi kucingnya sama dia!" balas Barra masih terdengar kesal.


"Astagfirullah mas, jangan suudzon."


"Kamu nggak percaya sama suamimu sendiri?" Barra semakin kesal, Ia bahkan membuang putung rokoknya disembarang tempat.


"Ya Allah mas, enggak bukan gitu. jangan emosi dulu." Qila yang merasa dirinya salah bicara mulai menenangkan Barra, mengelus lengan Barra berharap Barra bisa lebih tenang.


"Kemarin aku lihat kucingnya masih basah kuyup dibelakang waktu kamu ketiduran, dia malah enak enak ngerokok didepan Villa, sore aku lihat kucingnya udah nggak ada. kalau nggak dibuang pasti masih disini." jelas Barra membuat Qila sangat terkejut. tadinya Qila pikir Rino penyayang binatang namun ternyata Qila salah.


"Dia itu modus, pakai kucing biar bisa deketin kamu!" kata Barra lagi langsung berdiri dan kembali memasuki kamar.


Qila masih tak menyangka dengan Rino setelah mendengar penjelasan dari Barra, Ia tak percaya jika Rino bisa setega itu pada hewan namun Ia juga percaya jika Barra tak mungkin membohongi dirinya.


Qila ikut memasuki kamar, Ia ikut berbaring disamping Barra yang saat ini memunggunginya. Barra tampak kesal dengan Qila.


"Mas... maaaf." ucap Qila memberanikan diri memeluk Barra dari belakang meskipun jantungnya berloncatan.


Barra tampak diam saja, tak merespon ucapan Qila membuat Qila akhirnya memilih keluar.


Qila kembali ke belakang tempat Ia memandikan kucing kemarin. Memang sepertinya Rino benar benar membuang kucingnya karena peralatan mandi kucing masih berserakan disana, tidak dibereskan.


"Ternyata dia tidak sebaik dugaanku." gumam Qila.


"Neng cantik ngapain disini?" suara wanita paruh baya membuat Qila berbalik dan ternyata itu suara mbok yem, asisten rumah tangga yang menyiapkan makanan selama dirinya di villa.


"Ini mbok, kemarin abis mandiin kucing belum diberesin."


"Kucing?" Mbok Yem tampak tak paham.


"Iya kucing yang dibawa sama Rino, oh ya kenapa Rino nggak kesini lagi?"

__ADS_1


"Dia memang begitu neng, kalau kerja males malesan kadang jaga kadang malah keluyuran nggak tau kemana." ungkap Mbok Yem.


"Sekedar saran ya neng, jangan terlalu dekat sama dia soalnya dia mata keranjang juga." ungkap Mbok Yem lagi yang membuat Qila sangat terkejut. Benar benar tak menyangka jika Rino seburuk itu. Qila pikir Rino sangat baik karena mau merawat kucing jalanan namun nyatanya itu hanya modus belaka karena Rino memiliki maksud tersembunyi.


Mbok Yem menatap Qila yang terkejut, seketika mbok Yem merasa tak enak sudah menceritakan kejelekan Rino. "Maaf ya neng, Mbok nggak maksud buat ngejelekin Rino tapi memang itu faktanya, Mbok cuma nggak mau Neng sama Aden jadi salah paham nantinya."


Qila tersenyum, lalu merangkul bahu Mbok Yem, "Qila justru seneng Mbok, dengan begini besok Qila jadi bisa lebih hati hati lagi." ungkap Qila langsung diangguki Mbok Yem.


Qila kembali ke kamar setelah berbincang dengan Mbok Yem. Qila melihat diranjangnya sudah tidak ada Barra disana, Qila mencari ke luar ternyata Barra sedang duduk dipinggir kolam renang yang berada disamping kamarnya.


"Mas mau dibikinin kopi?" tawar Qila pada Barra yang terlihat merokok lagi disana.


"Boleh."


Qila tersenyum senang, Ia segera menuju dapur untuk membuatkan kopi Barra, berharap Barra sudah tak lagi marah dengannya.


"Kopi spesial buat suamiku tercinta." Qila menyodorkan secangkir kopi disamping Barra.


Barra tersenyum, mendengar ucapan manis dari istrinya itu. pertama kalinya Qila mengucapkan sambil tersenyum padanya.


"Udah denger cerita Rino dari Mbok Yem?" tanya Barra membuat Qila terkejut.


"Mas tahu?"


Barra mengangguk, "Sejak awal aku sudah bisa melihat jika Rino itu pria kurang ajar!"


"Memangnya kamu percaya?" Barra kembali bertanya dengan nada sinis.


Qila menunduk, sejujurnya Ia merasa takut jika Barra sedang emosional seperti ini.


"Aku hanya ingin menanyakan tentang kucingnya mas bukan orangnya." jelas Qila dengan suara pelan dan kepala masih menunduk.


Barra yang melihat Qila merasa bersalah akhirnya luluh juga. selama ini jika dirinya sedang marah atau kesal, rasanya tidak ingin melihat orang yang membuatnya marah namun berbeda dengan Qila yang membuatnya tak bisa marah lebih lama.


Barra mengelus kepala Qila yang masih tertutup hijab membuat Qila mendongak menatap Barra yang tersenyum,


Qila pun akhirnya ikut tersenyum dan...


Byurrrrrr.... Barra mendorong pelan bahu Qila hingga Qila jatuh ke kolam renang.


"Mas, uhuk uhuk." Qila terkejut dan tak sengaja menelan air yang membuatnya tersedak.


"Maaf sayang, maafkan aku." ucap Barra yang merasa bersalah karena membuat Qila tersedak.

__ADS_1


"Usil!" gerutu Qila merasa kesal dan senang sekaligus karena Barra sudah tak lagi salah paham.


"Maaf." Barra memeluk Qila dan menciumi kepala Qila.


Qila melepaskan diri dari Barra dan berniat untuk naik karena dirinya tak bisa berenang meskipun kolam renangnya tidak terlalu dalam.


Namun tangan Barra menahannya dan Barra malah memojokan Qila di pinggir kolam.


Qila sudah tidak bisa berkutik lagi, apalagi tangan Barra sudah mulai membuka hijab dan turun ke kancing baju yang Ia pakai.


"Mas maluu..." bisik Qila mendongak ke atas takut ada yang melihatnya ataupun mengintip.


"Kenapa? di sini hanya ada kita berdua dan tak akan ada yang berani menganggu kita sayang." ucap Barra yang sudah tak sabar.


"Tapi mas..."


"Hsssttt, kita cari sensasi baru sayang." kata Barra memulai permainannya didalam kolam renang bersama Qila.


Selesai sholat ashar, Qila ambruk diranjang. Tubuhnya sangat lelah dan lemas. Tiga hari berada di Qila, Barra benar benar mengempurnya.


Qila berbaring, menutupi tubuhnya dengan selimut, entah mengapa kepalanya mendadak pusing dan Ia sedikit kedinginan.


Samar samar Qila mendengar suara Barra yang sedang menelepon seseorang. Qila mendengar Barra tampak berbincang sedikit marah.


Tak berapa lama, Qila mendengar suara langkah kaki Barra,


"Sayang, bangun. ayo kita pulang sekarang."


Qila mencoba menyadarkan dirinya dari kantuknya, melihat Barra sudah memasukan baju di dalam koper.


"Ada apa mas?' tanya Qila dengan suara lemas.


"Kita pulang sekarang!"


"Tapi mas..."


"PULANG!" Barra menatap Qila tajam membuat Qila takut dan akhirnya memaksakan diri untuk bangun.


Bersambung.


Maaaf baru bisa update


Minal aidin wal faizin teman teman readersku .

__ADS_1


Maafkan author mu ini ya jika ada salah salah kata...


Love semuanya...


__ADS_2