The Devil Barra

The Devil Barra
64


__ADS_3

Barra menatap Pengawal dan Maidnya yang kini menunduk takut tak berani menatap ke arah Barra.


Kini mereka duduk dikursi panas, hanya bertiga meskipun banyak maid dan pengawal Barra yang ikut bangun karena keributan yang terjadi malam ini.


"Jadi jelaskan padaku sekarang!"


"Ma maafkan saya Tuan, sejujurnya saya dan Siti sudah menikah 3 tahun yang lalu dan memiliki seorang putri yang kini berada dikampung." jelas Rudi pada Barra.


"Kalian menipu ku selama ini?" Barra tampak tak terima karena sejak awal dirinya memang tak mengizinkan satu pasangan bekerja dirumah nya, harus salah satu saja.


"Sekali lagi maafkan saya Tuan, kami benar benar membutuhkan banyak biaya untuk hidup putri kami yang ada dikampung juga orangtua saya yang sekarang sedang sakit, kami tidak bermaksud menipu hanya saja karena disini gaji pekerja seperti kami sangat besar membuat kami harus melakukan hal seperti ini."


"Maafkan kami Tuan, tolong biarkan kami tetap bekerja disini." ucap Siti dengan derai air mata.


Barra menghela nafas panjang, sejujurnya Ia sangat marah jika ditipu seperti ini namun setelah mendengar alasan mereka berbohong membuat hati kecil Barra tak tega. Dua orang yang berjuang untuk masa depan putri mereka seperti dirinya yang sebentar lagi juga akan memiliki seorang anak.


"Beri kami kesempatan untuk tetap bekerja disini Tuan." Pinta Rudi memohon pada Barra.


Barra masih diam, cukup lama diam hingga akhirnya Ia menjawab dengan suara sedikit berat, "Baiklah, aku beri kalian kesempatan tapi kalian harus menjaga diri jangan sampai karyawan lain tahu jika kalian sudah menikah karena aku sudah membuat peraturan itu dan aku tidak ingin mengubah apapun."


Seketika raut bahagia terpancar dari wajah Rudi dan Siti, bahkan Rudi sampai bersimpuh di kaki Barra.


"Terima kasih Tuan, terima kasih banyak."


Air mata Siti pun menetes karena tak tahan dengan keharuan ini.


"Sudah sudah, jangan seperti ini." Barra tampak tak nyaman dengan apa yang dilakukan Rudi.


Setelah selesai, mereka kembali ke kamar masing masing dan Barra pun ikut kembali ke kamar setelah tahu jika yang keluar itu bukan maid yang dia maksud.


Sementara itu, Emma tampak mengerutkan keningnya heran setelah membaca pesan dari Barra. Ia melihat di ranjang Rani masih kosong, dirinya keluar sejak tadi dan kenapa bisa Barra tak mengetahui itu.


Buru buru Emma menghapus pesan dari Barra setelah merasa pintu kamarnya dibuka.


Tampak Emma dan Rani yang baru masuk saling berpandangan, tampak sama sama terkejut.


"Kakak dari mana?" tanya Emma menghilangkan kegugupan.


"Da Dari dapur, minum air putih." balas Rani yang juga gugup.


Emma hanya ber ohh ria setelah itu Rani berbaring diranjangnya.

__ADS_1


"Kau sudah bangun sejak tadi?"


Emma menggeleng, "Baru saja bangun kak."


"Oh, ya sudah kita tidur lagi." ajak Rani yang langsung diangguki Emma.


Pagi nya, Rani masih belum menyerah. Ia kembali datang ke rumah Qila dengan membawa jus buah buatan nya seperti biasa.


"Bukankah sudah ku bilang, nyonya tidak boleh bertemu dengan siapapun!" ucap pengawal Barra terdengar galak.


"Aku hanya mengantar jus kesukaan nyonya."


"Mana berikan padaku, biar aku yang memberikan nya pada Nyonya." pinta pengawal itu namun entah mengapa Rani malah memeluk botol berisi jus buatan nya itu.


"Cepat berikan!" pengawal itu tampak kasar ingin merebut jus dari tangan Rani.


"Nyonya!"


Keberuntungan ada untuk Rani karena melihat Qila keluar dari rumah nya dan langsung mendengar panggilan dari Rani.


Qila tersenyum dan langsung mendekat ke arah Rani,


"Rani, kamu nggak perlu repot repot setiap hari kesini hanya karena jus ini. aku sudah baik baik saja dan sudah bisa makan nasi." ucap Qila yang kini sudah berada didepan Rani.


Qila tersenyum, "Aku juga merindukanmu dan ingin bertemu denganmu, hanya saja sekarang memang sedang tidak diperbolehkan untuk menemui siapapun." jelas Qila membuat raut Rani berubah kesal.


"Ada yang ingin ku ceritakan pada Nyonya, ini tentang Tuan." kata Rani membuat para pengawal yang mendengar menatapnya tajam.


"Tentang Tuan?''


"Jangan disini nyonya, sebaiknya kita duduk disana.'' Rani menunjuk ke arah kursi panjang yang ada di taman depan rumah.


"Baiklah, kita kesana." kata Qila pada Rani,


"Tidak apa apa, dia orang baik." ucap Qila pada para pengawalnya.


Rani dan Qila berjalan mendekati kursi, tampak para pengawal dirumah Qila masih menatap keduanya,


"Aku yakin dia bukan orang baik." ucap Salah satu pengawal.


"Ya dia terlihat mencurigakan."

__ADS_1


Salah satu pengawal datang untuk mengawasi keduanya dari dekat, meskipun tidak terlalu dekat.


"Jadi apa yang ingin kau ceritakan." kata Qila saat keduanya sudah duduk.


"Ibuku meninggal, dan aku hanya mempunyai Ayah dan Kakak perempuan. tetapi ayahku dipenjara, kakak ku bekerja sendiri untuk menyekolahkan aku."


Qila mengerutkan keningnya heran karena Rani malah menceritakan kisah pribadinya.


"Ayah ku di penjara karena telah memperkosa seorang anak majikan nya sendiri." ungkap Rani yang sontak membuat Qila terkejut.


"Bukan kah dipenjara sudah pantas di dapatkan ayah ku nyonya?" tanya Rani dengan suara gemetar.


Qila hanya diam, tak menjawab apa yang ditanyakan Rani.


"Tetapi, adik dari perempuan yang diperkosa ayah ku kembali balas dendam, saat ayahku keluar dia membunuh ayahku dan juga membuat kakak ku gila karena diperkosa banyak pria juga kekasihnya yang lalu meninggalkan nya. jadi apa pantas Ayah ku mendapatkan ini nyonya? dan kakak ku yang tidak bersalah... apa dia juga pantas mendapatkan ini?" tanya Rani sekali lagi.


Qila menggelengkan kepala nya pelan, "Apa yang dilakukan ayah mu tidak pantas dilakukan seorang pria yang memiliki putri."


Rani tersenyum kecut, "Jadi keluargaku pantas mendapatkan semua ini?"


"Tidak, bukan itu maksudku." Qila sedikit panik karena Rani salah paham.


"Ya, aku tahu maksud Nyonya. Aku sepertinya aku juga ingin balas dendam. membalaskan apa yang terjadi pada kakak ku yang tidak bersalah."


Qila mulai panik, Ia menggelengkan kepalanya, "Jangan Rani, jangan lakukan perbuatan yang tidak baik seperti itu!"


Rani tersenyum sinis, "Sialan, pria itu beruntung sekali. dia pria yang sangat buruk dan mendapatkan istri sebaik dirimu."


Qila terkejut, sangat terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Rani.


"Jadi...


"Ya pria itu adalah Barra, suamimu! Dia yang sudah membunuh Ayahku juga membuat kakak ku meninggal!"


Qila shock, Ia sangat shock tak percaya dengan apa yang Rani katakan.


"Tidak mungkin!"


"Itu sudah kenyataan nya, sekarang waktunya aku membalaskan dendamku, Barra tidak layak bahagia apalagi dengan wanita sebaik dirimu."


Rani mengeluarkan pisau lipat yang ada ditasnya, Qila yang melihat itu berusaha untuk menghidar namun sayangnya...

__ADS_1


Sreeeeetttttt....


Darah segar keluar dan teriakan dari para pengawal Qila terdengar.


__ADS_2