
Rani pulang dengan membawa barang belajaan dua kantong plastik besar.
"Kenapa lama sekali?" tanya Nana menatap Rani curiga.
"Kau berangkat jam tujuh pagi, sekarang sudah jam dua belas siang!" tambah Nana dengan tatapan kesal ke arah Rani.
"Aku mampir ke rumah orangtua Nyonya dulu untuk memberikan jus buah yang tadi pagi ku buat." Rani tampak membalas santai kecurigaan Nana.
"Oo kau sedang cari muka ya!"
Rani tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak pernah mencari muka, Nyonya memang menyukai ku!"
Nana semakin kesal dengan jawaban Rani, Ia merasa Rani sedikit sombong padanya.
Rani segera pergi setelah menjawab itu, meninggalkan Nana yang tampak masih sangat kesal.
"Apa kau lihat lihat!" bentak Nana pada Emma yang sedang menyapu lantai disampingnya.
Emma tampak menunduk takut, "Maaf kak."
Setelah selesai membereskan barang belanjaan, Rani segera masuk ke kamar untuk istirahat sejenak. Rani tampak duduk di pinggir ranjang sambil memandangi sebuah bingkai foto.
"Ayah..." gumam nya sambil mengelusi wajah pria yang ada di bingkai foto itu.
Pintu kamar terbuka membuat Rani cepat cepat mengembalikan bingkai foto ke dalam tasnya. Ia melihat Emma berjalan mendekatinya.
"Apa kita sudah boleh istirahat kak?" tanya Emma dengan polosnya.
"Ya, jika pekerjaanmu sudah selesai istirahatlah sejenak."
Emma mengangguk paham, Ia lalu berjalan ke ranjangnya untuk berbaring.
"Ngomong ngomong bagaimana bisa Tuan memperkerjakan dirimu disini? dimana kalian brrtemu?" tanya Rani tampak penasaran.
"Tuan mencari di agen, kebetulan tetangga ku pemiik agen itu jadi aku bisa segera mendapatkan pekerjaan meskipun baru sebentar berada di agen."
Rani mengangguk paham, "Sama dulu juga Tuan mengambilku saat di agen."
Emma tampak menguap, "Aku mengantuk kak, bisakah aku tidur sejenak?"
"Ya tidurlah, aku tidak akan menganggu mu." balas Rani.
__ADS_1
Baru saja Emma pamit, Rani sudah bisa mendengar suara dengkuran dari ranjang Emma.
Rani memandang tubuh Emma yang memunggungi nya cukup lama, setelah itu Ia tampak berdiri tepat didepan Emma tidur.
Rani mengoyangkan telapak tangan nya memastikan Emma sudah terlelap, dan setelah dirasa sudah terlelap, Rani tampak mengambil ponsel yang ada disamping bantal Emma. entah apa yang Rani pikirkan, Ia membuka ponsel Emma yang tak terkunci itu.
Cukup lama Rani bermain ponsel milik Emma hingga akhirnya Rani kembali meletakan ponselnya disamping bantal Emma, tempat semula ponsel berada.
Rani kembali memandangi wajah Emma sebelum akhirnya Ia berjalan menuju ranjangnya.
Tanpa Rani sadari, Emma tidak tertidur sedari tadi, Ia hanya pura pura tidur.
...
Malam ini Qila tampak bahagia, karena Barra pulang ke rumah orangtuanya. Ya malam ini Barra menginap dikamarnya.
"Apa masih sakit?" tanya Barra sambil mengelus perut Qila.
Qila menggeleng pelan, "Sudah lumayan lebih baik, apa aku sudah boleh kembali ke rumah mas?"
Giliran Barra yang menggelengkan kepalanya, "Tidak sebelum aku menemukan pelaku nya."
"Sangat yakin, cctv rumah juga sengaja dimatikan, jika dia bukan orang profesional tidak mungkin bisa memasuki ruangan kerja ku." ungkap Barra yang membuat Qila terkejut, tak menyangka jika ternyata memang ada orang yang berniat jahat pada keluarga kecilnya.
"Akhir akhir ini aku tidak makan nasi, dan biasanya Rani yang membuatkan ku jus buah, rasanya enak, aku kasihan padanya jika harus mengantar ke sini setiap hari."
"Rani?" Barra tampak bingung, karena jujur Barra tak mengenal satu persatu nama maid dirumahnya.
"Ya Rani, maid dirumah kita. Dia baik sekali bahkan mengantar jus kesini pagi tadi." jelas Qila yang entah mengapa langsung membuat Barra tak suka.
"Dia tahu alamat rumah sini?"
Qila mengangguk,
"Sayang, kenapa kamu ceroboh sekali?"
"Mas, Rani baik kok anaknya, kayaknya nggak mungkin dia jahatin aku." ucap Qila.
"Aku tahu dia baik, tapi tidak seharusnya kamu bawa dia kerumah ini sampai aku menemukan pelaku nya." jelas Barra dengan helaan nafas berkali kali.
"Maaf mas, mungkin besok aku tidak meminta dia datang lagi."
__ADS_1
Barra kembali menghela nafas panjang, "Sudahlah tidak perlu sedih atau merasa bersalah, lagipula Ayah juga sudah menyiapkan banyak penjaga didepan rumah, pasti semua aman."
"Aku janji akan lebih berhati hati lagi."
Barra tersenyum mendengarnya, "Terima kasih sayang."
Barra mengelus kepala Qila penuh sayang, keduanya pun terlelap setelah cukup lama berbincang.
Pagi nya, Setelah Barra berangkat, Qila disibukan dengan memberi makan ikan Koi milik ayah nya yang ada ditaman belakang.
Qila merasakan ponselnya berdering didalam saku, langsung saja Qila mengambil ponselnya dan ada panggilan dari Rani.
Tanpa ragu, Qila segera menerima panggilan dari Rani,
"Nyonya, saya sudah didepan membawakan jus buah untuk nyonya tapi saya tidak bisa masuk karena penjaga melarang saya masuk."
Qila terlihat bingung, Ia ingin menemui Rani namun mengingat pesan dari Barra semalam membuat Qila mengurungkan niatnya.
"Berikan saja pada penjaga nya, terima kasih Rani sudah membuatkan untuk ku."
"Saya ingin bertemu dengan Nyonya." ucap Rani terdengar berbata.
Qila tampak diam, Ia benar benar bingung saat ini. Rasanya tidak tega jika tidak menemui Rani yang ingin bertemu dengan nya namun sekali lagi Qila mengingat pesan dari Barra.
"Maaf Rani, hari ini aku tidak bisa menemuimu jadi tolong berikan saja jus buahnya pada penjaga."
"Baik Nyonya, saya ijin pamit."
"Terimakasih ya Rani."
Rani tampak memutuskan panggilan, Ia kembali menatap penjaga bertubuh kekar yang sedari tadi menunggunya saat menelepon Qila.
"Ku bilang kau tidak di izinkan masuk, masih saja ngeyel!" sentak penjaga itu.
Rani mengulurkan termos kecil berisi jus buah hangat, "Aku titipkan ini saja, tolong berikan pada Nyonya Qila."
"Ya, akan kuberikan jadi sebaiknya kau pergi sekarang!" usir penjaga itu yang membuat Rani mengangguk.
Rani berjalan keluar dari halaman rumah orangtua Qila. Ia sempat memandangi pagar rumah sambil menghela nafas berkali kali. Padahal kemarin Ia datang masih belum ada penjaga sebanyak ini, kenapa sekarang sudah sebanyak ini yang membuatnya susah untuk bertemu dengan Majikan nya yang baik hati itu.
BERSAMBUNG....
__ADS_1