
Emma yang sedang membersihan halaman rumah melihat Rani pulang diantar ojek online. Rani berjalan masuk dan terlihat lesu.
"Apa terjadi sesuatu kak?" tanya Emma penuh perhatian.
Namun perhatian Emma tidak disambut baik oleh Rani, bukan jawaban yang menyenangkan yang Emma dapat melainkan tatapan mata kesal yang membuat Emma sangat bingung.
"Kak..." Panggil Emma lagi saat Rani tak mengubris dirinya.
"Ada apa!" jawaban Rani terdengar ketus dan galak membuat Emma menunduk takut.
Karena tak lagi bersuara, Rani akhirnya memilih memasuki rumah.
"Ada apa? kenapa dia jadi seperti itu?" heran Emma merasakan perubahan Rani, padahal sejak kemarin Rani selalu bersikap hangat padanya, entah mengapa pagi ini terlihat berbeda.
Emma melanjutkan pekerjaan nya, mencoba tak mengubris sikap dingin Rani meskipun dirinya penasaran dengan apa yang terjadi pada Rani.
Dan nyatanya sikap dingin Rani berlanjut sampai siang hari, saat Emma memasuki kamar untuk menawari Rani makan siang bukan tanggapan baik melainkan sikap ketus yang Rani tunjukan.
"Bisakah kau tidak menganggu ku sebentar saja? aku ingin istirahat!"
Cukup mengejutkan memang, sikap baik dan ramah Rani yang kini berganti sikap ketusnya itu.
"Apa aku memiliki salah dengan kakak? aku minta maaf jika ucapan ku membuat kakak tersinggung atau marah." ucap Emma seolah menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Rani.
Rani tampak diam sebentar sebelum akhirnya Ia memaksakan senyum, "Tidak, tidak ada yang salah, aku hanya sedang kelelahan. maafkan aku."
Emma tersenyum lega, karena nyatanya bukan dirinya yang membuat Rani kesal, entah apa yang membuat Rani kesal Emma tak ingin terlalu ikut campur.
Dan setelah permintaan maaf Emma, kini Rani kembali ramah padanya. seperti malam ini Rani yang membantu Emma melipat baju Emma.
"Sudah, Kakak istirahat saja." ucap Emma merasa tak enak.
Rani tersenyum, "Tidak apa, melihatmu rasanya seperti melihat adik ku."
Emma terdiam sejenak, "Apa kakak merindukan adik kakak?"
Rani mengangguk,
"Jadi itu yang membuat Kakak kesal tadi pagi?"
Rani terlihat gugup sebelum akhirnya Ia menjawab, "Ya, maafkan aku jika tadi pagi aku sedikit kasar."
Emma tersenyum, "Tidak apa kak."
Keduanya diam dengan pikiran masing masing hingga suara gerbang terbuka terdengar sampai kamar mereka,
"Tuan sudah pulang."
__ADS_1
Wajah Rani yang tadinya biasa saja kini terlihat kesal.
"Kenapa dia pulang kesini padahal istrinya tidak disini." ucap Rani terdengar kesal.
Emma kembali terdiam, menyelidik raut wajah Rani yang berubah ubah.
"Dimana istri Tuan berada? kenapa tidak disini?" Emma tampak penasaran.
"Entahlah, aku juga tak tahu."
"Apa dia baik?" tanya Emma lagi yang hanya di angguki oleh Rani.
Sementara diluar, seperti biasa Nana yang membuka pintu untuk Barra.
"Saya pikir Tuan tidak pulang lagi." ucap Nana ramah yang sama sekali tidak di gubris oleh Barra.
"Tuan ingin saya siapkan mandi air hangat?" tawar Nana.
"Tidak!"
"Makan malam Tuan?"
"Tidak!"
Nana menghela nafas panjang kala Barra berjalan mengacuhkan nya tanpa merespon perhatian darinya.
"Huh, dia hanya masih jual mahal. lihat saja nanti juga akan tergila gila padaku." ucap Nana penuh percaya diri.
Setelah mandi, Barra kembali dibuat kesal karena Nana sudah berada di kamarnya tanpa seijin dirinya.
"Saya membawakan teh hangat untuk Tuan."
Barra benar benar kesal dan marah, "Jangan berani masuk ke kamar tanpa seijin ku, keluar sekarang!"
Nana tampak terkejut, "Saya hanya ingin mengantar teh ini Tuan."
"Masa bodoh, sebaiknya kamu segera keluar!" bentak Barra lagi yang akhirnya membuat Nana keluar.
"Sialan, wanita itu benar benar!"
Jauh dari istri memang rasanya tak enak, seperti yang dirasakan Barra saat ini. Ia bahkan belum memejamkan mata sama sekali karena tak bisa tidur. Biasanya Ia tidur memeluk Qila dan sekarang Ia hanya bisa memeluk gulingnya.
Jika saja tidak ada misi yang Ia lakukan malam ini, Ia lebih memilih menginap dirumah mertuanya dari pada harus berada dirumah sendiri seperti ini.
ting... ponsel Barra berbunyi tanda satu pesan telah masuk.
Dia keluar lagi Tuan.
__ADS_1
Setelah membaca pesan, Barra bergegas bangun untuk mengintip dari balkon. Dan benar Ia melihat salah satu maid nya berjalan di halaman rumah. Maid nya itu tampak celingukan seolah takut ada yang melihatnya.
Barra sangat penasaran apa yang dilakukan oleh maid itu, terlihat maid itu menghampiri rumah kecil yang ada di samping istana Barra. rumah kecil berisi kamar yang memang Barra sediakan untuk tempat tidur Parto sopirnya juga para pengawal pribadinya.
Karena sangat penasaran, Barra akhirnya ikut keluar untuk melihat apa yang dilakukan maid itu.
Dan sialnya, Barra malah mendengar suara ******* dari salah satu kamar pengawalnya.
"Sialan, berani sekali mereka bercinta disini!" desis Barra kesal karena tahu hubungan gelap sesama karyawannya itu.
"Tuan..." Barra terkejut melihat Parto memanggilnya dari belakang.
"Apa yang Tuan laku-"
Barra menarik Parto, mengajak keluar dari rumah ini.
"Kau sudah tahu mereka sering begitu?" tanya Barra tanpa basa basi.
Parto tampak menunduk, Ia ketakutan.
"Bukan kah itu kamar Rudi? dia sudah berkeluarga?" tanya Barra lagi.
"Jawab aku!" ucap Barra tampak marah karena Parto tak kunjung menjawab.
"Ya Tuan, mereka sudah lama berhubungan. saya tidak berani mengatakan pada Tuan karena takut jika terjadi salah paham!"
"Mereka bersalah, aku pastikan akan memecatnya." ucap Barra marah yang membuat Parto hanya diam.
Barra membuka ponselnya lalu mengirimkan pesan pada seseorang,
Sepertinya kau salah orang lagi.
Tak menunggu lama, Barra kembali memasuki rumah dan mengedor pintu kamar salah satu pengawalnya itu.
Cukup lama pintu terbuka hingga ada suara umpatan dari dalam,
"Sialan berani sekali kau menganggu ku!" umpatnya tanpa Ia tahu ternyata yang mengedor pintu adalah Barra.
Rudi, nama pengawal Barra yang tengah bercinta itu tampak terkejut melihat Tuan nya berdiri di depan kamarnya dan dirinya hanya mengenakan kolor pendek dan telanjang dada.
"BERANI SEKALI KAU!"
Dengan penuh emosi, Barra memukuli Rudi hingga Ia mendengar teriakan histeris wanita yang ada didalam kamar Rudi.
"Tuan jangan... tolong jangan." teriak salah satu maid nya yang berlari mendekat ke arahnya, menutupi tubuhnya mengunakan selimut.
Barra menatap maid nya itu, dia bukan orang yang dimaksud oleh sang pengirim pesan.
__ADS_1
"Jangan sakiti suami saya Tuan, tolong." pinta maid itu sambil menangis membuat Barra terkejut dan menghentikan pukulan nya.
"Suami?"