The Devil Barra

The Devil Barra
59


__ADS_3

Braakk...


Pintu rumah terbuka secara kasar padahal sudah dikunci dari dalam namun dengan sekali sentakan Barra bisa membuka pintu rumahnya itu.


Satpam juga sopir Barra saja sampai geleng geleng kepala melihat Barra begitu kuat saat sedang marah.


"Panggil semua maid kesini!" perintah Barra pada satpam dirumahnya.


Tak menunggu lama, satpam Barra langsung lari menuju kamar maid. tepat pukul dua pagi, setelah melihat keadaan Qila dan menemani Qila sebentar, Barra sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia harus pulang dan membuat perhitungan pada para maidnya.


Beruntung Mama dan Bunda mertuanya masih dirumah sakit, jadi Barra bisa meninggalkan Qila dirumah sakit.


"Sial, kenapa lama sekali!" kesal Barra tak sabar menunggu para maid nya menghadap.


Para maid Barra akhirnya keluar dari kamar mereka, berjalan pelan dengan kepala menunduk takut pada Barra.


"Sudah semua Tuan."


Barra melihat satu persatu wajah maid dirumahnya. semua orang nampak ketakutan, hanya satu yang tidak terlihat takut, Nana wanita itu tampak santai bahkan menguap berkali kali didepan nya.


"Aku hanya meninggalkan istriku beberapa jam saja dan kalian membuatnya sampai kerumah sakit?" Barra mulai bersuara.


"Maafkan kami Tuan, kami benar benar tak sadar jika lantai di belakang basah." balas salah satu maid memberanikan diri.


"Bagaimana bisa kalian membuat lantainya basah?"


"Saya sudah mengepel pagi sebelum kejadian, seharusnya sudah kering Tuan, tapi saya lihat kemarin bukan basah karena air melainkan minyak." jelas salah satu maid yang bertugas membersihkan lantai.


Semua maid tampak terkejut mendengar pengakuan maid itu bahkan Barra pun ikut terkejut.


"Minyak? sialan apa ini sengaja?" Barra kembali menampakan amarahnya.


"Saya tidak tahu Tuan, saya sudah membersihkan dan waktu itu seharusnya sudah kering." katanya tidak mau disalahkan.


"Siapa yang sengaja ingin mencelakai istriku?" tanya Barra membuat para maid kembali menunduk takut.


"Tuan, mana mungkin kami berani melakukan hal seperti itu pada nyonya kami." Nana pun akhirnya bersuara.


"Lalu bagaimana bisa minyak itu tumpah di lantai belakang padahal kalian tidak memasak dibelakang!" ucap Barra ketus.


"Kami benar benar tidak tahu apapun Tuan." balas Nana berani.

__ADS_1


"Aku yakin pasti salah satu diantara kalian yang sengaja melakukan hal ini. lebih baik kalian mengaku sekarang dari pada nanti aku mencari tahu sendiri dan hukuman kalian akan lebih berat!" ancam Barra membuat para maid semakin ketakutan.


Barra menunggu para maid nya membuka suara, namun tidak ada yang berani menjawabnya lagi apalagi Nana yang akhirnya diam.


"Tidak ada yang mengaku?"


"Kami benar benar tidak melakukan kejahatan itu Tuan, mana mungkin kami tega melakukan itu pada Nyonya kami yang sedang hamil." ucap Rani ikut menyuarakan isi hatinya.


"Baiklah, jika tidak ada yang mengakui. aku akan mencarinya sendiri."


Barra bangkit dari duduknya, pergi meninggalkan para maid yang kebingungan.


"Dari mana kau tahu jika itu minyak? dan kenapa tidak memberitahu kami?" tanya salah satu maid pada maid tukang bersih lantai.


"Setelah kalian pergi membawa nyonya ke rumah sakit, aku mengecek lantai dan itu memang licin karena minyak. aku tidak mau disalahkan jadi lebih baik aku jujur saja pada Tuan." ungkapnya dengan perasaan kesal.


"Tapi sekarang pekerjaan kita terancam."


"Sudahlah, kalian santai saja. kalau memang kita tidak melakukan apa yang dituduhkan kenapa harus takut dan lagi pula kita bekerja disini ada kontrak tertulis, jika Tuan berani memecat kita, kita laporkan saja pada depnaker agar Tuan mendapat sanksi." ucap Nana santai.


"Aku mengantuk, ingin kembali tidur." tambah Nana lagi segera berjalan meninggalkan teman temannya.


Semua maid dibuat heran dengan sikap santai Nana bahkan mereka saling berpandangan seolah satu pemikiran.


Sementara itu, Barra memasuki ruang kerjanya, ruangan yang hanya dirinya saja bisa masuk karena di pintu terdapat tombol sandi yang harus di isi agar bisa memasuki ruangan itu.


Barra menyalakan layar komputernya, Ia membuka cctv yang ada diseluruh ruangan rumahnya. Dengan cctv ini Barra bisa tahu siapa orang yang sudah berani mencelakai istrinya.


Barra menunggu loading dan dibuat terkejut karena seluruh cctv mati sejak seminggu yang lalu.


"Sialan, bagaimana bisa!"


Barra mencoba membuka sekali lagi, namun tetap saja tidak ada apapun karena cctv nya dimatikan.


"Siapa yang sudah berani melakukan ini, dia bukan orang sembarangan!" gumam Barra mengepalkan tangan nya.


Barra yakin ada seseorang yang memasuki ruangan kerjanya untuk mematikan cctv bahkan rekaman sebelum cctv dimatikan saja sudah tidak ada. dan yang menbuat Barra semakin heran karena orang itu bisa memasuki ruangan kerjanya padahal untuk masuk harus mengunakan sandi yang hanya Barra yang tahu, Qila pun bahkan tidak tahu apa sandinya.


"Aku benar benar sudah dijebak!" gumam Barra memikirkan cara agar bisa mencari tahu siapa pelakunya. Dan Barra yakin pelakunya salah satu maidnya.


Barra diam sejenak, menyandarkan kepalanya pada kursi melepaskan penatnya, Ia sama sekali belum tidur bahkan matanya terasa perih hingga akhirnya Barra ketiduran di kursi.

__ADS_1


Barra terbangun setelah mendengar suara burung di luar. Ia melihat ke arah jam dinding sudah pukul tujuh pagi.


"Sialan, aku ketiduran."


Barra bergegas keluar dari ruangannya, berjalan menuju kamar untuk mandi. selesai mandi Barra segera keluar dari rumahnya untuk kerumah sakit menemui Qila.


"Barra..." panggil Zayn saat Barra sudah sampai dirumah sakit.


"Kau sudah menemukan orangnya? Papa yakin ini di sengaja." ucap Zayn yang langsung diangguki Barra.


"Dia lebih cerdik dari dugaanku."


Zayn menghela nafas panjang, Ia tahu pengusaha seperti putranya akan memiliki banyak musuh apalagi Barra termasuk pengusaha cerdas, tentu saja banyak yang tidak menyukainya.


"Pecat saja mereka!" kata Zayn akhirnya.


Barra menggelengkan kepalanya, "Aku membawa mereka dengan kontrak, aku tidak bisa memecat mereka sembarangan."


Zayn tertawa, "Seperti bukan dirimu saja."


Giliran Barra yang menghela nafas panjang, "Aku sedang ingin main bersih tapi kupastikan aku akan mencari pelaku nya."


Zayn mengangguk paham, "Asal kau bisa membuat istri mu aman."


"Tentu saja aku akan menjaga nya lebih baik lagi."


Barra memang sudah memikirkan apa yang harus Ia lakukan ke depan nya agar bisa menemukan pelakunya.


Dan sekarang, yang Barra ingin lakukan adalah bertemu dengan istrinya.


Barra membuka pintu ruangan, Ia melihat Qila sudah bangun dan tersenyum ke arahnya.


Plak...


Anya memukul lengan Barra.


"Kamu tu dari mana aja, semaleman malah pergi!" kesal Anya mengingat semalam Barra pamit keluar sebentar ternyata malah sampai pagi.


"Udah biarin aja, pasti Barra capek trus ketiduran dirumah." ucap Zara yang langsung membuat Barra tersenyum.


Barra mendekati Qila lalu mencium kening Qila membuat wajah Qila memerah karena malu masih ada Bunda juga Mama mertuanya.

__ADS_1


"Duh sebaiknya kita keluar aja, dari pada nanti pengen." ajak Anya membuat Zara tertawa.


BERSAMBUNG....


__ADS_2