
Barra memasuki club malam, disana Ia sudah ditunggu Nathan juga 2 rekan nya yang duduk bersama para gadis malam yang menjadi teman mereka nantinya.
"Woy broo, kenapa tuh muka kusut amat!" oceh Nathan saat Barra duduk disalah satu kursi.
Barra tak mengubris ucapan Nathan, Ia malah mengambil secangkir anggur milik Nathan yang ada dimeja dan langsung meneguknya hingga habis.
"Minuman gue woyy!" kesal Nathan.
"Pesen lagi. gue mau minum banyak!" kata Barra membuat Nathan terkekeh.
"Kalah tender lagi boss?"
Barra tersenyum mengejek, "Gue kalah? mana mungkin."
"Butuh cewek? gue ada nih masih ori. pakai aja dulu." Nathan tampak memperlihatkan sebuah foto seorang gadis pada Barra.
"Gue nggak tertarik."
Nathan tentu saja terkejut dengan ucapan Barra, bagaimana bisa Barra si pemain handal sama sekali tidak tertarik dengan tawaran nya, padahal biasanya Barra selalu mencari.
"Lo kesambet apa kesurupan?"
Barra terkekeh, "Gue mau berubah."
"What? kenapa?"
"Bentar lagi gue mau nikah."
Nathan melonggo mendengar ucapan Barra, Ia sungguh tak percaya dengan ucapan Barra.
"Umur kita belum genap 30 tahun dan Lo udah mau nikah aja. ada apa?"
Barra menghela nafas panjang, Ia ingat jika waktu itu pernah mengatakan pada Nathan kalau dirinya tidak akan menikah sebelum umur 30 tahun.
"Gue dijodohin." jelas Barra yang langsung membuat Nathan terbahak.
"Yang bener aja? jaman sekarang masih aja mau dijodohin." ejek Nathan.
"Lo nggak tahu aja, gue dijodohin sama orang yang pernah gue suka. mana mungkin gue nolak."
Nathan masih saja tertawa, "Okey lah terserah Lo aja."
Nathan melambaikan tangan pada seorang gadis muda yang baru saja memasuki club. sementara Barra mengeluarkan rokoknya dan mulai menyalakan rokoknya, menghisap dalam dalam rokok itu lalu mengeluarkan nya.
Barra menatap gadis yang dibawa Nathan, masih sangat muda, mungkin saja masih sekolah.
"Yakin nggak mau? masih ori loh ini." kata Nathan sambil memegangi dagu gadis itu. Gadis itu tampak tersenyum malu malu melihat Barra.
"Buat Lo aja." kata Barra yakin.
Nathan kembali tertawa, "Seperti bukan Lo aja."
__ADS_1
Mereka kembali diam, Barra sibuk menghisap rokoknya sambil sesekali meneguk anggur sementara Nathan sudah beraksi mengerayangi tubuh gadis muda itu didepan Barra.
"Kalau Lo udah merried, kita bakal jarang kumpul dong, padahal gue bakal stay disini lama." kata Nathan tiba tiba.
"Mungkin udah nggak sama sekali."
Nathan terkejut, "Oh ayolah brother, just married apa harus segitunya?"
Barra tersenyum, "Gue mau berubah setelah ini."
"Bucin lo!"
Barra tersenyum menanggapi ucapan Nathan,
"Kalau gitu sebelum Lo merried, kita liburan ke villa. gimana?"
Barra menatap Nathan tajam, liburan ke villa sama saja mengingatkan Barra dengan kejadian masa lalu saat sang Kakak diperkosa.
"Nggak!"
"Bukan di villa yang sama, gue yakin tempat ini bakal nyembuhin trauma Lo!"
"Gue bilang Nggak!"
Nathan tampak mengambil ponselnya, mencari sesuatu lalu memperlihatkan pada Barra.
"Bukan Villa sembarangan guys."
"Oke, tapi gue nggak mau ada wanita."
"Ck, kalau Lo nggak mau ya nggak mau aja. gue tetep bawa buat gue sendiri." kata Nathan sambil menatap kesal ke arah Barra.
"Serah lo dah."
Barra mengerus rokoknya yang sudah habis, Ia kembali meneguk anggur. Rasanya sudah lebih baik, Ia tidak lagi emosi seperti tadi. mengingat Zara mengatakan jika Ameer sudah memiliki tunangan membuat Barra sedikit lega. padahal tadinya Barra pikir Ameer akan menjadi saingan nya, dan jika benar seperti itu, tentu saja Barra akan kalah telak. Ameer seorang dokter dan Ia sepertinya memiliki kepribadian yang baik, berbeda jauh dengan dirinya.
"Arghh sial!" mengingat Ameer membuat Barta kembali kesal.
"Mau kemana Lo?" tanya Nathan kala Barra berdiri dari duduknya.
"Kamar mandi."
Barra berjalan menuju kamar mandi, karena gelap Ia tidak bisa melihat jalanan dengan jelas hingga Ia tak sengaja menabrak seorang wanita sampai terjatuh.
"Ck, nggak punya mata ya mas." kesal wanita itu.
"Sorry, nggak sengaja." Barra sadar, Barra yang salah.
"Baju gue kotor nih." wanita itu berdiri dan menatap kesal ke arah Barra.
Tak ingin masalah semakin panjang, Barra mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan lalu diberikan pada wanita itu. tentu saja mata wanita itu langsung memerah dan tersenyum girang melihat nominal uang yang diberikan Barra.
__ADS_1
"Eh mas.." panggil wanita itu pada Barra yang hendak pergi.
Wanita itu mendekat dan langsung mengelayuti tubuh Barra, "Udah ada temen belum mas?"
Barra terlihat jijik dengan wanita yang mengelayuti dirinya itu, padahal baru saja wanita itu marah marah, bisa bisanya langsung menempel padanya seperti ini.
"Udah ada. minggir." Barra menyingkirkan paksa tangan wanita itu hingga membuat wanita itu mendegus kesal.
Barra memasuki kamar mandi, setelah membuang hajatnya ia kembali meraup wajahnya dengan air dingin. rasanya kembali kesal jika mengingat tentang Ameer.
Ponsel Barra bergetar membuat Barra segera menerima panggilan yang tak lain dari Rocky anak buahnya.
"Mereka sudah mati boss!"
Barra menghela nafas panjang, rasanya masih belum puas menyiksa pria itu namun Barra sudah bertekad untuk berubah.
"Buang saja mayatnya seperti biasa."
"Baik Bos."
Barra kembali memasukan ponselnya disaku dan keluar dari kamar mandi.
Sementara itu dirumah Sean, Ameer tampak sudah bersiap untuk pulang karena sudah pukul 10 malam, rasanya sudah tak pantas untuk bertamu.
"Jadi kamu akan tinggal didaerah sini?" tanya Qila saat mengantar Ameer keluar.
Ameer mengangguk, "Aku sudah membeli apartemen di dekat rumah sakit."
"Dengan uangmu sendiri?" tanya Qila tampak kagum.
"Tentu saja, mana mungkin aku merepotkan kedua orangtuaku." jelas Ameer mengingat sudah lama Papa nya tidak bekerja ditempat Sean dan sekarang Papa Mamanya bekerja dikampung. Mama nya menjadi guru sementara sang Papa mendirikan usaha kecil kecilan. Ameer merasa beruntung karena Ia bisa menyelesaikan study dokternya tanpa uang orangtuanya sepeserpun. Ya Ameer berhasil mendapatkan beasiswa sampai lulus.
"Kamu hebat." puji Barra sambil mengacungkan jempolnya.
Ameer tersenyum tipis,
"Tentang pria itu, apa kau yakin menikah dengan nya?" tanya Ameer membuat Qila yang tadinya menatap Ameer kini sudah menunduk.
"Kamu pasti sudah menyukainya ya, dia tampan." kata Ameer lagi.
Lagi lagi Qila diam, tak merespon ucapan Ameer.
"Sudah sana pulang." balas Qila yang langsung diangguki Ameer. Tanpa mengucapkan apapun lagi Ameer segera memasuki mobilnya.
Qila menghembuskan nafas panjang setelah mobil Ameer meninggalkan rumah.
"Iya Ameer, aku sangat menyukainya. bahkan saat pertama bertemu aku sudah menyukainya."
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komeeenn
__ADS_1