The Heaven World

The Heaven World
Kerajaan Arannor I


__ADS_3

 


 


Malam itu menjadi malam penting untuk Voran. Peperangan yang baru saja dia lewati masih menyisakan adrenalin yang kuat di benaknya. Pengalaman pertamanya ini memberikan kepercayaan diri padanya yang membuat perasaannya menjadi lebih tenang dibandingkan sebelumnya.


Kini, setelah beberapa hari beristirahat dan memurnikan Qi yang berkeliaran di dalam tubuhnya. Auranya menjadi lebih kuat dan hidup berbeda dengan auranya beberapa waktu lalu.


Voran memutuskan untuk berangkat menyerang Kerajaan Arannor setelah mengistirahatkan prajuritnya selama beberapa hari. Keraguan yang dia miliki telah lenyap, bahkan keyakinannya meningkat pesat.


Selain itu, rasa percaya dirinya tumbuh setelah menerima beberapa informasi terkait dengan Kerajaan Arannor dari tawanannya.


Para prajurit melakukan persiapan setelah menerima perintah. Mereka mempersiapkan segalanya dalam kecepeatan tinggi.


Dua tawanan berharganya tak bisa Voran tinggalkan, sehingga dia menyerahkan mereka berdua pada Larsson.


Tidak ada yang memiliki kemampuan untuk menahan mereka berdua seandainya mereka melakukan gerakan tak terduga, kecuali Larsson.


Pasukan melewati sebuah dataran kosong. Di dataran itu hanya ada rerumputan kecil dan bebatuan dengan berbagai ukuran.


Hamparan rerumputan luas itu memberikan kesejukan pada mata yang memandangnya, tanpa ada pepohonan yang menghalangi. Pemandangan di dataran itu begitu indah.


Dengan jarak pandang yang luas, mereka mampu bergerak dalam kecepatan yang tinggi. Hanya dalam sekejap mata mereka menemukan sebuah hutan kecil. Sebuah area yang dipenuhi dengan warna hijau tua dan coklat gelap, berbanding terbalik dengan dataran sebelumnya.


Begitu mereka berada di dekat hutan kecil itu. Voran menurunkan kecepatan dan meminta pasukan untuk meningkatkan kewaspadaannya.


Berjaga-jaga akan serangan tak terduga ketika melewati hutan kecil ini. Jumlah besar tak akan selalu menguntungkan, apalagi dengan medan seperti ini.


Penyergapan bisa saja terjadi dan didukung dengan medan sempit serta pepohonan lebat, serangan seperti itu akan berdampak mengerikan serta mampu mengacaukan seluruh situasi dan keadaan menguntungkan yang Voran miliki saat ini.


“Griss Hainz, Werder Sian, kenapa kalian kemari?”


Voran melihat dua pria yang memakai armor lengkap berkuda tepat di sampingnya seperti seorang pengawal.

__ADS_1


Walaupun mereka berdua pengawalnya, Voran telah memberikan tugas tertentu pada mereka, yakni memimpin pasukan. Pada saat Voran melihat mereka berdua menghampirinya, dia bertanya-tanya.


Griss Hainz dengan tenang berkuda di sampingnya. “Maafkan kami, Yang Mulia. Kami meninggalkan posisi yang seharusnya kami pegang. Kami hanya ingin melindungi Yang Mulia. Ketika kami melihat yang Mulia tak memiliki pengawal yang cakap. Kami merasa perlu berada di sekitar Yang Mulia sampai kita melewati hutan ini.”


“Sudah menjadi tugas kami untuk melindungi Yang Mulia!” Werder Sian dengan gamblangnya mengatakan hal itu.


Dengan tubuh yang besar Werder Siar mampu mengintimidasi siapa saja yang melihatnya. Tidak mudah untuk bertatapan langsung dengannya karena tubuhnya yang besar dan mata tajamnya. Dia menegakkan punggungnya setelah itu.


Voran pun tak lagi mempertanyakan kehadiran mereka setelah dia mendengar jawaban mereka berdua.


Ya, tempat seperti hutan dengan jalur yang sempit dan di penuhi dengan pepohonan menjadi lokasi penyergapan yang baik.


Dengan pengawalan mereka berdua, Voran akan berada dalam posisi yang lebih aman dan terjaga. Meskipun dia hanya sendiri sekalipun, ia tetap mampu. Namun, dengan adanya kawalan lebih, keselamatannya sedikit lebih terjamin.


Kewaspadaan prajurit meningkat tajam begitu mereka berada di dalam hutan dan mereka mengambil sikap siaga penuh. Mereka mengangkat perisai dan berjalan dalam posisi yang berdekatan.


Jalan sempit yang harus mereka lewati memberikan perasaan bahaya besar dan membuat mereka menjadi tegang. Sikap santai yang sebelumnya mereka miliki kini lenyap sepenuhnya dan diganti dengan raut wajah serius dan ketegangan penuh.


Para prajurit merasa jika perjalanan melewati jalur sempit itu terasa begitu lama, padahal mereka melewati tempat itu cukup cepat.


Setelah melewati tempat tersebut, mereka menemukan beberapa desa.


Tidak ada perintah yang Voran keluarkan terhadap desa-desa itu. Tak ada niatan pula untuk membantai mereka. Namun, Voran meminta sebagian prajurit untuk mencari informasi dari desa-desa tersebut.


“Kita sudah dekat dengan ibukota mereka.”


“Seharusnya kita menaklukkan wilayah mereka satu per satu, bukan menyerang langsung seperti ini. Namun, itu akan memakan waktu lama dan kerugian akan meningkat di pihak kita.”


“Lebih baik langsung menuju ke Ibukota dan menyerang mereka. Selama kita berhasil membunuh Raja mereka, kemenangan sudah pasti kita dapatkan.” Voran mengucapkannya begitu dia melihat sebuah tembok yang menjulang tinggi dengan gerbang yang terbuka cukup lebar.


Dengan memimpin pasukannya langsung menuju ke ibukota Kerajaan musuh bukannya ke wilayah mereka satu demi satu. Voran berpikir peluang untuk menghancurkan musuh akan lebih tinggi dibandingkan menyerang musuh dari satu wilayah ke wilayah lain.


Apalagi kalau kemenangan ia raih maka mereka bisa menganeksasi wilayah yang dimiliki Kerajaan Arannor di lain waktu.

__ADS_1


Voran berada di depan seluruh prajuritnya bersama dengan Veus dan terlihat memimpin penyerangan.


Duduk diatas kuda, Voran menatap dinding dan gerbang yang melindungi ibukota kerajaan musuh. Kemudian ia berbalaik dan melihat pasukannya.


Sayang, mereka belum bisa melompati tembok setinggi itu. Hanya mereka yang memiliki kultivasi cukup tinggi yang bisa melakukannya.


“Tenang saja, Yang Mulia. Aku sudah memperkirakan situasi ini dan beberapa hari lalu kami sudah mulai membuat tangga pengepungan. Peralatan ini mungkin belum cukup untuk menembus pertahanan mereka.”


“Namun, kita kekurangan mekanik untuk membuat alat pengepungan. Selain itu, mereka pasti tidak akan berdiam diri di dalam tembok selama mereka memiliki pasukan yang cukup!” Richard Veus menganalisa apa yang ada di depan matanya dan para prajurit juga bersiap untuk membawa tangga menuju ke tembok.


Voran mendengarkannya dengan raut wajah yang tak pasti. Menembus sebuah tembok pertahanan tidaklah mudah, bahkan sangat sulit. Tergantung dengan seberapa kuat pertahana tembok tersebut. Walau memiliki alat pengepungan sekalipun, belum tentu mereka berhasi menghancurkannya.


Voran memperhatikan tembok pertahanan di depan matanya dengan sangat teliti dan mencoba untuk mencari celah atau bagian terlemah.


Meski kultivasinya sudah cukup tinggi, Voran tidak memiliki kemampuan untuk melompati tembok setinggi beberapa meter itu. Hanya mereka yang sudah melewati tahap 2-0 yang memiliki kemampuan seperti itu.


Ekspresinya tenang dan sorot matanya tidak menyusut ketika dihadapkan dengan situasi semacam ini. Voran lebih memilih untuk mencari cara untuk menghancurkan halangan di depannya ini, daripada membiarkan emosi lain memengaruhinya.


“Kita perlu mengirim prajurit terbaik. Untuk merusak pertahanan tembok itu, kita membutuhkan prajurit dengan kultivasi tertinggi dan memiliki kemampuan yang mumpuni.” Voran memperhatikan struktu tembok pertahanan dan mempertimbangkan apa yang ada di atas sana.


“Aku yakin mereka pasti sudah menemukan keberadaan kita. Persiapkan semuanya dan lakukan secepat mungkin, Veus.” Dia tidak mengesampingkan kemampuan lawan. Tentu saja dengan gerakan sebesar ini mereka akan menemukannya.


“Jangan menunda-nundanya. Semakin lama kita menunggu, semakin kuat mereka, dan serangan kejutan tak akan memberikan dampak lagi!”


Voran menyerahkan semuanya pada Veus, sedang dirinya mempersiapkan beberapa hal karena dia akan memimpin seluruh pasukan dan terlibat dalam pertempuran di tembok. Begitu semuanya telah disiapkan, mereka segera bergerak.


Gerbang yang tertutup rapat itu meninggalkan perasaan buruk. Dengan dibunyikannya lonceng di dalam kota, suara-suara peringatan mulai bermunculan dan sosok-sosok pemanah segera terlihat di atas tembok.


Tampak seseorang memberikan perintah pada para pemanah untuk menembakkan panahnya dan hasil dari serangan itu membunuh cukup banyak prajurit.


Tabuhan genderang perang terjadi begitu saja dan tiupan terompet ikut terdengar sehingga membuat situasi menjadi lebih tegang dan panas.


Voran dan pasukannya berada tepat di depan Ibukota Kerajaan Arannor yang dilindungi oleh tembok yang tangguh dengan ketinggian belasan meter.

__ADS_1


Tembok yang menjulang tinggi itu mendominasi dan memberikan tekanan gila pada prajuritnya. Voran tak memedulikan apa yang dipikirkan oleh prajuritnya saat mereka menyaksikan betapa kuatnya pertahanan lawan. Dia sudah memperhitungkan masalah ini sejak awal.


“Serang mereka!” pekik Voran saat memerintahkan para prajurit menembus pertahanan lawan.


__ADS_2