The Heaven World

The Heaven World
Datangnya Bala Bantuan I


__ADS_3

Tekanan yang kuat muncul di detik-detik matahari terbenam. Pria berjubah hitam pun hanya bisa memerintahkan para prajurit untuk mundur dan kembali ke benteng.


Meskipun dia masih kesal dengan sikap Wallace Krom yang tak henti-hentinya mengejeknya. Ia hanya bisa menahannya terutama karena dia merasakan tekanan yang begitu kuat dari seseorang di benteng.


Wallace Krom tersenyum puas ketika dia melihat mundurnya musuh. Namun, saat dia berbalik dan meninggalkan area pertempuran. Senyum di wajahnya seketika lenyap dan digantikan dengan rasa khawatir.


“Ugh ... Pria itu berbahaya. Dia mempunyai kemampuan bertarung yang tinggi dan memiliki kultivasi yang tinggi pula. Selain itu, siapa yang mengeluarkan tekanan sekuat itu tadi?” tanyanya ketika ia mundur.


Di sisi yang berbeda, Gregor Leon tidak memiliki ekspresi yang baik sejak awal pertempuran terjadi. Dia telah kehilangan semua rasa hormatnya pada Wallace Krom meski pertempuran itu berakhir dengan kemenangan kecil.


Dari kejauhan, dia mengamati Wallace Krom seraya bergumam, “Pria ini terlalu bodoh! Dia mengungkapkan kemampuannya dan membuat musuh memiliki informasi lebih. Sekarang semuanya akan menjadi lebih sulit!”


Beberapa orang yang ada di sampingnya mendengar perkataan itu. Namun, mereka tidak menunjukkan reaksi apapun dan mereka hanya diam.


“Kemampuan Wallace Krom cukup tinggi. Dia juga mampu mengendalikan Qi-nya dengan baik. Perbedaan tingkat kultivasi telah menyelamatkan hidupnya, tapi kondisinya tidak akan bagus. Menghadapi empat Kultivator sekaligus tidaklah mudah,” gumamnya lagi.


Gregor Leon menarik pasukannya mundur untuk kembali ke perkemahannya. Lepas itu, dia bergegas untuk menemui Veus. Ia merasa semuanya sudah di luar kendali dan kemunculan Kultivator dengan Qi berwarna hitam menunjukkan adanya campur tangan dari Kultivator Iblis yang mana hal ini sangatlah buruk.


Keberadaan Kultivator Iblis tidaklah rahasia, tapi pergerakan mereka biasanya tidak akan terlalu terbuka. Akan tetapi, situasi saat ini telah mengubah pandangannya akan persepsi itu. Jadi, Gregor Leon merasakan adanya ancaman yang lebih tinggi.


“Para Lord sudah bergabung dan mereka bisa berperang. Tapi, menggunakan mereka saat ini bukan pilihan yang baik. Musuh belum mengeluarkan seluruh kekuatannya dan hanya menunjukkan sebagian saja. Aku harus menahan diri,” ucap Gregor Leon yang mengkhawatirkan kondisi pertempuran untuk besok.


Di tempat yang berbeda, di dalam tenda tepatnya. Veus dan Larsson duduk berhadapan dan raut wajah mereka terlihat sangat serius hingga memengaruhi suasana di dalam tenda.


“Mereka bekerja sama dengan Kultivator Iblis. Ini bukan pertanda baik, Veus. Aku tidak tahu apakah orang-orang ini hanya sekadar Kultivator biasa atau dari suatu kelompok, tapi keberadaan mereka bisa menjadi ancaman yang serius,” ucap Larsson.

__ADS_1


Veus mengangguk paham. “Tuan, mereka memang Kultivator Iblis. Akan tetapi, kemampuan mereka tidak semenakutkan itu hingga membuat kita ketakutan. Mereka tidak akan menjadi ancaman besar terkecuali untuk satu sosok yang ada di pihak musuh. Aku rasa Tuan sudah merasakannya.”


Larsson tersenyum lembut dan tampak menyembunyikan sesuatu. “Ya, sosok itu jauh lebih berbahaya dari mereka. Namun, berhati-hati dalam bertindak merupakan satu syarat untuk mengurangi kerugian dan meminimalisirnya!”


“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang? Menyerang mereka atau tetap bertahan?’ tanya Veus. Dia sudah memikirkan rencana tertentu, tapi dia tak ingin melakukannya sedini ini.


“Tidak, bukan kita yang akan menyerang. Namun, para Lord yang bekerja sama dengan kerajaan. Mereka sudah beristirahat cukup lama bukan? Kita perlu menggunakan mereka saat ini!” seru Larsson dengan tatapan mata yang membuat bulu kuduk berdiri.


Veus mengingat keberadaan para Lord yang saat ini sedang beristirahat dan menunggu perintah. Di waktu yang sama dia juga mengingat akan rencana penggunaan mereka.


“Tapi, Tuan Larsson. Kita tidak bisa menggunakan mereka tanpa persetujuan Yang Mulia. Mereka merupakan senjata tersembunyi kita yang hanya akan kita gunakan di waktu yang berbahaya ataupun untuk menjadi pasukan garis depan!” balas Veus dengan tegas.


Larsson tahu bila menggunakan para Lord bisa berakibat fatal karena mereka merupakan pisau bermata dua. Dia tidak sepenuhnya yakin bila mereka akan bekerja sama dengannya. Namun, Larsson berpikir sedikit berbeda dari Veus dan merasa bila memanfaatkan mereka untuk peperangan besok akan jauh lebih efekti.


“Veus! Siapa mereka? Apakah mereka pasukan kerajaan kita atau kelompok independen? Mana yang menurutmu lebih penting, rencana untuk beberapa waktu mendatang atau besok? Lihatlah musuh dan kondisi sekutu saat ini,” ucap Larsson tanpa menjelaskannya secara jelas.


Namun, dengan usainya perang tadi. Larsson tidak akan tinggal diam saja karena dia merasa sedang diamati dan dipelajari oleh pihak lawan. Perasaan dipelajari tidaklah menyenangkan.


Veus terdiam ketika mendengarnya dan dia tidak tahu harus merespons seperti apa. Ucapan Larsson benar adanya, Lord bukanlah kekuatan kerajaan mereka hanya berafiliasi atau bekerja sama saja. Jadi, cara terbaik untuk menggunakan mereka ialah membuat mereka bertempur di situasi yang berbahaya dan tidak menguntungkan.


“Benar ... Aku bisa memanfaatkan mereka semua dan memberikan komando pasukan gabungan para Lord pada Draynir! Dia mengumpulkan beberapa Lord saat menemui kita Dan mereka memiliki kekuatan yang cukup diperhitungkan. Kita akan mengirim mereka besok,” ucap Veus dengan tegasnya dan tampak keputusannya tidak bisa digugat.


Larsson mengamati ekspresi Veus yang kaku dan serius. Lalu ia berbicara menimpali perkataannya tadi. “Ya, berikan perintah padanya untuk menemui kita malam ini. Aku yakin, mereka berdua akan datang kemari dan membahas pertempuran besok. Kita akan membiarkan Draynir ikut dalam pertemuan itu.”


Veus mengangguk paham akan usul tersebut. Dengan memberikan panggung pada Draynir, bisa dikatakan bila mereka telah memenuhi salah satu permintaannya.

__ADS_1


Lepas itu, ketika malam semakin gelap pertemuan pun kembali digelar di tenda markas Kerajaan Salauster.


**


Voran dan pasukannya sudah mendekati area perbatasan setelah dua hari perjalanan yang melelahkan. Mereka mendirikan kemah di sebuah area yang lapang.


Ketika para prajurit beristirahat, Voran berlatih bersama Valaunter. Walaupun mereka musuh sebelumnya, Voran tidak ragu untuk meminta Valaunter melatihnya.


Voran menggenggam pedang di tangannya dengan erat dan mengayunkannya secara diagonal beberapa kali. Aliran Qi yang lembut mengalir keluar di setiap ayunannya. Udara terbelah ketika gelombang Qi keluar dari gerakannya.


Langkah kakinya gesit teratur membentuk sebuah pola segitiga di tanah. Kecepatan gerak kakinya meningkat seiring dengan ayunan pedangnya yang semakin intens dan liar. Voran merasakan tubuhnya semakin ringan setiap kali dia melepaskan Qi.


Kolam Qi-nya bergejolak ketika dia berlatih menggunakan Qi dan riak-riak kecil muncul di dalam Kolam Qi.


Valaunter memperhatikan setiap gerakan yang Voran lakukan. Dia duduk sila dengan mata yang menatap tajam ke arah Voran. “Langkah kakinya solid meski kurang fleksibel, gerakannya masih rumit dan tidak sederhana, Qi-nya juga kasar. Fondasinya cukup buruk. Jika dia hanya mengandalkan King’s Power saja, kekalahan sudah menantinya!”


Valaunter memeriksa setiap gerakan Voran dalam diam dan dia merasakan ada banyak celah dalam setiap gerakan Voran. Caranya menggunakan pedang masih terlalu kasar dan tampak jika Voran tidak memiliki pemahaman mendalam akan senjata yang dia gunakan.


“Huft ... Huft ... Huft ... “ Voran mengatur nafasnya yang mulai tidak beraturan setelah berlatih berperang selama satu jam penuh.


Lepas itu, dia menghampiri Valaunter. “Apa ada yang salah dalam caraku berlatih, Valaunter?”


Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Voran ketika dia melihat tatapan Valaunter yang menampilkan keraguan.


“Bukan kesalahan yang ada pada cara Tuan berlatih, melainkan efektivitas yang kurang. Masih ada banyak hal yang perlu Tuan pelajari dan jangan terlalu mengandalkan King’s Power. Gunakan kemampuan murni Tuan sendiri. Aku akan menunjukkan beberapa gerakanku,” ucap Valaunter.

__ADS_1


Tanpa berlama-lama, Valaunter segera menunjukkan gerakannya. Setelah beberapa saat menunjukkan kemampuan berpedangnya. Saat ia menyelesaikan gerakan terakhirnya, sebuah gelombang udara yang kuat menyisir ke segala arah hingga membuat daun beterbangan. Lepas itu Valaunter kembali ke sisi Voran.


“Tidak ada latihan yang salah di dunia ini, Tuan. Yang ada hanya ketidakcocokan. Berlatih itu mirip dengan mengasah pedang, semakin sering diasah maka akan semakin tajam. Begitu pula dengan sebuah latihan,” ucap Valaunter.


__ADS_2