The Heaven World

The Heaven World
Datangnya Bala Bantuan II


__ADS_3

Salvatora dan Jenderal Crcok tidak lagi menahan pasukannya setelah melihat pertempuran kemarin. Meski mereka memegang keunggulan posisi dan medan dari pada musuh, mereka tidak akan berdiam diri seperti kemarin.


Kali ini, Jenderal Crock sendiri yang akan memimpin pasukan dan dia akan mendapatkan bantuan dari dua kultivator dan pria berjubah hitam. Sedangkan, Salvatora akan memimpin sisa pasukan yang berada di dalam benteng.


“Jenderal, ingatlah satu hal ketika kau menghadapi mereka. Kau tidak harus menghancurkan mereka karena itu bukan tugasmu. Kau hanya perlu menahan dan melukai mereka separah mungkin. Raja akan mengirim pasukan lain dan mungkin dia sudah melakukannya,” ucap Salvatora.


Dia menenangkan Jenderal Crock yang sudah dipenuhi dengan ekstasi akan gairah bertarung. Di waktu ini, dia tahu jika musuh akan mengerahkan kekuatan yang lebih kuat daripada sebelumnya.


Jenderal Crock mengangguk menanggapi ucapan Salvatora. “Tenang saja, Tuan Salvatora. Aku mengingat jelas apa tugasku dan aku akan melakukan yang terbaik. Saat ini, kita memang unggul tapi aku tidak merasa nyaman dengan seluruh situasi yang ada.”


“Hahaha ... “ tawa Salvatora menggema dan membuat seluruh prajurit terdiam. Lalu ia berkata dengan nada dingin, “Situasi tidak akan pernah sama, Jenderal! Situasi bisa berubah dalam hitungan detik dan kali ini kita berhadapan dengan perubahan itu!”


“Apa maksudmu, Tuan?” tanya Jenderal Crock penasaran.


“Lihatlah medan perang dan sikap lawan yang akan kau hadapi, saat kau melakukannya kau akan mengetahui bila mereka memiliki moral yang tinggi. Kemenangan kecil mereka kemarin meningkatkan moral mereka cukup pesat!” jawab Salvatora.


“Sekarang, lawanmu tidak sama dengan kemarin dan mereka akan jauh lebih sulit untuk kau hadapi. Satu hal lagi yang harus kau perhatikan, kemungkinan mereka sudah mendapatkan bala bantuan!” sambung Salvatora.


Mendengar hal itu, Jenderal Crock menjadi serius. Ketika menemukan lawan yang memiliki moral tinggi, pertempuran akan menjadi lebih sulit apalagi jika musuh mendapatkan sokongan moral melalui bala bantuan yang datang. Ia paham betul bila semangat mereka akan meningkat berkali-kali lipat dan membuat mereka menjadi lebih berbahaya.


Jenderal Crock mengarahkan pandangannya ke area kosong yang ada di tengah-tengah area yang terhimpit oleh beberapa bukit. Area lapang yang menjadi tempat pertempuran sebelumnya. Ketika dia melihat tempat tersebut, kerutan di dahinya menjadi lebih dalam.


“Mereka sudah bersiap dan tampak begitu haus darah. Aku tidak berharap mereka akan memiliki sikap yang begitu sengit setelah pertempuran kemarin. Tampaknya pertempuran kali ini akan jauh lebih sulit,” ucap Jenderal Crock lirih.


Tanpa menunggu lama, dia berbalik dan menatap para prajurit yang tampak siap. Para prajurit berbaris rapi sembari menatap Jenderal Crock dengan tatapan panas dan keinginan kuat. Tampak jelas di mata mereka keinginan untuk membalas kekalahan kemarin.

__ADS_1


“Sepertinya tidak perlu untukku memberi kalian semangat. Aku melihat sorot mata kalian dipenuhi dengan keinginan akan balas dendam yang kuat dan aku merasakan keseriusan kalian. Baiklah!!” seru Jenderal Crock dengan suara yang cukup keras.


Lantas, dia menarik pedang keluar pedang yang tersaring di pinggangnya seraya mengangkatnya tinggi-tinggi. Diiringi dengan keluarnya aura yang kuat hingga menghancurkan udara di sekitar tubuhnya, ia berkata, “Keluar dan habisi mereka semua! Jangan sisakan satu orang sekalipun!”


Salvatora melihat Jenderal Crock berpidato sambil memimpin pasukan keluar dari benteng dengan wajah datar. Namun, tatapan matanya dipenuhi dengan gairah membunuh serta dilapisi kabut dingin yang menggetarkan hati.


“Bertarunglah kalian semua. Beri aku tontonan yang menarik. Aku belum bisa ikut campur untuk saat ini. Aku tidak melihat sosok-sosok yang kuat muncul di medan perang, jadi belum waktunya untukku menampakkan diri!” serunya kala dia melihat pasukan keluar dari benteng dan melewati dinding mayat.


Salvatora melihat para prajurit yang bergerak ke area lapang itu. Dia mendesah pelan ketika melihat para prajurit dan kemudian pandangannya berganti ke arah dinding mayat. “Sebenarnya kau tidak harus pergi menghadapi mereka, Crock. Sayangnya, kau lebih bernafsu dari yang aku pikirkan. Sekarang tergantung padamu Crock. Bisakah kau menghancurkan mereka atau tidak!”


Sebenarnya, pasukan Jenderal Crock tidak perlu maju dan melakukan pertempuran langsung seperti saat ini. Posisi mereka diuntungkan bila mereka memilih bertahan dan tetap berada di balik dinding mayat.


Salvatora tidak melarang Jenderal Crock melakukan pertempuran langsung dan membiarkannya mengambil keputusan tersebut. Namun, Salvatora tidak mengikuti Jenderal Crock yang maju ke medan pertempuran. Dia hanya mengamati mereka dari kejauhan sambil menunggu beberapa hal.


Di pihak yang berbeda, Wallace Krom memimpin pasukannya dan juga beberapa orang yang tak terlihat di pertempuran sebelumnya menemaninya. Tak jauh dari posisi Wallace Krom, tampak Gregor Leon mengarahkan beberapa kelompok prajurit untuk membuat formasi dan terlihat pula sekelompok prajurit yang memiliki perlengkapan berbeda dari pasukannya.


Veus sendiri berkuda berdampingan dengan Larsson dan berada di belakang pasukan yang dipimpin oleh Draynir. Tiga kekuatan yang berbeda itu menampilkan visual yang cukup mengintimidasi.


Ketika Jenderal Crock menyaksikan semua itu, dia tersenyum sinis. Ia tahu bila kerja sama seperti itu tidak akan bertahan lama. Semua itu akan bergantung pada keinginan masing-masing kelompok. Terkadang, bekerja sama seperti koalisi ini tidak akan memberikan ketenangan ataupun keunggulan.


“Huft ... Meski mereka tampak mengintimidasi dengan kekuatan yang begitu besar. Tak bisa dipungkiri jika pertempuran sebelumnya telah menunjukkan celah nyata dalam kerja sama yang mereka bentuk. Aku hanya perlu membuat mereka menampilkan celah itu lagi,” gumam Jenderal Crock.


Pria berjubah hitam mendekatinya perlahan-lahan dan gerakan kakinya tampak tidak menyentuh tanah. Auranya jauh lebih kuat dibandingkan kemarin saat dia bertarung melawan Wallace Krom.


“Tuan, kami akan berada dalam perintahmu. Jangan ragu untuk memerintahkan kami melawan mereka,” ucap pria berjubah hitam itu.

__ADS_1


Jenderal Crock menatapnya dengan hangat sambil berkata, “Ya, aku akan menempatkan kalian pada posisi yang berbahaya. Jadi, aku ingin kalian bersiap-siap.”


Setelah itu dia menatap musuhnya dan berkata lembut menyambung perkataannya tadi, “Aku ingin kalian melawan Wallace Krom. Pria yang kemarin kau lawan.”


“Baik, Tuan,” balasnya.


Area lapang yang sebelumnya kosong kini dipenuhi dengan lautan manusia yang memancarkan haus darah kuat. Mereka berbaris rapi dalam suatu formasi dan saling berhadapan sambil memamerkan senjatanya.


Suara-suara tabuhan genderang perang terdengar kala keempat pasukan berhadapan. Begitu suara tabuhan berhenti. Keempat pasukan bergerak dalam gerakan yang lambat tapi penuh dengan kekuatan.


“Biarkan langit tahu bahwa kalian itu pasukan perkasa yang tak takut akan apapun. Maju dan ikuti aku!” teriak Wallace Krom saat memimpin pasukannya.


Di sisi yang berbeda Gregor Leon juga melakukan hal yang sama dan memimpin pasukannya menuju ke area lapang. “Huh! Siapa yang akan menyangka mereka memilih menyerang daripada bertahan. Kesempatan ini harus aku raih. Aku tidak bisa membiarkan mereka mengambil kesempatan ini.”


Berbeda dengan mereka berdua yang langsung maju dan menyerang. Veus lebih memilih diam dan membiarkan Draynir yang mengambil kendali pertempuran. Dia memberikan kesempatan ini pada Draynir untuk membuktikan kekuatan serta kesetiaannya.


“Kau harus siap untuk membantunya, Jenderal. Jangan biarkan mereka hancur sepenuhnya. Meski dia tak memiliki kekuatan yang memadai, dia masih bisa membantu kerajaan,” ucap Larsson dengan nada tegas.


“Baik, Tuan Larsson. Aku akan melakukannya,” balas Veus.


***


“Seharusnya kita tidak terlambat. Mereka masih bisa mempertahankan perbatasan bukan?” tanya seorang pria.


“Mereka pasti bisa bertahan, tapi berapa lama mereka bisa bertahan, kita tidak tahu. Jadi, kita harus mempercepat pergerakan pasukan. Jangan sampai kita terlambat dan hanya menemukan tumpukan mayat saja,” balas pria lainnya.

__ADS_1


Dua pria itu berbicara dengan suara lirih agar pria paruh baya di depan mereka tidak mendengarkannya. Sebuah pasukan berukuran sedang tengah mendekati area perbatasan.


__ADS_2