
Voran melihat gerbang terbuka sesaat setelah pertempuran terjadi. Namun, gerbang itu terbuka bukan karena serangannya melainkan ada seseorang dari pihak musuh yang melakukannya.
Terbukanya gerbang itu membuat dia terperangah. Ia terkejut walau menantikan hal ini. Disamping terkejut karena gerbang yang terbuka, ia juga kaget dengan apa yang ia lihat. QI, ada banyak Qi yang keluar dari mayat para prajurit.
Sesaat setelah ia teralihkan oleh keadaan itu, ia segera menengok ke samping dan melihat Veus yang memberikan sinyal pada penabuh genderang perang sekaligus pengibar bendera.
Salah satu kolom bergerak menuju gerbang dengan kecepatan tinggi. Meski gerakan mereka cepat, formasi mereka tidak kacau dan tetap rapi bahkan semakin ketat.
Perhatian Voran tertuju pada pasukan yang bergerak menuju gerbang. Penglihatannya terpaku ke arah tersebut karena disana ada sebuah pasukan yang sudah menunggu kedatangan pasukannya.
“Seharusnya seperti ini. Aku tidak bisa langsung masuk ke dalam medan pertempuran di kala pasukanku masih mampu melakukannya. Selama mereka bergerak sesuai dengan rencana. Maka akan baik-baik saja,” kata Voran sambil mengamati medan perang.
“Aku bisa menunggu sedikit lebih lama. Pertempuran di gerbang mulai memasuki tahap yang lebih intens. Aku tidak bisa mengacaukan situasi di sana!” Perasaannya semakin tidak menentu saat Voran merasakan perubahan tengah terjadi di medan perang.
Voran berbicara sendiri ketika dia mengamati situasi di atas dinding maupun yang terjadi di gerbang. Dia menunggu dan mengantisipasi apa yang akan terjadi.
Di sisi lain, energi Qi yang muncul di pertempuran semakin banyak dan menarik perhatiannya. Dia tahu kerugian dari mengambil energi Qi tersebut. Namun, saat ini dia memang membutuhkannya.
Voran memejamkan matanya sejenak setelah dia mengamati keadaan di sekitarnya. Energi yang berkeliaran di medan pertempuran membuatnya terhanyut dalam pikiran yang dalam.
Keinginannya untuk bertambah kuat semakin tak terkendali, apalagi setelah dia merasakan Qi yang begitu melimpah di medan pertempuran.
Walaupun Voran tahu Qi itu merupakan Qi yang tidak murni. Ia ingin menyerap semua Qi tersebut, dan perasaan itu terus bertambah kuat seiring dengan meningkatnya intensitas pertempuran.
“Haruskah aku mengabaikan risiko itu dan menyerapnya sampai aku berada di tahap 2-0?” Voran bertanya pada dirinya sendiri.
“Lantas, ke depannya aku berkultivasi secara biasa. Aku rasa mengabaikan energi yang ada disini dan takut akan risiko, itu benar-benar tindakan bodoh. Jika memang ini merupakan kekuatan yang hanya dimiliki oleh seorang raja, maka efek tersebut tidak akan terlalu berpengaruh.”
Beberapa saat kemudian dia membuka matanya dan sebuah ketegasan muncul dalam pandangan matanya saat dia berkata, “Aku pikir itu layak untuk dicoba!”
Setelah pikirannya menetap, Voran segera berkuda menuju ke gerbang bersama dengan pasukan. Ia menunggangi kuda dengan santai seperti halnya berkuda di hamparan rumput yang luas.
Perlahan-lahan sorot matanya menjadi lebih dingin dan dia memancarkan haus darah.
Dengan memasang ekspresi membunuh di wajahnya. Voran mengeluarkan aura yang kuat dan di waktu yang sama dia menghunuskan pedangnya sambil menggerakkan QI yang ada di dalam tubuhnya.
Beberapa kavaleri melindunginya saat Voran berkuda, tapi dia tak begitu peduli dengan keberadaan mereka.
__ADS_1
Voran lebih peduli dengan Qi yang bergerak secara liar di medan pertempuran. Fokusnya langsung tertuju pada Qi tersebut, seolah energi itu mengundang dan merayunya.
Situasi di medan pertempuran begitu buruk, tapi Voran tidak terganggu oleh keadaan itu. Secepat mungkin Voran menyerap QI yang bergerak liar di medan pertempuran, lalu ia edarkan energi tersebut ke seluruh tubuhnya.
Dalam proses penyerapan itu, Voran berkuda masuk ke dalam gerbang. Pedang di tangan kanannya tidak berhenti berayun dan meninggalkan mayat-mayat prajurit di belakang.
Para prajurit yang mencoba menghadangnya hanya menemui nasib buruk. Mereka berjatuhan satu per satu dengan kondisi tubuh yang tak utuh. Ayunan pedang Voran semakin cepat dan intens.
Qi di pedangnya bergelombang mengacaukan segala hal di sekitarnya dan Voran terus menyerap Qi yang ada di sekitarnya ketika dia mengayunkan pedangnya.
“Jangan sisakan satupun dari mereka! Habisi mereka semua, bunuh dan hancurkan mereka! Tunjukkan pada mereka apa itu pemusnahan!” teriak Voran.
Teriakannya dipenuhi dengan nafsu membunuh dan semangat yang tiada tara. Suaranya memberi energi eksplosif pada setiap prajurit di sekitarnya, sehingga mereka bertindak lebih buas lagi.
Di atas tembok, para Kultivator bertarung dan ia merasakan adanya ledakan energi yang intens.
Voran hanya menyerap Qi yang mengambang di sekitarnya saat pedang di tangannya tak berhenti merenggut nyawa seseorang.
Dia terus membunuh dan membuka jalan hingga pandangannya tertuju pada seseorang yang memiliki aura lebih kuat dari yang lainnya. Pandangannya tertuju pada pria itu dalam sekejap mata.
Voran mampu merasakan haus darah dan nafsu membunuh yang tak tertahankan dari pria itu. Dia segera memacu kudanya ke arah pria itu sambil melepaskan serangan ke arahnya. “First Step of Salauster’s Skies Sword : Cleave.”
Pria itu tersenyum saat menarik pedangnya. Dia melepaskan sebuah kekuatan yang besar.
Tak lama setelahnya dua energi Qi berbenturan menghasilkan suara yang memekakkan telinga. Gelombang kejut yang kuat muncul dan menghempaskan para prajurit di sekitarnya.
Sebuah jalur khusus terbentuk tak lama setelah benturan Qi terjadi.
“Cukup bagus, kekuatanmu cukup untuk mendukung keberanianmu. Aku rasa, aku sedikit meremehkanmu tadi.” Senyum menghias wajah pria itu.
“Sekarang, biar kulihat seberapa kuat kau ini!” seru pria itu lagi sambil mengeluarkan energi yang kuat.
Pria itu melompat dan tampak melayang di udara, tapi pedangnya berayun dengan kuat.
Merasakan bahaya di depannya, Voran tak ragu untuk melompat dari kuda. Dia melompat dan mengirim serangan lain.
Pusaran angin yang menderu-deru muncul begitu pria itu menyerang. Voran membalas serangan itu dengan ayunan kuat.
__ADS_1
Benturan energi lain terjadi dan membuat suasana menjadi lebih menindas.
Mereka beradu pedang dan melayang di udara untuk beberapa detik.
Ledakan demi ledakan energi yang disertai dengan angin ribut makin mengacaukan tempat itu.
Ketika pertarungan itu sedang sengit-sengitnya. Seorang pria paruh baya muncul dan masuk ke dalam pertarungan mereka sambil mengayunkan tombaknya.
Voran ditekan dua orang yang memiliki tingkat kultivasi setara dan dia sedikit dirugikan.
Menghadapi dua lawan yang sekaliber memberikan tekanan yang kuat. Perasaannya menjadi buruk ketika tekanan yang ia hadapi semakin meningkat.
Dengan situasi yang buruk, Voran tak menghentikan King’s Power untuk menyerap Qi yang ada di sekitarnya. Dia malah mempercepatnya.
Peluang untuk lepas dari mereka berdua sangat kecil, apalagi meraih kemenangan. Tanpa pikir panjang, Voran memutuskan untuk memaksakan dirinya dan melanggar batasannya meski nyawa sebagai bayarannya.
Pedangnya berayun laksana badai, pusaran-pusaran angin terbentuk dari percikan Qi yang muncul setelah benturan terjadi.
Ledakan energi tak henti-hentinya terjadi. Tanah yang semula datar mulai rusak dan hancur. Berbagai macam retakan muncul di tanah dan mengubahnya menjadi tidak rata.
Belum lama Voran menghadapi dua orang Kultivator, tiba-tiba saja muncul pria lainnya yang melibatkan diri dalam pertarungannya.
Kali ini dia harus menghadapi tiga Kultivator sekaligus.
Mereka bertiga memiliki kerja sama yang sangat baik. Setiap kali dia menyerang, mereka akan bahu membahu menutupi kelemahan yang mereka miliki.
Celah yang semula bisa Voran manfaatkan berubah menjadi sebuah pertahanan yang kuat sekaligus jebakan tidak langsung.
Kerja sama mereka semakin baik dan itu tidak terjadi pada pertahanan saja. Serangan mereka juga dipenuhi dengan kerja sama yang begitu baik.
Voran terjebak dalam pertarungan tersebut dan tak ad acara untuk melepaskan diri. Namun, di waktu yang sama dia mengalami perubahan dan lawannya tidak menyadari perubahannya.
Tubuhnya dipenuhi dengan Qi. Energi itu tak berhenti masuk ke dalam tubuhnya malahan mengalami lonjakan yang luar biasa hingga membuat wajahnya memerah lalu membiru dan vena-venanya menonjol keluar.
“Ini menarik. Tidak kuduga mereka akan menyembunyikan kekuatan sebesar ini di dalam ibukota.” Walaupun ia mulai merasa sakit. Voran tidak merasakannya terlalu dalam, malahan dia bersemangat dengan situasi yang ia hadapi.
“Sayangnya, kemenangan ini sudah jelas berada di tanganku tak peduli bagaimana kalian melawanku atau berjuang! Tidakkah kalian berpikir akan menjadi sebuah kerugian untuk bertarung pada pihak yang kalah?” Voran tersenyum saat menanyakannya.
__ADS_1