
Seorang pria paruh baya menatap sebuah area kosong dengan tajam. Pedang di tangannya memancarkan aura menusuk, memberikan tekanan yang menyesakkan dada.
Di sebelah kanannya, ada seorang pria lain yang seusia dengannya. Berpakaian laksana seorang pertapa dan memperlihatkan tampilan tak terurus. Pria itu memancarkan aura berbahaya.
“Kau terlalu gegabah, Tuan. Kita membuat mereka semua bergerak ke perbatasan. Ini bukan situasi yang diharapkan Yang Mulia Raja,” ucap pria berpedang dengan nada tegasnya.
“Ada apa dengan suaramu itu! Apa kau tidak tahu siapa aku dan seberapa besar kekuatanku?” tanya balik pria itu dengan suara yang dingin hingga membuat menggigil siapapun yang mendengarnya.
“Tentu saja aku tahu siapa dirimu, Tuan. Siapa yang tidak tahu kemasyhuranmu?” Pria itu membalasnya dengan senyum hangat.
Salvatora bukanlah seseorang yang bisa dia kacaukan. Dengan kemampuan yang dimilikinya, sulit untuknya berhadapan dengan pria tersebut. Meskipun ia memiliki posisi yang cukup tinggi di Kerajaan Edarecia. Dia tak memiliki kesanggupan untuk bersitegang dengan Salvatora.
“Bagus kalau kau mengerti, Jenderal! Aku bukan bawahanmu atau Rajamu itu. Uluran tanganku hanya berlaku jika kau membiarkanku bertindak sesuai dengan kemauanku.” Nada suaranya tak begitu besar, tapi terdengar jelas dan terasa begitu dingin.
“Apa yang diinginkan rajamu sama dengan keinginanku. Ketiga kerajaan itu harus hancur dan wilayah ini harus disatukan oleh seseorang. Siapapun yang bisa melakukannya, aku tak memperdulikannya. Jika itu Rajamu yang mampu melakukannya maka dia memiliki kualifikasi. Jika itu orang lain, situasi akan lebih menyenangkan lagi.”
Tatapan mata Salvatora dipenuhi dengan kegilaan perang saat dia mengucapkan perkataan tersebut. Sejenak setiap orang yang ada di sampingnya mundur satu langkah dan menggigil merasakan aura yang tiba-tiba keluar dari tubuh Salvatora.
“Pada akhirnya, Tuan hanya menginginkan peperangan semata di tempat ini, bukan? Kenapa harus memutar-mutar kata?” tanya sang jenderal dengan sedikit curiga.
Tak ada jawaban dari Salvatora. Ia hanya menatap sang jenderal lalu tersenyum penuh makna sambil melepaskan sedikit nafsu membunuhnya.
Tempat mereka tinggal tampak seperti sebuah benteng tak tertembus. Dengan pagar-pagar yang menjulang tinggi, dua menara sebagai pemantau area sekitar, keamanan tempat tersebut cukup terjamin.
__ADS_1
Pertempuran pertama di perbatasan memberikan realisasi baru untuk sang jenderal. Ia tak menyangka jika kemampuan pasukan kerajaan kecil itu akan mampu memberikan sedikit kerusakan pada pasukannya.
***
Hari berlalu dengan cepatnya saat Voran memimpin pasukan menuju ke perbatasan. Kecepatan mobilisasi pasukannya cukup tinggi yang mengakibatkan waktu perjalanan mereka memendek.
Di sepanjang jalan, Voran selalu menyempatkan diri untuk bermeditasi ataupun berlatih, menyempurnakan teknik bertarungnya. Tak luput ia juga mengonsumsi pil penguat yang terus dipasok oleh alkemis kerajaan.
Selama perjalanan, Voran terus merasakan adanya peningkatan Ki di dalam tubuhnya. Seluruh Qi di dalam tubuhnya berkumpul di kolam Ki yang berada tepat di pusarnya. Kolam Qi itu perlahan-lahan melebar dan meluas.
“Valaunter, bagaimana caramu bisa menerobos penghalang tahap 2 dan memasuki tahap tiga?” Voran menanyakannya dengan serius dan sorot matanya penuh dengan keingintahuan.
Selek Valaunter merenung sejenak sebelum mengarahkan matanya ke Voran sambil berkata, “Tidak ada yang istimewa, Yang Mulia. Hanya keinginan kuat serta tekad baja yang bisa menerobos penghalang itu. Tentu saja, fondasi sangat diperlukan agar terobosan lebih mudah dilakukan.”
Sejenak Voran memikirkan perkataan Selek Valaunter. Seperti halnya membangun sebuah bangunan, fondasi menjadi faktor yang sangat penting sebelum menerobos ke tahap selanjutnya.
“Fondasi? Itu berarti aku harus mengumpulkan energi Ki lebih banyak lagi dan terus memperkuat kolam Qi ini. Walaupun energi di dalam kolam Qi ini sudah mendekati batas. Aku perlu memperkuatnya dan tidak terburu-buru melakukan terobosan ke tahap selanjutnya!”
Memikirkan perubahan yang terjadi pada kolam Qi-nya sekaligus ucapan Selek Valaunter membuat Voran bersemangat. Dinding Kolam Qi-nya mengalami sedikit perubahan dimana ketebalannya meningkat dan tingginya juga bertambah.
Kolam Qi akan mengalami pertumbuhan dan peningkatan sejalan dengan bertambah serta menguatnya Qi yang dimiliki oleh pembudidaya. Voran memahami prinsip ini setelah mendengar penjelasan yang Selek Valaunter berikan.
Dia juga tahu bila untuk menambah atau menguatkan Qi diperlukan beberapa cara seperti mengonsumsi pil penguat ataupun menyerap energi Qi alam. Semakin murni energi Ki maka semakin cepat perkembangannya dan tentunya kekuatannya tidak perlu diragukan lagi.
__ADS_1
“Jika Yang Mulia merasa akan menerobos, lebih baik tunda dulu dan perkuat fondasi kola Ki Yang Mulia. Jika tidak terobosan yang anda hadapi akan sangat menyakitkan. Aku juga merasa Yang Mulia masih memiliki energi Qi yang tidak murni. Hal ini akan meningkatkan risiko kegagalan terobosan.”
Saran yang Selek Valaunter berikan sangat masuk akal. Demi keselamatan dan kemudahan proses penerobosan, Voran dianjurkan untuk memperkuat fondasi Kolam Qi-nya. Perlu dipahami, melakukan terobosan tidak semudah membalikkan tangan.
Proses yang harus dilewati oleh sang Kultivator berbeda-beda dan semua tergantung dari bakat maupun teknik yang dipelajarinya.
Voran memiliki bakat yang tak buruk tapi tidak mengesankan. Namun, ditunjang dengan King’s Power serta pil-pil dari Alkemis Kerajaan. Bakat yang dia miliki mengalami perubahan yang cukup.
Perasaan mendesak dari Kolam Qi terus Voran rasakan sepanjang waktu, termasuk saat dia tengah berdiskusi dengan Selek Valaunter.
“Ya, aku akan memperkuatnya terlebih dahulu. Turbulensi di dalam Kolam Qi pasti akan terjadi dalam waktu berdekatan ini, jadi aku harus bersiap-siap.”
Setelah Voran membahas permasalahan kultivasi dengan Selek Valaunter. Perjalanan itu kembali menjadi lebih tenang.
***
Sebuah pasukan bersenjatakan lengkap dan memancarkan aura ganas bergerak menuju ke perbatasan.
Para penunggang kuda berbaris dengan rapi, membentuk sebuah formasi kolom. Mereka berada di kedua sisi pasukan dan menjaga pasukan utama dalam perjalanan.
Seorang pria berusia 40-an memimpin pasukan tersebut. Dengan mengenakan armor mewah berwarna merah legam dan sebuah armor helmet dengan dua tanduk yang panjang.
“Sungguh menyenangkan. Situasi di perbatasan sangat menarik. Apa yang dipikirkan Kerajaan Edarecia hingga berani memprovokasi tiga kerajaan sekaligus. Akan menyenangkan bertempur di sana!” Pria itu tampak sangat bersemangat hingga auranya bocor keluar.
__ADS_1
“Pertempuran ini akan menjadi ajang untukku unjuk gigi dan membuat semua orang tahu namaku. Sesuai dengan titah Yang Mulia, aku akan membereskan semua cecunguk itu! Sayangnya kekalahan sebelumnya telah mengurangi daya serang kerajaan di perbatasan, ini akan sedikit sulit,” ucap pria itu lagi.
Dengan panji berlambangkan bunga teratai, pria ini memimpin seluruh pasukan yang berjumlah puluhan ribu menuju ke perbatasan. Dia bukanlah sosok biasa melainkan seorang Jenderal yang terkemuka dari Kerajaan Sevaeni, namanya telah menggema lama di utara dan orang-orang memanggilnya dengan nama Wallace Krom.