The Heaven World

The Heaven World
Datangnya Bala Bantuan III


__ADS_3

Voran dan pasukan tiba di area perbatasan tepat ketika matahari sudah melewati kepala. Dia dan Valaunter mendengar suara benturan besi yang terdengar begitu keras. Dikawal oleh Gris Hainz dan Harte Braun, Voran berada di barisan tengah.


“Sepertinya pertempuran sedang berlangsung. Apakah musuh memiliki kemampuan yang tinggi dan merepotkan pasukan kita?” tanya Voran. Ia begitu lugas dalam bertanya dan menggunakan nada yang mendesak.


Valaunter yang mendapatkan pertanyaan itu hanya tersenyum kecil sembari berkata, “Tidak bisa dipastikan, Yang Mulia. Kita tidak tahu siapa yang memimpin mereka. Kerajaan Edarecia memiliki beberapa Jenderal terkemuka yang hebat. Jika mereka yang memimpin pasukan, maka pertempuran akan menjadi jauh lebih sulit.”


“Begitu kah? Koalisi tidak menjamin kita akan berhasil, bukan? Menyatukan tiga kekuatan yang memiliki keinginan yang berbeda demi satu tujuan tidaklah mudah. Jika salah satu kehilangan akalnya dan menuruti keinginannya, koalisi bisa hancur kapan saja,” ucap Voran dengan nada yang dalam dan tatapan serius.


Valaunter melirik Voran dan berkata, “Itulah yang menjadi kekhawatiranku, Yang Mulia. Ketika aku mendengar tentang koalisi ini, pikiranku berkeliaran liar. Siapa yang tahu pikiran setiap manusia, Yang Mulia? Tidak ada yang tahu akan hal itu dan juga keinginan setiap manusia. Jadi, hanya ada satu cara untuk kita bertahan, yakni waspada dan berhati-hati.”


Voran menatapnya dalam-dalam dan memikirkan ucapan Valaunter yang terdengar begitu masuk akal. Lalu, dia mendesah pelan, “Huh ... Ya, mempercayai mereka bukanlah pilihan yang baik, tapi tidak mempercayai mereka juga bukan pilihan yang bijaksana. Posisi kita harus berada di tengah-tengah. Lebih baik menjadi abu-abu daripada putih maupun hitam, begitu kan Valaunter?”


Valaunter menghargai perkataan Voran dengan menunjukkan senyuman hangat saat dia mendengar hal itu. Lantas dia mengatakan, “Ya, benar Yang Mulia. Saat ini kita sudah memasuki perang yang lebih dalam dan sulit. Aku memang baru bergabung dengan Kerajaan Salauster dalam waktu singkat. Tapi, kehidupan penduduk yang aku lindungi terikat erat dengan Kerajaan Salauster.”


“Jadi, aku harus mengatakan ini, Yang Mulia. Kerajaan Edarecia tidak sama dengan Kerajaan Arannor yang telah Tuan kalahkan. Kerajaan ini jauh lebih berbahaya dan kuat dibandingkan dengan kerajaan di Wilayah Utara. Ini hanya perkiraanku saja, pasukan yang kita hadapi di perbatasan hanyalah sebagian kekuatan Kerajaan Edarecia,” jelas Valaunter menyambung ucapan sebelumnya.


Voran mengangguk paham akan ucapan Valaunter. “Ya, kita hanya bisa berjuang untuk mempertahankan wilayah kerajaan dan membuat mereka membayar harga karena memprovokasi tiga kerajaan. Ini pasti sulit, tapi aku yakin kita bisa membuat mereka membayar harga mahal.”

__ADS_1


Pasukan bergerak dengan cepat ke tengah-tengah Perbukitan Bintang, lokasi pertempuran saat ini. Tidak ada yang berbicara saat mereka mendekati area tersebut. Setiap orang mendengarkan suara-suara yang cukup membuat hati bergidik.


Rintihan dan lolongan rasa sakit yang begitu menyayat hati terdengar dari area lapang di tengah-tengah Perbukitan Bintang. Suara-suara itu menggetarkan hati setiap prajurit. Terdengar pula teriakan-teriakan yang dipenuhi dengan amarah maupun niat membunuh.


Voran menyaksikan pertempuran brutal nan mengerikan di area lapang itu. Puluhan ribu prajurit saling bertabrakan satu dengan lainnya. Darah memercik memenuhi langit dan membasahi tanah. Suara tabrakan besi terus menerus terdengar seolah saling sahut menyahut.


“Mereka benar-benar ganas dan tidak ampun. Aliran Qi di sini terlalu padat. Aku melihat ada beberapa pertarungan yang cukup mencolok di sana. Siapa mereka itu?” tanya Voran saat berkuda menuruni bukit menuju ke area lapang lokasi pertempuran.


Valaunter mendengarnya dengan saksama dan tampak ekspresinya berubah ketika melihat pertarungan-pertarungan itu. “Wallace Krom, Gregor Leon, dan Crock. Mereka bertarung dengan begitu sengitnya. Yang Mulia, mereka adalah Jenderal-jenderal terkenal dari masing-masing kerajaan.”


Voran mengangguk mencerna ucapan Valaunter. Lalu dia bertanya lagi, “Wallace Krom, Gregor Leon, Crock, siapa mereka ini? Jenderal? Yang benar saja, aku memang merasa mereka itu kuat, tapi benarkah mereka ini Jenderal?”


“Begitukah? Yah tidak masalah jika mereka memang memiliki posisi tersebut. Aku tidak akan menyangkalnya. Kekuatan yang mereka tunjukkan cukup mengintimidasi dan cukup tinggi,” balas Voran tanpa menjeda Valaunter.


Lalu, Voran melihat Veus dan pasukannya bertarung di sisi yang berbeda serta menekan salah satu sisi formasi musuh. Voran segera memberikan perintah, “Valaunter, segera kirim pasukan untuk membantu Veus dan yang lainnya. Kita harus menekan musuh dan mematikan ruang gerak mereka!”


Tanpa berlama-lama maupun bertanya, Valaunter segera mengeksekusi rencana tersebut dengan mengirim pasukan ke sisi Veus dan membantunya. Valaunter juga bergegas masuk ke dalam pertempuran setelah Voran memberikan perintah.

__ADS_1


Voran tidak lantas bertindak tapi mengamati situasi dan dia dilindungi oleh para prajurit elite serta dua pria yang ia rekrut dari ajang pencarian bakat. Voran menatap seluruh area lapang itu dengan rasa ingin tahu dan juga mengamatinya.


Dari kejauhan, Voran melihat pergerakan Valaunter yang langsung menusuk ke formasi musuh bersama dengan para prajurit. Sekilas, Voran bisa merasakan perubahan di sisi pasukannya. Ketika tatapannya tertuju pada Veus, Voran merasakan adanya rasa lega di gestur tubuh Veus.


Namun, semua hal itu hanya ada dalam waktu singkat karena tiba-tiba saja Voran merasakan ledakan aura yang sangat kuat dan juga mengerikan. Aura yang membuat lututnya bergetar dan melemah. Tekanan yang dikeluarkan sosok itu terlalu kuat dan penekanan seperti ini merupakan hal pertama baginya.


Pandangan mata Voran langsung tertuju pada satu arah. Terlihat sesosok pria yang melayang di udara dan turun tepat di antara Veus serta Valaunter. Sosok itu melepaskan aura yang mengerikan dan menarik perhatian semua orang.


“Dia sangat berbahaya. Meski aku berada jauh darinya, aku bisa merasakan tekanan ini. Sungguh menakjubkan sekali pria itu!” ucap Voran.


Perasaannya menjadi tak menentu ketika dia melihat sesosok pria paruh baya yang berpakaian tidak begitu rapi tapi memancarkan aura yang sangat berbahaya. Pria itu berada di tengah-tengah pasukan dan menghentikan pertarungan di sana.


Voran hanya bisa menyaksikan Larsson dan Valaunter serta Veus mengalihkan segala tindakan mereka dan fokus pada sosok itu.


Ketika Voran melihat kejadian itu, sontak saja perasaannya menjadi buruk. Sekilas dia merasakan bila kekuatan sosok itu jauh di atas yang lainnya. Sosok itu tampak seperti binatang purba yang tertidur sambil menunggu mangsanya mendekat.


“Tekanannya tidak terasa seperti tadi. Dia tidak memudarkan auranya melainkan membuat aura itu menyatu dengan tubuhnya. Aku juga bisa merasakan aliran Qi yang mengalir ke sekujur tubuhnya dengan tenang tapi sangat kuat. Siapa sebenarnya pria itu?” tanya Voran saat menatap dari kejauhan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Voran menatapnya, ia memutuskan untuk masuk ke dalam pertempuran. Voran melepaskan auranya agar para Kultivator bisa menemukan keberadaannya.


 


__ADS_2