
Di sebuah lapangan kosong, para Kultivator berkumpul dan menatap ke satu arah. Voran berada di antara mereka. Mereka berkumpul untuk bersiap melancarkan serangan terhadap Lord Walcho. Voran dengan tenang mendengarkan pengaturan yang dilakukan oleh Radi.
“Kalian yang memiliki kultivasi pada tahap 2-0 tidak akan berada dalam barisan awal. Kalian akan bertarung bersamaku dan menyerang para petinggi musuh. Aku membutuhkan kalian untuk melawan kultivator tingkat tinggi mereka,” ucap Radi. Suaranya menggema di lapangan dan terdengar tegas.
Voran menyunggingkan senyumnya ketika mendengar hal itu seraya berkata pada dirinya sendiri, “Ya, ini jauh lebih baik daripada aku bergumul dengan kultivator tingkat rendah. Bergabung dengan kultivator yang lebih kuat akan membuatku mengalami pertarungan yang lebih kuat dan intens. Dengan begitu aku bisa mempelajari banyak hal.”
Setelah Radi mengungkapkan pengaturannya. Segera para kultivator terbagi dalam dua kelompok. Mereka yang belum memenuhi persyaratan Radi berada di sisi kiri dan bergabung dengan murid-murid Sekte Angin Timur yang memiliki tingkat kultivasi serupa. Sedangkan, untuk mereka yang memenuhi syarat berada di sisi kanan.
Voran melihat sampingnya. Ada dua pria yang memancarkan aura kuat. Kedua pria itu tampak bersemangat dan tak sabar untuk segera bertempur. Menyaksikan dua pria yang menunjukkan sikap antusias tinggi membuat Voran tersenyum kecut.
“Mereka bersemangat dengan sebuah pertempuran tanpa mengetahui lawan seperti apa yang akan mereka hadapi. Sebuah sikap yang bagus dan terpuji, tapi kenapa aku merasa mereka tampak bodoh?” pikir Voran ketika dia melihat sikap yang ditunjukkan oleh dua kultivator di sampingnya.
Dari puluhan kultivator hanya ada tiga kultivator yang memenuhi persyaratan Radi, termasuk Voran. Situasi ini membuat Voran berpikir tentang tingkat bahaya yang ada pada pertempuran ini. Di sisi lain, Voran juga merasa bila dia akan mendapatkan banyak hal dengan bergabung pada pertempuran ini.
“Aku tidak bisa menonjol dan harus berada di balik bayang-bayang kedua kultivator ini maupun yang lain. Jika aku terlalu menonjol, tidak ada hal baik yang datang padaku. Aku harus membuat diriku tidak menarik perhatian lawan,” pikir Voran.
Dari awal hingga detik ini, Voran tidak melihat sosok lain yang memimpin selain Radi. Hal ini sedikit aneh. Biasanya akan ada sosok berkuasa yang akan memberikan sepatah kata pada bawahannya agar mereka bisa menunjukkan sisi terbaik mereka dalam pertempuran nanti. Sayangnya, hal itu tidak Voran temui saat ini.
__ADS_1
“Hei, anak muda. Jangan takut, tunjukkan semangatmu. Sebagai kultivator yang kuat, kita harus membuat lawan gentar dengan semangat kita,” ucap kultivator di samping Voran.
Dengan lirikan tajam, Voran melirik kultivator tersebut. Dia menoleh ke arahnya dan berkata, “Untuk apa menunjukkan semangat? Tidak ada untungnya bagiku menunjukkan hal itu.”
Kultivator itu merengut dan tersentak. Tampak jelas dari ekspresinya jika dia tidak menyukai ucapan Voran dan hal itu membuat pria itu mengarahkan auranya pada Voran. “Bocah … aku memberitahumu dan mengingatkanmu agar kita bisa berhubungan baik. Tapi kau malah menunjukkan sikap seperti itu, apa kau menantangku?”
Sebuah aura yang dipenuhi dengan niat membunuh menabrak tubuh Voran. Pada saat aura itu menabrak tubuhnya, Voran menajamkan tatapannya dan mengeluarkan sedikit niat membunuhnya. Ia tidak bergeming dari sikap yang ditunjukkan pria itu sambil berkata, “Aku tidak menantangmu. Hanya perkataanmu yang membuatku muak dan aku hanya mengatakannya saja!”
Percikan api pertarungan muncul di sekitar mereka melalui tatapan mata. Voran tidak ragu untuk mengeluarkan kemampuannya saat dia merasakan bahaya dari sikap yang pria itu ambil. Meski pria itu tak banyak bergerak, Voran merasakan adanya fluktuasi energi di sekitar tangan pria itu. Tanpa menunggu pria itu menyerang, Voran melepaskan seluruh auranya.
Peristiwa itu terjadi setelah pembahasan rencana penyerangan selesai. Sehingga, ketegangan yang terjadi antara Voran dengan kultivator itu menjadi pusat perhatian seluruh kultivator.
Tidak ada perubahan pada wajah Voran ketika dia merasakan tekanan yang kuat menerpa sekujur tubuhnya. Dengan ekspresi datar dan tatapan tajam, Voran terus menatap pria itu dan melangkah ke arahnya. “Kau yang harusnya menarik kembali auramu!”
Sekali lagi, Voran melihat tatapan mata pria itu memprovokasinya. Apalagi, pria itu menatapnya dengan raut wajah mengejek dan meremehkan, Voran menarik nafas sembari mengumpulkan Qi di tangannya. “Aku sudah memperingatkanmu untuk menarik auramu kembali. Aku tidak ingin ada konflik di saat seperti ini.”
“Pada akhirnya kau tetap tidak menarik auramu, jangan salahkan aku jika kau terluka!” sambung Voran dengan suara yang dipenuhi dengan nafsu membunuh.
__ADS_1
Dalam satu tarikan nafas Voran bergerak dan melepaskan sebuah pukulan. Energi yang kuat mengiringi pukulannya. Pria itu membaca gerakan Voran dan menggunakan tinjunya untuk menahan pukulan Voran. Dua energi yang kuat saling bertabrakan.
Pria itu terdorong mundur dua langkah. Wajah pria itu berkerut tampak menahan rasa sakit. Voran tetap pada posisinya, tapi tubuhnya sedikit tersentak setelah merasakan kekuatan pria itu. Dia sama sekali tidak menyangka bila pria itu memiliki kekuatan yang cukup mengancamnya.
“Aku beruntung sudah menggunakan Qi pelindung sejak awal. Jika tidak, aku mungkin akan terdorong mundur sama sepertinya. Sialan!” geram Voran dalam benaknya setelah merasakan kekuatan yang dimiliki pria itu.
“Argh! Kau kuat bocah, tapi tidak jauh dari perkiraanku. Sepertinya aku harus lebih serius menanggapimu bocah sepertimu!” seru pria itu dan seketika perubahan terjadi pada energi yang terpancar dari tubuhnya.
Voran merasakan bahaya dari perubahan yang terjadi pada pria itu, terutama saat pria itu mengeluarkan Qi dari kedua tangannya. Energi yang terpancar dari pria tersebut dua kali lebih kuat dari sebelumnya dan semua energi itu terpusat di kedua tangannya.
“Haruskah aku menggunakan teknikku di tempat ini? Tidak, jika aku menggunakannya maka identitasku bisa saja terbongkar. Sepertinya aku harus menghindari serangannya dan menguji kemampuanku tanpa menggunakan kedua teknik itu!” pekik Voran dalam benaknya dengan serius.
Tak butuh waktu lama untuk pria itu menyerang. Voran merasakan tekanan kuat saat pria itu mendekatinya dan melancarkan aksinya. Tekanan yang terasa seperti ditabrak banteng itu tak membuat Voran tersentak ataupun terkejut.
Voran menghindari serangan itu dengan melompat ke samping dan bergerak menyamping beberapa langkah, menjauh dari pria itu. Saat dia menghindar terdengar suara seperti ledakan dari posisi awalnya dan tampak tempat itu hancur dengan tanah yang retak dan menganga.
“Kau berhasil menghindarinya! Kau jauh lebih mampu!” seru pria itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Voran mendengus dingin dan memusatkan energinya di kedua tangannya. Namun, saat dia hendak menggunakan tekniknya untuk membalas serangan pria itu, tiba-tiba saja sebuah aura kuat yang memancarkan tekanan menggunung mengunci tubuhnya dan membuatnya tak bergerak.
“Hentikan!” sebuah suara yang belum lama ini Voran dengar muncul menghentikan tindakannya maupun aksi pria di depannya yang hendak melepaskan serangan yang sama.