
Wallace Krom muncul dari balik kumpulan prajurit dengan tampang mengintimidasi. Dia berkuda pelan menuju ke ketiga Kultivator sambil melepaskan tekanan yang kuat hingga memengaruhi tanah yang ia pijak.
“Kalian melakukan kesalahan besar. Berani-beraninya kalian membantai prajurit-prajuritku. Siapa kalian!” teriak Wallace Krom sambil memamerkan giginya yang putih.
Senyum di wajah Wallace Krom terlihat menakutkan dan dipenuhi dengan nafsu membunuh yang sangat kuat.
Ketiga Kultivator hanya tersenyum acuh pada pertanyaan Wallace Krom. Mereka tidak terlalu memedulikannya, tapi mereka waspada terhadap Wallace Krom. Tekanan yang dikeluarkan Wallace Krom terlalu kuat.
“Cecunguk-cecunguk ini berani mengabaikanku!” seru Wallace Krom dengan suara yang bergetar.
Dia kesal karena tidak menerima respons yang baik dari ketiga Kultivator. Lantas dia mengeluarkan Qi-nya lebih banyak lagi dan membuat ketiga Kultivator mematung.
“Karena kalian tidak mengindahkan peringatanku, maka akhir kalian sudah tiba!” bentak Wallace Krom sambil melompat dari kudanya.
Dia menginjak punggung kudanya dengan lembut dan melompat terbang menuju ke ketiga Kultivator. Saat dia berada di udara, dia menarik keluar pedang yang berukuran besar dari punggungnya.
Sebuah pedang dengan panjang satu setengah dan ukuran berkali-kali lipat besarnya dibanding pedang biasa. Pedang itu Wallace Krom genggam hanya dengan satu tangan dan dia mengayunkannya dengan sangat mudah.
Bilah pedang itu terlapisi oleh Qi dan ketajamannya meningkat berkali-kali lipat. Wallace Krom memutar sekaligus mengayunkan pedangnya ketika dia menukik ke salah satu Kultivator.
Gerakan tak terduga Wallace Krom membuat ketiga Kultivator siaga. Sialnya, salah satu dari mereka tidak bisa menghindari serangan Wallace Krom dan dia terpukul mundur hingga memuntahkan seteguk darah.
Ayunan pedang Wallace Krom mendinginkan situasi yang panas dan membuat suasana menjadi hening seketika. Meskipun ia berhasil menebaskan pedangnya pada salah satu Kultivator, Wallace Krom bisa merasakan bila serangannya tidak melukai Kultivator itu.
“Uhuk! Sialan!” umpat Kultivator yang menerima serangan Wallace Krom. Lalu dia berkata dengan marah, “Jangan diam saja. Cepat serang dia!”
Teriakan Kultivator itu membuat dua kultivator lainnya tersadar bila lawan yang mereka hadapi bukan lawan biasa. Hanya dari satu ayunan itu saja, mereka bisa merasakan kengerian Wallace Krom.
“Kepung dia! Kita harus membatasi ruang geraknya!”
__ADS_1
“Ya, jangan sampai kau terbunuh!”
Kedua Kultivator bergegas melancarkan serangan. Mereka mengombinasikan beberapa gerakan yang dialiri dengan Qi di setiap gerakannya.
Menghadapi dua serangan yang berbeda dari dua arah, Wallace Krom tetap tenang. Dia menangkis setiap serangan dengan gerakan yang gesit. Pedangnya tidak hanya ia gunakan untuk menyerang saja, tapi juga untuk menahan serangan kultivator-kultivator itu.
“Hanya ini saja kemampuan kalian? Benar-benar mengecewakan!” seru Wallace Krom yang mencoba memprovokasi kedua Kultivator yang menerjangnya.
Dua kultivator menekan Wallace Krom dan Kultivator yang menerima serangannya tadi segera bangkit dan membantu dua kawannya. Tak jauh dari pertempuran mereka, terlihat ada seseorang yang mengamati cara Wallace Krom bertarung.
Sosok itu terus memindai setiap gerakan yang Wallace Krom lakukan dengan matanya yang setajam elang. Sosok itu mengenakan jubah berwarna hitam yang menutupi armor ringan yang melindungi tubuhnya. Terlihat pula sebuah pedang menggantung di pinggangnya.
Wallace Krom mengayunkan pedangnya dan aliran Qi menyeruak keluar dari bilah pedangnya. Ketiga Kultivator segera membangun Qi pelindung. Mereka mengalirkan Qi dari tubuhnya keluar, lalu Qi itu mengeras dan melindungi tubuh mereka.
Sayangnya, perbedaan kekuatan mereka cukup jauh, sehingga Qi pelindung itu tak bisa melindungi mereka sepenuhnya. Satu ayunan penuh dari Wallace Krom membuat mereka bertiga mundur beberapa langkah dan membuat mereka meneteskan darah dari mulutnya.
“Aku terlalu menaruh harapan tinggi pada kalian. Qi yang kalian keluarkan menarik perhatianku. Energi gelap yang berdarah dan dipenuhi dengan nafsu membunuh itu membuatku bersemangat. Tapi ... Aku terlalu melebih-lebihkan kalian bertiga!” seru Wallace Krom dengan nada merendahkan.
Jenderal Crock yang merasakan perubahan pada ekspresi Salvatora segera berkata, “Tuan, tenanglah. Tidak perlu untukmu keluar saat ini. Aku sudah mengirim senjata rahasiaku ke sana. Awalnya aku ingin menyimpannya, tapi saat melihat bentrokan tadi, aku berubah pikiran.”
Salvatora melirik ke arah Jenderal Crock lalu kembali menatap ke medan pertempuran. Lirikan mata Salvatora membuat Jenderal Crock merasa dunia membeku dan dia berusaha keras untuk tetap tenang.
“Ya ... Kau bisa melakukan apapun yang kau mau, Jenderal Crock. Aku akan mendukungmu. Saat ini ... Situasi sudah berubah total. Aku tidak menyangka Wallace Krom akan maju begitu saja dan mengalahkan mereka dengan mudahnya,” ucap Salvatora.
Lalu dia sedikit melepaskan auranya untuk memberi peringatan pada seluruh orang di medan perang. Lepas itu ia berkata, “Meski mereka kalah saat ini, itu tidak berarti mereka mudah untuk dibunuh. Aku ingin melihat bagaimana Wallace Krom menghancurkan mereka bertiga!”
Perkataan Salvatora membuat Jenderal Crock terdiam dan bergidik. Dia tak menyangka akan mendengar hal ini dari Salvatora. Ketiga Kultivator itu kenalan Salvatora dan seharusnya Salvatora mengkhawatirkan keadaan mereka, tapi ia mendengar hal yang berbeda.
Dengan hati-hati, Jenderal Crock membalasnya, “Baik, Tuan. Aku percaya penilaian Tuan Salvatora tidak akan salah.”
__ADS_1
***
Perbedaan tingkat kultivasi menjadikan pertarungan timpang. Wallace Krom memegang kendali pertarungan sejak awal. Setiap ayunannya terus memukul mundur ketiga Kultivator. Aliran Qi yang Wallace Krom lepaskan membuat mereka bertiga tak berkutik.
Qi terus berbenturan di setiap kali mereka bergerak dan benturan itu menghasilkan gelombang udara yang kuat.
Wallace Krom terlihat baik-baik saja meski sudah menekan mereka cukup lama. Ia tampak kesal dengan keuletan yang ketiga Kultivator itu tampilkan.
“Mau sampai kapan kalian berdiri, huh!” ketus Wallace Krom yang kesal dengan kegigihan ketiga Kultivator yang terus bertarung dan berdiri walaupun tubuh mereka terlumuri darah.
“Pernahkah kau mendengar Kultivator Iblis mundur!” seru salah satu Kultivator sambil tersenyum. Meskipun ada luka sayatan di bagian kanan tubuhnya, dia tetap berdiri dan menatap Wallace Krom dengan sengit.
“Hahaha ... Tidak pernah, tapi aku bisa melihatnya saat ini!” balas Wallace Krom sambil menghentakkan kakinya dan meningkatkan momentumnya kala dia melesat menyerang.
Kali ini bukan dengan ayunan melainkan dengan sebuah tusukan. Tampak aliran Qi yang mengalir keluar dari tubuhnya menjadi semakin besar saat dia melakukan gerakan tersebut.
Sosok pria yang mengenakan jubah hitam tak lagi bisa berdiam diri ketika melihat ketiga Kultivator berada dalam situasi berbahaya, terutama saat Wallace Krom menggunakan gerakan menusuk ini.
Tanpa pikir panjang, dia segera melesat dan menahan serangan itu. Pedang yang menggantung di pinggangnya ia tarik keluar dan aliran Qi mengalir keluar bersamaan dengan keluarnya bilah pedang dari sarungnya.
Sosok itu menangkis gerakan Wallace Krom dan mementalkan serangannya. Dengan putaran tubuh yang indah, gerakannya menghasilkan hembusan udara kuat yang mendorong Wallace Krom mundur.
“Siapa kau?” tanya Wallace Krom. Dia menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun saat dia terdorong mundur oleh gerakan pria berjubah hitam itu.
Pria berjubah hitam hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu dan dia mengacungkan pedangnya ke arah Wallace Krom sambil berkata, “Apa kau ingin tahu? Kalau kau penasaran aku akan memberitahumu asalkan kau bisa menghiburku.”
__ADS_1