
Sebuah wilayah yang terdiri dari perbukitan dan hamparan rumput luas hingga tak berujung. Tempat yang menjadi area perbatasan bagi empat kerajaan di wilayah utara. Kerajaan Sevaeni, Kerajaan Edarecia, Kerajaan Elaydric, dan Kerajaan Salauster saling berbagi petakan tanah di tempat tersebut.
Beberapa bukit dijadikan sebagai pos pengawas hingga dibangunkan sebuah benteng di sana. Pada waktu ini, situasi di perbatasan tersebut telah menjadi sangat kacau. Tempat yang begitu damai dengan pemandangan memukau itu kini telah berubah sepenuhnya.
Bukit-bukit dengan berbagai macam ketinggian menjadikan tempat itu lebih beragam dengan lima bukit utama yang memiliki tinggi seragam. Lima bukit itu menjadi petanda wilayah tersebut.
Lima bukit dengan tinggi sejajar dengan ukuran yang cukup luas menjadikan tanda utama wilayah tersebut hingga wilayah itu dikenal dengan nama Perbukitan Bintang.
Sebuah pasukan berukuran besar yang dipimpin oleh seorang Jenderal ganas nan gagah menatap seluruh area wilayah perbatasan dari salah satu bukit. Di sampingnya, Salvatora tampak tersenyum puas ketika melihat pemandangan di bawah bukit dimana ada tumpukan mayat yang menumpuk bagaikan sebuah gunung.
“Tuan Salvatora, apa yang ingin Tuan lakukan dengan gunungan mayat ini?” tanya pria gagah itu.
“Hahaha ... Jenderal Crock tidakkah kau melihat pemandangan ini begitu indah?” Salvatora balik bertanya dengan nada menggoda dan puas.
Di depan matanya terpampang pemandangan yang mengerikan. Tumpukan mayat yang kondisinya tak begitu pantas untuk diperlihatkan tertumpuk menjadi sebuah dinding mayat. Darah masih menetes dari setiap mayat meski tetesannya tak sederas sebelumnya.
Tumpukan mayat itu menjadi sebuah dinding pembatas sekaligus dinding pertahanan yang melindungi bukit tempat mereka berkemah.
Jenderal Crock mengikuti rencana Salvatora yang menjadikan bukit bagian tengah sebagai markas utama dibandingkan dengan benteng aslinya. Selain itu, dia juga mengikuti perintahnya untuk membawa semua mayat prajurit yang mereka bunuh ke bagian bawah bukit sebelum menumpuknya.
“Tuan, tindakan ini hanya akan menimbulkan kebencian mendalam pada kerajaan. Prajurit-prajurit musuh tidak akan mentolerir hal semacam ini. Aku tidak ingin menciptakan kebencian tak berujung pada mereka, Tuan. Jadi, tolong beritahu aku, apa yang sebenarnya Tuan rencanakan?” tanya Jenderal Crock.
Salvatora tersenyum kecut saat mendengarnya. Dengan satu lirikan tajam, ia menatap Jenderal Crock sambil berkata, “Rencana? Hanya ada satu rencana Jenderal! Menghancurkan moral lawan dan menginjak-injak perasaan mereka hingga menjadi abu. Itulah rencanaku.”
Sorot matanya sedikit dipenuhi kegilaan dan apresiasi diri yang tinggi kala dia menatap ke bawah bukit. “Jenderal? Apa kau memikirkan perasaan macam apa yang akan musuh-musuh kita dapatkan ketika mereka melihat pemandangan ini?”
__ADS_1
Salvatora menoleh ke arah Jenderal Crock sambil menunjukkan tatapan mata yang bernafsu akan sesuatu yang tak lazim. Tatapan mata itu membuat Jenderal Crock bergidik. “Bayangkan saja Jenderal. Akan seperti apa jadinya moral mereka. Hehehe ... “
“Aku menantikannya ... Aku ingin sekali melihatnya ... Jadi ... Kemarilah kalian semua!”
***
Dari pasukan koalisi, yang pertama kali menyaksikan kejadian tersebut ialah pasukan Kerajaan Salauster yang dipimpin oleh Larsson dan Veus. Meski mereka melihatnya dari jarak jauh, dampak visual dinding mayat itu membuat mereka tersentak diam membeku.
“Sialan! Mereka menggunakan taktik yang menghancurkan moral. Siapa yang memimpin pasukan itu?” tanya Larsson dengan tatapan penuh amarah.
Veus hanya bisa mendesah dalam hati ketika dia melihat pemandangan itu dan samar-samar dia mendengar ada suara-suara seseorang yang mual ataupun muntah.
“Kita telah kehilangan inisiatif. Tidak ada keuntungan bagi kita melangkah masuk ke medan perang jika situasi seperti ini. Kita hanya bisa menunggu bala bantuan,” ucap Veus yang mengalihkan pertanyaan Larsson barusan.
Pasukan Kerajaan Salauster menempati sebuah bukit dan mendirikan pusat komando serta perkemahan di tempat itu. Selain membangun pertahanan, tidak ada pergerakan lainnya terkecuali mengintai posisi musuh.
***
Kekalahan yang diderita oleh Kerajaan Sevaeni di perbatasan membuat pasukan Kerajaan Elaydric sedikit was-was sewaktu mereka memasuki wilayah perbatasan. Mereka bertindak hati-hati dan membangun basis pertahanan secepat mungkin.
Seorang pria paruh baya berusia sekitar 40-an memadatkan tatapan matanya kala mengamati situasi di perbatasan. Area-area di sekitar perbukitan membuat dia mengernyitkan dahi. Sekilas, dia telah menemukan sebuah pemandangan mengerikan, tapi dia tidak menggubrisnya.
“Segera kirim utusan pada kerajaan lainnya. Kita perlu mendiskusikan sebuah rencana untuk menguasai titik-titik sentral di wilayah ini. Terutama, lima bukit sejajar itu,” ucap pria itu dengan tegas pada bawahannya.
Duduk di atas sebuah kuda berwarna coklat gelap dan berotot. Pria itu tampak begitu mengintimidasi dengan rambut yang berurai bak rambut singa. Kumis dan janggutnya yang sama-sama panjang menutupi sebagian besar wajahnya.
__ADS_1
Beberapa pria yang berada di dekatnya segera melaksanakan tugas yang telah diberikan.
Pria dengan tampilan bak singa ini merupakan pemimpin tertinggi militer di Kerajaan Elaydric dan sudah dikenal banyak orang. Dikenal sebagai sosok yang tangguh dan perkasa, dia dipanggil dengan nama Gregor Leon.
“Siapa sangka aku akan melihat pemandangan menjijikkan itu sekali lagi. Tindakan yang tidak terpuji semacam itu hanya dilakukan oleh Kultivator kegelapan. Mereka yang berjalan di jalan iblis, hanya mereka yang akan melakukan tindakan menjijikkan itu,” gumam Gregor Leon kala dia mengingat temuannya beberapa saat lalu ketika mengamati wilayah perbatasan.
***
Tiga kerajaan telah tiba dan mendirikan benteng pertahanannya masing-masing. Namun, Voran masih dalam perjalanan, sedangkan beberapa Lord maupun Bandit sudah bermunculan di beberapa titik.
Jenderal Crock tidak hanya mendirikan benteng mayat semata tapi juga menyebar pengintai juga kelompok-kelompok yang ia sewa. Namun, pasukan utamanya masih berada di bukit tengah tanpa melakukan satu gerakan pun.
“Tuan, apakah mereka sudah tiba disini?” tanya Jenderal Crock dengan wajah serius.
Salvatora menarik nafasnya dalam-dalam dan menghirup seluruh udara yang ada di sekitarnya hingga dadanya sedikit mengembang. Saat ia membuka matanya, ia berkata, “Ya, mereka sudah di sini. Aku bisa mencium bau darah dan merasakan nafsu membunuh dari beberapa arah. Aku bisa pastikan mereka ada di sini.”
“Kalau begitu, ini waktu yang tepat untuk menyerang mereka bukan? Kita bisa memanfaatkan kelelahan mereka,” ucap Jenderal Crock.
“Tidak. Apa kau mau menghapus keunggulan kita saat ini dengan menyerang mereka? Inisiatif peperangan selalu ada di tangan kita. Biarkan saja seperti ini. Mereka tidak akan menyerang dan hanya mengirim para pengintai saja,” balas Salvatora dengan pandangan mata yang dalam.
“Tentunya kita tidak bisa diam saja, bukan? Kirim beberapa pengintai atau orang-orang terkuatmu untuk mengacaukan rencana mereka dan buat kegaduhan di perkemahan mereka! Gunakan segala cara untuk memastikan mereka tidak bisa beristirahat dengan tenang,” sambung Salvatora lagi.
Dia memang licik dan memiliki pikiran yang berbeda. Selain itu, dia mampu menanggung segala cacian saat memakai cara-cara tak lazimnya.
Jenderal Crock hanya bisa mengangguk sembari menatapnya dengan ngeri.
__ADS_1