
Wallace Krom memerintahkan sebagian pasukan untuk maju dan menghadapi pasukan musuh yang memprovokasinya.
Dua pasukan saling berhadapan dan mereka bertabrakan langsung tanpa menggunakan satupun strategi. Bunyi besi yang bertabrakan terdengar begitu keras dan aliran Qi di area tersebut menjadi kacau sesaat setelah pertempuran terjadi.
“Jangan biarkan mereka mengambil kendali. Terus tekan mereka dan hentikan gerakan mereka,” perintah Wallace Krom pada salah satu pengibar bendera yang memberikan sinyal pada pasukan di bagian depan.
Benturan di tanah lapang yang berlatarkan perbukitan memberikan sensasi menyenangkan untuk Wallace Krom. Dia merasa bersemangat saat dia melihat para prajurit bertarung dengan brutalnya.
Aliran Qi yang menyeruak di area tanah lapang itu memicu gairah Wallace Krom hingga membuat dia melepaskan auranya.
“Mereka memilih untuk mengirim sebagian pasukan ke medan perang dan menjadikan mereka sebagai pengorbanan. Siapa pemimpin pasukan itu? Bagaimana dia bisa menggunakan langkah yang tidak umum ini?” seru Wallace Krom saat tatapannya terpaku pada medan perang.
Wallace Krom terlihat tengah melakukan sebuah persiapan setelah dia melihat jalannya pertempuran. Meskipun situasi tidak berjalan buruk, dia merasa harus melakukan sesuatu terhadap situasi di medan perang.
Berbeda dengan Wallace Krom yang tampak aktif serta agresif, Gregor Leon dan Veus tidak mengirim satupun prajurit. Mereka hanya memantau pergerakan Wallace Krom serta mengamati jalannya pertempuran yang berlangsung semakin sengit.
Gregor Leon menahan pasukannya dan membuat mereka tetap pada posisinya walaupun bawahan terpercayanya meminta izin untuk menggerakkan pasukan.
“Kenapa kau meminta izin untuk mengerahkan pasukan ke sana?” tanya Gregor Leon pada seorang pria yang berada di sampingnya.
“Maaf, Tuanku. Aku hanya berpikir untuk memberikan bantuan sambil menekan musuh. Dengan kita mengirim pasukan, musuh akan tertekan dan kendali akan berada di pihak kita,” balas pria itu.
Gregor Leon tersenyum lalu berkata, “Mereka bertindak atas kemauan mereka sendiri dan melanggar kerja sama yang telah kita buat semalam. Kita hanya perlu memantau mereka saja dan tidak membiarkan kehancuran mendekati mereka. Hanya itu yang harus kita lakukan untuk saat ini.”
“Pada akhirnya mereka hanya sekutu untuk saat ini bukan untuk waktu yang lama,” pikir Gregor Leon setelah dia mengatakan hal itu
Pertempuran berlangsung jauh lebih sengit dari yang mereka bayangkan. Kedua pasukan saling mengerahkan seluruh kekuatan mereka sampai-sampai tekanan yang keluar dari area pertempuran memengaruhi para prajurit.
__ADS_1
Veus merasakan pergeseran angin pertempuran, awalnya pertempuran berjalan seimbang dan tidak ada yang terlalu unggul. Namun, secara tiba-tiba pasukan Wallace Krom mengalami kemunduran dan kehilangan cukup banyak pasukan.
“Veus, mereka sudah menunjukkan sebagian kekuatan mereka. Di sana ada beberapa Kultivator yang mempunyai kemampuan hebat. Jalan yang mereka tempuh lebih berdarah dan gelap, hal itulah yang menyebabkan situasi mereka membaik,” ucap Larsson yang merasakan adanya aliran Qi gelap di sekitar medan perang.
Veus mengangguk dan cemas dengan perubahan mendadak ini. “Tuan Larsson, perubahan itu akan memengaruhi semuanya bukan? Apakah kita harus mengirim bantuan pada mereka atau membiarkan semuanya seperti ini?”
“Membantu mereka akan menstabilkan kerja sama kita, tapi akan memberikan kerugian tertentu. Namun, jika kita membiarkan mereka seperti ini, aku rasa mereka akan menuntut penjelasan yang pada akhirnya bisa merusak kerja sama ini.”
Tatapan mata Larsson terlihat cukup dalam ketika dia mendengar pernyataan itu. Larsson yang mengikuti pertemuan itu merasa bila Wallace Krom telah bertindak keluar jalur yang mengakibatkan munculnya situasi saat ini, tapi dia juga melihat ada kemenangan di situasi ini.
“Tidak perlu melakukan apapun untuk saat ini. Selama mereka tidak mendekati ambang kehancuran, kita tidak akan membantu mereka. Kejadian ini bermula dari keputusan Wallace Krom, kerugian yang mereka derita harus mereka terima. Disamping itu, kita telah mendapatkan beberapa keuntungan dari situasi ini,” ucap Larsson.
Veus tampak mendapatkan pencerahan setelah mendengar hal ini. Keuntungan, ya mereka mendapatkannya. Sebuah keuntungan yang akan memudahkan mereka pada pertempuran nanti.
“Jadi begitu ... Informasi ini akan sangat membantu kita dan Wallace Krom akan lebih berpikir lagi sebelum mengambil tindakannya. Pada akhirnya, situasi ini akan membuat pihak kita lebih baik,” balas Veus.
Situasi pertempuran terus membuat Larsson berpikir tentang apa yang diinginkan oleh musuh. Mengapa mereka mengirim sebagian kecil pasukan yang tak begitu berkemampuan tinggi dan mengirim beberapa Kultivator kuat di waktu yang sama?
Tidak mungkin Larsson tidak merasakan adanya kejanggalan atas tindakan itu. Dia terus mengamati situasi sambil memberitahu Veus untuk tetap tenang dan mengamati situasi pertempuran. Larsson juga mengingatkan Veus untuk tidak ikut campur dalam pertempuran kali ini.
Di atas sebuah benteng, Salvatora beserta Jenderal Crock melihat pertempuran yang makin menggila. Mereka menatap area pertempuran dengan tatapan mata yang dingin.
“Tuan, siapa sebenarnya mereka?” tanya Jenderal Crock saat menunjuk tiga orang Kultivator yang bergerak liar di medan pertempuran.
Salvatora tersenyum dan menjawabnya, “Mereka kenalanku. Kau tidak perlu memikirkan mereka. Sekarang bersiaplah melakukan langkah selanjutnya. Aku yakin mereka akan mengirim satu sosok kuat untuk mengubah alur pertempuran, jadi kau harus meresponsnya!”
Jenderal Crock sedikit menyipitkan matanya ketika dia mendengarnya. “Tenang saja, Tuan. Aku sudah memerintahkan beberapa bawahanku untuk bersiaga dan bergerak kapan saja.”
Salvatora mengangguk dan berkata, “Baguslah. Meski pertempuran hari ini kita tak menuai kemenangan. Itu bukan masalah besar, selama kau dan aku tidak muncul untuk bertempur. Kita mengungguli mereka!”
__ADS_1
***
Situasi di Medan perang berubah karena tiga Kultivator. Wallace Krom telah mengirim beberapa bawahannya, tapi mereka semua terbunuh di tangan ketiga Kultivator.
Ketika melihat hal ini, Wallace Krom memutuskan untuk masuk dan menghadapi mereka bertiga. Dia berkuda pelan menuju ke area pertempuran yang kemudian diikuti oleh pasukannya.
Di area pertempuran tiga Kultivator menyerang setiap prajurit menggunakan tangan kosong. Namun, di kedua tangan mereka ada aliran Qi berwarna hitam pekat yang tajam tapi juga halus.
Mereka bertiga bergerak dalam satu kesatuan. Tidak ada yang bisa mendekati mereka dan muncul area kosong di sekitar mereka seluas dua meter.
“Wah ... Beruntung dia mengajak kita kesini. Aku tidak mengira teknik yang aku pelajari akan begitu efektif di sini,” ujar salah satu dari mereka saat Qi di kedua tangannya bergelombang serta bergerak dengan liarnya.
Kultivator lainnya menyelimuti tubuhnya dengan Qi yang pekat. Dia mengendalikan Qi yang ada pada tubuhnya dengan bebas dan Qi pada tubuhnya akan bergerak mengikuti pukulannya.
Mereka bertiga menyerang dengan gila dan membuat banyak mayat bergelimpangan di sekitar mereka.
Saat mereka tengah menggila dan membunuh, salah satu dari mereka merasakan ada sesuatu yang menekannya dan ia segera memperingati yang lainnya. “Berhati-hatilah! Aku merasakan ada binatang buas yang mendekati kita.”
“Iya, aku tahu. Aku juga merasakannya. Tekanan itu tertuju pada kita, sebaiknya kita bersiap untuk menghadapinya atau lari dari situasi ini,” ujar yang lainnya.
Lalu, Kultivator yang terakhir menatap ke satu arah dengan mata membelalak. Dia melihat sesosok pria yang mengalirkan Qi ke sekujur tubuhnya dan membuah sebuah jubah Qi yang memberikan pertahanan lebih pada tubuhnya.
“Dia disini dan dia berbahaya!” teriak Kultivator itu.
__ADS_1