
Suara tabuhan genderang perang dan tiupan terompet membuat Voran lengah. Dia tidak mengharapkan musuh akan bertindak seagresif itu. Tanpa bisa bertindak banyak, Voran hanya bisa memerintahkan seluruh pasukannya untuk meninggalkan medan perang.
Voran melirik ke belakang saat dia berkuda meninggalkan medan perang, saat dia melirik ke belakang dia melihat Draynir memberikan perintah pada para prajurit sembari bergerak mundur.
“Dia layak untuk mendapatkan gelar dan mengabdi pada kerajaan. Sekarang, aku hanya harus kembali ke kerajaan dengan selamat!” pikir Voran ketika dia melihat Draynir menggunakan pasukannya untuk menahan serangan musuh.
Di waktu yang bersamaan, Wallace Krom dan Gregor Leon memimpin pasukan mereka untuk mundur. Namun, mereka juga melakukan serangan balik ketika mereka mendapatkan serangan, sangat berbeda dengan tindakan yang Voran lakukan.
Wallace Krom sesekali menatap ke arah pasukan Voran dengan mata penuh kekecewaan. Dia juga bergumam, “Mengecewakan sekali, kalian yang membangun koalisi tapi kalian juga yang meninggalkan medan perang lebih dulu. Benar-benar memalukan. Aku akan melaporkan semua kejadian ini pada Yang Mulia. Lalu, kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya!”
Tanpa kehilangan sedikitpun semangat tempurnya, Wallace Krom menghancurkan setiap prajurit yang mendekatinya hingga menjadi bubur. Dia melampiaskan seluruh kemarahannya pada setiap prajurit yang mendekatinya.
Tanpa tahu konsekuensi yang akan diterima, Voran meninggalkan medan perang. Namun, tanpa dia sadari sesosok pria telah mengunci dirinya dan mengejarnya. Pria itu tidak lain tidak bukan ialah Salvatora yang sedari awal penyerangan ini telah menetapkan matanya ke arah Voran.
Salvatora merasakan ada kekuatan yang berbeda dari pertempuran kemarin. Sewaktu dia mengamati medan perang dan tiga pasukan musuh. Matanya langsung tertuju pada Voran yang mengenakan sebuah artefak serta memancarkan aura yang berbeda.
“Siapa sangka aku akan bertemu dengan sosok yang begitu penting hari ini. Aku tidak akan membunuhmu tapi ... Aku rasa mempermainkanmu tidak menjadi masalah. Meski aku suka situasi saat ini, membunuhmu hanya akan menghilangkan kesenanganku. Raja Salauster, Aku akan menemui!” seru Salvatora saat dia mengejar Voran yang meninggalkan medan perang.
Voran terus berkuda meninggalkan medan perang secepat mungkin. Dia tak menengok ke belakang setelah dia memutuskan untuk pergi. Namun, hawa keberadaan Salvatora yang begitu besar dan menekan membuat Voran gelisah sepanjang waktu.
Dengan perasaan tertekan karena ada sesuatu yang mengejarnya, Voran bersikap lebih waspada. Namun, tekanan yang awalnya tak begitu terasa berubah menjadi lebih berat seiring waktu. Voran tidak bisa mengabaikan perasaan tak menyenangkan itu.
Sekilas ia melirik ke belakang dan ketika dia melakukan hal itu. Matanya sedikit bergetar dan nafasnya sedikit tersengal. Dia terkejut melihat sesosok pria yang mengejarnya dengan kekuatan penuh sembari merenggut nyawa para prajurit.
__ADS_1
“Sial! Kenapa dia mengejarku?” tanya Voran dengan kesal.
Voran memacu kudanya lebih cepat lagi dan dia meninggalkan para prajuritnya di belakang. Dia tahu jika dirinya lah target Salvatora. Jadi, dia meninggalkan seluruh prajurit di belakang bulan untuk melindungi pelariannya, melainkan membuat Salvatora lebih fokus mengejarnya dan mengabaikan para prajurit yang melarikan diri.
“Aku harus memancingnya meski ini berbahaya. Aku tidak bisa kehilangan prajurit lagi. Hanya ini satu-satunya cara untuk berhadapan dengannya!” seru Voran dalam benaknya. Sedetik setelah dia melepaskan seluruh auranya.
Salvatora tidak memedulikan kejadian yang terjadi di medan perang. Fokusnya hanya tertuju pada Voran yang melarikan diri. Para prajurit yang mencoba menghadangnya pun perlahan-lahan mulai menghindarinya dan tak berani menahannya.
“Oh ... Kau ingin melawanku rupanya? Pergi ke tempat yang jauh dari medan perang dan pasukanmu. Keputusan yang menarik!” Salvatora tersenyum jahat ketika matanya tertuju pada punggung Voran yang perlahan mulai menjauh.
Voran berkuda cukup lama dan menjauh dari pasukannya hingga dia tiba di tepi hutan. Merasa bila dia tak bisa lari lagi, Voran berbalik dan menunggu Salvatora yang mengejarnya. Saat dia menunggu, Voran mengaktifkan Kekuatan Raja dan menyerap Qi yang ada di sekitarnya tanpa pandang bulu.
Perlahan-lahan Kolam Qi-nya semakin penuh dan riak-riak kecil bermunculan satu per satu. Semakin banyak dia menyerap Qi semakin besar pula riak-riak itu. Tatapan mata Voran beberapa kali bergetar saat dia menahan beban yang masuk ke dalam tubuhnya. Qi terus memenuhi Kolam Qi Voran dan hal itu cukup membebani tubuhnya.
Setelah berkuda cukup lama, Salvatora akhirnya berhasil mengejar Voran. Di saat dia menemukan Voran, segera tatapan matanya berubah menjadi tajam dan dipenuhi dengan nafsu bertarung yang kuat. Auranya juga meledak dalam sekejap mata tepat saat dia melihat Voran.
“Kau menungguku dan bersiap menghadapiku, Raja Salauster?” tanya Salvatora dengan senyum menggoda tapi terlihat begitu menyeramkan.
Voran balas menatap Salvatora dengan tatapan tegas penuh tekad. Dia membiarkan auranya bergerak bebas sembari berkata, “Ya, hanya ini satu-satunya jalan untuk kau menghentikan pembantaianmu itu. Sekarang, aku berada di hadapanmu. Apa yang akan kau lakukan?”
“Shahaha ... Keinginanku? Aku tidak menginginkan apapun. Kaulah yang pertama kali bergerak dan tindakanmu telah membuat Wilayah Utara menjadi kacau seperti ini. Kau hanya mempercepat apa yang ingin mereka lakukan dan ini bukan situasi yang mereka mau,” balas Salvatora sambil mengacungkan jarinya ke arah Voran.
Acungan jari itu membawa tekanan kuat dan membuat kuda yang Voran meringkik hingga mengangkat kaki depannya. Lantas, Salvatora berkata lagi menyambung ucapannya, “Lupakan hal itu. Aku mengejarmu karena aku ingin merasakan kekuatanmu. Sekarang tunjukkan kekuatanmu dan lawan aku!”
__ADS_1
Perkataan Salvatora yang penuh dengan ejekan dan merendahkan membuat Voran kesal. Namun, di waktu yang sama dia merasa seluruh bulu kuduknya berdiri ketika dia berhadapan langsung dengan Salvatora.
Tanpa memikirkan tekanan yang dia hadapi. Voran terus menyerap Qi dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Apapun keinginanmu itu, aku tidak peduli. Karena kau mengejarku dan membantai rakyatku, aku tidak bisa menerima semua itu. Aku akan pastikan kau mati di tanganku!”
“Teknik Pukulan Naga : Pembersih Langit!”
Perubahan Qi terjadi di sekitar tubuh Voran dan Salvatora merasakan tekanan cukup kuat muncul dari tindakan Voran. Sambil menyunggingkan senyum di wajahnya, Salvatora membalas tindakan Voran dan melepaskan serangan. “Kau melakukannya dengan baik. Teknik Rahasia Tanduk Iblis!”
Sontak dua Qi saling berbenturan. Qi berbentuk naga terdorong dan terkikis oleh Qi berbentuk tanduk yang dilepaskan oleh Salvatora. Voran merasakan rasa sakit di dadanya ketika dia terdorong mundur. Darah pun menetes dari bibirnya. Wajahnya sedikit pucat ketika dia berusaha menahan kekuatan Salvatora yang begitu besar.
Voran merasa tak kuasa menahan tekanan itu dan dia memaksakan tubuhnya untuk menyerap Qi lebih banyak lagi hingga seluruh saraf dan ototnya menegang. Keringat dan darah membasahi tubuhnya kala dia menambah daya serangnya.
“Argh!!” teriak Voran saat mendorong seluruh kekuatannya.
Salvatora tak bergeming dari posisinya. Namun, keringat tampak menetes dari keningnya. Dia merasakan keseriusan serangan Voran karena energi Qi-nya terdorong mundur. “Aku tidak menduga kau akan memaksakan diri sampai seperti ini, Raja Salauster. Meski perbedaan kekuatan kita sangat jauh. Kau membahayakan dirimu sendiri. Aku suka itu!”
Salvatora melepaskan tekanan yang jauh lebih kuat lagi. Dia benar-benar menunjukkan tingkat perbedaan kultivasi. Saat dia meningkatkan tekanannya, Voran merasakan beban yang begitu berat menghantam tubuhnya hingga membuat dia menekuk lututnya.
Namun, Voran mencoba menahannya. Akan tetapi tekanan itu jauh melampaui kekuatannya yang pada akhirnya dia hanya bisa memuntahkan darah berulang kali. “Argh!! Huek !!”
Benturan Qi yang kuat membuat tanah menjadi berantakan dan hancur. Debu berterbangan menutupi tempat tersebut. Voran tertunduk dengan mata memerah dan darah yang tak berhenti keluar dari mulutnya. Sedangkan, Salvatora menatapnya dari kejauhan dengan tatapan tak pasti yang penuh dengan misteri.
__ADS_1