
Setelah melarikan diri dari medan perang, Voran bersembunyi di sebuah hutan. Dia mengambil sebuah gua sebagai tempat untuk memulihkan diri setelah melakukan sedikit pencarian. Tubuhnya menggigil dan gemetar hebat. Otot-otot di tubuhnya membengkak dan kejang. Keringat menutupi seluruh tubuhnya dan nafasnya menjadi kasar di setiap detiknya.
“Argh!!” teriaknya dalam hati saat menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja menghantam tubuhnya. Seluruh vena dan urat di tubuhnya mencuat keluar dan memperlihatkan bentuknya. Seluruh tubuh Voran memerah padam saat rasa sakit itu menerjang tubuhnya.
Rasanya ingin Voran berteriak sekeras mungkin ketika rasa sakit di tubuhnya semakin menjadi-jadi. Namun, ia berusaha untuk tidak melakukannya. Dia menggertakkan giginya saat menahan diri hingga dia menggigit bibirnya sampai berdarah agar kesadarannya tidak hilang.
Energi yang intens bergejolak di tubuhnya dan bermuara pada Kolam Qi-nya. Auranya begitu buruk dan menyebar keluar dari tubuhnya. Aura yang begitu mematikan dan sangat berdarah memenuhi gua itu.
Tubuh Voran menggeliat beberapa kali dan berkedut saat rasa rakit di tubuhnya meningkat beberapa kali lipat kuatnya. Voran tidak tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhnya, tapi dia merasakan energi yang ada di dalam Kolam Qi-nya berubah warna menjadi merah gelap.
Qi di sekujur tubuhnya terus keluar dan berputar-putar di atas perutnya. Perasaan tidak menyenangkan terus menghantui dirinya. Energi yang berputar-putar di atas perutnya mulai mengalami perubahan. Energi itu menjadi lebih pekat dan gelap. Waktu terus berjalan, sudah beberapa jam lamanya Voran merasakan perasaan mengerikan itu.
Saat ini, dia hanya bisa merintih pelan saat tubuhnya bergetar beberapa kali. Energi di dalam gua mulai masuk ke tubuhnya saat Voran sudah tak menunjukkan perlawanan. Rasa sakit yang terus menghajar tubuhnya merupakan sebuah proses yang terjadi akibat penggunaan Kekuatan Raja yang berlebihan. Energi itu terus berputar-putar mengitari tubuhnya.
Dalam sekejap mata, energi itu masuk ke dalam tubuh Voran. Seperti menerima sebuah gravitasi yang kuat, energi itu langsung masuk ke sekujur tubuhnya dan membuat Voran tersentak beberapa kali sampai membuatnya batuk seteguk darah. Darah yang keluar dari mulut Voran tak berwarna merah segar melainkan hitam dan begitu gelap.
__ADS_1
“Argh!” Voran hanya bisa berteriak dalam diam. Dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menerima semua itu. Rasa sakit yang tak terbayangkan menghancurkan tubuh Voran ketika energi itu masuk ke tubuhnya dan mereformasi Kolam Qi-nya.
Beberapa jam kemudian, proses itu selesai dan tak ada energi yang tersisa di dalam gua. Udara yang semula sangat berat mulai menjadi ringan dan getaran-getaran kuat tak lagi muncul di dalam gua. Nafas Voran mulai membaik dan tak lagi terdengar kasar. Kulitnya yang pucat pasi mulai mendapatkan kehidupan.
Hampir setengah hari ia melalui proses menyakitkan itu. Tubuhnya mengalami perubahan dengan kulitnya yang lebih bersinar serta berotot dan aura halus mengalir keluar dari tubuhnya. Tampak jelas jika proses menyakitkan itu memberikan hal baik untuk Voran.
Beberapa saat kemudian, Voran membuka matanya. Seketika bau menusuk yang sangat menjijikkan menghantam penciumannya. Ia merasa tubuhnya begitu lengket dan menyakitkan. “Argh ... Apa yang terjadi pada tubuhku?”
Voran segera memberikan Kolam Qi-nya dengan mengalirkan Qi ke perutnya. Saat itu, ia melihat Kolam Qi-nya mengalami perubahan. Tidak hanya menjadi lebih besar dan luas. Ia merasakan energi yang terpancar dari kolam Qi-nya meningkat beberapa kali lipat. Namun, ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya. Mengapa Qi di dalam kolam itu tidak jernih seperti sebelumnya melainkan keruh dan memancarkan bau darah yang kuat.
Perlahan, ia juga merasakan kultivasinya meningkat hingga mendekati tahap 3. Namun, ketidakmurnian Qi di dalam tubuhnya juga sangat kuat. Voran menghela nafas lega setelah mengetahui apa yang terjadi pada tubuhnya.
“Kultivasi meningkat cukup banyak. Sekarang aku berada di tahap 2-7. Kecepatan ini sangat bagus. Namun, aku perlu beberapa waktu untuk menstabilkan Qi yang ada di dalam tubuhku sebelum melakukan kultivasi lagi. Jika tidak, kemungkinan besar aku akan menerima penyimpangan Qi yang berakhir dengan menghancurkan Kolam Qi ku,” gumam Voran.
Meski tubuhnya terasa lengket dan bau, Voran tidak memilih untuk keluar dan membersihkan diri. Ia malah melakukan meditasi untuk menyeimbangkan Qi yang mengalir di tubuhnya. Dia melakukannya selama beberapa jam hingga tubuhnya dibasahi oleh keringat. Nafasnya ikut stabil saat ia melakukan meditasi untuk waktu yang tak sebentar.
__ADS_1
Energi kuat menghembus keluar dari tubuh Voran setelah ia menyelesaikan meditasinya. Tatapan matanya menjadi lebih jernih dan aura yang ia keluarkan mengalami peningkatan. Setelah itu, ia bergegas keluar dari gua dan mencari sungai untuk membersihkan tubuhnya yang kotor dan berbau busuk.
Beberapa hari setelah ia mengalami kejadian menyakitkan itu, ia kembali ke kota. Di dalam kota, Voran merasakan ketegangan yang cukup menyesakkan. Suasana di dalam kota tak senyaman sewaktu ia berkunjung untuk pertama kali. Hal ini memicu keingintahuan Voran akan situasi di medan perang.
Voran memilih untuk mengunjungi kedai sebelumnya dan di sana ia mendengarkan percakapan para penduduk yang berbicara dengan suara rendah, seolah takut akan sesuatu. Voran mengamati mereka semua termasuk ekspresi setiap orang. Dari wajah mereka, Voran dapat mengetahui adanya ketakutan dan kegelisahan.
“Sepertinya Sekte Angin Timur tak memenangkan pertempuran itu? Kedua belah pihak sama-sama mengalami kerusakan dan kedua pemimpin saling terluka. Sayangnya ketiga tuan muda Sekte Angin Timur tak bisa mengambil kendali pertempuran. Aku harus memeriksanya nanti, ini berkaitan dengan wilayahku!” gumam Voran dalam benaknya.
Voran fokus untuk mendengarkan percakapan beberapa orang yang duduk tak jauh darinya. Meski mereka membicarakan beberapa hal yang tak berkaitan dengan situasi kota. Voran bisa menebak jika mereka terlalu takut untuk membicarakan situasi kota. Setelah mendengarkan mereka untuk waktu yang cukup lama, Voran memutuskan untuk pergi dan melihat medan perang.
***
“Pertarungan macam apa yang terjadi di tempat ini? Bau darah yang kuat dan sisa-sisa energi ini masih cukup kuat,” ucap Voran sewaktu dia tiba di medan perang.
Meski tak ada mayat di sana, bau darah dan bau tak sedap masih tercium yang menyiratkan betapa ganasnya pertempuran waktu itu. Namun, bukan itu yang menjadi perhatiannya. Ia penasaran dengan siapa yang masih berkuasa saat ini. Apakah Sekte Angin Timur yang mengalami kerusakan atau Kelompok Lord Walcho yang kini tak Voran ketahui bagaimana keadaannya.
__ADS_1
“Aku harus menyelidiki situasi Kelompok Lord Walcho. Jika mereka berada di ambang kerusakan, aku harus menghancurkannya. Dengan begitu wilayah ini akan aman dan ancaman untuk kerajaan tidak akan meningkat,” ucap Voran saat dia memutuskan untuk menghilangkan ancaman terhadap kerajaannya.
Meski kondisinya belum seutuhnya pulih, ia tidak ragu untuk melakukannya dan segera ia bergegas pergi ke tempat persembunyian Kelompok Lord Walcho.