
Voran tidak lantas pergi ke perbatasan begitu saja. Dia mempersiapkan diri terlebih dahulu dengan berdiam diri di sebuah ruangan.
Perasaannya campur aduk. Keresahan yang terus ia rasakan membuat segalanya bisa berjalan ke arah yang tak menentu dan dia tidak ingin hal itu terjadi.
Oleh karenanya, Voran membiarkan segala perasaan tak enak di dalam dirinya keluar di dalam ruangan tersebut. Di samping itu, dia juga memusatkan segala energi Qi yang ada di dalam tubuhnya terutama yang berada di pusarnya.
Ia biarkan energi itu memenuhi ruangan tersebut. Energi yang tak berwarna mulai memunculkan warna merah secara perlahan-lahan dan menyelimuti tubuhnya.
Voran mengingat-ingat kembali pertarungannya sebelumnya dan membiarkan imajinasinya bergerak dengan liar. Dia melepaskan nafsu membunuhnya dan mencoba mengeliminasi segala perasaan buruk yang tengah melanda benaknya, seperti rasa cemas, gelisah, dan ketakutan-ketakutan tak berarti itu.
“Apa mereka sudah bergerak atau hanya menggertak saja. Ini terlalu cepat dan mendadak untuk mereka melancarkan serangan. Jauh berbeda dari apa yang aku ketahui. Seharusnya mereka masih tidak terfokus pada perbatasan dan lebih mementingkan lawan mereka lainnya “
Voran tidak bisa membendung kegelisahannya atas perubahan situasi yang terjadi di perbatasan kerajaan. Pergerakan Kerajaan Edarecia yang melakukan sebuah serangan mendadak pada Kerajaan Elaydric di perbatasan menangkap banyak pihak lengah.
Tidak hanya Kerajaan Elaydric saja yang menderita kerugian akibat serangan tiba-tiba Kerajaan Edarecia. Kerajaan Sevaeni juga menerima imbas yang sama dari tindakan tiba-tiba tersebut. Walaupun kerugian kedua kerajaan tidak sama. Kehilangan mereka memberikan dampak tertentu terhadap keseluruhan situasi.
Di dalam ruangan yang cukup gelap, mata Voran terus mengalami fluktuasi. Perubahan situasi di perbatasan memberikan tekanan besar padanya. Tak ia harapkan Kerajaan Edarecia akan melakukan sebuah gerakan yang membawa dampak besar pada keseluruhan situasi.
“Tidak mungkin mereka mengabaikan kerajaan itu dan menyerang perbatasan tanpa melakukan persiapan yang matang atau mereka memang sudah memperhitungkan segalanya?”
Pikirannya terus berkecamuk dan bergerak secara liar menebak-nebak langkah apa yang telah dilakukan oleh Kerajaan Edarecia.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu berdiam diri dan berkutat dengan pikirannya sendiri. Voran segera meninggalkan Kota Higgster dan bergegas memimpin pasukan menuju ke perbatasan. Tak lupa ia juga meminta Fasuk untuk mengirim surat pada dua kerajaan lainnya.
Memimpin puluhan ribu prajurit bersama dengan Selek Valaunter. Voran memasang wajah keras dan dingin serta menegakkan punggungnya. Dia tak memperlihatkan kegelisahan yang ada di dalam dirinya, bahkan di saat dia berada dekat dengan Selek Valaunter.
Seperti biasanya, Werder Sian dan Gris Hainz berada dekat dengannya dan bertindak menjadi pengawal. Seluruh kekuatan kerajaan telah dimobilisasi menuju ke perbatasan dan pasukan yang ia pimpin ini merupakan pasukan penguat terakhir.
“Yang Mulia, aku merasa serangan yang dilakukan oleh Kerajaan Edarecia bukanlah suatu gerakan biasa. Cara mereka menyerang mengingatkanku pada seseorang.” Selek Valaunter terlihat merenung saat membahas serangan yang terjadi di perbatasan.
“Apa maksudmu?” Voran menoleh ke arah Selek Valaunter dengan mata penuh tanya.
“Aku ingat seseorang yang dulu pernah melayani Kerajaan Arannor. Seorang pria yang kejam tapi juga lihai. Kemampuannya tidak kalah denganku. Saat ini, aku merasa langkah yang dilakukan oleh Kerajaan Edarecia di perbatasan cukup mirip dengan cara yang pria itu lakukan.”
Voran sedikit mengernyitkan dahinya. Perkataan Selek Valaunter memunculkan sebuah pertanyaan baru di benaknya. Apa yang sebenarnya terjadi di perbatasan? Kenapa Kerajaan Edarecia melakukan gerakan pertama dan cukup destruktif.
“Dia tak dikenal banyak orang, Yang Mulia. Namun, mereka yang memiliki kekuatan dan kekuasaan di Kerajaan Arannor mengenalnya dengan baik, termasuk aku. Pria itu bernama Salvatora. Hanya nama itu yang kita ketahui selain dari kemampuannya.”
Valaunter juga memberitahukan tingkat kekuatan Salvatora yang berada pada tahap 3-0 di kali terakhir mereka bertemu. Tidak hanya perihal kekuatan saja, tapi dia juga membeberkan penampilan yang dimiliki Salvatora.
“Jadi, pria paruh baya dengan perawakan pejuang serta memiliki kekuatan yang setara denganmu tengah berada di perbatasan dan memihak Kerajaan Edarecia? Apa ini nyata?” Voran sedikit tidak bisa percaya terhadap pendengarannya.
Selek Valaunter memasang wajah serius dan tatapan matanya begitu tajam hingga membuat Voran berpikir jika yang dia dengar merupakan kenyataan.
__ADS_1
“Aku tidak begitu yakin, tapi hal ini terus mengangguku. Paling tidak kita bisa mempersiapkan sesuatu yang buruk. Pria itu ... Dia sangat berbahaya. Aku akan menghadapinya, jika itu memungkinkan.”
Dengan memperjelas keinginannya untuk menghadapi Salvatora. Selek Valaunter sangat menantikan pertemuannya dengan pria yang pernah menjadi sosok paling berpengaruh di Kerajaan Arannor. Tentu saja, itu semua akan terjadi bila asumsinya benar.
“Kau bisa melakukannya. Jika perkataanmu tadi menjadi nyata, maka dia akan menjadi lawanmu. Namun, kau harus ingat. Jangan kalah dan tetap hidup! Saat ini kau tidak lagi sama dengan dirimu yang dulu! Tanggung jawab yang ada di pundakmu jauh lebih besar dari sebelumnya,” ucap Voran dengan nada tegas.
Tanpa mengetahui apakah tebakan Selek Valaunter akan menjadi kenyataan tak membuat Voran berpikir bila Selek Valaunter bisa mengatasi masalah yang ada di perbatasan nanti. Apalagi, jika sampai tebakan itu menjadi nyata. Makin tidak tenang Voran jadinya.
Selek Valaunter mengangguk dengan tenangnya. Tanpa perlu diingatkan oleh Voran, ia sudah tahu apa yang harus dan bisa ia lakukan pada perang ini.
Keberadaan Salvatora yang tak pernah terdeteksi membuat Selek Valaunter berpikir jika pria ini sudah mati. Namun, situasi saat ini membuat dia berpikir bila kemungkinan yang tak dia inginkan bisa saja terjadi.
Pasukan bergerak dalam kecepatan tinggi dan terlihat seperti ular yang berjalan meliuk. Jarak antara perbatasan dengan Kota Higgster tak begitu jauh, tapi dengan rombongan yang begitu besar pastinya waktu yang dibutuhkan jauh lebih lama dibandingkan dengan kelompok kecil.
Dalam perjalanan yang membosankan itu, Voran terus memeriksa Qi yang bergerak di dalam tubuhnya. Dengan kekuatan yang mulai meningkat dan membaik. Dia menjadi lebih bersemangat untuk meningkatkan kekuatannya dengan cara apapun.
Di samping itu, dia juga memiliki kekuatan uniknya sendiri. Sebuah kekuatan yang hanya dimiliki oleh para Raja saja. Dengan kemampuan tersebut, metode untuk meningkatkan kekuatannya bertambah banyak. Tidak hanya melalui pil penguat dan meditasi saja.
“Para Lord harusnya ikut serta dalam perang perbatasan ini. Mungkin saja aku bisa menarik beberapa dari mereka untuk melayani kerajaan. Dengan begitu status quo di sana akan berubah besar dan berdampak baik untukku!” gumam Voran.
Di perbatasan antara empat kerajaan, kemelut pertempuran memenuhi daerah tersebut. Setiap area melepaskan nuansa menyedihkan serta dipenuhi dengan amarah membara.
__ADS_1
Berbagai macam Panji bendera pasukan terlihat memenuhi setiap area. Prajurit-prajurit yang gagah nan berani menegakkan punggungmu mereka bak pilar, menunjukkan tatapan mata ganas dan liar. Tombak menjulang ke langit dan perisai melindungi tubuh, tiap-tiap prajurit membentuk fondasi formasi yang kuat.
Bau-bau pertempuran terus tercium dari tiap-tiap area tersebut. Berbagai macam pembudidaya ataupun kekuatan datang dan mengawasi pertempuran. Sebuah situasi menegangkan dengan ketegangan yang bisa pecah kapan saja.