
Pertemuan mereka bertiga di istana yang nantinya dirubah menjadi pusat dari pemerintahan Provinsi Aran telah berlangsung cukup lama. Di dalam pertemuan itu, Voran mendapatkan beberapa ide untuk mempertahankan perbatasannya.
Voran tidak hanya ingin bertahan saja tapi juga memberi pelajaran terhadap Kerajaan Edarecia yang memanfaatkan situasi di kerajaannya. Entah dari mana sumber informasi yang menyatakan keadaan di kerajaannya itu, tapi adanya informasi tersebut membuat Voran berpikir jika ada banyak tikus di kerajaannya.
Tidak ada yang menolak saran Larsson. Voran pun memberikan dukungan penuh terhadap saran tersebut.
Tentu saja, Larsson tidak hanya mengatakan saran itu secara sembarangan tapi juga memberikan beberapa ide dan saran untuk menarik kelompok-kelompok itu. Selain itu, dia juga mengajukan dirinya sendiri untuk menyelesaikan masalah ini. Jadi, Voran tidak bisa menolak cabang zaitun ini.
Dengan keputusan yang ditetapkan, Voran meninggalkan Provinsi Aran dan kembali ke ibukota kerajaan. Dilindungi pasukan dalam jumlah besar beserta dengan Veus dan Valaunter. Mereka bergerak dalam kecepatan tinggi dan kembali ke Ibukota Kerajaan.
Pergerakan pasukan ini sungguh cepat dan mereka tidak memiliki banyak waktu untuk istirahat.
***
Di tempat yang berbeda. Di sebuah istana megah, sebuah ruangan yang berhiaskan emas, patung-patung zirah prajurit, senjata-senjata yang begitu mengagumkan, serta sebuah singgasana megah yang memancarkan keagungan serta kemewahan. Sebuah singgasana bertahtakan emas serta terlapisi oleh emas.
Di singgasana itu, duduklah seorang pria paruh baya dengan ekspresi muram di wajahnya.
“Cukup mengejutkan, gerakan kerajaan ini sangat tidak terduga. Menelan satu kerajaan sesingkat ini dan berhasil memiliki hubungan baik dengan kerajaan lainnya. Sungguh pencapaian yang mengejutkan untuk kerajaan kecil ini.”
__ADS_1
“Aku tidak merasa ada sosok yang mampu di kerajaan ini awalnya, tapi aku rasa aku harus mengubah caraku memandangnya saat ini?”
Pria paruh baya dengan mata sipit itu mengarahkan tatapan matanya ke arah beberapa orang yang ada di depannya.
Ada beberapa pria dan wanita yang juga menatapnya dengan tatapan berbeda-beda. Ada kekhawatiran, kegembiraan, penantian, perenungan, dan lainnya.
Mereka yang berada di depannya benar-benar memiliki peranan yang kuat dan melepaskan aura yang mengesankan, terutama pria tua yang memiliki rambut panjang berwarna putih sepunggung.
Pria tua itu tersenyum lembut dengan tatapan penuh rencana saat berkata, “Meski mereka hanya kerajaan kecil. Kita tidak bisa meremehkannya ataupun menganggapnya sebelah mata. Disamping itu, Kerajaan Salauster masih ditopang oleh beberapa orang yang berbahaya dan kuat. Grim Larsson, pria itu mampu mengancam kita. Memang individu tidak akan bisa mengancam sebuah kelompok, tapi mereka bisa menjadi salah satu faktor atau pemicu kehancuran tindakan kita!”
“Kau benar! Aku tidak menduga mereka akan bergerak dengan tegas tanpa melihat sekitarnya saat menyerang Kerajaan Arannor. Keberuntungan memihak mereka sehingga mereka berhasil mengalahkannya yang membuat situasi menjadi lebih runyam,” ujar pria paruh baya di singgasana.
“Kerajaan Arannor tidak selemah itu hingga bisa dihancurkan dalam waktu singkat. Pasti ada salah satu pilar mereka yang tidak sedang berada di tempatnya. Sekarang kita hanya perlu menyodok mereka hingga membuat mereka fokus pada kita!” lanjutnya.
Seorang wanita berwajah halus dengan mata cerah serta rambut pirang yang panjang dan bergelombang, Mercier Thea. Dia mengenakan armor dan memancarkan aura dari kemiliteran. Mercier Thea menatap pria paruh baya yang duduk di singgasana dengan kerutan di wajahnya seraya berujar, “Yang Mulia, meski kita sudah mengirim salah satu Jenderal terkuat di kerajaan ke perbatasan. Aku tidak yakin mereka bisa menangani tugas yang Anda berikan!”
“Tenanglah, dia bisa menyelesaikannya. Walaupun hanya sebagian dari pasukan elit yang ada di sana. Mereka merupakan salah satu elite yang kerajaan miliki. Dengan komandonya, mereka pasti bisa mengacaukan area itu!” Pria yang duduk di singgasana tersenyum dan tatapannya ke arah Mercier Thea cukup halus.
Berbeda dengan Mercier Thea yang merasa Jenderal di perbatasan tak akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Pria tua yang sedari tadi berpikir sendiri segera memberitahukan apa yang ia pikirkan.
“Yang Mulia, mengirim seorang Jenderal ke perbatasan tidaklah cukup untuk memberikan ancaman pada Kerajaan Salauster. Kita harus menarik salah satu dari dua kerajaan lain di sekitarnya. Juga, tarik beberapa Lord ataupun bandit yang melimpah ruah di luar sana untuk menyerang kerajaan itu! Aku rasa mereka pasti akan tertarik.”
__ADS_1
Pria paruh baya yang duduk di singgasana tampak tercerahkan dengan ucapan pria tua itu. Sebagai Raja dari Kerajaan Edarecia, ia tidak bisa bergerak secara gegabah. Maka dari itu, ia hanya bisa melakukan serangkaian gerakan kecil.
“Benar katamu, penasihat. Dengan namaku, Elaim Seryan yang sudah menggema di berbagai wilayah. Pasti akan ada kelompok atau Lord yang tertarik dengan tawaran kita. Apalagi, jika kita memberi mereka wilayah serta janjiku.”
Pria paruh baya itu bernama Elaim Seryan dan Raja dari Kerajaan Edarecia, kerajaan terkuat di wilayah utara. Sebagai Raja ia tidak bisa begitu saja memberikan sebuah janji, tapi melihat situasi yang ada saat ini dan beberapa hal lain. Mau tidak mau dia harus menggunakannya.
Pria tua yang dipanggil penasihat tadi tersenyum seketika mendengar perkataan Elaim Seryan. Namun, dia tidak bisa setuju dengan memberikan Janji Raja pada Lord ataupun kelompok bandit.
“Tidak perlu bagi Yang Mulia memberikan janji kepada mereka. Cukup memberi mereka hadiah dan penghargaan tertentu, seperti sebuah wilayah kecil. Selama mereka mau mengerahkan kekuatan mereka demi menghadapi serangan kerajaan-kerajaan itu, aku yakin tidak akan ada dari mereka yang bertahan lama,” ujar pria tua itu dengan senyum dingin yang menusuk tulang.
Elaim Seryan mengangguk saat mendengar hal itu. Dia tahu jika memberikan janjinya pada seseorang akan memberikan efek tertentu yang bahkan bisa menjadi sebuah variabel tak menguntungkan. Dia hanya mengatakannya untuk melihat reaksi bawahannya dan sekarang ia dipenuhi dengan senyuman.
“Benar, Penasihat. Aku akan menyerahkan masalah ini padamu. Tunjukkan pada mereka kebaikan dan kedermawanan yang kita miliki. Namun, jangan lupa untuk menekan mereka juga.”
Saat mengatakannya senyuman Elaim Seryan benar-benar dingin dengan tatapan mata yang begitu dalam yang memberikan perasaan rumit bagi mereka yang melihatnya.
Mercier Thea menatap pria tua itu dengan cukup rumit. Sulit untuk siapapun di Kerajaan Edarecia menggantikannya dan kehadirannya di setiap pertemuan memberikan perasaan aman. Namun, saat ini dia merasa ada sesuatu yang berbeda darinya, terutama saat melihat tatapan matanya.
“Seharusnya Yang Mulia tidak memberinya begitu banyak kekuasaan dan kelonggaran. Meskipun dia penasihat kerajaan. Tetap saja, kekuatan militer tidak bisa berada di tangannya,” gumam Mercier Thea.
***
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, seorang pria paruh baya dengan wajah yang garah dan sebuah bekas luka di wajah bagian kirinya menatap sekumpulan prajurit yang berbaris rapi dalam sebuah formasi. Ia menggenggam pedang di pinggangnya.
Dengan kecepatan yang begitu cepat, ia menarik pedang tersebut dan mengacungkannya ke langit sembari melepaskan tekanan yang menghancurkan bumi. “Tidak ada kematian yang sia-sia demi kerajaan. Perkuat tekad kalian!”