The Heaven World

The Heaven World
Situasi Terakhir


__ADS_3

Veus memimpin pasukan dan menghancurkan seluruh barisan pertahanan Kerajaan Arannor.


Dinding pertahanan tertembus dan gerbang tidak lagi mampu menahan gelombang serangan yang Veus luncurkan.


Dengan kekalahan Westian, moral musuh anjlok.


Veus merasakan perubahan angin dan gelombang pada perang ini.


Perubahan itu ia termukan setelah memperhatikan situasi di sekitarnya.


Veus memberikan perintah terakhir untuk menyerang dan mengakhiri perang ini.


“Semua perubahan ini terjadi karena ledakan itu. Waktunya juga sangat tepat, ini begitu baik!”


Kesempatan yang muncul ini tak bisa dia abaikan meskipun ada risiko di sana. Veus tak melewatkannya dan dia mengerahkan pasukannya.


Pasukannya mengambil alih dinding dan gerbang. Mereka mulai masuk ke area dalam dan bergegas ke arah istana.


Mereka tak menjarah ataupun membunuh para penduduk sipil yang menyerah. Namun, mereka tidak ragu menebas orang-orang yang melakukan perlawanan.


Ketika pasukannya melenggang masuk dengan mudahnya. Veus memasang senyum puas dan pandangannya tertuju ke arah dalam gerbang.


Situasi di depan matanya tak membuat ketenangannya menghilang. Veus menyaksikan begitu banyak kejadian yang menyayat hati.


Pasukannya merangsek masuk ke dalam gerbang dan menerobos setiap prajurit yang berusaha mempertahankan area tersebut. Bahkan pasukannya mampu mencapai area depan tembok istana.


“Apa yang terjadi?” Bingung dengan situasi di depannya membuat Veus bertanya-tanya.


“Mengapa serangan ini terlihat mudah? Perlawanan mereka juga tidak sengit. Situasi ini memang sangat baik dan menguntungkanku, tapi apa menyebabkan mereka sampai seperti ini?” Veus mempertanyakan situasi ini meski dia memegang keunggulan mutlak dalam penyerangan tersebut.


Pasukannya mengelilingi tembok istana dan mulai mengangkat tangga satu per satu lalu menaikinya.


Veus memperhatikan pasukannya yang mencoba masuk ke istana yang terlindungi oleh tembok. Di saat yang bersamaan, tatapannya tertuju pada kerumunan pasukan yang berasal dari pihaknya.


Para prajurit itu tampak mengeremuni sesuatu dan tak beranjak dari posisi itu selama beberapa waktu. Veus cukup terganggu dengan tindakan itu dan merasa ada yang janggal.


Setelah memperhatikan dengan lebih teliti, ia menemukan alasan dari tindakan mereka yang cukup aneh itu.

__ADS_1


Di tengah-tengah mereka, terbaring seorang pria dengan wajah yang sangat pucat. Saat Veus memperhatikannya dengan teliti dan menajamkan tatapan matanya seperti mata elang, wajahnya segera memucat dan ekspresinya dipenuhi kekhawatiran.


“Sial!! Bagaimana ini bisa terjadi. Sial!!” Sambil mengumpat tanpa henti Veus melesat pergi meninggalkan posisinya dan bergegas mendekati Voran yang dikelilingi oleh para prajurit.


Veus tak menduga akan melihat situasi yang begitu buruk di waktu mereka telah mengungguli lawannya secara mutlak dan saat ini sedang melancarkan serangan akhir.


Siapa yang tidak khawatir saat melihat junjungan mereka terluka cukup parah, apalagi kondisi pastinya masih misterius.


Veus tak memikirkan hal lain saat dia bergegas ke Voran. Pasukan yang mengepung istana pun tak ia perhatikan. Ia berkuda dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya dia disana, Veus melompat turun dari kudanya dan bergegas mendekati tubuh Voran. ia menanyakan apa yang terjadi pada Voran.


“Bagaimana Yang Mulia bisa berada dalam kondisi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apakah ada dari kalian yang mengetahui apa yang terjadi di sini?” Cercaan pertanyaan langsung keluar dari mulutnya begitu Veus tiba di sisi Voran.


Suaranya bergetar dan penuh akan kecemasan. Namun, dia tidak lupa untuk memeriksa kondisi Voran dengan merasakan Qi di dalam tubuh Voran.


Telapak tangan Veus berada di pusar Veus. Energi Qi keluar melalui tangannya dan masuk ke dalam tubuh Voran saat dia memeriksa kondisinya.


Begitu energinya masuk, segera dia merasakan fluktuasi Qi di dalam tubuh Voran dan pergerakan itu sangat gila. Tak hanya gila saja, tapi juga sangat ganas.


Salah seorang prajurit yang kebetulan menyaksikan pertarungan antara Westian dengan Voran pun menyampaikan apa yang dia lihat dengan detail. Dia tak melewatkan sedikitpun adegan yang terjadi, termasuk benturan Qi yang dahsyat hingga menghancurkan beberapa bangunan.


Di samping itu, dia juga menceritakan apa yang sebelumnya terjadi pada Voran tepat sebelum pertarungan terjadi.


“Jadi begitu,” ucap Veus setelah mendengar situasinya. Lalu ia menoleh menatap Voran yang bernafas lemah.


“Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Yang Mulia? Kenapa kau memaksakan diri hingga seperti ini.” Suaranya melembut menunjukkan kekhawatirannya.


“Setiap orang yang berhubungan dekat dengan Raja tahu bila seorang Raja memiliki kekuatan atau berkah tersendiri yang disebut dengan King’s Power. Meski kemampuan ini akan meningkatkan kekuatan sang raja, harga yang harus dibayar tidaklah kecil saat menggunakannya.”


“Seharusnya Anda menyerap Qi diluar sana sesuai kemampuanmu dan tidak terlalu memaksakan diri. Anda bisa mengandalkan kami untuk membereskan sisanya,” kata Veus yang prihatin dengan kondisi Voran. Suaranya sedikit bergetar saat itu.


“Sekarang Anda terluka, jika pasukan mengetahuinya, moral mereka akan hancur meski kemenangan sudah ada di depan mata.” Veus memasang wajah penuh kekhawatiran dan dia tidak bisa menyembunyikannya bahkan untuk sedetik saja.


Setelah itu dia meminta para prajurit untuk membawa Voran ke salah satu rumah dan menjaganya.


Veus tidak bisa meninggalkan medan perang terlalu lama, sehingga ia bergegas kembali memimpin pasukannya.

__ADS_1


Selain itu, dia juga memerintahkan salah satu prajurit untuk menginformasikan situasi di medan perang kepada Larsson. Veus berpikir untuk menyelesaikan perang ini secepat mungkin dan dengan bantuan Larsson semua itu bisa terwujud.


Saat Veus kembali fokus pada pengepungan istana yang terlindungi oleh sebuah tembok yang kuat. Dia menyaksikan tembok itu mulai diduduki oleh pasukannya.


Kekhawatiran yang sebelumnya ia rasakan mulai lenyap saat dia menyaksikan kekalahan lawan yang sudah semakin terlihat nyata.


Tak berselang lama, dia melihat Larsson yang tiba-tiba saja muncul di dekatnya sambil memasang wajah yang ganas.


Larsson tak memberikan satupun komentar dan dia datang tanpa banyak bersuara. Dia hanya memberikan tatapan mata yang sangat dingin dan dipenuhi dengan nafsu membunuh.


Auranya meledak dengan hebatnya dan memenuhi ruang di sekitarnya hingga memberikan tekanan yang membebani. Veus merasakan tekanan yang dikeluarkan oleh Larsson hingga membuat dia mengeluarkan keringat dingin.


“Apa-apaan tekanan ini? Seberapa kuat sebenarnya Larsson ini?” pikirnya.


“Tekanan ini bisa meruntuhkan moral seluruh pasukan jika dia berada di pihak musuh. Aku … bagaimana caraku bisa mencapai tingkat yang sama dengannya? Saat dia mengeluarkan tekanan dan aura ini, maka dia akan menyerang secara habis-habisan sekarang. Ini sangat membantu meski menakutkan.”


Begitu Larsson selesai memindai situasi yang tengah terjadi di medan perang. Dia segera bergegas meninggalkan Veus dan melesat bagaikan badai langsung menuju ke istana.


Tidak ada ekspresi lain selain niat membunuh dan kedinginan yang menusuk tulang ketika dia melompati beberapa bangunan.


Tidak ada yang menahannya bahkan angin memberikan dorongan yang makin meningkatkan kecepatan gerak kakinya.


Saat dia tiba di atas tembok, pijakan kakinya menghancurkan ruang di atas tembok. Dia mengeluarkan pedangnya dan menebaskannya dengan gerakan memutar lingkaran penuh.


Para prajurit yang ada di sekitarnya tertebas menjadi dua bagian tak terkecuali mereka yang baru saja menginjakkan kaki di bagian atas.


Hujan darah terjadi sedetik saat dia sampai. Lepas itu, dia turun ke istana dan memulai pembantaian dan menciptakan danau darah.


Tak peduli tua, muda, prajurit atau bukan. Siapapun yang ada di hadapannya ia bunuh hingga dia masuk ke dalam istana dan menemukan Westian yang terbaring dan dilindungi oleh berbagai macam orang.


Tanpa banyak bicara ia menghabisi mereka semua hanya dalam beberapa detik. Tindakannya itu memudahkan Veus mengambil alih istana dan di waktu tersebut perang telah berakhir dengan gunungan mayat dan kehancuran di kedua belah pihak.


Di tempat lain, perang yang berkecamuk itu memberikan kesempatan pada beberapa orang untuk mengangkat panji mereka.


Di samping itu, beberapa kerajaan yang memantaunya pun mulai mengambil sikap. Salah satunya Kerajaan Elaydric yang sebelumnya telah Voran coba untuk membangun hubungan yang baik.


 

__ADS_1


__ADS_2