
Dalam sepersekian detik, sosok tua itu telah melancarkan beberapa serangan. Dia mengombinasikan gerakan menendang dan memukul dengan begitu cepatnya. Sulit untuk orang biasa melihat gerakan sosok tua itu karena saking cepatnya. Namun, beruntungnya Voran masih mampu melihat gerakan pria itu meski dia masih harus menerima beberapa serangannya.
Voran tidak bisa mengambil sedikit keuntungan dari lawannya dan dia terus berada dalam posisi yang dirugikan walaupun dia telah menggunakan Kekuatan Raja untuk memperkuat kultivasinya serta meningkatkan Qi di dalam tubuhnya. Sayangnya, perbedaan antara mereka cukup tinggi dan hal inilah yang membuat Voran berada dalam situasi yang buruk.
Keringat dan darah menetes membasahi tubuhnya saat dia diterbangkan untuk kesekian kalinya. Dia tidak mengharapkan posisinya akan sebegitu buruknya. Sosok tua itu juga tampak kelelahan terlihat dengan nafasnya yang mulai tersengal-sengal.
Sosok tua itu sekali lagi tersenyum saat merasakan ada perubahan pada energi yang Voran keluarkan. Ia menatap Voran dengan dingin seraya berkata, “Kau jauh lebih tidak terduga. Tidak banyak orang yang bisa bertarung melawanku dalam waktu yang lama. Walcho salah satu dari mereka dan begitu juga Bulcha, tapi melihatmu sekarang menghadapiku tanpa rasa takut. Benar-benar mengejutkan!”
Mendengar hal itu kerutan muncul di kening Voran. Dia sadar bila identitas sosok tua itu tidak mungkin sederhana. Apalagi setelah sosok itu mengatakan bila dia bertarung melawan Bulcha dan Walcho. Perasaan krisis semakin menguat dalam benak Voran. Akan tetapi, dia juga paham bila dia tidak akan bisa lari dari tempat ini.
“Akan aku anggap itu sebagai pujian, Pak Tua! Aku tidak mengharapkan kau memujiku sedemikian tingginya. Menyandingkan diriku dengan Lord Walcho dan sosok sekuat Bulcha,” balas Voran dengan kata-kata menyanjung.
Voran tidak peduli akan reaksi sekitarnya. Dia hanya menatap sosok tua itu dengan tatapan sengit. Kali ini, ya kali ini, dia merasakan tekanan yang menghancurkan menekan tubuhnya dan membuat lututnya menjadi lemah.
Lagi, sosok itu menyerangnya dengan sebuah teknik. Gerakannya cepat dan kuat serta dipenuhi dengan energi Qi yang sangat pekat. Energi itu tidak hanya dilapisi oleh niat membunuh saja, tapi juga sangat tajam hingga mampu membelah batu seperti memotong kertas.
Tanpa ada waktu untuk menghindar, Voran mengayunkan pedangnya dan memblokir serangan itu menggunakan Teknik Pedang Langit Salauster Langkah Pertama : Gelombang.
__ADS_1
Ledakan!
Dua energi saling bertabrakan untuk yang kesekian kalinya. Namun, benturan kali ini jauh lebih kuat dan sengit daripada beberapa benturan sebelumnya. Voran terlempar mundur beberapa puluh meter jauhnya dan sosok tua itu juga mengalami nasib yang sama. Terlihat darah menetes dari mulut pria tua itu setelah ia terlempar beberapa puluh meter jauhnya.
Pakaian Voran terkoyak dan terdapat beberapa luka sayatan di dadanya yang kemudian diikuti dengan darah menetes dari setiap luka itu. Nafasnya tersengal-sengal dan terdengar berat. Tatapan matanya sedikit kabur ketika dia menopang tubuhnya dengan pedang yang menancap di tanah dengan kuatnya.
“Aku terlalu ceroboh! Seharusnya aku tidak melawan pria tua itu. Kultivasiku belum cukup untuk menghadapinya secara langsung. Huh ... Bagaimana caraku meningkatkan kultivasiku dengan cepat? Meski Kekuatan Raja bisa melakukannya, efek sampingnya juga akan semakin kuat seiring dengan penggunaannya,” batin Voran.
Pria tua itu berdiri sambil meludahkan seteguk darah ke tanah. Tatapan matanya menjadi lebih ganas dan dia mulai tertawa kejam. “Hahahaha ...”
Tampak pula energi pria itu menjadi lebih kuat dan tubuhnya tampak sedikit membengkak dengan otot serta Vena yang makin membesar. Dalam satu hentakan kaki, tanah yang ia pijak berubah menjadi kawan seluas lima meter. Dia melesat menyerang Voran yang bangkit sambil melepaskan sebuah pukulan kuat.
Qi terus masuk ke tubuhnya dan berkumpul di tangannya. Rasa sakit yang hebat menghancurkan sekujur tubuhnya, telinganya berdengung dan darah menetes dari mulut serta bagian-bagian tubuhnya yang terluka.
Tak memedulikan semua itu, Voran melepaskan seluruh kekuatannya dan tenaganya dalam satu serangan. Ia hanya berharap untuk bisa melukai sosok tua itu sebelum bergegas meninggalkan tempat ini.
Segera tabrakan energi lain terjadi. Voran menggertakkan giginya saat melepaskan seluruh Qi di dalam tubuhnya. Riak-riak energi yang kuat membuat angin menjadi kacau dan ruang di sekitar mereka runtuh. Tanah terkoyak dan retak disertai dengan kawah-kawah kecil di sekitar mereka.
__ADS_1
“Argh!” teriak Voran saat melepaskan seluruh energinya. Vena-vena di tubuhnya mencuat keluar dan darah merembes dari setiap lukanya serta mulutnya.
Sosok tua itu melepaskan seluruh kekuatannya saat merasa terdorong oleh energi yang Voran lepaskan. Namun, semakin banyak energi yang ia lepaskan ia merasa tubuhnya semakin kehilangan energi. Sesuatu hal yang tak pernah ia temui.
Penghalang energi di tubuhnya juga terkikis oleh energi Voran. Tak berapa lam kemudian, dia terlempar jauh dengan sebuah luka di perutnya. Dia memuntahkan darah dalam jumlah besar saat terbaring di tanah. Sosok tua itu tidak tahu apa yang terjadi pada Voran.
Di sisi lain, pertempuran semakin memanas dan jumlah korban semakin bertambah. Pertarungan Bulcha dengan Walcho memasuki puncaknya hingga membuat udara terasa berat dan angin berhembus dengan kacau. Mereka berdua saling terluka dan kondisi mereka tidak jauh berbeda satu dengan yang lainnya.
“Walcho, tampaknya kau sudah mempersiapkan semuanya. Aku merasakan ada beberapa aura yang akrab tak jauh dari sini. Apa kau mengundang setiap Lord di wilayah ini?” tanya Bulcha dengan nada dingin yang menusuk.
Walcho menatapnya tanpa bergeming dan berkata dengan nada meremehkan serta dipenuhi niat membunuh. “Tentu saja, mereka berniat untuk berlindung di bawahku. Dengan kehancuran sektemu, wilayah timur ini akan berada di bawahku dan mereka semua tahu akan hal itu. Tidak mungkin aku melewatkan bantuan berharga ini!”
“Jadi begitu ... Pantas aku merasakan auranya. Namun, kau salah Walcho jika menganggap dengan mengumpulkan seluruh lord di wilayah timur akan memberikanmu keunggulan. Hari ini aku akan membuatmu sadar perbedaan kita!” seru Bulcha saat dia mulai menyerang dengan ganas.
Kembali ke sisi Voran, dia terluka cukup parah setelah melancarkan serangan yang menghabiskan seluruh Qi di dalam tubuhnya. Dia tidak lagi memikirkan pertempuran ini dan bergegas meninggalkan medan pertempuran. Sesekali ia batuk darah saat berjalan meninggalkan kekacauan.
“Argh ... Ini sangat menyakitkan. Kolam Qi ku kosong. Aku harus mencari tempat persembunyian dan memulihkan diri. Aku tidak bisa berkeliaran seperti ini,” gumam Voran saat dia berusaha lari dari tempat yang kacau.
__ADS_1
Samar-sama dia bisa mendengar suara pertempuran dan beberapa nama muncul serta masuk ke dalam telinganya. “Tidak peduli apa, aku harus mencari tahu apa yang terjadi pada perang ini nanti!”