
Setelah rehat dan menikmati ketenangan di halaman belakang istana, Voran berpikir untuk melihat dua tahanan yang memiliki kekuatan besar. Dia membutuhkan mereka berdua dan menginginkan mereka berdua untuk berada di bawah perintahnya.
Kemampuan mereka berdua akan sangat meningkatkan kekuatan militernya. Tak ada keraguan sedikitpun dalam pikirannya.
Apalagi, Selek Valaunter, dia benar-benar memiliki kemampuan di bidang militer yang tidak kalah dari Veus dan kultivasinya sendiri juga tinggi. Dua hal ini saja sudah membuat Voran menginginkannya.
Di dalam penjara, Voran mendengar mereka berdua berbicara dan dia menunggu semuanya berakhir sebelum menampakkan dirinya.
Begitu dia menunjukkan dirinya, dia segera menatap Selek Valaunter yang memiliki tatapan suram dan mematikan.
“Selek Valaunter, Sang Jenderal Tua yang terkenal dari Kerajaan Arannor. Satu-satunya marshal yang mengendalikan seluruh militer kerajaan.” Voran memujinya dengan menyebutkan gelar yang dimiliki Selek Valaunter.
“Kau kalah dalam pertarungan melawan Grim Larsson dan berakhir di sini. Bagaimana perasaanmu saat ini, Valaunter?” Voran bertanya pada Selek Valaunter dengan tenang dan ketertarikan yang kuat terhadapnya.
Selek Valaunter tak menjawabnya, dia hanya mendengus dingin, dan memberikan tatapan mata yang lebih buas dari binatang buas.
Dalam satu tarikan nafas auranya menjadi lebih kuat yang membuat bulu kuduk berdiri. Voran tak berubah saat dia melihat matanya maupun merasakan auranya. Ia benar-benar tak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh Selek Valaunter saat ini.
“Kau pasti marah akan kekalahan itu. Sebuah kekalahan yang mengakibatkan petaka pada kerajaanmu hingga membuat Raja dan keluarganya terbunuh semuanya. Namun, kau harus tahu Valaunter. Mereka mati atas perintahku-” kata Voran dengan tenang.
Voran memberitahu Selek Valaunter kematian Westian dan seluruh keluarganya. Kematian mereka berdasarkan keputusannya.
Saat dia mengatakannya, segera wajah Valaunter berubah menjadi kejam dan sangat dingin. Auranya meledak keluar dan membuat jeruji besi bergetar meskipun ada darah yang menetes dari sela-sela bibirnya.
Ketika gunung hendak meletus dan menyebabkan kehancuran, Voran segera berkata, “tapi aku menyelamatkan keluargamu.”
Kata-kata itu lirih dan datar, seolah bukan sesuatu yang besar. Namun, kalimat itu segera menghancurkan kemarahan yang ada di benak Valaunter.
“Sekarang nasib keluargamu ada di tanganmu, kehidupan dan kematian mereka ada bersama dengan keputusanmu. Masihkan kau setia pada kerajaan yang sudah hancur atau berpegang pada yang baru?”
Voran berdiri dengan senyum kemenangan di wajahnya. Tatapan matanya juga memberikan tekanan yang berbeda.
Sikapnya yang tenang seolah ia mengendalikan segalanya dan tahu apa yang akan dikatakan oleh Selek Valaunter membuat perasaan siapa saja yang melihatnya tidak nyaman dan tertekan.
Mival Belloc mendengarkan perkataan Voran dan tidak bisa tidak memikirkan nasib keluarganya. Perasaan dikendalikan dan tak berdaya segera memenuhi dirinya.
Berbeda dengan Mival Belloc, Selek Valaunter berharap jika dia mati dalam perang sebelumnya daripada berada dalam situasi seperti ini.
Valaunter benar-benar tidak memiliki pikiran untuk menghapus kesetiaannya. Namun, ketika dia mengingat nasib keluarganya, perasaannya mulai menjadi kacau.
__ADS_1
“Apa hubungannya dengan keluargaku. Mereka ya mereka, aku ya aku!” bentak Selek Valaunter mencoba untuk memutuskan hubungan dengan keluarganya dan menanggung segala hal buruk yang akan terjadi nanti.
“Kau bisa mengendalikan mereka seperti yang kau inginkan, tapi kau tak akan bisa melakukannya padaku. Tidak bisa dan tidak akan pernah terjadi! Pedangku hanya kuperuntukkan bagi mereka yang pantas kulayani dan kau bukan salah satu dari mereka!” tegas Valaunter dengan suara yang serak dan mengelegear.
Voran tak terpantik oleh ucapan Valaunter. Dia tahu situasi akan selalu berkembang pada titik ini. Dia hanya menatapnya dengan tatapan belas kasihan, sebuah tatapan yang muncul saat melihat seekor semut.
“Kau mungkin berpikir aku akan membunuhmu lalu keluargamu, bukan?” tanya Voran dengan nada bimbang.
“Aku tidak serendah itu,” ucap Voran dengan tegas seperti orang suci.
“Palingan, aku hanya akan menguliti keluargamu tepat di depan matamu dan membiarkanmu hidup. Yah … aku ingin melihat bagaimana kau bisa bertahan melalui neraka itu. Kau seseorang yang tangguh dan orang dengan sikap itu sangat kuinginkan,” ucapnya dengan dingin dan tatapan membunuh.
“Beraninya kau … “ Valaunter menggertakkan giginya marah, tapi di waktu yang sama dia juga tak berdaya. Dia sedikit goyah, tapi auranya malah lebih kuat.
Voran begitu tenang saat menghadapi Valaunter yang begitu keras kepala dan enggan untuk menyerah padanya walaupun dia sudah berada dalam situasi yang tak dapat diselamatkan lagi.
Voran tak terpengaruh oleh perubahan situasi yang terjadi dalam sekejap mata akibat dari aura yang dikeluarkan oleh Valaunter.
Meskipun dia sudah menerobos, aura yang Valaunter keluarkan masih menekannya. Hal itu sedikit membuatnya tak berkutik, tapi Voran menyembunyikannya.
Di dalam penjara yang cukup sempit itu, ia melihat Valaunter dan Mival Belloc. Meski, fokusnya terus tertuju pada Valaunter. Voran tak mengabaikan Mival Belloc.
Selama mereka berdua bersedia menerima tawarannya, ia tak ragu untuk memberikan mereka berdua posisi yang sesuai dengan kemampuannya.
Voran mengamati perubahan ekspresi Valaunter. Wajahnya yang kusut masih memberikan rasa tekanan yang tak terkira.
Seandainya dia belum menerobos, sulit untuknya berada di depan Valaunter seperti saat ini. Meski begitu, dia merasa bila mulai terlihat perubahan positif pada Valaunter.
Voran merasa jika pria itu tengah mempertimbangkan apa yang dia ucapkan beberapa saat lalu. Sulit untuk mengabaikan keberlangsungan kehidupan suatu keluarga saat pilihan yang ada sangat timpang.
Voran mondar-mandir dan mengarahkan pandangannya pada Valaunter serta Mival Belloc silih berganti. Dengan mengamati ekspresi mereka, dia bisa menduga apa yang akan mereka lakukan.
Cukup lama Voran melakukan itu. Dia tak menanyakannya lagi dan terus mengamati mereka berdua dengan tenang.
Hainz berkeringat dingin waktu dia mendampingi Voran di dalam penjara. Menyaksikan situasi berjalan, ia tidak bisa tidak menelan ludah setiap kali dia merasakan perubahan berat udara di sekitar mereka.
Voran memperhatikan Valaunter dan Mival Belloc. Ia tahu salah satu dari mereka telah membuat keputusan dan itu terjadi setelah dia datang ke tempat tersebut.
Voran berharap untuk Valaunter luluh dan mau bergabung dengannya. Sayangnya, hal itu tidak terjadi. Hanya Mival Belloc yang memutuskan untuk mengikutinya.
__ADS_1
“Benarkah kau tidak melakukan apapun terhadap keluargaku?” Hanya satu hal yang Mival Belloc khawatirkan semenjak dia tertangkap dan terpenjara. Dia sangat mengkhawatirkan keluarganya. Tanpa tahu situasi keluarganya, dia tidak bisa tenang.
Voran mendengarkannya dan dia tersenyum saat ia melihat raut wajah Mival Belloc yang menunjukkan sisi lemah serta khawatir.
“Kau bisa tenang, selama kau berada di dalam penjara, mereka adalah jaminanmu. Aku hanya perlu tahu sikap apa yang kau miliki terhadapku. Sekarang, aku sudah melihatnya sehingga aku bisa menjamin jika mereka akan tetap hidup.”
Voran sama sekali tidak merasa terbebani dengan apa yang dia katakan pada Mival Belloc. Senyumannya yang begitu hangat memancarkan aura dingin untuk mereka yang melihatnya.
Bahkan, Valaunter pun merasa bila Voran tampak bermuka dua. Dia mengatakan sesuatu yang kejam dengan senyum yang hangat.
Walaupun dia mengatakannya dengan sebuah senyum, matanya memancarkan rasa dingin yang menusuk jiwa.
Tatapannya begitu mengerikan dan mengintimidasi. Mival Belloc yang semula sudah mendapatkan harapan pun merasa bila semuanya bisa berubah hanya dalam sekejap mata.
Mival Belloc yakin bila saja Voran akan membunuh seluruh keluarganya seandainya saja ia tetap bersikeras pada keputusan awalnya.
Meski Voran tak memberinya sebuah tawaran secara langsung atau mengatakannya secara eksplisit. Ia merasakan ucapan Voran pada Valaunter juga ditujukan pada dirinya.
Oleh sebab itu, Mival Belloc memikirkannya dengan serius, ia tidak bisa membuat sebuah kesalahan yang akan menuntunnya pada sebuah kehancuran.
Jika hanya dia yang akan menghadap konsekuensi atas penolakan, ia tak akan ragu untuk tetap pada pilihan awalnya. Namun, semua tak sesuai dengan harapannya.
“Mival Belloc, tidak perlu bagimu resah akan situasi keluargamu. Mereka masih aman dan hidup. Sekarang, kau hanya perlu memberikan seluruh tenaga dan pikiranmu untuk melayaniku. Akulah Rajamu, bertarunglah untukku dan juga rakyatku.”
Voran berbalik dan menatap Mival Belloc yang sedang menatap dirinya dengan tatapan mata yang meragukan.
Voran melihat keraguan di mata Mival Belloc saat pria itu menatapnya. Setelah melihatnya, dia bergegas mengalihkan pandangannya kembali ke Valaunter yang masih tetap pada posisi awal.
Ekspresinya memang mengalami perubahan tapi tidak banyak. Voran sedikit mendesah saat melihatnya. Dia tahu akan sulit meruntuhkan dinding yang dimiliki Valaunter.
“Mereka … penduduk Kerajaan Arannor akan menjadi rakyatku dan aku tak mendiskriminasi mereka. Maka dari itu, kau harus berjuang untuk mereka dengan bertarung atas namaku dan membawa kejayaan serta kemenangan pada Kerajaan Salauster! Camkan itu di dalam kepalamu Belloc,” ucap Voran.
Dengan melepaskan api semangatnya dan menekankan perjuangan untuk rakyat. Voran memberikan penampilan berbeda dari sebelumnya, seolah kejadian sebelumnya tidak berasal darinya.
Mival Belloc juga melihat Voran dengan cahaya berbeda, begitu juga Selek Valaunter. Perkataannya tadi membuat suasana menjadi berbeda.
“Kerajaan dan Raja bisa berubah, tapi para penduduk dan rakyat akan tetap ada!” Voran menegaskannya lagi dan mengatakannya dengan lantang serta penuh penekanan.
__ADS_1