The Heaven World

The Heaven World
Malam yang bising


__ADS_3

Di malam hari, di perbatasan antar kerajaan, yakni wilayah Perbukitan Bintang. Bentrokan terjadi di beberapa area. Mayat-mayat tergelantung di pepohonan ataupun tergeletak di sepanjang jalan. Bau busuk menyengat memenuhi area di sekitarnya.


Tanpa ada yang menyadari pergesekan tersebut. Ketiga pemimpin pasukan koalisi bertemu dan mengadakan sebuah rapat untuk mendiskusikan jalannya perang di keesokan harinya.


Di dalam tenda yang cukup megah, tiga orang duduk berhadapan dan membawa para pengawalnya. Mereka ialah, Wallace Krom, Gregor Leon, dan Richard Veus.


Pertemuan tiga kekuatan kerajaan terlaksana di malam hari dan diprakarsai oleh Veus. Larsson sendiri bertindak sebagai pengawal dan hanya ikut serta di dalam pertemuan itu.


Wallace Krom, pria gagah dengan rambut lebatnya yang tidak begitu panjang. Dia duduk sembari mengamati Veus serta Gregor Leon. Disamping itu ada dua Kultivator yang memancarkan aura kuat berada di belakang Wallace Krom dan mereka bersikap waspada.


Berbeda dengan Wallace Krom yang memancarkan aura dominan dan agung. Gregor Leon tampak begitu biasa dan tak memiliki figur yang mencolok. Namun, ada satu hal yang membuatnya menarik, yakni sikap tenangnya yang bak sebuah gunung.


Veus menatap Gregor Leon, pria paruh baya dengan wajah tampan dan penampilan cukup sangarnya. Lalu, dia melirik ke arah Wallace Krom yang bertindak dominan serta memiliki rasa percaya diri yang tak terukur.


“Terima kasih, kalian sudah memenuhi undanganku dan berkumpul di sini,” ucap Veus dengan suara yang hangat dan terdengar mudah didekati.


“Saat ini, kita berada di dalam sebuah situasi yang buruk. Kerajaan Edarecia mengirim seorang Jenderal yang berpengalaman lagi memiliki trik-trik yang tidak bisa kita pahami dengan sembarangan. Jadi, aku ingin mencari tahu apa rencana kalian masing-masing?” tanya Veus.


Wallace Krom tersenyum meremehkan saat mendengarnya. Kepalanya sedikit menggeleng ketika mendengar hal itu. “Apa untungnya bagiku membagikan rencanaku padamu, Richard Veus? Kau bukan pemimpinku dan kita hanya bekerja sama saja, bukan?”


Veus tersenyum kecut menanggapi pertanyaan itu. Lalu dia menjawabnya, “Memang tidak ada keuntungan yang akan kau dapatkan dengan memberitahukan rencanamu. Namun, jika kau mengatakan rencanamu, kita bisa menambahkan beberapa detail ke dalam rencanamu sehingga efisiensi rencana itu bisa meningkat. Selain itu, kita bisa menghubungkan tindakan kita dalam satu gerakan.”

__ADS_1


Gregor Leon tetap tenang saat mendengarnya. Dia mengamati mereka selama beberapa detik sebelum berkata, “Jadi, kau meminta kita berkumpul untuk membahas masalah ini?”


“Ya,” jawab Veus.


“Kalau begitu, kau pasti sudah memiliki sebuah rencana untuk pertempuran besok bukan, Veus?” tanya Gregor Leon.


Veus tersenyum dan menjawabnya, “Tentu saja, aku memiliki rencana. Untuk memaksimalkan kekuatan kita, aku merasa perlu sebuah kerja sama yang nyata. Jadi, mengetahui rencana kalian, aku bisa membuat gerakan yang lebih baik. Pastinya, aku juga akan memberitahu kalian rencanaku juga.”


Wallace Krom mendengus seraya melirik Veus dengan tajam. “Lalu, apa rencanamu, Veus? Apa yang akan kau lakukan pada dinding mayat itu?”


“Kekalahan yang terjadi beberapa waktu lalu sudah memberikan pukulan kuat pada pihak kita. Jika kita tidak bisa mengambil keuntungan dari mereka, aku tidak tahu akan jadi seperti apa situasi di pihak kita nantinya,” sambungnya.


Gregor Leon menjadi lebih serius dan tampak jika dia setuju dengan ucapan Wallace Krom. “Perkataan Krom benar adanya, Veus. Namun, kesampingkan masalah itu terlebih dahulu. Saat kni kita tidak tahu siapa pemimpin pasukan musuh. Kekurangan informasi ini menjadi sebuah variabel yang cukup fatal. Bagaimana langkah kita menghadapi masalah ini?”


“Krom, Leon, aku memikirkan beberapa orang saat melihat cara mereka bertempur dan sikap mereka saat ini. Namun, aku tidak sepenuhnya yakin. Lagipula, kita akan mengetahui hal ini esok hari. Jika kalian ingin mengetahui identitas lawan maka untuk perang esok hari kita hanya memiliki satu pilihan saja, yakni bertahan,” ucap Veus dengan raut wajah serius.


Dengan tiga pasukan mengambil sikap bertahan dan menekan, Veus yakin musuh akan merasa tertekan dan terdesak oleh waktu hingga membuat mereka mengambil sebuah keputusan untuk melakukan penyerangan.


Namun, memfokuskan seluruh kekuatan untuk bertahan juga bukan pilihan yang bijak. Oleh karenanya, ada beberapa hal yang perlu disiapkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.


“Bertahan? Apa maksudmu dengan bertahan, Veus?” tanya Wallace Krom yang tak begitu menyukai saran itu.

__ADS_1


Wallace Krom lebih menyukai sebuah pertempuran langsung dibandingkan dengan pertempuran yang memakan waktu lama. Selain menguras tenaga dan pikiran, perang yang berlangsung lama tidak akan memberikan hal baik.


Berbeda dengan Wallace Krom, Gregor Leon tampak merenungkan ucapan Veus dan memikirkan situasi di medan perang, terutama dinding mayat.


“Kau benar, tidak ada untungnya untuk memulai pertempuran langsung. Inisiatif peperangan tidak ada di tangan kita, melainkan mereka. Jika kita memilih menyerang, maka mereka akan diuntungkan. Moral pasukan juga akan hancur di waktu mereka berada di depan dinding mayat itu,” ujar Gregor Leon dengan serius dan suaranya yang dalam membuat suasana makin berat.


“Bukan hanya itu saja, mereka juga mengharapkan kita menyerang. Kita tidak tahu apa yang mereka siapkan dan lakukan di balik dinding mayat itu. Dengan taktik tak lazim nan keji ini, mereka akan mampu menahan kita untuk waktu yang tak sebentar,” sambungnya.


Wallace Krom tampak tak suka dengan suasana yang begitu berat ini dan dia hendak menampar meja di depannya. Namun, gerakannya terhenti karena Veus berbicara dengan nada yang berat dan tampang yang serius.


“Mereka menginginkan tambahan waktu demi bala bantuan. Aku bisa pastikan itulah yang mereka incar, mereka ingin mengulur-ulur waktu dan menguras kekuatan kita. Jadi, kita akan mengamati mereka pada hari pertama dan melihat apa yang akan mereka lakukan,” seru Veus.


Lalu, dia menatap mereka dengan mata yang membara dan penuh keyakinan seraya menyambung ucapannya. “Tidak hanya mereka yang menunggu bala bantuan, aku juga menunggunya. Selama mereka mengulur waktu, maka pihak kita juga bisa mendapatkan tenaga segar. Yang terpenting, kita harus mengamati pergerakan mereka!”


Gregor Leon setuju dengan saran yang Veus berikan dan dia memilih untuk mempercayainya sehingga dia memberitahukan rencana awalnya. Setelahnya, dia akan mengikuti rancangan yang Veus buat.


Sedangkan, Wallace Krom hanya bisa menahan ketidaksukaannya terhadap rencana semacam ini dan ia menerimanya dengan terpaksa. Mereka sepakat di malam itu untuk mengambil jalan yang lebih stabil.


***


Di malam itu, selain pertemuan yang Veus lakukan. Salvatora dan Jenderal Crock juga mengadakan rapat untuk perang besok.

__ADS_1


Di sisi lain, pergesekan antara para pengintai menjadi lebih sengit di kala malam tiba. Bau darah menyebar di udara dan membangkitkan hasrat membunuh di setiap benak para pengintai. Lolongan hewan-hewan malam terdengar bersamaan dengan bunyi besi yang saling beradu.


Malam itu menjadi malam yang bising untuk semua orang.


__ADS_2