
Beberapa hari setelah perang berakhir, Voran akhirnya sadar. Voran menemukan situasinya sama seperti ketika dia pertama kali datang.
Selain itu, dia juga merasakan adanya luapan energi di seluruh tubuhnya. Voran tersenyum lebar dan juga meringis kesakitan.
Voran memahami luapan energi itu ada karena ia berhasil menerobos tahap 2-0 dan melewat masa kritisnya, sesuai dengan rencananya.
Namun, dia tak mengharapkan situasi akan menjadi seperti ini. Bertumpuknya Qi tidak murni dalam jumlah besar di dalam Kolam Qi membuatnya merasa tidak nyaman.
Kebutuhannya akan Pil Penguat meningkat setelah dia mengetahui situasinya. Voran ingin segera mengonsumsi pil tersebut. Sayangnya dia tidak bisa meninggalkan ranjangnya saat ini dan hanya bisa beristirahat sampai pulih.
Berita tentang Voran yang siuman segera terdengar oleh Veus dan Larsson. Mereka berdua segera menemui Voran yang baru saja siuman.
Mereka berdua memiliki berita yang sama-sama pentingnya dan membutuhkan persetujuan Voran untuk memulainya.
Di dalam kamarnya, Voran berbaring di ranjang yang empuk dan halus. Beberapa pelayan membawakan buah-buahan dan air putih untuknya.
Sembari memikirkan semua yang terjadi, dia mengisi perutnya dengan buah-buahan. Ketika pikirannya melayang cukup jauh dan menjelajahi seluruh situasi yang sudah dia alami, pintu kamarnya terbuka dan dua sosok yang akrab segera masuk dan menyapanya.
“Syukurlah Yang Mulia sudah siuman,” ucap Veus sambil memberikan sapaan.
“Kami merasa sangat terpukul dengan keadaan Yang Mulia. Bolehkan kami tahu apa yang membuat Yang Mulia sampai memaksakan diri hingga membuat Yang Mulia tak sadarkan diri?” Veus yang selesai menyapanya segera menanyai Voran terkait dengan tindakan gegabah yang sudah ia lakukan.
Voran mengangguk dan dengan tenang dia membalasnya. “Tidak apa. Tidak ada yang buruk. Ini hanya masalah kecil saja.
“Aku memang mendorong diriku sampai batas untuk mengetahui seberapa efektif kekuatan itu. Memang ada efek yang cukup buruk, tapi kau bisa merasakannya bukan? Kekuatanku sudah setara denganmu Veus. Walaupun aku membutuhkan banyak waktu untuk benar-benar mengonsolidasikan kekuatan ini menjadi kekuatanku seutuhnya.”
__ADS_1
Berbeda dengan Veus yang begitu khawatir dan heran dengan tindakan yang Voran lakukan. Larsson menerimanya dan ia datang menemui Voran bukan hanya untuk memastikan bila ia baik-baik saja.
Namun, untuk mencari tahu keputusan apa yang akan Voran berikan terhadap Westian dan keluarganya yang saat ini sudah ia tawan.
“Maaf, Yang Mulia. Ini mungkin lancang dan tak seharusnya aku tanyakan di waktu seperti ini. Namun, situasi yang mendesak membuatku tak memiliki pilihan lain selain menanyakannya saat ini-”
Larsson tak mengatakannya secara langsung, tapi menjedanya beberapa saat setelah melihat perubahan dari Voran.
“Apa yang akan Yang Mulia lakukan terhadap Westian dan keluarganya?” tanyanya.
“Kehadiran mereka telah menjadi faktor tidak tentu yang penuh dengan ancaman. Apakah Yang Mulia akan menyingkirkan mereka semua atau membiarkan mereka membusuk di penjara seperti saat ini?”
Voran mendengarkannya dan menimbang-nimbang pilihan yang ada.
Bila dia menyimpann atau memenjarakan mereka. Ada kemungkinan mereka kabur atau lolos yang di kemudian hari nanti mereka akan membalas dendam dan mengacaukan kerajaannya.
“Sudahkah kau pastikan menangkap seluruh keluarga? Kalau kau belum memastikannya, lebih baik untuk memenjarakan mereka terlebih dahulu,” ucap Voran dengan keraguan.
“Namun, jika semuanya sudah kau tangkap tak peduli tua maupun muda, bahkan bayi sekalipun. Aku bisa memberimu kuasa untuk mengeksekusi mereka semua dan membersihkan ancaman itu.” Voran mengatakannya dengan suara yang cukup lemah tapi masih terdengar jelas.
Setelah mendengar keputusan tersebut, Larsson tersenyum. Dia sudah mengantisipasi hal ini. Jadi, dia menangkap seluruh keluarga ataupun orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan Arannor Westian sejak awal.
Larsson memenjarakan mereka di penjara yang sama dengan Selek Valaunter dan juga Mival Belloc. Begitu dia tahu tugasnya, ia tak banyak berbicara dan dia hanya mendengarkan Veus yang mengangkat topik tentang mencerna wilayah-wilayah yang belum mereka taklukkan.
Mendengar tentang empat wilayah yang belum mereka taklukkan membuat Larsson berpikir bila pertempuran masih bisa terjadi kapan saja. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk menemukan bibit-bibit Jenderal yang tangguh.
Walaupun dia tak begitu suka terlibat dengan kerajaan secara langsung, dia tetap memperhatikan keadaan kerajaan.
__ADS_1
Apalagi saat ini, dia merasa lebih tertarik untuk terlibat dengan kerajaan setelah melihat keputusan yang Voran ambil cukup sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
“Jadi kau menyarankan untuk mempertahankan posisi mereka selama mereka mematuhi perintahku. Sedangkan, untuk mereka yang menolak kau akan menggunakan kekerasan untuk mengambil alih tempat itu.”
Voran mendengarkan saran yang Veus ajukan dengan serius dan dia mempertimbangkannya.
“Aku cukup setuju dengan saranmu ini. Dengan bertambahnya wilayah Kerajaan Salauster, tak dapat disangkal jika kita membutuhkan banyak bakat. Tidak hanya di militer tapi juga sisi pemerintahan,” ucap Voran yang menyutui saran itu.
“Namun, ingat ini Veus. Pertahankan mereka yang bisa setia untuk kerajaan bukan mereka yang bertengger di tempat yang aman!” Namun, dia juga memiliki garis bawah sendiri saat menyutuhi rencana itu dan dia mengatakannya langsung.
“Ya, Yang Mulia. Aku pastikan mereka yang mempertahankan posisi itu akan memiliki kesetiaan yang tinggi pada kerajaan. Dengan bantuan mereka, kita juga bisa menyaring bakat-bakat di wilayah tersebut,” ucap Veus penuh janji.
“Di samping masalah ini, aku juga ingin mengangkat permasalahan lain yang membutuhkan perhatian lebih. Bandit dan Para Lord yang menguasai beberapa area di sekitar wilayah yang berada dalam kekuasaan kita mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas lebih sering dari biasanya.”
Veus memberikan laporan lain akan situasi yang terjadi di kerajaan.
“Oleh karena itu, aku ingin mengajukan permohonan untuk memperluas kapasitas militer kerajaan dengan menyerap prajurit yang kita kalahkan!” seru Veus dengan penuh harap.
Voran tidak berpikir itu ide yang buruk. Para prajurit yang kalah sudah terlatih dengan baik, jauh lebih baik daripada rekrutan anyar.
Walaupun kesetiaan mereka masih cukup diragukan. Kemampuan mereka tak perlu diragukan lagi, dan merekrut mereka juga menghemat waktu.
Voran menatap Veus lekat-lekat seraya berkata, “Baiklah, kau bisa melakukannya, Veus. Kuserahkan pengaturan itu padamu. Oh … satu hal lagi, promosikan bakat-bakat muda yang ada di militer di posisi yang cukup bagus. Kita perlu memupuk mereka lebih dari ini.”
“Darah akan menjadi pembaptisan untuk mereka dan medan peranglah tempat mereka dibaptis. Untuk membersihkan bandit-bandit, kirim saja mereka. Biarkan mereka menyelesaikan masalah ini dan membuat mereka menjadi pemimpin berhati baja!”
Voran memberikan perintah tersebut dan menyesuaikan apa yang mereka katakan. Dia benar-benar tidak memikirkan masalah lain setelah pertemuan itu.
__ADS_1
Setelah mereka berdua meninggalkannya, dia mulai memurnikan Qi yang bergelora di dalam tubuhnya. Sepanjang hari dia melakukannya dan membuat tubuhnya kotor dan bau.