
Situasi di medan perang semakin panas dan sengit. Tidak hanya para prajurit saja yang bertarung mati-matian, tapi para petinggi pun juga berada dalam situasi yang sama.
Voran dihadang oleh tiga Kultivator. Dia tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi mereka dan dengan serius dia pun melawan mereka bertiga.
Dengan gesitnya Voran menghindari serangan mereka. Pukulan yang mengarah ke tubuhnya ia hindari dengan langkah kaki yang gesit. Saat dia menghindar dari pukulan-pukulan itu, ia tidak lupa menarik keluar pedang yang tergantung di pinggangnya.
Beberapa saat setelah ia menarik pedangnya, Voran segera melepaskan serangannya. “Teknik Pedang Salauster Langkah Pertama : Gelombang!”
Pedangnya berayun dengan kecepatan tinggi dan mengeluarkan gelombang Qi. Salah satu Kultivator mencoba menahan serangan Voran.
Kultivator itu mengeluarkan Qi yang begitu besar dari seluruh tubuhnya. Beberapa detik kemudian, tabrakan Qi pun terjadi yang menghasilkan gelombang kejut serta suara yang keras.
“Dia memiliki kemampuan untuk menahan seranganku. Langkah pertama pedang Salauster memang tidak begitu mematikan, tapi tidak seharusnya bisa ditahan dengan mudah,” pikir Voran.
Meski dia tidak bisa mengambil keuntungan dari lawannya, Voran tetap menyerang mereka dengan seluruh kekuatannya. Kakinya tidak berhenti melangkah saat dia menyerang maupun bertahan.
Salah satu Kultivator memperpendek jarak dan dengan keterampilan memukul yang lihai. Dia terus mendesak dan menahan gerakan Voran. Setiap pukulannya dialiri Qi dan sangat berbobot.
Voran menahan setiap pukulan yang mengarah ke dirinya. Bilah pedangnya terus menerus menerima pukulan saat dia menahan serangan Kultivator itu. Lalu, ia juga sedikit terdorong mundur akibat dari benturan yang terjadi.
“Kekuatan pukulannya terasa berat seperti sebuah palu seberat ratusan kilo. Ini berarti tingkat kultivasinya berada di tahap 2-0. Sial!!” gumam Voran.
Semakin tinggi tingkat kultivasi seseorang maka pukulannya akan menjadi semakin berat. Kultivator yang memiliki tingkat kultivasi pada tahap 1 memiliki pukulan seberat 10 kg, lalu pada tahap 2 pukulannya seberat 100kg, dan pada tahap selanjutnya berat pukulan hanya akan menjadi lebih berat lagi.
Voran terdorong mundur beberapa langkah ketika dia menahan pukulan Kultivator itu. Meski dia merasakan tekanan yang kuat dari pukulan Kultivator itu, Voran sama sekali tidak goyah. Kakinya bak paku yang menancap kuat di tanah.
__ADS_1
Ketika Voran melihat sebuah celah dari gerakan Kultivator itu, ia tak ragu untuk mengayunkan pedangnya lebar-lebar. Setelah dia mengayunkan pedang serta memutar tubuhnya, dia melepaskan serangan lain. “Teknik Pedang Salauster Langkah Pertama : Gelombang!”
Voran menggunakan teknik pedang itu untuk kedua kalinya dan kali ini dengan keberuntungan serta celah yang terbuka. Ayunan pedangnya langsung mengiris tubuh Kultivator di depannya dan darah memercik di langit biru.
Gelombang Qi mencabik-cabik tubuh Kultivator itu dan membuat Voran terhujani darah segar. Kejadian itu dilihat oleh dua kultivator lain. Namun, mereka tidak bisa melakukan satu tindakan pun. Mereka tidak siap dan tidak menduga akan gerakan Voran yang begitu cepat dan mendadak.
“Berhati-hatilah, dia bukan lawan yang mudah. Kemampuan berpedangnya cukup tinggi dan kekuatannya terasa begitu menakutkan,” ucap salah satu Kultivator.
Lalu kawannya pun membalas, “Iya. Sial sekali kita harus bertemu dengannya. Aku tidak berharap akan menghadapi lawan yang begitu tangguh. Sial! Mereka tidak memberitahu kita siapa yang kita hadapi.”
“Tenanglah dan fokus untuk menghadapinya. Kita harus menuntaskan misi ini demi kelompok. Ingatlah tugas kita dan perintah yang diberikan Tuan!” sambung pria itu lagi.
Mereka berdua terus berbicara meskipun situasi mereka tidak baik. Salah satu kawan mereka terbunuh cukup mengenaskan di tangan Voran. Kedua Kultivator itu pun menatap Voran dengan tajam dan penuh kemarahan.
Aliran Qi mengalir dengan deras dan kuat dari tubuh mereka berdua. Qi di tubuh mereka menyelimuti sekujur tubuh mereka dan tampak begitu mengintimidasi. Saat mereka menghentakkan kaki ke tanah dan melesat maju, tanah yang mereka pijak dipenuhi retakan.
Tanpa tergesa-gesa maupun ragu. Voran mengambil sikap bertahan dan mempersiapkan serangannya. Qi mengalir menuju ke pedangnya dan dia mengaktifkan kekuatan yang terpendam pada Artefak Zirah Hitam yang dia dapatkan dari Westian.
Artefak ini memiliki kekuatan untuk memberi perlindungan lebih serta meningkatkan Qi pertahanan dua kali lipat lebih banyak. Voran mengaktifkan kekuatan itu dengan mengalirkan Qi-nya ke artefak tersebut seraya menunggu mereka berdua menyerang.
Dia kultivator menyerang dari dua arah yang berbeda. Voran menatap mereka berdua silih berganti dengan tatapan mata yang tajam. Dia sedikit membungkukkan badannya ketika kedua Kultivator sudah berjarak dekat.
Tepat saat mereka berdua berada dalam jangkauannya, Voran segera melesat dengan seluruh kekuatannya hingga meninggalkan jejak yang dalam di tanah. Sembari menerjang salah satu Kultivator, Voran mengayunkan pedangnya.
“Keparat ini! Berani-beraninya dia menargetku!” teriak Kultivator yang dituju Voran.
__ADS_1
Kultivator itu menggunakan seluruh Qi dan kekuatannya untuk membuat Qi pelindung. Namun, di waktu yang sama dia juga merasakan tekanan yang sangat kuat dari Voran. Tanpa pikir panjang, dia juga melepaskan serangan dengan menerjang Voran.
Ketika ayunan pedang Voran disambut dengan pukulan yang teraliri Qi jahat. Angin berhembus dengan sangat kencang dan gelombang kejut terjadi seketika.
Voran berkeringat cukup banyak kala itu dan wajahnya sedikit memucat. Namun, Kultivator yang menerima serangannya bernasib lebih buruk. Pria itu memuntahkan darah tanpa henti dan jatuh ke tanah seketika.
Tanpa meninggalkan ruang belas kasih, Voran mengayunkan pedangnya dan memenggal pria yang jatuh tak berdaya di depannya. Sayangnya, saat dia memenggal pria itu. Dia menerima sebuah tendangan di punggungnya.
“Sialan! Aku sedikit lengah. Uhuk!” gerutu Voran setelah menerima serangan. Lepas itu dia segera berbalik dan melihat Kultivator terakhir memiliki ekspresi yang sangat buruk.
Selain itu, tubuh Kultivator itu mengurus dengan tajam dan sangat pucat, tapi Qi yang ia pancarkan jauh lebih besar dan kuat. Dua kali lebih kuat dari sebelumnya.
“Kau memaksaku menggunakan kekuatan ini. Aku akan membawamu menemani kami di kematian, Keparat!” teriak pria itu dengan suara serak yang parau dan terdengar mengerikan.
Voran segera memasang wajah yang sangat serius. Dia merasakan tekanan yang hebat dari Kultivator itu. Selain itu, dia merasakan aliran Qi yang kacau di medan perang yang membuat dirinya tertekan.
“Kau ingin membawaku? Akan aku sambut jika kau mampu melakukannya!” balas Voran tanpa gentar.
Voran melemparkan pedangnya ke udara lalu mengumpulkan Qi di tangannya. Tak berselang lama sebuah bayangan berbentuk naga muncul di tangannya. “Terima ini! Teknik Pukulan Naga : Pembersih Langit!”
Qi berbentuk naga melesat dari kepalan tangan Voran dan menuju ke Kultivator yang melesat ke arahnya. Pada saat itu, tampak udara terhenti dan kerikil berterbangan ke segala penjuru arah. Kultivator itu menabrakkan dirinya ke Qi berbentuk naga itu dan terus bergerak maju tanpa memedulikan rasa sakit yang menderu-deru di tubuhnya.
Tabrakan dua Qi itu menghisap udara di sekitarnya dan membuat sulit bernafas di area tersebut. Voran merasakan getaran hebat dari tindakan Kultivator itu. Dia melompat dan menangkap pedangnya lantas menggunakan teknik sebelumnya.
Voran mengirim serangan lain tapi dia terlempar menjauh dari lokasinya setelah tubuhnya dihantam gelombang kejut yang sangat kuat. Sampai-sampai dia memuntahkan seteguk darah ketika terlempar menjauh.
__ADS_1
Debu berterbangan dan menutup penglihatan. Debu menutupi area pertempuran dan sebuah tekanan yang sangat menghancurkan muncul di medan perang. Beberapa prajurit tergeletak dan tubuhnya menyusut lalu situasi berubah menjadi menakutkan ketika tekanan itu bertambah menjadi lebih kuat serta berdarah.