
Selama masa penyembuhannya, Voran menerima laporan dari Fasuk dan Veus terkait dengan perkembangan wilayahnya, termasuk empat wilayah yang saat ini tengah mereka coba untuk kendalikan.
Dia memang akan meninggalkan jabatan para pemimpin wilayah selama mereka memiliki sikap mendukung terhadap pemerintahannya.
Menurut Veus, hanya ada satu orang yang bisa dipertahankan dan saat ini mereka sudah melakukan kontak dengannya. Sedangkan, untuk tiga wilayah lain. Veus memutuskan untuk menyerangnya.
Penyerangan dilakukan dibawah komando Larsson dan dilakukan dengan sangat cepat.
Tiga wilayah yang menentang pemerintahan Kerajaan Salauster pun takluk hanya dalam waktu yang cukup singkat. Ketiga pemimpin wilayah termasuk keluarga mereka semua dibunuh tanpa sisa.
Informasi ini tak terlalu membuat Voran gembira. Dia sudah menyangkanya dan yakin akan hasil yang akan didapatkan oleh mereka.
Satu informasi yang membuat dia senang hingga dia mengeluarkan senyum ialah informasi yang datang dari ibukota kerajaan alias dari Fasuk.
Informasi itu membawa kabar tentang diplomat yang dikirim oleh Kerajaan Elaydric dimana mereka ingin membangun hubungan kerja sama dan pakta non-agresi.
Tentu saja dia senang ketika dia membacanya.
Dari tiga kerajaan di sekitarnya, Kerajaan Edarecia merupakan yang terkuat dan yang paling mengancam, meski Kerajaan Sevaeni tidak kalah berbahayanya.
Voran merasa tidak bisa menghadapi Kerajaan Edarecia ataupun bekerja sama dengan kerajaan itu.
Kerajaannya hanya bisa bersikap netral terhadap kerajaan yang memiliki wilayah kekuasaan yang tidak sedikit dan kekuatan militer yang begitu mengancam.
Dengan bekerja sama, Voran ingin membangun benteng pertahanan yang kokoh dan juga melancarkan serangan terhadap Kerajaan Edarecia.
Tentu saja, dia tidak akan menjadi satu-satunya pihak yang akan menyerangnya.
Sayangnya, saat ini dia tidak bisa mengambil keputusan tersebut. Masih ada beberapa masalah yang harus dia selesaikan sebelum mengambil langkah tersebut.
Voran juga mendapatkan sebuah gulungan laporan dari Stuart dan Departemen Intelijen dimana mereka sudah meningkatkan jumlah mereka dan menyebarkannya ke seluruh wilayah kerajaan.
Meski anggotanya belum memiliki kemampuan yang tinggi, Stuart sudah memberikan laporan mengenai seluruh situasi yang ada di kerajaannya saat ini.
Pada waktu Voran membacanya, dia bisa melihat gambaran seperti apa yang ada dalam kerajaannya.
“Ada kerusuhan setelah pembersihan berakhir. Fasuk, apa kau bisa menyelesaikannya?” batin Voran ketika dia membaca informasi itu.
“Kau harus memiliki alasan yang tepat untuk mengeksekusi rencana itu. Jika Swaster Merran tak bisa mempercayainya, maka kita tidak akan bisa memanfaatkannya.”
Voran khawatir akan situasi di kerajaannya. Apalagi, dia juga memiliki rencana yang sudah ia diskusikan dengan Fasuk sejak dia mengambil keputusan untuk membersihkan beberapa bangsawan yang ada di dalam kerajaannya.
__ADS_1
Tentu saja, dia perlu menyiapkan sebuah alibi tepat untuk menutupi tindakan yang mengerikan itu.
Dia sama sekali tidak khawatir dengan wilayah-wilayah yang belum ditaklukkan.
Masalah yang ada di dalam kerajaannya mulai bersih sedikit demi sedikit, hal ini benar-benar memberikan sebuah pandangan baru untuk langkah yang akan dia ambil. Kedatangan Diplomat dari Kerajaan Elaydric juga memberi dia secercah harapan.
Sebenarnya, dia ingin menghapus ancaman terbesar yang ada di sekitarnya, ancaman apa lagi yang besar selain dari Kerajaan Edarecia dan Kerajaan Sevaeni.
Voran berbaring di ranjang sambil menganalisa setiap laporan yang diberikan padanya. Masalah-masalah besarlah yang menjadi perhatiannya, terutama beberapa masalah hukum yang akan mulai terlihat setelah seluruh wilayah terintegrasikan.
“Masalah pangan tak perlu aku khawatirkan. Ladang pertanian dan wilayah yang menghasilkan sumber pangan di dalam wilayahnya terlindungi dengan baik. Keamanan dan hukum, dua ini pasti akan menjadi masalah untuk ke depannya setelah aku berhasil menganeksasi wilayah-wilayah itu. Aku harus mempersiapkannya.”
Voran menulis banyak hal tentang pikirannya akan hukum dan ketertiban yang ingin dia ciptakan untuk kerajaannya.
Saat membuatnya, dia memikirkan tentang masalah-masalah kecil, dan juga yang menjadi masalah terbesarnya ialah pemberontakan.
Dia tak ragu untuk membentuk hukum yang kejam khusus pada masalah ini. Dia tidak ragu untuk membuat hukum tiga generasi.
“Ini sedikit kejam dan berat, tapi tak masalah. Untuk para pemberontak, tak pernah ada kata maaf maupun pengampunan!” geramnya.
“Mereka layak untuk mati, dan menghapus bibit masalah harus kulakukan sejak awal. Jadi, menghancurkan keluarga seorang pemberontak akan membereskan semua itu. Mungkin ini kejam dan akan menarik banyak kontra, tapi itu tak masalah!”
Tekadnya membulat saat dia memikirkan rencana pembuatan hukum tiga generasi. Dimana hukum ini merupakan hukum yang kejam, tapi ia hanya menujukan hukum ini untuk para pemberontak.
Dia menulis dalam sebuah gulungan lalu menyimpannya. Dia akan membahas perkara ini dengan Fasuk setelah dia kembali ke Kota Higgster.
Hari setelahnya, dia bisa bangun dari ranjangnya. Secepat mungkin Voran keluar untuk melihat situasi di dalam kota yang sudah dia tempati.
Istana yang begitu megah membuat dia sedikit tidak nyaman, dia menuju ke taman yang berada di halaman belakang istana.
Di sana dia duduk dengan tenang menikmati ketenangan yang ada. Beberapa pengawal berada di sekitarnya termasuk Hainz.
“Tidakkah ada reruntuhan bersejarah? Haruskah aku mengirim pasukan ekspedisi khusus untuk menjelajahi beberapa tempat demi mencari lokasi-lokasi khusus semacam itu?” pikir Voran saat dia duduk di taman.
Sejenak dia memikirkan petualangan yang indah, tapi dia mengurungkannya karena kerajaan masih memiliki beberapa masalah mendesak.
“Tampaknya layak untuk kucoba. Mungkin aku akan menemukan beberapa hal yang mengejutkan.”
Tidak ada yang membuatnya tertarik selain petualangan yang mendebarkan untuk saat ini. Namun, dia bukanlah pria yang suka dengan hal semacam itu, tapi dia tertarik.
Voran merasakan hembusan udara ringan yang menerpa wajahnya membuat matanya sayup-sayup. Dia merasa seperti ditidurkan dan benar-benar melakukannya beberapa menit kemudian.
Di waktu Voran menikmati waktunya, Veus mengatur beberapa hal terkait dengan militer. Dia merekrut mantan prajurit Kerajaan Arannor.
__ADS_1
Veus menyebar para prajurit di dalam pasukannya untuk mengisi kekosongan yang terjadi akibat banyaknya korban yang jatuh dalam peperangan sebelumnya. Dia juga menemukan beberapa bakat muda yang baik dalam proses perekrutan itu.
“Yang Mulia sudah menyetujuinya, ini baik untuk perluasan militer. Dengan pasukan yang membengkak, pasti dibutuhkan banyak bakat untuk mengisi posisi-posisi yang kosong,” gumamnya saat Veus menyelesaikan beberapa masalah militer.
“Tidak mudah untuk menemukan bakat mumpuni atau talenta yang baik. Namun, melihat daftar yang aku pegang saat ini. Aku rasa ini sudah yang terbaik!”
***
Di dalam penjara, Selek Valaunter dan Mival Belloc saling berhadap-hadapan. Wajah mereka pucat dan tirus.
Pandangan mata mereka sangat suram dan lebih gelap daripada jurang. Mereka masih dalam kondisi terluka. Mereka duduk dengan lemahnya dengan kedua tangan yang diborgol di kedua sisi dalam posisi meregang.
“Huh!! Huft!! Huft!! Belloc, apa yang terjadi padamu dan bagaimana kau bisa sampai disini?” Valaunter bertanya dengan terbata-bata dan mengatur nafasnya beberapa kali. Ia tak memiliki banyak tenaga dan harus menahan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya.
“Tuan, aku tidak tahu. Terakhir kali, aku hanya mengingat pertarunganku dengan seorang pemuda yang mungkin seusiaku atau di bawahku. Namun, pemuda itu aneh. Dia bertambah kuat hanya dalam hitungan detik di waktu aku bertarung dengannya. Serangannya masih terasa sakit hingga sekarang.”
Mival Belloc mengingat kembali pertarungannya dengan Voran yang mengejutkannya. Dia juga memegang dadanya tempat dimana ia menerima serangan Voran. Wajahnya sedikit menunjukkan ekspresi kesakitan.
“Pemuda dengan kekuatan yang tak biasa,” ucap Valaunter dengan nada menerka dan mengingat-ngingat.
“Mungkin dia sang Raja. Sebuah pengetahuan umum jika seorang raja memiliki berkah atau kekuatan yang melampaui orang biasa.” Valaunter mengingatkan Mival Belloc akan informasi umum.
“Jika dia mampu meningkatkan kekuatannya hanya dalam sekejap mata, aku hanya bisa memikirkan sang Raja. Apalagi di tempat seperti ini, hanya para raja yang memiliki kekuatan seperti itu. Patutlah bila kau kalah,” ucap Valaunter dengan nada lemah. Nafasnya cukup berat saat itu.
“Bagaimana nasib kita sekarang, Tuan? Apakah kita akan dieksekusi?” Belloc tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya akan hal tersebut.
Selek Valaunter menggelengkan kepalanya dengan lembut. “Argh! Aku rasa tidak. Mereka pasti ingin merekrut kita. Aku yakin itu dengan pasti. Tidak mungkin mereka akan membunuh kita, mereka membutuhkan kita untuk mengendalikan situasi di kerajaan.”
Valaunter mengatakannya dengan percaya diri meskipun suaranya lemah dan sesekali ia bernafas dengan tarikan yang berat.
“Mereka pasti akan memperluas militer dan orang-orang seperti kita pasti sangat dibutuhkan. Tenang saja, kau bisa memutuskan apapun yang kau inginkan Belloc, aku yakin keluargamu menunggu di luar sana,” ucapnya lagi. Ia memiliki senyum hangat di wajahnya.
“Bukankah kau juga sama, Tuan?” tanya Mival Belloc. Matanya beberapa kali bergerak dan mempertanyakan keputusan yang Valaunter miliki.
Meski Valaunter tak mengatakan keputusan macam apa yang akan diambilnya. Mival Belloc mampu mengetahuinya melalui ekspresi di wajah Valaunter. Wajah yang teguh dan penuh tekad untuk meninggalkan segalanya.
“Kenapa kau berbicara seperti kau sudah memutuskan untuk menolak apapun tawaran mereka. Apa kau akan menolak mereka, Tuan?” Raut wajah Mival Belloc dipenuhi dengan keraguan saat menatap Valaunter yang tampak sudah memiliki jawabannya sendiri.
Sikap Valaunter yang keras tampak jelas baik dari wajahnya maupun saat dia mengepalkan tangannya sangat erat hingga rantai dan borgolnya bergetar.
__ADS_1
Saat mereka berdua sedang berbicara akan nasib mereka. Voran datang dengan langkah tenang bersama dengan Hainz dan beberapa pengawal.
“Tampaknya aku datang di waktu yang tepat.” Senyum Voran merekah saat melihat mereka berdua.