
Selek Valaunter sedikit tergoda dengan janji yang Voran berikan. Siapa yang tidak tergiur coba dengan janji seperti itu? Posisi Gubernur Jenderal bukanlah posisi kecil.
Sayangnya, dia belum bisa menerimanya karena satu alasan yakni, dia kalah dalam pertempuran dan kekalahan yang dia derita sangat melukai harga dirinya. Walaupun dia tahu bila kekalahan itu ia dapatkan akibat dari kecerobohannya.
Disamping itu dia tidak bisa menerima kekalahan tersebut yang membuatnya menolak tawaran yang Voran berikan.
Kekalahan itu dan tawaran yang Voran lakukan terus berputar-putar di benaknya dan mengganggunya.
Pergolakan pun terjadi di dalam benaknya. Kebanggaannya sebagai seorang Marshal yang patriotik bertarung dengan keinginannya menyelamatkan keluarganya yang kini menjadi tawanan musuh.
“Haruskah aku menerimanya?” pikirnya.
Selek Valaunter menggeleng dan mengernyit.
“Tidak, aku tidak bisa menerimanya. Akan sangat memalukan jika aku menerima tawaran ini? Bagaimana aku bisa melihat prajuritku jika aku mengalah pada mereka dan tunduk padanya? Aku tidak bisa menerimanya,” tegasnya dalam hati.
“Akan tetapi, apa yang akan terjadi pada keluargaku jika aku menolaknya? Sialan! Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Seharusnya aku mati di medan perang bukannya di tawan seperti ini,” pekiknya dalam hati saat dia merasa kesal dengan situasi yang dia hadapi.
Sulit untuknya menerima semua ini, terutama situasi keluarganya. Terkadang sebuah keluarga bisa menjadi titik lemah yang mematikan tapi juga bisa menjadi sebuah pembangkit daya juang.
Selek Valaunter tidak ingin keluarganya menjadi titik lemahnya sekaligus sebuah kelemahan untuknya yang bisa dieksploitasi oleh musuh kapan saja. Oleh sebab itu, ia memperlihatkan sikap yang keras dan sulit untuk berkompromi di kala keluarganya menjadi tawanan.
Selek Valaunter mengalami pergolakan batin yang kuat. Auranya berubah-ubah dari wajah yang menunjukkan ekspresi sengit kemudian berubah menjadi tampilan pembunuh lantas berakhir menjadi lebih lesu di setiap detiknya. Dia menimbang-nimbang keuntungan dan kerugian yang ada pada situasi saat ini.
Selain keluarganya yang disandera, ia merasa jika nasib seluruh penduduk juga bergantung padanya. Hal itulah yang membuat dia berpikir ulang hingga menyebabkan ekspresinya berubah-ubah hingga menjadi lesu.
Setelah beberapa saat mengalami pergolakan yang kuat, akhirnya ketegasan muncul di mata dan ekspresinya.
Bagaimanapun juga, dia tidak melihat adanya kerugian bila dia menerima tawaran yang Voran berikan. Posisi Gubernur Wilayah pastilah memiliki kekuatan yang besar dan juga kekuasaan akan berada di tangannya.
Selek Valaunter memikirkan semua itu hanya dalam hitungan detik. Meski tubuhnya memburuk, pikirannya menjadi semakin tajam. Dia tahu jika berada di kapal yang sama dengan Voran akan memberikan banyak keuntungan dan sekarang dia sudah memutuskan.
__ADS_1
“Apa kau tidak bercanda saat memberikan sebuah posisi tinggi pada lawanmu yang sudah kalah dan lemah ini?” tanyanya dengan suara yang tajam dan berdarah.
“Harusnya kau tahu bahaya dan risiko dari tindakan ini, bukan? Aku bisa saja memimpin seluruh wilayah Provinsi Aran dengan baik, tapi juga bersiap untuk menghancurkanmu!” ancamnya.
“Apa kau percaya dan yakin bila aku tidak melakukan hal semacam itu?”
Selek Valaunter mengancam Voran terang-terangan. Tidak ada keraguan dalam matanya saat ia mengatakannya. Selek Valaunter benar-benar menunjukkan citra seseorang yang setia pada kerajaannya.
Di sisi lain, dia juga memberi perasaan tidak menyenangkan. Siapapun yang melihat ekspresi dan sikapnya pasti akan jengkel dan terancam.
Namun, Voran tidak bergeming dan dia menatap Selek Valaunter lebih dalam lagi dan tatapan matanya penuh dengan penghargaan.
Voran tidak mengira dia akan mendengar hal semacam itu dari Selek Valaunter.
Dari perkataannya yang mengandung ancaman, dia bisa melihat sebuah harapan yang cukup besar dari matanya.
Voran tidak tahu apakah ini merupakan ujian dari Selek Valaunter atau memang sikap pria itu seperti ini.
Setelah bertemu dan berbicara dengannya beberapa kali, Voran merasa bila Selek Valaunter mirip dengan Grim Larsson yang menakutkan serta penuh dengan akal.
“Semuanya jelas. Jika kau berkhianat maka kau mengkhianati kepercayaanku serta rakyatku dan kau akan membuat penduduk Provinsi Aran menjadi sengsara.”
“Kau tidak bodoh Valaunter dan kau tahu antara berkhianat atau setia lebih menguntungkan mana. Aku mempercayaimu dan mengharapkanmu untuk mengabdi padaku dan kerajaanku,” ucap Voran meyakinkannya.
“Raja, rakyat, dan kerajaan membutuhkan kesetiaanmu. Apa kau akan tetap berada di tempat ini dan membusuk di sini daripada menghantarkan kemakmuran ke kerajaan?” tanya Voran sambil memprovokasinya.
Voran berbicara dengan yakin dan tenang tanpa ada tekanan serta tidak menunjukkan sisi lemahnya. Voran tidak bisa menunjukkan kelemahannya bahkan kelemahan kecil sekalipun karena hal itu hanya akan membuat situasi menjadi lebih sulit lagi.
Setiap kata yang Voran ucapkan ia terdengar meyakinkan dan serius. Ia menunjukkan ketegasannya dan bersikap kuat kala berbicara dengan Selek Valaunter. Sikapnya yang sedemikian rupa ia perlihatkan karena ia tak mau Selek Valaunter tetap pada pendiriannya.
Situasi di dalam kerajaan akan menjadi semakin runyam dan masalah akan sering bermunculan dikala Voran mencairkan es di benak Selek Valaunter. Jadi, di sepanjang waktu dia selalu mempertahankan sikapnya yang dingin dan juga sengit.
Setelah menunggu beberapa saat, tatapan mata Selek Valaunter mengendur dan ketegasan tertentu mulai terlihat di matanya. Dia mengatakan beberapa hal dengan suara dalam yang tenang, “Baiklah, aku akan mengikutimu dan bersumpah setia padamu serta Kerajaan Salauster.”
“Namun, aku harap kau tahu ini. Jika kau membuat rakyat biasa sengsara maka di saat itu pula aku akan melanggar sumpahku dan membuat Kerajaanmu lebih menderita! Kau harus mengingat hal itu baik-baik, Tuanku!” Selek Valaunter menyambung ucapannya dengan ancaman.
__ADS_1
Walaupun Selek Valaunter menerimanya, masih ada beberapa hal yang menjadi garis bawahnya. Selama tidak melewati garis bawahnya, dia akan tetap setia.
Disamping itu, Selek Valaunter juga memikirkan kondisi rakyat Kerajaan Arannor dimana mereka pasti menunggu sebuah kepastian, terutama penduduk Provinsi Aran.
“Keputusanmu tidak salah, Valaunter. Kau bisa tenang, aku tidak akan menyengsarakan para penduduk,” ucap Voran memberikan janjinya.
“Sayangnya, keinginanku itu tidak sejalan dengan situasi kerajaan saat ini. Kami menghadapi sebuah masalah yang genting,” sambung Voran.
Begitu kata-kata itu keluar, Selek Valaunter segera menatap Voran dengan tatapan penuh tanya. Dia tidak tahu apa yang tengah terjadi di luar sana sehingga dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat mendengar hal ini.
Selek Valaunter hanya bisa menatap kosong ke arah Voran sambil bertanya, “Apa yang terjadi?”
“Kau tahu Kerajaan Edarecia? Ah … harusnya aku tidak perlu menanyakan itu, kau pasti sudah tahu,” goda Voran.
“Mereka menunjukkan tindakan untuk menyerang setelah mengetahui perang di sisi ini sudah selesai. Artinya, perang lain akan muncul dalam waktu dekat,” seru Voran dengan seriusnya.
Selek Valaunter tersentak saat mendengar tentang Kerajaan Edarecia yang melakukan suatu pergerakan. Dia tahu seberapa berbahayanya situasi Kerajaan Salauster saat ini. Jadi dia kembali bertanya, “Lantas apa rencanamu dan apa gunanya kau mengatakan ini padaku?”
Disamping bertanya dia juga mengejek kemalangan yang Voran terima dengan berkata, “Aku tidak mengira situasimu akan seburuk ini. Kerajaan Edarecia …”
Selek Valaunter menghela nafas lalu menyambungnya, “Kemampuan mereka untuk menaklukkan sebuah wilayah sangatlah kuat. Meski mereka tidak bisa bergerak bebas saat ini, bukan tidak mungkin untuk menyerang sebuah wilayah. Begitu mereka memutuskan untuk menyerang mereka akan mengirim pasukan elit dan mengirim orang-orang terbaiknya.”
Selek Valaunter memperingatkan Voran bukan karena dia bersimpati padanya, melainkan dia memikirkan keadaan para penduduk dan keluarganya. Perang yang menanti kerajaan jauh lebih mengerikan, jadi dia sedikit mengendurkan perasaannya dan memberitahu Voran hal tersebut.
Saat dia memberitahukan hal itu pada Voran, suaranya terdengar dingin juga mengandung sedikit rasa nostalgia seolah dia mengingat sesuatu.
Voran tidak menyembunyikan masalah ini dari Selek Valaunter. Dia ingin tahu reaksi macam apa yang akan diberikan oleh Selek Valaunter setelah mendengar masalah ini.
Mungkin terdengar agak sembrono mengatakan sebuah masalah kerajaan pada lawan yang baru saja menyerah. Hanya saja, Voran memiliki prasangka tersendiri pada Selek valaunter. Dia menghormati dan menghargai seseorang seperti Selek Valaunter dan dia percaya bila Voran sangat logis.
“Kuharap kau bisa menenangkan penduduk Provinsi Aran dan memimpin mereka!” seru Voran dengan penuh harap, tapi ekspresinya tidak berubah hanya sorot matanya menunjukkan ketegasan yang luar biasa tinggi.
__ADS_1