
Tak dapat disangkal pertahanan yang ada pada desa sangat merepotkan. Apalagi, mereka tidak meninggalkan posisinya dan memberikan perlawanan dengan menghujani Sekte Angin Timur dengan panah. Hujan panah itu bukan panah biasa melainkan panah yang dipenuhi dengan Qi.
Voran tak beranjak dari posisinya walaupun perintah telah dikeluarkan. Dia tidak ingin mengambil risiko dengan menjadi pelopor. Disamping itu, samar-samar ia merasakan adanya aura yang kuat dari balik tembok yang membuat dirinya menjadi sangat waspada.
Murid-murid Sekte Angin Timur membentuk suatu formasi saat mereka menyerang dan mengepung benteng. Energi Qi penghalang terbentuk ketika formasi itu berhasil digunakan. Energi penghalang menghentikan badai panah yang mengerikan.
“Jika mereka tidak meninggalkan tempat itu. Pertempuran ini akan bergantung pada Bulcha dan Walcho. Siapapun yang menjadi pemenang dari pertarungan maka dia sudah mendikte pertempuran ini di tangannya. Ini sulit!” gumam Voran sembari memasang ekspresi serius di wajahnya.
Kedua belah pihak terus melakukan tindakan yang sama berulang kali sehingga korban yang diderita menjadi timpang sebelah. Meski Voran berada di sisi Sekte Angin Timur, dia tidak bisa tidak menyukai cara musuh bertempur. Mereka memanfaatkan keunggulan mereka dengan sangat baik sehingga mereka mampu meminimalisir kerugian.
Semuanya berjalan ke arah yang buruk. Namun, Radi tidak memberikan perintah lain dan tetap mengambil sikap yang sama. Akan tetapi, perubahan segera terjadi tepat saat Redan mengambil alih pertempuran. Dia membiarkan para Kultivator tingkat atas untuk bergerak dan melancarkan serangan.
Alih-alih mengikuti para Kultivator yang diperintah oleh Redan, Voran memilih untuk diam dan mengamati. Tindakannya itu segera menarik perhatian seluruh Kultivator. Voran mengabaikan tatapan mereka dan dengan tenang melihat pertempuran yang semakin sengit.
Beberapa Kultivator pun keluar dari desa dan menghadang Kultivator yang maju. Pertemuan berbagai macam energi dan teknik menghasilkan suasana tegang dan menggetarkan hati. Angin meniup segalanya dengan kencang ketika energi-energi itu saling bertabrakan satu dengan lainnya.
Aura-aura yang kuat terasa menekan segala hal yang ada di dalam lingkupnya. Voran mendesah pelan saat seseorang mengunci tubuh dan auranya. Ia tidak memedulikan sosok itu dan tetap memperhatikan pertempuran yang semakin menakutkan ini.
__ADS_1
Langit menjadi kacau saat aura setiap Kultivator bertabrakan, ruang di sekitar mereka juga mengalami perubahan. Voran tak bisa tenang lagi setelah melihat Bulcha dan Walcho yang semakin menunjukkan kekuatan sejati mereka. Perlahan-lahan, ia melepaskan Kekuatan Raja dan dia mengontrolnya dengan sekuat tenaganya agar tidak lepas kendali.
Tak berapa lama kemudian, sosok yang mengunci Voran muncul dan seketika dia menunjukkan dirinya. Sosok itu melepaskan aura yang kuat dan menekan segala hal di sekitarnya. Saat sosok itu melepaskan aura serta energinya, tiba-tiba saja dari arah berlawanan muncul sosok yang semula menutupi wajahnya. Sosok itu ialah Rios.
Voran merasakan hembusan udara yang kuat dan kencang dari samping kirinya. Ada energi yang mengalir deras saat hembusan itu melewati tubuhnya. Rios melesat dari posisinya saat melihat sosok yang melancarkan serangan pada Voran.
“Kau pergi dari sana dan hadapi Kultivator lain!” seru Rios dengan lantangnya. Lalu ia menyambung lagi ucapannya dengan berkata dalam nada yang dingin serta dipenuhi dengan nafsu membunuh yang sangat pekat, “Dia mangsaku!”
“Baik,” balas Voran sembari menyunggingkan senyumnya. Dia sama sekali tidak marah dengan sikap Rios yang cukup dominan itu. Malahan, Voran merasa bila Rios telah membantunya.
Voran cukup beruntung karena dia tidak menemukan lawan yang tangguh dan di saat dia mengayunkan pedangnya. Voran juga menyerap Qi yang menyebar di sekitarnya. Saat Voran semakin mengganas dan menimbulkan banyak korban jiwa. Sesosok pria tua dengan wajah bengis menatapnya dari kejauhan.
“Aneh! Teknik apa yang pria itu gunakan? Ini terasa asing tapi juga terasa akrab. Pria itu cukup menarik,” ucap pria tua itu dengan nada yang dingin.
Setelah mengatakan hal tersebut, pria tua itu menoleh ke pria di sampingnya seraya berkata, “Sudah waktunya untuk menunjukkan pada mereka kekuatan kita yang sebenarnya. Jangan buat Tuan tampak lemah. Tak peduli apa yang akan terjadi, saat ini kita hanya memiliki satu tujuan saja. Menghancurkan setiap musuh!”
Sesaat setelahnya pria tua itu bergegas menuju ke Voran yang menebas para prajurit dan membuat belasan kepala melayang di udara kosong. Pria tua itu tak bisa menahan kegembiraannya saat darahnya mendidih karena semangat bertarungnya terangsang. Sosok itu merasakan adanya kekuatan penindasan yang secara tak sadar Voran lepaskan.
__ADS_1
Voran terus melawan para prajurit yang mencoba menghalanginya. Setelah pihak musuh memilih melakukan pertempuran frontal dengan keluar dari pertahanannya. Voran mampu menunjukkan kemampuannya tanpa harus menggunakan seluruh kemampuannya. Oleh karena itu, dia bisa sedikit menghapus rasa curiga yang dimiliki oleh setiap Kultivator padanya.
Voran sudah tak tahu lagi berapa banyak orang yang telah ia habisi. Pedang di tangannya berwarna merah sepenuhnya dan terus meneteskan cairan berwarna merah di tanah. Aura Voran juga semakin meningkat seiring bertambahnya mayat di medan pertempuran. Namun, saat dia merasakan kekuatannya bertambah, indera tubuhnya menjadi lebih sensitif.
Segera tatapan matanya beralih ke satu arah tepat ke sosok tua yang berjarak beberapa puluh meter darinya. Ketika pandangannya tertuju pada sosok itu, bulu kuduknya segera berdiri. Ia merasakan tekanan kuat pada tubuhnya seolah ada batu besar yang menghantam punggungnya berulang kali memaksanya untuk menekuk lutut.
Voran menggertakkan giginya dan menahan tekanan itu hingga mengeluarkan setetes keringat di dahinya. Meski jarak mereka cukup jauh, Voran merasakan bahaya dari sosok tua itu. Aura yang dikeluarkannya terlalu kuat dan dipenuhi dengan nafsu membunuh serta haus darah yang mengerikan.
“Kemampuan yang menarik. Kau mengumpulkan Qi dari medan ini dan mengalirkannya ke sekujur tubuhmu. Siapa sebenarnya kau anak muda?” tanya sosok tua itu dengan suara lirih tapi terdengar sangat jelas dan memancarkan kedinginan yang menusuk.
Bahaya yang Voran rasakan semakin terasa jelas saat sosok tua itu berbicara. Voran tidak bisa menebak seberapa tinggi kultivasi sosok tua itu. Namun, Voran bisa memperkirakan bila sosok tua itu berada pada tingkat yang sama dengan Valaunter ataupun Veus.
Seketika ruang kosong terbentuk di sekitar Voran, ruang seluas beberapa meter terbentuk setelah sosok tua itu berbicara dan melepaskan auranya.
“Kenapa kau diam anak muda? Aku sudah cukup sopan untuk bertanya. Biasanya aku hanya akan mencabut jantung musuhku dan tak berbicara seperti saat ini. Katakan padaku, siapa kau!” seru sosok tua itu dengan suara yang terdengar suram dan menusuk..
“Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya pria biasa yang terjebak dalam pusaran ini. Hanya itu yang bisa aku katakan,” balas Voran sambil mengayunkan pedang yang dipenuhi dengan energi.
__ADS_1