
Voran merasa lemas setelah beberapa kali memuntahkan darah. Wajahnya juga tampak lebih pucat. Tekanan yang Salvatora lepaskan bukan tekanan yang bisa ditahan oleh Kultivator setingkat Voran. Tekanan itu bahkan mampu membuat Valaunter menekukkan lututnya, apalagi Voran yang memiliki perbedaan tingkat kultivasi cukup tinggi.
“Apa-apaan tekanan ini? Kenapa dia bisa melepaskan tekanan sekuat ini dari jarak yang begitu jauh. Selemah inikah aku?” geram Voran yang merasa tak berdaya dengan tindakan Salvatora.
Salvatora yang semakin dekat dengan Voran terus menunjukkan senyum dingin nan kejamnya. Sorot matanya dipenuhi dengan nafsu membunuh. Namun, dia juga merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Voran dibandingkan dengan lawan-lawan yang dia hadapi, termasuk beberapa Raja.
“Anak muda, tidak ... Aku harus memanggilmu Raja Salauster. Meski kau sangat lemah, kau masihlah seorang Raja, tidak pantas bagiku memanggilmu anak muda. Apa yang akan kau lakukan sekarang, Raja Salauster?” tanya Salvatora dengan nada penuh pertimbangan.
Dari sorot matanya yang dipenuhi dengan nafsu membunuh, tak bisa dipungkiri jika dia ingin membunuh Voran. Namun, dia menahan perasaan yang bergejolak itu setelah melihat kemarahan serta rasa rendah diri yang muncul dari raut wajah Voran.
Kebingungan segera melanda pikiran Voran ketika dia mendengar pertanyaan tersebut. Ya, apa yang akan dia lakukan sekarang. Dengan perbedaan tingkat yang cukup besar, Voran tidak bisa melakukan apapun pada Salvatora yang tengah menunggu jawabannya.
“Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Kekalahanku disebabkan olehmu bukan pasukan mereka. Tiga orang terkuat di kerajaanku kalah darimu. Lalu, apa yang bisa aku lakukan sekarang? Aku hanya bisa melawanku sekuat tenagaku!” balas Voran setelah memikirkan jawabannya sejenak.
Salvatora tersenyum dingin saat mendengar hal itu. Dia bisa merasakan ketidakberdayaan dari nada suara Voran. “Tenang, aku tidak memiliki sedikitpun niat untuk menghabisimu. Meski kau menghancurkan Kerajaan Arannor. Aku tak merasa ada kemarahan di dalam diriku. Tindakanmu telah menggerakkan satu gelombang yang seharusnya tidak terjadi.”
“Sebuah gelombang? Gelombang apa itu,” pikir Voran tiba-tiba. Dia mendengarkan Salvatora dengan rasa cemas.
__ADS_1
“Kau mengobarkan perang dan menelan satu kerajaan. Apa kau tidak berpikir tindakanmu itu akan membangkitkan hasrat dan ambisi tiap orang di Wilayah Utara ini?” tanya Salvatora dengan nada penuh penekanan tapi senyum di wajahnya terlihat semakin merekah dan cerah.
Voran tercekat dengan ucapan itu, tapi dia tahu tindakannya akan menghasilkan suatu reaksi. Dengan ketenangan yang tiba-tiba muncul ia pun berkata, “Siapa orang-orang yang kau maksud itu, Para Raja? Mereka memang memiliki ambisi dan hasrat untuk menelan kerajaan sekitarnya dan membuat setiap orang tunduk pada mereka.”
“Aku berbeda dengan mereka! Aku mengobarkan api peperangan pada Kerajaan Arannor karena mereka terus melecehkan kerajaanku dan rakyatku. Tidak mungkin aku mengabaikan rakyatku, bahkan setelah kemenangan aku raih, aku menganggap para penduduk itu sebagai subjekku. Apa kau pikir aku sama dengan mereka?” tanya Voran lagi menyambung ucapannya tadi.
Salvatora bergerak membelakangi Voran sambil menatap para prajurit Kerajaan Edarecia dengan tatapan mata yang rumit seraya berkata, “Entahlah, mungkin kau sama dengan mereka, mungkin juga tidak. Hal itu tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya melakukan apapun sesuai dengan kehendakku dan tidak ada yang bisa menghalangiku.”
Sesaat setelah dia mengatakan hal itu, Salvatora melepaskan tekanan yang besar dan membuat udara bergelombang di sekitarnya. Tekanan yang dipenuhi dengan nafsu membunuh kuat itu memengaruhi medan perang.
Meski bingung dengan situasi ini, Voran tetap mengikuti ucapan Salvatora dan dengan cepatnya dia berlari meninggalkan tempat tersebut. Dia berlari menuju ke kudanya yang lepas setelah menerima tekanan kuat.
Voran tak menoleh ke arah belakang saat dia lari. Meskipun ada bahaya dari tindakannya, Voran tetap melakukannya karena dia merasakan keseriusan Salvatora melalui suara dan ekspresinya. Voran bergegas meninggalkan tempat itu dengan rasa sakit di dadanya. Sejenak dia juga merasakan Kolam Qi-nya mulai menipis.
Salvatora sedikit melirik ke belakang saat dia mendengar suara langkah kaki kuda. “Aku melepaskanmu kali ini! Hanya untuk kali ini saja, Raja Salauster. Untuk pertemuan selanjutnya, aku tidak akan melepaskanmu lagi. Huh! Memang menyenangkan bermain-main seperti ini. Menunggu buah yang matang memang proses yang mengasyikkan.”
***
__ADS_1
Beberapa waktu setelah peperangan waktu itu, Voran terbaring di kamarnya dan wajahnya juga pucat. Beberapa pelayan terus menemaninya dan merawatnya. Hari kembalinya Voran dan pasukan ke kerajaan membuat Bernan Fasuk terperangah diam. Dia tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat kala itu.
Pada hari kembalinya Voran dan pasukan. Bernan Fasuk melihat para prajurit yang kehilangan moral dan mengalami pertempuran berdarah. Selain penampilan mereka yang lusuh dan compang-camping, Bernan Fasuk juga menemukan tiga orang terkuat kerajaan terkapar dan terluka serta Voran yang bernasib tidak jauh berbeda darinya.
Dari mulut para prajurit Bernan Fasuk memahami situasi dan keadaan di medan perang. Setelah dia mengetahui kejadian macam apa yang terjadi di medan perang, ia segera mengirim utusan pada Kerajaan Elaydric dan Kerajaan Sevaeni. Dia menjelaskan seluruh keadaan dan mengapa Voran mengambil keputusan yang merugikan itu.
Kembali ke situasi saat ini, Bernan Fasuk harus berhadapan dengan utusan dari dua kerajaan tersebut serta situasi yang tak jelas di perbatasan. Sedangkan, Voran masih terbaring lemah dan berada dalam pemulihan. Meski tekanan yang muncul sangat besar, Bernan Fasuk menghadapi tekanan itu dengan punggung yang tegak dan tidak mundur.
“Salvatora, dia pria yang sangat berbahaya dan tidak bisa ditebak. Hanya karena keberadaan pria ini, koalisi tiga kerajaan gagal menangani Kerajaan Edarecia dan semuanya berakhir dalam situasi seperti ini. Kerajaan tidak bisa menerima tekanan lebih dari ini atau situasi yang sudah mulai teratur akan menjadi lebih berantakan lagi!” gumam Fasuk setelah dia menemui utusan dari dua kerajaan.
Setelah itu, dia pergi ke kamar Voran dan menemuinya. Meski Voran terbaring dalam ranjangnya, dia masih sadar dan mampu berbicara dengan Fasuk.
“Yang Mulia, dua kerajaan mengirim utusan kemari untuk memberitahukan tentang pengunduran diri mereka dari koalisi dan mereka menyatakan tidak akan bekerja sama dengan kerajaan lagi. Mereka tidak akan menuntut penjelasan lebih setelah tahu Yang Mulia berada dalam kondisi buruk,” ucap Fasuk melaporkan isi dari pertemuan dengan dua utusan.
Voran mengangguk lemah, “Aku tahu. Koalisi pasti akan hancur karena tindakan pengunduran diriku di medan perang. Aku tidak akan menyangkalnya dan menerima keputusan mereka. Ini jauh diluar perkiraanku, aku masih bisa hidup juga karena belas kasihan Salvatora. Jika tidak, pasti aku sudah berubah menjadi debu di medan perang itu.”
Voran mengambil nafas sejenak lalu bertanya, “Bagaimana kondisi mereka? Apa Larsson dan yang lainnya sudah siuman?”
__ADS_1