
Arannor Westian tengah duduk di singgasananya dan raut mukanya tak sedang dipandang. Dia telah mendengar adanya pergerakan mencurigakan dari sebuah pasukan.
Selain itu, kabar buruk lainnya telah datang beberapa hari lalu yang memberinya sebuah pukulan. Tak pernah dia bayangkan mereka akan kalah hingga ke titik tersebut hanya dalam waktu yang sangat singkat.
“Bagaimana hal itu bisa terjadi? Pasukan terbaik kerajaan yang dipimpin oleh Marshal Selek Valaunter kalah begitu saja? Sekarang pasukan mereka sudah ada di depan Ibukota ini dan menyerang tembok pertahanan.”
Arannor Westian masih bingung dengan kejadian di medan perang yang menurutnya hal itu terlalu tidak masuk akal.
Mereka memang tidak unggul secara signifikan. Namun, mereka masih memiliki keunggulan yang cukup tinggi.
Sayangnya, apa yang dia harapkan tidak terjadi bahkan berakhir dengan kekacauan. Pasukannya yang sudah tercerai berai hanya berhasil berkumpul setengahnya dan pasukan itu ia fokuskan untuk melindungi ibukota dan membantu pasukan pertahanan.
Di dalam aula kerajaan, Arannor Westian mengumpulkan Kultivator serta para jenderalnya. Dia menugaskan salah satu dari mereka untuk melindungi tembok, sedang sisanya berada dalam Aula Kerajaan bersama dengannya.
Arannor Westian membutuhkan mereka untuk mengantisipasi musuh masuk ke dalam kerajaan. Meski memiliki keyakinan musuh tak akan menembus tembok pertahanan, bukan berarti dia bisa mengabaikan kemungkinan lain.
“Sekarang, situasi kita memburuk. Tidak hanya kita kalah di perang sebelumnya, kini musuh menyerang ibukota kerajaan,” desah Arannor Westian dengan buruknya.
“Para prajurit yang berada di tembok baru saja kembali dari medan perang. Mereka pasti memiliki semangat yang buruk. Mereka baru saja mengalami kehancuran yang pasti akan sangat memengaruhi cara mereka bertarung. Beban dan perasaan kekalahan menghantui mereka.”
“Aku tidak menginginkan situasi semacam ini. Jadi kalian sebagai tembok utama pertahanan kerajaan dan juga perisai kerajaan. Aku meminta kalian untuk menghancurkan para penjajah ini dan buat mereka mengerti akan konsekuensi menyerang kerajaan!”
Suara Arannor Westian dipenuhi dengan energi tak kasat mata dan memengaruhi para pendengarnya. Tatapan matanya penuh amarah dan wajahnya memerah padam dengan tubuh yang sesekali bergidik.
Westian memiliki raut muka yang sangat mengintimidasi dan dipenuhi dengan tekanan. Tampak beban yang begitu besar menghantuinya dan menekannya.
__ADS_1
Raut wajahnya yang semula tak sedap pandang mengalami perubahan hingga menunjukkan sisi berjuang yang begitu teguh. Jika Selek Valaunter bisa dikalahkan, maka tak banyak orang yang bisa bertahan menghadapi lawan yang mampu menaklukkannya.
“Walaupun kekuatan kalian tak setingkat dengan Marshal Selek Valaunter. Aku sangat yakin dan percaya, selama kalian semua bekerja sama dan menghancurkan pria yang mengalahkannya, kemenangan akan berpihak pada kita.”
“Tembok itu tak akan melindungi kerajaan untuk waktu yang lama. Mungkin tak lama lagi ... Tidak suara-suara itu sudah semakin jelas, kalian tahu artinya?”
Walau berada di istana, pendengarannya tajam hingga mampu mendengar suara pertempuran dan bunyi benturan besi. Dia tahu hasilnya akan seperti ini semenjak mereka kehilangan pilar terkuat mereka.
Namun, dia tak bisa hanya berdiam diri saja dan menerimanya begitu saja. Oleh karenanya, dia tetap memacu semangat juang bawahannya agar tetap berkobar.
Salah seorang Kultivator yang memiliki wajah bengis dan tak memiliki rambut dengan mata yang sayu melangkah ke tengah aula sambil berlutut dengan satu kaki. “Maaf, Yang Mulia. Aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk berdiskusi dan merencanakan perlawanan terhadap pria yang mengalahkan Marshal Selek Valaunter.”
“Jika kata-kataku ini salah, Yang Mulia bisa menghukumku. Aku berpikir bila sekarang kita semua yang ada di sini dengan tingkat kultivasi terendah haruslah keluar dan membantu pertahanan, sedangkan mereka yang memiliki tingkat tinggi bisa mendengarkan rencana Yang Mulia.”
Westian tak bergeming dan tak memiliki perubahan ekspresi di wajahnya. Dia tenang saat mendengarkannya.
Setelah beberapa detik keheningan muncul akibat ucapan Kultivator itu, Westian berbicara. “Ya ... Kau benar. Kalian yang memiliki tingkat kultivasi dibawah tahap 2-0, segera tinggalkan tempat ini dan bantu pertahanan. Tidak peduli seperti apa situasi di sana. Kalian harus menghabisi sebanyak mungkin pasukan mereka dan Kultivator mereka!!”
Westian duduk di singgasana sambil memegang sebuah pedang dan dia mengenakan armor jua. Sebuah artefak berbentuk zirah yang diturunkan turun temurun.
Meski berwarna hitam legam, artefak itu tetap mengkilap dan ia pakai dengan nyamannya. Dia tak takut akan masalah apa yang akan dia hadapi di medan perang selama dia mengenakan zirah ini.
Pedangnya tertancap tepat di depan matanya saat beberapa pria di aula itu terdiam memandanginya, menanti sebuah perintah darinya.
“Setelah musuh menembus pertahanan, aku tidak lagi bisa menjamin kemenangan akan berpihak pada kita. Kematian para prajurit dan kultivator itu merupakan kerugian besar untuk kerajaan ini.”
“Aku juga tidak tahu dimana lagi pria itu,” ungkapnya penuh penyesalan sekaligus kesal.
__ADS_1
“Meski kita hancur!! Jangan hancur sendirian. Pastikan kita bawa mereka turun, kita seret mereka ke jurang dasar neraka.”
“Apalagi yang kita pedulikan? Tidak ada, sama sekali tidak ada. Semuanya sudah jelas. Hanya ada perang di depan mata dan kematian menjadi pengiringnya!” seru Arannor Westian dengan suara yang berkobar saat mencoba mengangkat emosi bawahannya.
Seorang pria tua berdiri dengan bangga dan menatap ke arah Westian seraya berujar, “Ya, Yang Mulia. Hanya pengecut dan sampah yang melarikan diri dari situasi ini.”
“Tak peduli alasan apapun yang mereka miliki, saat musuh di depan matamu! Hunuskan senjatamu! Tebas mereka dan cincang mereka! Walau akhirnya kau yang hancur dan tak bersisa!”
“Hahahaha!! Aku suka itu! Tak salah kalau kau memiliki kultivasi tinggi dan pernah disebutkan oleh Marshal. Sayang sekali, kau tak menginginkan jabatan apapun dan hanya ingin tinggal disini dengan nyaman.”
“Bantuanmu ... Aku akan mengingat dan menghargainya. Bantai mereka dan hiduplah!! Aku akan turut serta dalam prosesnya!”
Westian tertawa lepas saat mendengar ucapan salah seorang Kultivator. Dia tak segera bertindak dan menunggu sesuatu.
Walaupun suara pertempuran semakin terdengar sengit, Westian tahu jika pasukannya telah bertahan dengan baik dan tidak membiarkan musuh untuk bertindak leluasa.
Selama dia belum merasakan dorongan untuk masuk ke sana. Ia akan tetap di singgasananya bersama dengan para Kultivator tersebut.
“Bisakah kalian menghadapi pria itu nantinya? Yang aku tahu hanya ada satu orang yang memiliki kekuatan yang mengerikan dari Kerajaan Salauster. Namun, selama beberapa waktu belakangan, dia tak pernah muncul.”
“Siapa itu, Yang Mulia? Mungkinkah itu Veus?” tanya salah satu kultivator.
“Bukan Richard Veus, dia kuat tapi bukan lawan yang seimbang untuk Marshal Selek Valaunter. Jika lawan kalian adalah orang yang aku duga, maka kalian akan sangat beruntung. Kalian akan mendapatkan ketenaran yang kelak akan menggaum ke berbagai wilayah dan kerajaan!”
Westian tak berhenti mengobarkan api semangat para Kultivator itu. Tak peduli bagaimana, mereka pasti gelisah dan tak jauh berbeda dari mereka. Ia juga gelisah, sehingga ia mengobarkan api semangat mereka.
Meski memiliki kekuatan yang akan membantunya, dia tahu betul jika menggunakannya terlalu sering akan berdampak buruk pada tubuhnya.
__ADS_1
“Tak lama lagi, hanya sebentar saja, kita akan ke sana. Ya ... Tunggu suara-suara itu melemah! Begitu suara itu menurun, di waktu itulah kita akan keluar!” Westian tersenyum dan melepaskan auranya.