The Heaven World

The Heaven World
Pemimpin Yang Berbeda


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Gregor Leon dan Wallace Krom. Voran tidak bisa beristirahat begitu saja, tapi dia dikunjungi orang lain. Voran menemui pria itu di tenda yang sama dengan ekspresi yang tidak berubah sedikitpun.


“Siapa kau dan apa tujuanmu bertemu denganku?” tanya Voran dengan tergesa-gesa.


Pria berbadan tegap itu membungkuk seraya berkata, “Aku Draynir, Yang Mulia. Seorang Lord yang diperkerjakan oleh Yang Mulia. Aku mengunjungi Yang Mulia di malam hari untuk membicarakan sesuatu hal.”


“Oh ... Kau pria yang dibicarakan oleh Valaunter. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Voran lagi dengan senyum yang hangat.


“Begini Yang Mulia, aku telah dijanjikan beberapa hal dan aku ingin menuntut janji tersebut. Memang ini terlalu awal, tapi aku ingin mendapat jaminan bila janji itu benar-benar berlaku bukan hanya omong kosong semata,” ucap Draynir dengan sopan.


Voran menatap Draynir lekat-lekat dan tatapan matanya begitu tajam. Dia mengamati pria itu sebelum berkata, “Bukankah aku sudah memenuhi salah satu janjiku. Aku membiarkanmu memiliki otonom sendiri. Kau bisa memegang dan memimpin sebuah pasukan bukan hanya sekadar membantu saja. Seperti halnya yang terjadi pada hari ini. Lalu apa yang kau minta lagi?”


Voran sudah memikirkan hal ini jauh-jauh hari. Jadi, dia tidak begitu terkejut ketika Draynir memintanya untuk memenuhi janji yang ia katakan. Tidak mungkin Voran memberikan sebuah gelar ataupun wilayah pada Draynir begitu saja, sehingga cara inilah yang ia gunakan.


“Yang Mulia memang membiarkanku memimpin pasukanku dan juga prajurit lainnya. Salah satu janji yang tertuang sudah Yang Mulia penuhi. Namun, perang hari ini terlalu sulit untukku. Jadi, aku ingin meminta Yang Mulia untuk memenuhi seluruh janji Yang Mulia,” jawab Draynir dengan tegas dan bertekad.


Voran tidak menerima hal itu. Dia tidak peduli bagaimana sikap yang ditunjukkan Draynir. Dia menolaknya dengan tegas dan berkata, “Lalu apa? Meskipun perang ini sulit dan berbahaya, tidak mungkin aku memberimu janji itu sebelum kau membuktikan nilaimu, Draynir. Aku tahu kau memang sosok yang tangguh, tapi apa yang kau tunjukkan hari ini masih kurang!”


Mendengar ucapan Voran yang bersuara keras dan tegas, Draynir mengernyitkan keningnya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Voran dengan tajam dan berkata, “Yang Mulia, aku tidak membutuhkan wilayah ataupun hal lainnya. Namun, aku membutuhkan sebuah pengakuan melalui sebuah gelar. Jika Yang Mulia benar-benar ingin aku mengabdi, penuhi janji Yang Mulia!”


Voran tidak bergeming dan tetap menatap Draynir dengan tatapan mata yang tajam serta tegas. Tidak ada sedikitpun keraguan dari matanya kala dia mengatakan hal itu. Memenuhi janjinya pada Draynir bukanlah sesuatu hal yang ingin dia lakukan untuk saat ini.

__ADS_1


“Aku akan memenuhi janjiku, tapi tidak untuk saat ini, Draynir. Jika kau merasa aku tidak akan memenuhi janjiku, kau bisa meninggalkan pasukanku dan kembali ke tempatmu. Tidakkah kau pikir kau harus menunjukkan kesabaranmu untuk mendapatkan apa yang aku janjikan?” tanya Voran lagi.


Dia membuat Draynir berpikir ulang tentang permintaannya itu. Meskipun Voran tahu hal ini cukup sulit terwujud. Ia tetap melakukannya. Voran percaya bila Draynir memiliki kepandaian lebih dari kebanyakan orang dan dapat menilai sesuatu lebih baik dari yang lain.


Voran menatap Draynir yang menunjukkan sedikit keraguan, lalu ia menyambung ucapannya tadi. “Tunjukkan sedikit kesabaranmu, Draynir. Setelah ini aku akan menarik mundur seluruh pasukan dan kembali ke kerajaan. Namun, aku membutuhkan satu sosok pejuang tangguh yang bisa melindungi pasukanku dari belakang dan aku percaya sosok itu adalah kau, Draynir.”


“Bantulah pasukanku kembali dan aku akan memberimu gelar Walikota. Selain itu, aku akan menganugerahimu satu kota yang akan kau pimpin bersama keturunanmu. Semua itu akan kau dapatkan jika kau bisa melakukan tugas itu dengan baik!”


Voran memberitahu Draynir tugas terakhir sebelum ia mendapatkan janjinya dan tugas itu bukanlah tugas yang mudah untuk dilakukan. Voran memberikan tugas itu untuk menilai kelayakan Draynir sekaligus mencari tahu apakah pria itu setia atau tidak.


Malam itu sebuah kesepakatan terjadi dan Voran tidak tidur melainkan pergi ke luar tenda untuk melakukan latihan ditemani beningnya malam serta bulan yang menyinari segalanya.


Pada hari berikutnya, Voran memerintahkan sebagian pasukan untuk mundur kembali ke kerajaan dan membawa Veus, Larsson serta Valaunter yang terluka. Awalnya mereka bertiga menentang keputusan Voran, tapi Voran tak mengindahkannya.


“Tampaknya aku tidak salah menilai Draynir. Pria itu benar-benar memilih untuk bergabung dengan kerajaanku. Entah apa yang dia pikirkan, tapi bergabungnya dia ke pihakku memberi tambahan kekuatan yang cukup besar untuk kerajaan,” gumam Voran ketika dia menatap Draynir yang memimpin pasukannya dan membangun sebuah formasi pertahanan.


Voran melihat ke satu arah tempat perkemahan Wallace Krom dan Gregor Leon berada. Dia melihat kedua perkemahan yang sudah dilucuti. Di saat yang bersamaan, dia melihat pasukan berbaris dalam suatu formasi yang cukup kuat.


“Mereka memilih mundur juga. Pilihan yang sulit ini jauh lebih baik daripada menghancurkan diri sendiri di tempat ini. Sayang sekali, kekuatanku belum cukup untuk menghadapi pria itu. Dia benar-benar monster. Kekuatannya sangat mengerikan!” pikir Voran ketika dia mengingat kembali adegan saat Salvatora mendominasi tiga jenderalnya.


Tidak jauh mata memandang, musuh juga menyiapkan pasukannya dan terlihat jumlah mereka jauh lebih banyak dari seharusnya. Ketika Voran melihat hal itu, dia tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. “Bagaimana jumlah mereka bisa lebih banyak? Bukankah mereka kehilangan banyak prajurit kemarin? Mungkinkah mereka mendapatkan bala bantuan?”

__ADS_1


Ketika Voran memikirkan musuh mendapatkan bala bantuan. Dia tidak lagi bisa tenang. Tidak hanya dia kalah dari jumlah pasukan, tapi dia juga kalah dari segi moral. Pertempuran kemarin membuat para prajurit menjadi takut terutama ketika mereka berhadapan dengan Salvatora.


Voran segera memberikan perintah pada Draynir untuk melakukan tugasnya. Voran yang sebelumnya berpikir untuk menahan musuh selama beberapa waktu pun mengurungkan niatnya. Dia memilih untuk mundur dan mengakhiri pertempuran ini lebih awal.


“Aku salah perhitungan. Aku tidak mengira mereka akan memiliki sosok semengerikan itu. Selain itu, mereka terlalu responsif. Aku harus mundur dan mempertimbangkan semuanya lebih matang lagi. Huft ... Apa yang akan terjadi dengan koalisi ini?” pikir Voran.


Setelah memberikan perintah mundur dia mengamati para prajurit yang meninggalkan posnya masing-masing. Voran mengamati seluruh prosesnya sambil menenangkan diri dan dia juga melihat Draynir yang mulai mengaktifkan formasi pertahanannya.


“Sialan mereka sudah maju dan tampak lebih agresif. Apa pemimpin mereka berbeda?” tanya Voran dalam hati ketika melihat musuh bergerak lebih agresif dibandingkan pertempuran sebelumnya seolah mereka dipimpin oleh orang yang berbeda.


Voran juga melihat Salvatora dan seorang pria yang tak ia lihat sebelumnya. Pria gagah yang mengenakan armor mengkilap dan mewah. Di saat matanya tertuju pada kedua pria itu, dia merasakan sinyal bahaya di dalam benaknya. “Aku harus mundur, mereka terlalu berbahaya untuk kuhadapi!”


***


“Tampaknya Yang Mulia tidak berpikir mudah tentang pertempuran ini sampai mengutusmu kemari, Jenderal!” seru Salvatora dengan senyum lembut tapi tampak berbahaya.


“Banyak yang percaya pada Crock dan kau Salvatora. Namun, Yang Mulia berpikir lebih jauh dan memintaku kemari untuk mendukung kalian. Sayangnya, aku melihat semuanya sudah kau selesaikan dengan baik,” balas pria berarmor mewah itu.


“Hahaha ... Yah meski begitu, aku serahkan semuanya padamu, Jenderal William,” ucap Salvatora.


Pria berarmor mewah itu tersenyum dan mengamati sekelilingnya dengan mata tajamnya. Lalu, ia membalasnya, “Kita selesaikan semuanya dan hancurkan mereka. Perintahkan pasukan untuk menyerang. Tabuh genderang dan tiup terompet!”

__ADS_1


 


__ADS_2