The Heaven World

The Heaven World
Kekalahan


__ADS_3

 


Suara pertempuran mulai tak terdengar dari atas tembok. Di waktu yang sama, Veus memimpin sisa pasukan untuk masuk ke dalam kota.


Veus meraba-raba waktu yang tepat untuk bergerak selama pertempuran berlangsung dan saat ini merupakan waktu yang tepat. Oleh sebab itu, dia menggerakkan sisa pasukannya.


Walaupun dia melihat Voran tertahan dan berhadapan dengan tiga Kultivator. Ia tidak segera bertindak, melainkan membaca situasi di sekitarnya.


“Kultivator! Hanya Raja yang bisa menggerakkan mereka, kecuali mereka bertindak atas kemauannya sendiri. Namun, ini bisa menjadi pertanda jika Sang Raja telah ikut serta dalam pertempuran itu.”


“Ada dimanakah dia? Di atas sana atau bertarung di dalam kota?” Veus berkuda sambil memikirkannya. Dia juga menggesekkan ibu jarinya dengan jari lainnya.


Gemuruh langkah kaki para prajurit memenuhi kota. Hati para penduduk bergetar saat mereka melihat para prajurit berjuang mati-matian mempertahankan kota dari serangan, bahkan mereka ikut serta dalam bertahan.


Mayat memenuhi sepanjang jalan kota. Mayat-mayat itu merupakan mayat para prajurit serta penduduk yang mengangkat senjata ataupun mereka yang terjebak dalam pertempuran.


Bau darah dan mayat memenuhi seluruh kota.


Udara memadat di seluruh jalan di kota saat bau darah itu semakin menguat akibat dari pertarungan yang semakin sengit.


***


 


Westian bertahan menghadapi puluhan prajurit dan dia mengayunkan pedangnya dengan ganas.


Belasan kepala melayang dan tubuh para prajurit roboh di sekitarnya. Westian berdiri dengan tenang saat kepala-kepala itu melayang.


Bagian belakangnya benar-benar kosong tanpa ada seseorang pun, sedang di bagian depannya hanya ada mayat dan bau kematian. Sehingga, pemandangan di tempat itu tampak kontras.


 


***


 


Voran terus bertahan dari gempuran tiga Kultivator yang kuat itu.


Dia mempertahankan posisi bertahan dalam waktu yang lama. Selain bertahan, ia juga menyerap Qi sebanyak mungkin dengan kecepatan yang tak terbayangkan.


Begitu dia merasakan ada desakan di dalam Kolam Qi-nya. Voran tahu bila saat itu merupakan waktu yang tepat untuk melayangkan serangan.


Dalam kedipan mata, Voran memutar pedangnya dan mengecoh musuhnya dengan gerakan itu sebelum melepaskan serangan mematikannya.


“Fist of The Dragon : Sky Clearing,” seru Voran saat tubuhnya memancarkan aura berbahaya.


Cahaya hitam yang menyelimuti tubuhnya segera berubah bentuk menjadi naga dan menghantam mereka bertiga.


Serangan yang begitu kuat menghantam tubuh ketiga Kultivator dan mengirim mereka terbang beberapa meter jauhnya.


Voran tidak berada dalam kondisi yang baik setelah menggunakan teknik itu, wajahnya memucat seketika.


Teknik itu terlalu membebani tubuhnya untuk saat ini, sehingga dia berhati-hati dalam menggunakannya.


“Aku terlalu banyak menyerap Qi tidak murni ini,” ucap Voran saat tetesan keringat melewati mata dan menetes ke pipinya.


“Aku harus berhati-hati sekarang. Rupanya ini batasnya. Tenang … aku harus tenang.” Voran bergumam sesaat setelah dia memeriksa kondisi lawannya dari kejauhan.


Voran memeriksa tubuhnya dan menemukan jika Qi yang menyelimuti tubuhnya tak sekuat sebelumnya. Pandangannya juga menyapu sekitarnya.


Tanpa ada prajurit yang mengepungnya, dia bisa bergerak dengan bebas saat mendekati tubuh ketiga Kultivator itu untuk memeriksanya.


Voran tidak mengetahui kondisi mereka secara jelas karena dia hanya mengamatinya dari kejauhan.


Seharusnya mereka terluka parah atau mati setelah menerima serangan yang dipenuhi dengan Qi tidak murni. Jadi untuk memastikannya, ia mendekatinya.


Namun, saat dia hendak menghampiri mereka dan memeriksanya secara teliti. Voran mengurungkan niatnya karena dia merasakan sebuah aura yang lebih kuat dari kejauhan. Sebuah aura yang melebihi ketiga Kultivator itu.


Meski ketiganya selamat sekalipun, Voran tak merasakan adanya ancaman dari mereka.


Saat Voran bergegas menuju ke aura tersebut, dia merasakan ada desakan kuat di dalam Kolam Qi-nya. Hal itu menjadi semakin intens setelah dia menyerap Qi di sekitarnya.


Semakin banyak Qi yang ia serap, penindasan dan tekanan yang dia rasakan menjadi semakin kuat. Voran menerima semua itu sambil menggertakkan giginya.

__ADS_1


Meski perasaan itu terus menghimpitnya, Voran tidak memusingkannya ataupaun merasakannya.


Dia tahu jika kekuatan inilah yang akan membawanya menuju ke titik tertinggi dan rasa sakit ini menjadi satu-satunya penghalang yang harus dia hadapi sepanjang waktu.


Setelah merasakan adanya peningkatan Qi di dalam Kolam Qi maupun yang beredar di sekujur tubuhnya. Voran segera menghentikan penyerapan itu.


Begitu dia menghentikan penyerapan itu, dia merasa sudah mendekati batas meski belum menembus tahap 2-0.


Seketika itu pula dia memuntahkan seteguk darah berwarna hitam pekat Pori-pori tubuhnya membesar dan mengeluarkan cairan berwarna hitam.


Saat semua itu terjadi matanya segera memutih lalu kembali normal dan kejadian itu berulang untuk beberapa kali.


“Urghh!!”


Tubuh Voran berkedut beberapa kali saat proses pembersihan itu terjadi. Ya, proses keluarnya kotoran dari tubuhnya meski melalui cara yang ekstrim.


***


Westian terus menghabisi prajurit yang mencoba peruntungannya dengan menyerang dirinya.


Hujan darah ia buat dan gunungan mayat menjadi pemandangan di sekitarnya.


Langkahnya pelan dan mantap, tapi di setiap langkah yang ia ambil, selalu muncul mayat dengan tubuh yang tak utuh.


Pedang di tangannya tak berhenti menyebabkan kematian dan memotong tubuh para prajurit.


Westian bergegas ke arah Voran yang baru saja mengalami suatu peristiwa yang tak biasa. Dia melihat Voran beberapa saat lalu, termasuk ketika pembersihan itu tengah terjadi.


Westian tak banyak berulah saat dia bergerak mendekati Voran. Dia mengabaikan mereka yang tak mencoba menyerangnya.


Namun, untuk setiap prajurit yang mencoba mengujinya dengan cara menyerangnya, ia tak ragu untuk menghabisi mereka.


Pandangan matanya hanya tertuju pada Voran yang tampak mulai pulih dari kejadian tak terduga itu.


Ketika Arannor Westian merasakan getaran tertentu dari Voran, ia tahu jika Voran sedang melalui sebuah proses terobosan yang menyakitkan.


“Ugh!!” rasa sakit di dadanya semakin membuat dia tertekan. Voran tak tahu mengapa rasa sakitnya terus bertambah dan tak menurun. Ini sangat berbeda dengan apa yang dia lalui beberapa waktu lalu.


Ketika dia mengalami penerobosan, udara di sekitarnya menjadi lebih padat. Kepadatan udara itu dipengaruhi oleh Qi yang memadat dan mendekati tubuhnya.


Urat di lehernya terlihat menonjol ketika dia berteriak akibat rasa sakit itu. Tubuhnya berkedut beberapa kali saat Qi berkumpul di Kolam Qi-nya.


Perubahan terjadi pada Kolam Qi, dindingnya meluas dan tingginya bertambah. Warna Qi di dalam kolam itu menjadi lebih jernih.


Proses itu berlangsung untuk beberapa menit lamanya. Energi Voran terkuras cukup banyak dan dia tampak begitu kelelahan.


Begitu dia melewati proses itu dan menerobos, sebuah gelombang kejut yang kuat menghempaskan segalanya.


Westian menyaksikan Voran mengalami terobosan dan dia tak mengganggunya. Hanya senyum penuh misteri yang ada di wajahnya.


Dia pernah mengalami hal yang sama. Namun saat dia menghadapinya pada waktu itu, dia jatuh dan tak sadarkan diri. Oleh sebab itu, dia membiarkannya.


Namun, melihat kondisi di depannya, ia merasa jika Voran tak sama dengannya. Dia melihat ada perbedaan antara Voran dengan dirinya.


Segera dia berlari ke arahnya. Sayang semua itu terlambat.


 “Sial!! Aku kira dia akan jatuh setelah melakukan terobosan tersebut seperti apa yang terjadi padaku tempo itu. Namun, apa yang aku lihat saat ini benar-benar tidak masuk akal!” geram Westian saat merasakan hembusan udara yang kuat.


Tubuhnya bergetar karena amarah dan deduksinya. Raut wajahnya masam dan tatapan matanya dipenuhi dengan tanda tanya.


“Sekarang, dia setara denganku. Sayangnya kau tidak akan bisa melakukan hal yang sama setelah ini. Begitu kau menerobos tahap 2-0, untuk menggunakan King’s Power dan menyerap Qi di medan perang tak lagi sama dan mudah. Haruskah aku bilang ini merupakan kemalangan atau keberuntungan?” gerutunya.


Meski lawannya menerobos, dia tahu betapa buruknya kondisi Voran.


Setelah mengumpulkan Qi di pedangnya. Westian menghentakkan kakinya dan melesat bagaikan angin. Tanah yang ia pijak hancur berkeping-keping.


Dia bergegas ke Voran yang baru saja menghempaskan apapun yang ada di sekitarnya.


Voran terkejut saat melihat Westian melayang ke arahnya. Secepat mata berkedip, Voran mengayunkan pedangnya dan Qi yang kuat keluar dari bilah pedangnya.


Westian telah mengantisipasinya dan dia berputar di udara sambil melepaskan Qi yang sama kuatnya.


 

__ADS_1


Pria yang menyerangnya memiliki aura membunuh yang kuat dan sangat mengintimidasi. Kecepatan reaksinya juga tidak buruk, bahkan kekuatannya sangat mengancam.


Voran tidak tahu siapa pria itu, tapi melihat kemampuan dan auranya. Ia tahu jika pria itu bukan orang sembarangan melainkan sosok yang berpengaruh.


Meski rasa sakit masih memenuhi tubuhnya. Voran tetap menghadapinya dan melepaskan rasa sakitnya dengan melampiaskannya pada Westian.


Voran memutar tubuhnya ketika dia melihat sebuah serangan berupa gelombang Qi yang mengarah tepat ke arah dirinya.


Tidak hanya menghindar ia juga melepaskan serangan dan membalas serangan itu.


Sebuah cahaya yang menyelimuti tubuhnya segera melesat ke arah Westian dan berubah menjadi naga meski itu dalam bentuk yang semu.


“Dragon Fist : Sky Clearing.”


Walaupun serangannya berhasil mengenai tubuh Westian. Zirah yang Westian kenakan menetralisir kekuatan yang ada pada serangannya.


Voran terkesiap saat dia melihat kejadian ini dan dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Westian. Jarak mereka tak lagi jauh dan konfrontasi secara langsung mulai terjadi.


Westian menatap Voran untuk beberapa saat. Dia memeriksanya untuk memastikan jika Voran akan jatuh seperti yang pernah dia alami atau tidak.


Namun, selang beberapa detik dia menatap dan mengamatinya. Dia tak menemukan sedikitpun perubahan pada Voran. “Ada yang salah dengan pria itu atau mungkin aku tidak cukup kuat waktu proses terobosan terjadi? Ini sedikit aneh dan membingungkan, tapi biarlah.”


“Karena semua sudah seperti ini, aku hanya perlu menghabisinya dan perang ini akan berakhir dengan kemenangan di tanganku!” Keputusannya bulat setelah melihat semua itu dan itu terlihat dari ekspresinya yang tegas.


Westian mengeluarkan Qi berwarna merah yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Tak berselang lama kemudian, dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.


Aura yang menghancurkan bumi tiba-tiba saja muncul dan berpusat pada pedangnya. Dia mengangkatnya, lalu mengayunkannya ke arah Voran.


“Sword of The Destroyer.”


Gelombang Qi melesat dari pedangnya menuju kea rah Voran dan membekukan udara di sekitarnya. Tanah yang dilewati gelombang itu hancur berantakan dan kerikil melayang terbang.


Tekanan yang begitu ganas mengejutkan Voran. Dia tak menduga bila lawannya akan memiliki kemampuan dan kekuatan setinggi itu.


Tanpa pikir panjang dia juga melakukan hal yang sama dengan mengumpulkan Qi di tubuhnya dan melepaskannya dalam bentuk serangan.


“Fist of The Dragon : Sky Clearing!”


Gelombang QI berbentuk naga melayang keluar dari tubuhnya dan menghadang gelombang Qi lawan.


Voran mengerahkan seluruh kekuatannya dalam satu serangan tersebut. Dia tak lagi memiliki kekuatan yang tersisa di dalam dirinya setelah melepaskan serangan tersebut.


Dia melakukan tindakan yang cukup berisiko setelah merasakan pihak lain melakukan tindakan serupa.


Selain itu, dia juga tak memiliki tenaga tersisa setelah melalui keganasan dari kekuatan King’s Power.


Di sisi lain, Westian mengerahkan segalanya dalam serangan tersebut. Dia merasa akan sia-sia bila mengulur-ulur waktu dalam pertarungan ini.


Oleh karena itu, dia memilih untuk menyelesaikan semuanya dengan serangan terkuatnya.


Meski setelah dia melepaskan serangan itu tubuhnya menjadi lemas. Semua itu terlihat dari caranya memegang pedang yang tak lagi sekuat sebelumnya.


Ledakan Qi yang dahsyat menghancurkan beberapa bangunan di sekitar mereka berdua. Benturan dua Qi kuat itu menghempaskan banyak hal dan membuat area kosong yang hanya meninggalkan puing-puing bangunan.


Voran memuntahkan darah dan wajahnya pucat. Dampak dari turbulensi di dalam tubuhnya mulai muncul kembali dan kali ini bebannya bertambah dengan serangan yang baru saja dia lakukan.


Di samping itu, Westian juga tak berada dalam kondisi yang baik. Dia mengerahkan segalanya dalam serangan tersebut hingga darah mengucur keluar dari mulutnya.


Westian berteriak saat tekanan yang menghancurkan menghantam tubuhnya. “Argh … “


Pada saat teriakan itu muncul, Westian terpukul mundur hingga melayang terbang dan menabrak sebuah bangunan hingga membuat dindingnya retak.


Darah keluar dari mulutnya beberapa kali saat dia menabrak dinding. Lalu dia terjatuh dan berlutut sambil memuntahkan darah. Wajahnya semakin pucat dan vena-venanya mulai muncul serta mengalami perubahan warna menjadi hitam pekat.


Di sisi lain Voran jatuh setelah menerima dampak dari benturan energi itu. Dia berlutut sambil memuntahkan seteguk darah.


“Urgh!! Sial. Ini sangat menyakitkan,” keluh Voran ketika rasa sakit mengacaukan tubuhnya.


Ketika hal itu terjadi, sontak saja prajurit yang berada tak jauh dari lokasi tersebut segera membentuk barikade untuk melindungi Voran.


Mereka mengangkat perisai dan mengelilingi Voran yang masih berlutut. Para prajurit memiliki wajah yang panik ketika melihat Voran berada dalam kondisi tersebut. Mereka tetap berada di sekeliling Voran tanpa banyak bicara dan melindunginya.


Kegemparan pun terjadi tak jauh dari sana, hal itu terjadi saat para prajurit melihat Westian terbaring di tanah dengan luka cukup parah dan dipenuhi dengan darah. Mereka bergegas melindunginya dan mencoba untuk membawanya keluar dari medan pertempuran.

__ADS_1


 


__ADS_2