
Veus, Larsson, dan Gregor Leon merasakan tekanan yang kuat dari arah dinding mayat. Tekanan yang hanya muncul dalam waktu sepersekian detik itu membuat mereka menjadi waspada.
Kerutan dahi Veus tampak begitu dalam ketika dia merasakan aura Salvatora. Lalu dia menatap Larsson sembari berkata, “Aura ini sangat kuat dan jauh lebih kuat dariku, Tuan Larsson. Aku tidak tahu siapa pria itu tapi dia berbahaya.”
“Kau benar, Veus. Aku merasakan aura yang berbahaya dari dinding mayat itu. Tampaknya sosok itu bukan sosok sembarangan dan kekuatannya melampaui semua orang yang ada di sini!” balas Larsson dengan serius.
Larsson tidak bisa tidak cemas ketika dia merasakan aura Salvatora meski dari jarah yang cukup jauh. Aura yang muncul dalam waktu singkat itu membuat Larsson waspada dan serius.
“Lalu, apa kita hanya akan diam saja disini, Tuan? Jika kita tak membantu Wallace Krom, dia pasti akan kewalahan bahkan pasukannya bisa saja hancur lebur,” ucap Veus yang mencemaskan keadaan Wallace Krom yang berhadapan dengan beberapa Kultivator.
Kecemasan itu muncul bukan karena para Kultivator yang Wallace Krom hadapi, melainkan datang dari sosok yang tiba-tiba melepaskan aura kuat itu.
“Kita akan tetap pada rencana awal, Veus. Tidak ada yang berubah. Meskipun ada sosok yang berbahaya di sana, kita tidak akan menyerang,” seru Larsson dengan raut wajah serius dan suara yang tegas.
Veus menghela nafas panjang saat mendengar hal itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa dengan situasi saat ini. Dia melihat sekutunya terdesak dan ada satu sosok yang sangat berbahaya sedang menunggu serta mengamati mereka.
Dengan semua faktor tersebut, Veus berpikir untuk ikut serta dalam pertempuran kali ini dan membantu Wallace Krom yang berada dalam situasi tidak menguntungkan karena dia menghadapi empat orang dalam satu waktu.
Larsson merasakan keinginan kuat di mata Veus. Tidak mungkin Larsson mengizinkan Veus untuk masuk ke dalam kolam yang sudah sangat keruh karena keegoisan Wallace Krom sendiri. Oleh karena itu, dia mengingatkannya.
“Aku tahu kau ingin membantunya untuk menstabilkan situasi dan membuat perjanjian ini lebih kuat. Namun, kau harus tahu bila tindakan itu tidak akan membuat situasi berubah terlalu jauh, bahkan kita akan menampilkan kekuatan kita sepenuhnya. Apa kau tahu artinya, Veus?” seru Larsson yang bertanya dengan suara tajam.
Veus mengangguk lemah dan tersenyum tak berdaya. Dia paham betul kejadian seperti apa yang akan terjadi bila dia masuk ke dalam medan pertempuran saat ini. Bukan hanya dia akan kehilangan banyak prajurit, tapi dia juga akan mengungkapkan kekuatannya.
Pengungkapan kekuatannya akan memberikan dampak buruk untuk perang ke depannya dan hal ini membuat Veus mengurungkan niatnya. Dia hanya bisa menyaksikan pertempuran yang di luar bayangannya karena kesengitannya.
Di medan pertempuran, Wallace Krom harus bertahan dari rentetan serangan para Kultivator termasuk serangan pria berjubah hitam yang tiba-tiba saja muncul.
Setiap lawannya memiliki kemampuan yang tinggi karena mereka berada di tahap 2-0 dan pria berjubah hitam itu memiliki tingkat kultivasi yang jauh lebih tinggi dari ketiga Kultivator itu.
Wallace Krom yang berada di tahap 3-0 masih merasakan tekanan dari mereka berempat dan dia berusaha keras untuk menghindari setiap serangan yang mengarah ke dirinya.
__ADS_1
Bentrokan antara Qi yang berbeda-beda menghasilkan gelombang kejut yang cukup kuat hingga membuat kerikil-kerikil melayang. Wallace Krom tetap tenang walaupun kondisinya tidak begitu baik.
Pria berjubah hitam itu terus melepaskan serangan. Setiap ayunan pedangnya teraliri oleh Qi yang membuat serangannya lebih berbahaya. Beberapa serangannya yang menemui udara kosong meninggalkan jejak sayatan di tanah.
Wallace Krom tersulut oleh setiap ayunan pria itu dan dia menunjukkan sisi buasnya untuk kesekian kalinya. Ayunan pedangnya berat tapi juga tajam dengan sudut yang sulit untuk dihindari.
“Kau berbeda dari mereka. Kau sekuat aku!” seru Wallace Krom sambil menyeringai.
Pedang mereka berdua saling bertabrakan dan menciptakan suara yang memekakkan telinga dan gelombang Qi yang menyebar ke segala arah.
Pria berjubah hitam mulai merasakan tekanan hingga dia menekuk lututnya dan ia melangkah mundur satu langkah. Raut wajahnya pun berubah ngeri saat dia berusaha menahan ayunan pedang Wallace Krom yang sangat gila.
Ledakan Qi terus menghiasi langit. Wallace Krom dan pria berjubah hitam saling menyerang dengan seluruh kekuatannya. Ketika Wallace Krom semakin serius, auranya berubah menjadi tajam dan menyesakkan.
Pria berjubah hitam itu tak lagi mampu menahan serangan Wallace Krom yang semakin intensif dan sengit. Mereka bertarung cukup lama hingga matahari hampir terbenam. Wallace Krom terus memegang kendali pertarungan tapi dia tidak bisa menghabisi salah satu dari mereka.
Hasil terbaik yang bisa ia dapatkan hanya melukai salah satu Kultivator cukup parah dan juga melukai pria berjubah hitam itu.
Selain itu, dia juga tidak merasa bisa mengalahkannya meskipun dia mempertaruhkan nyawanya. Jadi, mau tidak mau dia memilih mundur dan menjauh dari Wallace Krom.
Tiga Kultivator hitam itu mengikuti tindakan pria berbaju hitam. Walaupun wajah mereka merah padam karena rasa malu dan kesal. Mereka memilih untuk tidak bertindak gegabah dan mundur.
Wallace Krom terkekeh ketika mendengar hal itu. Dengan nada yang merendahkan dan penuh ejekan, ia berkata, “Lari? Kau ingin lari dariku? Kemanakah semangatmu tadi? Aku merasakan niat membunuh yang begitu kuat dari kalian beberapa saat lalu, tapi apa hanya ini yang bisa kau lakukan?”
Kedua pasukan kembali terpisah dan kembali ke sisi masing-masing. Wallace Krom menatap mereka berempat lekat-lekat dan menunjukkan senyum mengejek yang sangat merendahkan. Senyuman itu hanya membuat keempat musuhnya tersenyum masam.
“Aku tidak tahu apakah kalian bodoh atau terlalu percaya diri. Mustahil bagi kalian untuk mengalahkanku meski kalian bekerja sama sekalipun. Aku bisa menghancurkan kalian hanya dengan hentikan jari, tapi aku ingin mendapatkan hiburan saat ini. Huh!! Pergilah! Kalian tidak menarik lagi,” seru Wallace Krom dengan suara lantang.
Pria berbaju hitam tak bergerak tapi dari nafasnya yang terengah-engah dan terdengar tidak stabil. Ia tengah dipenuhi dengan amarah.
Perkataan Wallace Krom terlalu menyinggungnya. Pria berbaju hitam itu hanya bisa menanggung perkataan itu karena dia sudah merasakan aura yang kuat tengah menguncinya. Aura yang datang dari balik dinding mayat.
__ADS_1
“Entah aku atau kau yang selamat. Namun, pertarungan tadi telah memberiku kejutan dan aku harus berterima kasih padamu karena kau telah membeberkan kemampuanmu!” balas pria berjubah hitam sambil memerintahkan seluruh pasukan mundur.
Sesaat sebelum mereka mundur, tiba-tiba saja Wallace Krom melemparkan sebuah pukulan kosong ke udara yang kemudian muncul gelombang Qi besar dan mengarah ke Kultivator hitam yang terluka. “Ini hadiah terakhirku!”
Tepat saat gelombang Qi itu menabrak tubuh Kultivator, gelombang itu mendorongnya mundur hingga beberapa belas langkah jauhnya dari posisi awal. Kultivator itu mengerang sebelum nafasnya berhenti dan tampak ada sebuah bekas kepalan tangan di dada pria itu.
“Keparat!!” umpat pria berjubah hitam saat dia merasakan gelombang Qi. Sayangnya, reaksinya terlalu lambat dan dia hanya bisa melihat salah satu orangnya terbujur kaku di tanah.
Aura pria itu berubah dalam sekejap mata. Baik tatapan maupun sikapnya berubah drastis. Pria berjubah hitam terlihat seperti orang yang berbeda. Dia melepaskan tekanan dua kali lipat lebih kuat dari tekanannya tadi.
“Kau memandang rendah diriku! Tadinya aku akan mundur, tapi aku harus membunuhmu walaupun aku mati!” serunya. Ketika itu, Qi menyelimuti tubuh pria berjubah hitam dan membuatnya tampak mengerikan.
Dengan satu dorongan kaki, pria itu bisa memendekkan jarak antara dirinya dengan Wallace Krom. Namun, ketika dia hendak melakukannya, tiba-tiba saja dia merasakan hawa dingin yang menusuk punggungnya. Seketika itu juga auranya menurun dan tatapannya melunak.
__ADS_1