The Heaven World

The Heaven World
Mundur


__ADS_3

.


Tekanan kuat nan menghancurkan itu bermuara dari Salvatora yang tiba-tiba saja melepaskan seluruh kekuatannya. Dia dipaksa melakukan hal itu setelah lawannya menekannya tanpa henti. Salvatora tidak memiliki pilihan lain selain mengeluarkannya.


“Rasakan kekuatanku! Kalian tidak akan bisa menyentuhku lagi!” seru Salvatora sambil melepaskan auranya.


Qi berwarna hitam pekat mengelilingi tubuh Salvatora dan menyebar ke segala penjuru arah. Tidak ada satupun prajurit yang bisa menahan kekuatan Salvatora dan setiap prajurit yang berada dalam radius ratusan meter ambruk ke tanah dengan kondisi mengenaskan.


Veus, Larsson, dan Valaunter menerima dampak dari tekanan itu. Mereka bertiga terdorong jauh hingga terjerembap sampai memuntahkan darah berulang kali. Tubuh mereka melemah karena tekanan yang begitu dahsyat.


Pepohonan dan tanah bergetar ketika Salvatora mengeluarkan aura yang begitu mematikan dan sangat mengintimidasi. Tekanan itu dipenuhi dengan nafsu membunuh yang sangat kuat dan bukan sekadar tekanan semata melainkan sebuah teknik.


“Aku tidak ingin menggunakan Teknik Getaran Neraka ini. Tapi, kalian memaksaku untuk menggunakannya. Aku menghargai kekuatan dan kegigihan kalian. Sayangnya, perbedaan kita terlalu jauh!” ujar Salvatora yang dengan tegasnya meremehkan mereka bertiga.


Veus tergeletak di tanah sembari memegang dadanya dan menatap Salvatora dengan penuh kemarahan. Darah mengalir dari sela bibirnya dan sesekali dia terbatuk ketika menahan rasa sakit yang begitu menyakitkan di bagian dadanya.


Valaunter berada dalam kondisi yang sedikit lebih buruk dari Veus. Dia yang menyerang dengan lompatan kuat menerima dampak yang jauh lebih kuat dibandingkan Veus. Tatapan matanya sayu dan lelah, terlihat pula dari sorot matanya jika dia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Di sisi lain, Larsson masih berdiri tegak, tapi mulutnya mengeluarkan darah yang tak sedikit. Tatapan matanya menampilkan keterkejutan besar akan keadaan saat ini. Dia tidak percaya jika Salvatora memiliki teknik yang begitu mematikan serta kekuatan yang begitu tinggi.


“Uhuk!! Sialan! Kita tidak akan bisa memenangkan pertempuran ini, sebaiknya kita mundur daripada bertarung melawan mereka tanpa peluang kemenangan,” ucap Larsson dengan nada rendah.


Salvatora menatap mereka bertiga dengan dingin. Lalu dia mengendalikan Qi hitamnya sambil menunjuk mereka bertiga. “Aku rasa kita akhiri saja pertarungan saat ini. Aku tidak ingin membunuh kalian. Terlalu dini menghabisi kalian semua, tidak ada kenikmatan yang aku dapatkan. Jadi, menyingkirkan dari hadapanku!”


Setelah mengatakan hal itu, Salvatora memperkuat tekanannya dan auranya lalu mengarahkannya pada mereka bertiga. Sontak saat hal itu terjadi, tekanan itu langsung menghantam mereka bertiga dan seketika membuat mereka terdiam dan memuntahkan darah.


Tanpa menunggu jawaban mereka bertiga, Salvatora berbalik dan menerjang Gregor Leon yang menggila di medan perang. Situasi pertempuran tidak berada di pihaknya, tapi dia sama sekali tidak memedulikan hal tersebut.


Jenderal Crock yang memegang tampuk kepemimpinan terluka parah setelah bertarung mati-matian menghadapi Wallace Krom. Dengan situasi yang seperti itu, jelas Salvatora akan mengambil seluruh kendali dan dia melakukannya dengan menyerang Gregor Leon.


Dia memuntahkan seteguk darah kental ketika menerima gelombang kejut dari aura yang Salvatora lepaskan. Hal ini juga memberikan persepsi baru untuk Voran tentang kekuatan. Dia melihat bagaimana Salvatora mendominasi tiga bawahan terkuatnya.


“Ugh! Kekuatan macam apa yang dimiliki pria itu? Aku tidak bisa berdiri dengan benar ketika dia mengeluarkan aura sebesar itu. Seberapa tinggi kah kultivasinya? Aku benar-benar ingin tahu?” tanya Voran dengan penuh pertanyaan.


Saat ini dia mulai berpikir tentang kultivasi lebih tinggi lagi daripada sebelumnya. Kekuatan yang ditunjukkan oleh Salvatora merangsang keinginan Voran akan kekuatan yang lebih tinggi lagi. Hal itu semakin menguat ketika dia merasakan rasa sakit yang begitu menyakitkan di dadanya.

__ADS_1


Walaupun mereka terpaut jarak yang tidak sedikit, Voran masih bisa merasakan tekanan yang begitu mengerikan itu dan dia terluka oleh aura itu pula. Voran mengamati medan perang selagi mengatur nafasnya, dia melihat pasukannya berkurang cukup banyak dan tergeletak di tanah dengan tubuh bersimbah darah.


“Bagaimana bisa aku kehilangan begitu banyak prajurit? Apakah ini hasil dari kekuatan pria itu? Huh ... Ini begitu mengejutkan. Bagaimana bisa kekuatan seseorang memengaruhi medan perang sebegini jauhnya?” tanya Voran dalam hati.


Ketidakpercayaan terlukis jelas di wajahnya. Saat melihat pasukannya tidak lagi berada dalam kondisi baik dan banyaknya korban yang berjatuhan. Voran segera meminta Gris Hainz dan Harte Braun untuk memerintahkan seluruh pasukan mundur.


Selain itu, dia juga bergegas menolong Veus, Valaunter dan Larsson yang tergeletak di tanah. Voran menarik mundur pasukan dari medan perang. Dia tidak melihat peluang kemenangan besar dalam situasi saat ini. Meski tindakannya akan melukai koalisi, dia merasa harus melakukannya. Apalagi ketika dia melihat Veus, Valaunter, dan Larsson terluka.


Saat Voran melihat para prajurit menggotong mereka bertiga mundur, dia juga melirik ke arah seorang pria yang bertarung dengan ganas dan liar. Pria yang Voran lirik ialah Draynir. “Dia begitu hebat dan kemampuannya sangat baik. Melihat caranya bertarung, para prajurit pasti akan mengikutinya dengan senang hati. Benar-benar sosok yang mengagumkan!”


 Voran memerintahkan para prajurit untuk kembali ke perkemahan dan dia mengawasi proses mundurnya para prajurit dengan tatapan dingin dan tegas. Voran merasakan perubahan atmosfer di medan perang, perubahan itu terjadi tepat setelah tekanan kuat itu muncul.


“Sepertinya aku harus melakukan hal itu lebih cepat dari seharusnya. Tidak mungkin aku melakukannya sesuai rencana awal,” gumam Voran.


Dia melihat Salvatora yang kembali bertarung tanpa bisa melakukan apapun. Dia terpaku diam dan hanya bisa mengamati mundurnya para prajurit. Dia tidak begitu peduli dengan situasi di pihak sekutunya. Dia hanya merasa bila pertempuran ini dimenangkan dengan kerugian yang tak terkira.


“Hanya ada satu pilihan jika semuanya berakhir seperti ini. Meski aku memaksakan seluruh prajurit untuk bertempur. Semuanya hanya akan menjadi seperti ini dan kerugian yang akan aku terima jauh lebih besar dari ini. Huft ... Sungguh sangat disayangkan, semuanya menjadi seperti ini,” ucap Voran sambil menatap Salvatora dari kejauhan.

__ADS_1


Mundurnya pasukan Kerajaan Salauster memberikan guncangan pada dua pasukan lainnya. Mereka tidak menyangka bila sekutu mereka akan mundur di saat-saat yang cukup penting ini. Wallace Krom menatap dari kejauhan dengan tatapan dingin, tapi sedikit realisasi menghantam dirinya juga.


Salvatora yang melihat mundurnya pasukan Kerajaan Salauster tersenyum dingin sambil berkata, “Pilihan yang bagus. Aku tidak ingin menghancurkan kalian. Tidak ada kenikmatan yang aku rasakan. Tujuanku sudah tercapai di tempat ini. Sekarang aku hanya perlu menuntaskannya saja!”


__ADS_2