The Heaven World

The Heaven World
Bertahan


__ADS_3

Dua kultivator tak beranjak dari posisinya. Mereka terdiam terpaku menatap Voran yang tengah memancarkan energi mengerikan. Rasa sesak memenuhi benak mereka kala mata mereka bertemu dengan mata Voran yang dipenuhi dengan hasrat kekejian. Rasa haus darah yang terpancar dari tubuh Voran meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya.


Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, Voran hanya merasa dirinya dipenuhi dengan amarah dan hasrat untuk membunuh setelah dia berhasil menenangkan Qi di dalam tubuhnya. Dia merasakan ada begitu banyak pikiran di dalam benaknya yang saling bertabrakan.


Namun, Voran masih mengendalikan tubuh dan pikirannya. Hanya saja, amarah dan rasa haus darah terus berkecamuk dalam pikirannya. Hal itu membuat dia mengeluarkan niat membunuh kuat tanpa dia sadari dan niat membunuh yang ia keluarkan dipengaruhi oleh rasa haus darah yang sangat menakutkan.


“Siapa kalian?” tanya Voran dengan suara datar tapi dipenuhi dengan rasa haus darah kuat.


Dua kultivator itu terdiam dan tak bisa memberikan jawaban. Mereka merasakan teror dari niat membunuh yang Voran keluarkan. Niat membunuh yang terasa seperti kumpulan niat membunuh dari ribuan orang itu mengendap dan berkumpul pada satu orang. Mereka hanya merasakan niat membunuh seperti ini dari Kultivator tingkat atas.


Melihat mereka tak memberikan respons. Voran tak bertanya lagi dan bergegas menyerang mereka. Dengan ruang gerak yang tak begitu luas. Voran tak bisa menggunakan pedangnya. Sehingga, dia menyerang mereka berdua menggunakan energinya. Dia melepaskan beberapa gelombang Qi saat memukul ke arah mereka.


Beberapa gelombang Qi melesat mengarah tubuh kedua Kultivator. Mereka mengelak, lalu menatap Voran dengan marah. Segera mereka membalas serangan tersebut. Mereka melepaskan tinju dan sapuan kuat saat mereka melesat menyerang. Voran menangkis pukulan dan sapuan itu sambil memutar tubuhnya dan menyapu mereka berdua dengan tendangan belakang.


Tendangannya menghantam tubuh salah satu Kultivator dan menerbangkannya keluar dari gua. Saat hal itu terjadi, Voran sudah berada di depan Kultivator lainnya dan dia menggunakan sebuah pukulan mengarah ke perut. Pukulan yang dipenuhi dengan gelombang Qi itu menusuk langsung ke perut Kultivator itu dan membuatnya tersungkur di tanah.

__ADS_1


Namun, saat Voran membuat Kultivator itu tersungkur. Dia tidak merasa senang malahan dia merasa ada yang tidak beres. Mengapa pria itu jauh lebih lemah darinya, dengan tingkat kultivasi yang sama. Seharusnya dia bisa menahan pukulannya atau tidak jatuh tersungkur seperti saat ini. Voran merasa aneh dengan kejadian tersebut.


Meski merasa aneh dengan semua hal yang terjadi saat itu, Voran tetap menyerang mereka dan mengesampingkan rasa keterasingan ini. Pria yang tersungkur di bawah tak luput dari incarannya, Voran tak berpikir dua kali sebelum menusukkan pedang yang tersaring di pinggangnya ke kepala pria tersebut. Dia memilih untuk berhati-hati dan menyelesaikan semuanya secepat mungkin.


Perasaan Voran semakin tidak menentu seiring dengan waktu yang terus berjalan. Setelah memastikan pria itu tak bernafas, Voran pun keluar dari gua. Walaupun ia tahu di luar sana akan ada beberapa Kultivator yang menunggunya. Dia hanya bisa pergi dan menghadapi mereka semua dengan seluruh kekuatannya.


Begitu dia berada di luar gua, tatapan matanya segera menjadi serius. Dia melihat tiga Kultivator tengah memandangnya dengan tatapan membunuh. Voran melihat salah satu dari mereka terluka dan ada bekas noda darah di bibirnya. Ia yakin pria itu yang ia terbangkan sebelumnya. Hal ini, juga semakin membuat Voran heran.


“Adakah dari kalian yang ingin hidup?” tanya Voran dengan suara yang dingin.


Voran tidak tahu jika dirinya mengeluarkan aura yang sangat mengerikan dan dipenuhi dengan hawa jahat nan kejam tanpa batas. Dia hanya merasa tubuhnya semakin kuat serta energi yang ada di dalam tubuhnya bergerak dengan liar. Selain itu, ia merasa dipenuhi energi dan hasratnya untuk bertarung serta membunuh meningkat berkali-kali lipat dari biasanya.


“Tidak ada yang mau menjawab? Begitu ternyata, kalian yang menginginkannya dan ini bukan keinginanku!” seru Voran saat dia melesat menerjang mereka bertiga.


Saat dia menerjang mereka, gelombang Qi menyebar keluar dari tubuhnya bagaikan sebuah badai. Energi itu mengikuti gerakan Voran. Dia melepaskan pukulan dan tendangan yang dilapisi Qi. Ketiga Kultivator terperanjat akan gerakan Voran yang tiba-tiba. Salah satu dari mereka tak bisa menghindar dan menerima pukulan itu mentah-mentah.

__ADS_1


Dua kultivator lain segera menyerang Voran setelah merasakan lonjakan energi di tubuh Voran. Mereka menahan rasa takut yang memenuhi benak mereka saat melihat ekspresi Voran. Senyuman dingin dengan tatapan membunuh Voran tunjukkan ketika pedangnya berayun menebas pria yang ia pukul beberapa detik lalu.


Gelombang energi Qi keluar dari ayunan pedang Voran dan menebas Kultivator itu meninggalkan luka sayatan berukuran besar di dadanya. Dua kultivator lain yang menyerangnya pun tidak menghentikan langkah mereka dan terus menyerang Voran tanpa henti. Mereka juga menarik senjata mereka dan menebaskannya.


Dengan medan pertarungan yang lebih luas. Voran menjadi lebih leluasa dalam bergerak. Langkah kakinya tidak terhentikan saat terus menghindari serangan lawannya. Namun, dia merasakan rasa sesak di dadanya seiring dengan seringnya ia mengeluarkan Qi dari tubuhnya. Akan tetapi, perasaan itu tak ia gubris dan Voran terus menghadapi mereka berdua tanpa memikirkan untuk mundur.


Kedua Kultivator mulai menunjukkan kekuatan mereka dan rasa takut yang semula hadir di dalam benak mereka lenyap seiring dengan gerakan Voran menjadi lebih lambat. Mereka berdua mulai mengambil keuntungan tersebut dan memanfaatkannya. Gelombang energi tak berhenti mereka keluarkan dan energi-energi itu saling bertabrakan dan membuat angin di sekitar mereka kacau.


Perlahan-lahan, Voran mulai merasakan tubuhnya menjadi lambat dan sesuatu menekan tubuhnya hingga membuat dia terdiam sejenak. Ketika hal itu terjadi, dia mulai memahami kekuatan macam apa yang dia miliki sebelumnya dan bagaimana dia bisa menelan mereka semua seakan-akan kultivasinya berada di atas mereka.


“Ini Kekuatan Raja, aku menyerap begitu banyak energi dan Qi di medan perang sebelumnya. Semua energi itu menyatu dengan tubuhku dan terserap sepenuhnya. Namun, karena Qi itu bukan dari seseorang atau alam melainkan dari banyak orang. Pikiran-pikiran mereka menyatu dengan energi itu dan masuk ke tubuhku!”


“Pasti itu yang terjadi, Kekuatan Raja memiliki efek samping yang mengerikan. Tidak hanya mengikis tubuh, tapi juga mengikis pikiran. Jika aku tidak mengendalikannya dan meminimalkan efek sampingnya. Aku akan ditelan oleh Kekuatan Raja dan hanya menjadi mesin pembunuh saja. Sialan! Aku harus memurnikan seluruh energi di dalam tubuhku.”


“Aku harus bertahan dan meninggalkan tempat ini secepat mungkin. Tekanan ini semakin bertambah dan aku hanya akan menjadi lebih lambat lagi!”

__ADS_1


Voran terus berpikir dalam benaknya ketika kedua Kultivator menekannya tanpa henti.


__ADS_2