The Heaven World

The Heaven World
Krisis Koalisi


__ADS_3

Mundurnya pasukan Kerajaan Salauster meninggalkan celah besar dalam pasukan koalisi yang mengakibatkan situasi menjadi kacau. Saat mereka mundur, seluruh pasukan koalisi pun mengambil sikap yang sama, yakni mundur.


Salvatora tidak memerintahkan para prajurit untuk menyerang melainkan kembali ke benteng. Dia tidak ingin menambah korban yang sudah ada. Meski kematian mereka bukan urusannya, Salvatora merasa perlu meninggalkan kesan tertentu agar situasi masih berada di kendalinya.


“Meski mereka yang memilih mundur, aku tidak merasakan kemenangan tapi hanya kekalahan. Kematian para prajurit ini pasti akan mengurangi kekuatan militer kerajaan di perbatasan. Yah ... Meski kehilangan banyak prajurit, paling tidak aku bisa mengetahui kekuatan mereka,” ucap Salvatora saat dia mengamati mundurnya para prajurit.


Salvatora mengalihkan pandangannya dari para prajurit menuju ke Jenderal Crock yang ditandu oleh beberapa prajurit. Raut wajahnya berubah banyak ketika melihat hal tersebut. Dia tidak percaya akan apa yang dilihatnya ini.


“Sepertinya semua sekarang akan bergantung pada keputusanku. Dia terlalu ceroboh. Seharusnya dia tidak melawan mereka secara langsung. Namun, semuanya sudah terjadi. Mau tidak mau aku harus mengatur para prajurit ini!” seru Salvatora dengan suara yang dalam.


Mundurnya kedua belah pihak mengakhiri pertempuran hari itu. Mayat bergelimpangan di medan perang dalam jumlah yang tak sedikit. Di sore harinya, tepat saat menjelang malam, kedua belah pihak mengambil mayat-mayat itu dan menguburnya.


Voran berada di tenda dengan raut wajah yang tak biasa. Kepanikan terlihat jelas di wajahnya, keringat menetes baik dari dahi maupun punggungnya. Dia begitu khawatir dan gelisah ketika melihat kondisi ketiga Jenderalnya.


Tak pernah ia bayangkan mereka bertiga akan terluka cukup parah hingga terbaring di kasur tanpa banyak bergerak. Voran melihat mereka bertiga dengan tatapan yang berubah-ubah, seolah-olah dia telah mendapatkan suatu pencerahan dari kondisi mereka.


“Keadaan mereka cukup parah dan situasi ini akan mengubah keseluruhan situasi. Sekarang aku hanya memiliki satu pilihan saja. Meski aku baru tiba di sini belum lama, aku tidak bisa tetap berada di sini. Jika tidak, kondisi mereka hanya akan semakin buruk!” seru Voran dalam hati.


Pikiran Voran kembali ke beberapa waktu lalu saat Salvatora mengeluarkan kekuatan yang begitu besar dan menakutkan. Pada saat hal itu terjadi, dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya terdiam seperti patung, menerima segala hal yang terjadi begitu saja.


Ketika dia mengingat kejadian itu, sebuah pikiran lain segera terbesit di benaknya. Awalnya, dia hanya ingin bertahan hidup dan menjadikan semuanya normal. Namun, setelah kejadian itu, cara berpikirnya mulai berubah.

__ADS_1


“Setelah aku kembali ke kerajaan, aku harus segera memulai semuanya dan meninggalkan apa yang harus aku tinggalkan untuk sementara. Tidak ada pilihan lain. Aku terdorong oleh situasi ini dan hanya ini satu-satunya cara untuk mempertahankan semuanya,” gumam Voran saat dia mempertegas kembali pikirannya.


Pilihannya untuk mundur dari medan perang telah memengaruhi kekondusifan koalisi. Wallace Krom dan Gregor Leon yang juga ikut mundur tidak melepaskan Voran begitu saja. Mereka berdua mengunjungi Voran setelah memastikan keadaan pasukan masing-masing.


Saat Voran sedang menunggu ketiga Jenderalnya, salah seorang prajurit masuk dan memberitahu Voran bila ada dua pengunjung yang hendak menemuinya. Tanpa berpikir panjang atau mencari alasan, Voran segera keluar dari tenda untuk menemui mereka.


Ia tahu siapa yang mengunjunginya di kala hari telah berakhir. Dengan raut wajah tenang yang menyembunyikan rasa gelisah akan terlukanya tiga orang penting dalam militer kerajaan. Voran menemui Gregor Leon dan Wallace Krom di tendanya.


“Oh ... Ada pengunjung tak terduga. Apa yang membawa kalian kemari?” tanya Voran setelah menyibakkan kain penutup tenda. Dia bertanya dengan suara polos tanpa rasa bersalah.


Gregor Leon yang berwajah sedikit pucat menatap Voran dengan mata penuh kemarahan dan pertanyaan. Lantas dia berkata dengan nada mengejek, “Tidak perlu berlagak seperti kau tak tahu alasan kami kemarin, Raja Salauster! Kau tahu jelas apa alasan kami menemui di malam hari ini!”


Dengan tanpa rasa bersalah serta wajah yang datar, Voran membalas mereka. “Aku tahu, pastinya aku mengerti mengapa kalian datang kemari di waktu seperti ini. Kalian ingin menuntut penjelasan dariku kenapa aku memerintahkan pasukan untuk mundur bukan?”


“Ya,” Jawab Gregor Leon yang diikuti dengan anggukan Wallace Krom.


“Tidak ada alasan khusus. Perintah itu aku berikan setelah pasukanku mengalami kerugian serta beberapa orangku terluka. Kalian harusnya merasakan tekanan serta aura yang mengerikan itu bukan? Apa kalian pikir kita bisa mengalahkannya?” tanya Voran tanpa rasa malu.


Wallace Krom sedikit mengernyitkan dahi saat mendengar ucapan Voran. Mana mungkin dia mengatakan dia bisa mengalahkan Salvatora ketika dia sendiri harus menguatkan tekadnya untuk tidak berlutut di hadapan tekanan itu.


Gregor Leon mendengus dingin sambil menjawab, “Ya, kita tidak bisa mengalahkannya. Tapi, itu tidak mengartikan kau bisa seenak jidat mundur begitu saja tanpa memberitahu kami. Gara-gara tindakanmu itu, kami kehilangan cukup banyak prajurit. Apa kau tahu apa hasil dari kehilangan prajurit ini, Raja Salauster!”

__ADS_1


Voran tak menunjukkan sedikitpun perubahan ekspresi saat berkata, “Ya, aku tahu dengan jelas. Tindakanku akan mempengaruhi koalisi dan persekutuan kita saat ini. Namun, jika aku tidak mengambil tindakan itu. Apa kau yakin kita bisa selamat dari situasi itu?”


Pertanyaan Voran segera membuat Gregor Leon terdiam. Tidak hanya dia, tapi Wallace Krom juga. Mereka berdua sangat memahami situasi di medan perang. Tidak ada sedikitpun kesempatan untuk mereka selamat jika menghadapi Salvatora. Meski tak mau mengakuinya, mereka tahu bila keputusan Voran merupakan pilihan yang tepat.


Voran menatap mereka dengan tatapan tegas dan tak tergoyahkan. “Meskipun kepercayaan kita akan hancur, aku harus melakukan tindakan itu. Dengan menarik mundur pasukanku, kalian pun mengikutinya. Jadi, aku juga menyelamatkan pasukan kalian. Jika aku tidak melakukannya, pernahkah terbesit dalam pikiran kalian untuk mundur?”


Wallace Krom menggeleng dalam hati, begitu pula dengan Gregor Leon. Mereka merasa masih ada kesempatan untuk mengubah pertempuran. Jadi, tidak ada pikiran untuk menarik mundur pasukan dari pertempuran.


“Yah ... Pada akhirnya, ini hanya keputusan rasionalku. Jika kalian merasa keputusanku ini sangat merugikan dan koalisi ini tidak pantas untuk dipertahankan. Tidak mengapa. Aku memahami semua itu, jadi aku akan menerima apa keputusan kalian,” ucap Voran dengan nada tegas tanpa ada penyesalan.


Setelah itu ia menyambungnya lagi dengan berkata, “Besok, aku tidak akan menurunkan satupun prajurit untuk bertempur dan mungkin aku akan mundur dari perang ini dan merelakan perbatasan. Saat ini, pria itu masih menjadi momok yang menakutkan dibandingkan dengan pasukan kerajaan!”


“Baiklah, aku tahu apa keputusanmu, Raja Salauster. Aku akan mempertimbangkannya,” ucap Gregor Leon dengan raut wajah serius.


Wallace Krom tampak memikirkan situasi ini dan berkata, “Lihar saja besok.”


Lepas itu, mereka berdua meninggalkan perkemahan Kerajaan Salauster dengan ringan. Mereka tampak penuh dengan pertimbangan kala mereka meninggalkan perkemahan.


Voran tetap di dalam tenda dan segera setelah pertemuan selesai, ia menjatuhkan dirinya ke kursi sambil menunjukkan raut wajah penuh beban dan rasa frustrasi. Di waktu yang sama, ada sesosok pria yang mendekati tenda Voran dengan langkah tegas.


 

__ADS_1


__ADS_2