
Teknik yang Salvatora lepaskan menghancurkan ruang serta membuat retakan di tanah. Qi yang begitu kuat serta mengancam menghantam tubuh Valaunter lalu menabrak juga Veus serta Larsson yang hendak memberikan bantuan.
Mereka bertiga menerima pukulan telak di dada yang kemudian mengirim tubuh mereka terbang menjauh. Salvatora mengangkat kedua tangannya di udara kosong kala melihat ketiga pria itu terhantam gelombang Qi lalu dengan senyum dingin dan jahat, ia mengeluarkan sebongkah energi dari kedua tangannya.
“Rasanya kurang jika hanya melihat kalian seperti itu. Lebih baik aku lepaskan serangan lainnya. Tunjukkan padaku seberapa jauh kau berkembang Valaunter,” ujar Salvatora dengan suaranya yang sedikit parah.
Qi berkumpul dan memadat di kedua tangannya. Lalu dengan gerakan ringan, ia menyatukan dua Qi yang muncul di kedua tangannya dan dia menembakkan Qi itu ke arah Valaunter yang sedang berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya.
Salvatora bergerak dengan cepat dan menyerang Valaunter setelah menembakkan QI-nya. Hanya dalam satu tarikan nafas, Salvatora sudah berada tepat di depan Valaunter. Satu langkah kakinya setara dengan sepuluh langkah lebih pria dewasa.
Valaunter tidak menduga akan serangan lanjutan. Dia yang baru saja menghindari gelombang Qi tidak bisa menahan pukulan Salvatora yang tiba-tiba saja menghantam perutnya.
Buagh!!
Pukulan itu dipenuhi dengan Qi. Tanpa ada pertahanan yang cukup, Valaunter terdorong mundur dan meneteskan sedikit darah dari sela-sela bibirnya.
Veus dan Larsson tak mendeteksi gerakan Salvatora yang terlalu cepat. Mereka hanya melihat Valaunter terdorong mundur beberapa meter jauhnya setelah menghindari serangan Qi.
“Apa-apaan pria itu? Kekuatannya jauh di atas kita,” ucap Veus dengan cemasnya.
Larsson tampak merengut saat memikirkan serangan barusan. Dia yakin bila dia tak bisa menghindarinya dan akan berakhir dengan situasi yang sama. “Ini tidak terduga, lawan yang kita hadapi memiliki tingkat kultivasi di atas kita. Kita harus berhati-hati baik saat menyerang atau bertahan. Selain kultivasi yang tinggi, dia juga mempraktikkan teknik jahat.”
Veus dan Larsson terlihat tidak tenang kala mereka melihat kekuatan Salvatora. Mereka berdua segera membantu Valaunter yang berdiri kembali dengan raut wajah yang masam. Veus dan Larsson menyerang Valaunter secara bersamaan.
Salvatora merasakan aliran Qi yang kuat di sekitar tubuhnya saat dia bergerak menghindari serangan gabungan tiga Kultivator. Hembusan Qi yang mampu merobohkan pria dewasa terus melewati wajah dan tubuh Salvatora.
__ADS_1
“Kalian tak menggunakan teknik yang rumit. Sungguh sederhana sekali teknik kalian. Terlalu membosankan,” ucap Salvatora dengan nada mengejek dan dia menunjukkan ekspresi tak menyenangkan.
Meskipun menghadapi tiga Kultivator, Salvatora tidak kesulitan. Dia malah merasakan sensasi yang menggairahkan ketika berhadapan dengan tiga Kultivator yang kuat. Dengan gesitnya Salvatora terus menghindar dan menyerang balik dengan kekuatan penuh.
Pukulan maupun sepakan Veus dan yang lainnya disambut dengan pukulan penuh tenaga hingga menghasilkan suara dentuman yang cukup keras. Tidak ada satupun prajurit dalam radius beberapa puluh meter dan kekosongan itu membuat mereka bertarung dengan leluasa.
Aliran Qi terus mengalir dengan gencarnya saat mereka saling beradu pukulan. Walaupun unggul dalam jumlah, Valaunter tidak bisa mengambil keuntungan dari Salvatora. Gerakan-gerakan Salvatora begitu sederhana dan tak ada ruang kesalahan sehingga membuat mereka bertiga terhenti terus menerus.
Valaunter merasa tidak bisa menghadapi Salvatora hanya dengan tangan kosong semata. Dalam beberapa bentrokan dengan Salvatora, Valaunter sudah merasakan betapa mengerikannya kekuatan Salvatora. Oleh karenanya, dia meninggalkan pertarungan itu dan mengambil tombak yang ia tancapkan di tanah beberapa waktu lalu.
Dengan cepatnya Valaunter mengambil tombak yang berada tidak jauh dari lokasinya. Ketika dia mengambil tombaknya, Veus dan Larsson menghalangi Salvatora yang hendak menyerang Valaunter. Mereka berdua menghalangi Salvatora dengan beberapa gerakan.
“Oh ... “ erang Salvatora ketika dia menahan pukulan dari Veus dan Larsson dalam satu waktu yang sama.
Salvatora menatap tajam ke arah Larsson. Tangan kanannya menahan pukulan Larsson dan dia bisa merasakan tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pukulan yang ia tahan dengan tangan kirinya.
“Huff ... Teknik Seribu Lautan Jiwa!!” teriak Larsson saat dia melepaskan Qi yang mengendap di sekitar tubuhnya. Lalu bayangan samar yang tak berbentuk melesat ke arah Salvatora.
Tak mau kalah dari Larsson, Veus pun juga menyerang dengan tekniknya. Dia menarik pedang dari sarungnya. Lalu dia mengayunkannya seraya bergerak maju. “Teknik Pedang Bintang!”
Gerakannya tidak begitu rumit. Veus mengayunkan pedangnya hingga membentuk bayangan bintang dan mengalirkan Qi dari pedangnya. Setiap ayunannya menghancurkan udara di sekitarnya.
Dua serangan kuat mengarah ke Salvatora. Saat menghadapi dua serangan yang kuat, Salvatora segera memutar Qi-nya dan menahan dua serangan itu. Benturan pun tak terhindarkan lagi.
Duar!!!
__ADS_1
Salvatora terus tersenyum dan tidak merasa kelelahan maupun tertekan dengan semua tekanan itu. Dia melesat maju dan menyerang. Salvatora mengincar Veus yang tidak terlalu siap setelah melancarkan serangan tadi.
Aliran Qi berwarna hitam terus keluar setiap kali Salvatora bergerak dan Qi itu mengganggu setiap lawannya. Kendali Salvatora akan Qi-nya begitu tinggi. Namun, hal itu cukup wajar sebenarnya karena para Kultivator yang sudah melewati tahap 3-0 memiliki kemampuan untuk mengendalikan Qi.
Sangat berbeda dengan Kultivator di tahap 1 sampai tahap 3. Mereka hanya memiliki kemampuan untuk memanfaatkan Qi bukan mengendalikan seperti para Kultivator di atas tahap 3.
Salvatora melayangkan beberapa serangan pada Veus dan setiap pukulan yang dia layangkan dipenuhi dengan Qi. Veus terdorong mundur setiap kali dia menahan pukulan Salvatora. Saat-saat dia merasa tak kuasa menahan serangan itu, Larsson segera membantunya.
Tak lama kemudian, Valaunter muncul sambil melompat di udara dengan menghujamkan tombak di tangannya sambil berteriak, “Teknik Tombak Pemecah Langit.”
Tiba-tiba saja Salvatora dihadapkan dengan tekanan dari tiga arah berbeda yang sangat kuat. Dengan raut wajah meringis, dia menahan tekanan itu.
“Argh!! Ini sangat kuat! Aku tidak menyangka mereka bisa mengeluarkan kekuatan sebesar ini. Serangan semacam ini bisa melukaiku hingga parah,” gumam Salvatora saat menahan serangan yang begitu hebat.
Benturan Qi semakin menggila saat mereka saling mengeluarkan teknik. Veus, Larsson, dan Valaunter memuntahkan seteguk darah segar saat memaksakan tubuhnya mengeluarkan Qi dalam jumlah besar.
Situasi itu pun dialami oleh Salvatora juga. Wajahnya memerah padam hingga venanya menonjol ketika menahan serangan Qi yang begitu kuat. Darah juga menetes dari mulutnya ketika dia membalikkan situasi dengan mengeluarkan seluruh Qi-nya.
Saat pertarungan semakin sengit dan memanas, Voran yang belum lama masuk dalam medan perang pun segera berhadapan dengan beberapa Kultivator yang berjalan di jalan iblis. Voran berhadapan dengan tiga Kultivator yang masing-masing melepaskan energi jahat.
“Situasi apa ini? Kenapa aku merasa tidak nyaman dengan mereka bertiga. Aura mereka terlalu gelap dan sangat menekan. Sebenarnya siapa yang aku hadapi ini?” batin Voran saat dia dikepung oleh tiga Kultivator yang memancarkan aura jahat.
Nb: ada sedikit revisi tentang penamaan teknik. Sebelumnya menggunakan bahasa Inggris dan nantinya akan diubah ke bahasa Indonesia.
__ADS_1