The Heaven World

The Heaven World
Gesekan pertama


__ADS_3

Keesokan harinya, tepat saat matahari menyingsing menyebarkan kehangatan di seluruh penjuru arah. Tiga pasukan membentuk sebuah formasi dan menatap ke satu arah.


Veus berkuda berdampingan dengan Larsson. Dengan raut wajah serius ia bertanya tentang para pengintai yang tak kunjung memberikan laporan.


“Larsson, mengapa para pengintai belum kembali dan memberikan laporan pengintaian mereka? Apa kau tahu sesuatu tentang ini?” tanya Veus.


Larsson tampak merenung untuk beberapa detik saat mendengar pertanyaan Veus. Lalu ia menjawabnya, “Aku tidak tahu. Tapi, kejadian ini pasti tidak lepas dari tindakan musuh. Kemungkinan mereka bertempur kemarin dan menemui ajal mereka.”


“Jadi, maksudmu. Ada pertempuran di antara para pengintai dan kebanyakan dari mereka mati. Sialan! Jika begini adanya, situasi kita benar-benar buruk,” ucap Veus tak berdaya.


Tanpa informasi tentang tingkat kekuatan pasukan Kerajaan Edarecia. Peperangan ini akan menjadi jauh lebih sulit dan tidak menentu.


“Tenang saja, Marshal. Meski kita tidak memiliki informasi tentang kekuatan mereka, hal itu tidak berarti mereka memegang keunggulan atas situasi saat ini. Kita hanya perlu mengamati mereka sedikit lebih lama dibandingkan dengan rencana awal,” balas Larsson yang tak goyah meski merasakan ada sesuatu yang berbeda.


Tiga pasukan saling memperlihatkan panji-panji mereka yang terangkat dengan bangganya. Tidak ada yang bergerak dan ketiganya hanya berada di posisi awal sambil memperhatikan pergerakan pasukan Kerajaan Edarecia.


Di balik dinding mayat, Jenderal Crock merasakan getaran udara yang berbeda. Aliran Qi yang mengalir di Medan perang cukup berat.


“Tampaknya pertempuran telah terjadi kemarin. Tidak ada yang kembali, ini berarti mereka juga mengirim para pengintai dalam jumlah yang tidak sedikit. Tuan Salvatora, apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Jenderal Crock pada pria paruh baya di sampingnya.


Salvatora menghirup udara segar sambil memejamkan mata. Ia mendengar pertanyaan itu dan memikirkannya kala dia memejamkan mata.


“Kita akan diam dan tidak melakukan apapun. Keunggulan kita tidak begitu besar. Mereka memiliki pasukan yang lebih besar dan beragam. Namun, sulit untuk tiga pasukan bekerja sama dengan baik. Setiap pemimpin memiliki ego yang tinggi dan terkadang mereka juga egois. Biarkan saja semuanya seperti ini,” balas Salvatora.


Jenderal Crock mengangguk. Pandangannya segera tertuju pada ketiga pasukan. Dia sedikit menyipitkan matanya.

__ADS_1


“Tuan Salvatora, jika kita bersikap pasif bukankah kita akan kehilangan inisiatif dan hanya bisa bertahan dari serangan mereka? Bukankah ini sama saja dengan membunuh diri sendiri?” tanya Jenderal Crock memastikan rencana yang Salvatora inginkan.


Salvatora melirik Jenderal Crock dan menunjukkan senyum dingin serta tatapan penuh kegilaan. “Inisiatif selalu ada di tangan kita. Mereka tidak akan berani menyerang secara membabi-buta. Percayalah! Tidak semua orang bisa bertahan di bawah orang lain dan mengikuti sebuah rencana yang tidak menggairahkan.”


“Saat ini mereka seperti sebuah kelompok yang dikomandoi oleh tiga kepala dan setiap kepala memiliki pemikiran masing-masing. Tidak akan mungkin ego mereka bisa bertahan lama! Kita hanya perlu bertahan dan terus melecehkan mereka di malam hari.”


Setelah itu, Salvatora mengingatkan Jenderal Crock bila mereka tidak harus memenangkan peperangan. Satu hal yang mereka perlukan ialah membuat musuh kelelahan dan kehilangan semangat bertarung.


Salvatora tidak takut bila perang berlangsung dengan brutal, tapi dia juga tidak merasa ada masalah dengan pertempuran yang tidak berkembang atau stagnan. Dia hanya menikmati situasi yang ada di depan matanya meski dalam situasinya tidak menentu.


“Bertahan di sini hanya akan membuat para prajurit tertekan dan merasakan beban yang besar, Tuan. Alangkah baiknya jika kita mengirim sekelompok prajurit untuk keluar, bagaimana Tuan Salvatora?” tanya Jenderal Crock.


Jenderal Crock merupakan pemimpin pasukan ini, tapi dia tidak bisa mengabaikan sosok Salvatora yang telah dimintai tolong oleh Raja Elaim Seryan. Jadi, dia lebih mementingkan pendapat Salvatora dan meminta pendapatnya dalam setiap tindakan.


Salvatora memahami kekhawatiran Jendral Crock akan moral dan semangat yang dimiliki oleh para prajurit. Akan tetapi, dia merasa tidak ada keperluan bagi mereka bertindak seperti yang diinginkan oleh Jendral Crock. Namun, mengingat situasi bisa saja berkembang ke arah yang buruk.


Jenderal Crock mengangguk dan dia segera mengirim beberapa prajurit untuk memberitahu bawahannya. Disamping itu, dia juga terlihat memperhatikan tiga pasukan yang hanya berbaris tanpa melancarkan serangan.


***


Pasukan yang Voran pimpin sudah mendekati area perbatasan. Dia berkuda bersama dengan Valaunter dan terus melakukan pembicaraan tentang kultivasi. Voran mempelajari kultivasi dari Selek Valaunter.


Voran menikmati perjalanan ini dengan menyerap pengetahuan tentang kultivasi. Pemahamannya tentang kultivasi telah mengalami pembaruan setelah melalui percakapan yang panjang dengan Valaunter, terutama masalah fondasi dan peningkatan.


“Jadi dengan fondasi yang kuat dan mumpuni, energi yang bisa kita keluarkan akan jauh lebih maksimal dan kuat. Perbedaannya dengan Kultivator yang satu tingkat di atasnya tidak terlalu berbeda, begitu kah, Valaunter?” tanya Voran.

__ADS_1


Tanpa melirik Voran, Selek Valaunter membalasnya, “Ya. Ketergesaan tidak akan memberikan hasil yang baik. Mematangkan dan memperkuat kemampuan yang Tuan miliki akan memuluskan jalan ke depannya. Selain itu, Tuan akan merasakan perbedaan yang signifikan ketika Tuan memilih untuk memperkuat fondasi Kolam Qi yang Tuan miliki.”


Penguatan Kolam Qi bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti menggunakan bantuan eksternal yakni mengonsumsi pil ataupun melalui internal yakni meditasi atau penyerapan Qi baik dari tubuh sang pengguna maupun dari alam.


Voran mendengarkannya dengan serius dan memikirkan kondisinya saat ini. Setelah dia menggunakan King’s Power, kekuatannya meningkat cukup tajam, tapi dia merasakan adanya suatu efek tidak mengenakan yang ia rasakan.


“Aku sudah memurnikan Qi di dalam tubuhku selama ini, tapi aku masih merasakan ada sisa-sisa Qi tidak murni di dalam tubuhku. Sebisa mungkin aku harus menghilangkan semua Qi tidak murni ini dan tidak menyisakannya walau hanya setetes sekalipun,” gumam Voran.


Selain memikirkan kondisinya yang tak begitu baik. Voran bertanya pada Valaunter tentang peperangan. Dia ingin mengetahui dan mempelajari instrumen apa saja yang ada di dalam peperangan, oleh seban itu dia bertanya pada Valaunter.


“Perang? Ini tidak mudah tapi juga tidak begitu sulit. Bagian paling penting dari perang ialah moral. Selain dari strategi dan persiapan, moral merupakan bagian terpenting dalam sebuah perang. Jika pasukanmu memiliki moral yang buruk, situasi pasti tidak akan berjalan dengan baik,” ucap Valaunter.


Voran mengangguk dan mencernanya. Moral setiap orang bisa berubah kapan saja dan tergantung dari situasinya. Apalagi moral suatu kelompok, mudah sekali untuk mengubahnya. Banyak faktor yang bisa meruntuhkan moral.


“Moral ... Aku kira Strategi yang matang dan persiapan yang tepat serta serius akan memerankan bagian terpenting dalam sebuah peperangan, ternyata moral memiliki peran yang lebih dari kedua hal ini,” balas Voran.


Mereka berbincang sambil berkuda menuju ke Perbukitan Bintang yang saat ini tengah berada pada situasi tidak terduga. Pasukan Kerajaan Edarecia mengirim sebagian pasukan dan melancarkan serangan pada Kerajaan Sevaeni untuk memprovokasi Wallace Krom.


Langkah tak terduga itu membuat ketiga pasukan lengah, terutama Wallace Krom yang tak mampu menahan gejolak amarahnya. Provokasi yang pasukan itu lakukan terlalu kentara jelas dan tidak mengenakkan untuk dilihat.


Awalnya, semuanya bergerak sesuai dengan rencana, tapi semuanya berubah kala Wallace Krom mengirim sekelompok prajurit. Veus, Larsson, dan juga Gregor Leon hanya bisa mendesah geram dengan tindakan tersebut.


Situasipun berubah menjadi lebih sengit karena pertempuran pertama telah terjadi dan dari kejauhan Salvatora mengamati semuanya dengan tatapan dingin dan juga berbisa. Dia siap melakukan serangkaian tindakan.


“Sesuai dugaanku, akan ada salah satu dari mereka yang hilang kesabaran. Sore sudah datang, aku harus membuat mereka merasakan harga dari menggangguku!” seru Salvatora sambil memainkan Qi di tangan kanannya.

__ADS_1


 


__ADS_2